Blogger Template by Blogcrowds.


Ada kadal makan pepaya
Selamat Natal ya...


Pemberkatan Nikah dan Resepsi dilakukan pada tanggal 13 November 2008. Banyak yang tanya: 'Kok tanggal 13? Itu kan angka sial?'. Tanyakan aja pada bue (kakek -red) yang sudah memilihkan tanggal tersebut berdasarkan penghitungan yang cermat. (Dan ternyata pada tanggal 13 November, di Palangka Raya sedang bulan purnama penuh. Hari yang dipercaya baik untuk menyelenggarakan pernikahan).

Pemberkatan Nikah dilakukan di Gereja Hosana, tempat kami terdaftar sebagai anggota jemaat. Prosesinya hampir sama dengan pemberkatan nikah lainnya yang dilakukan oleh jemaat GKE (Gereja Kalimantan Evangelis). Namun, setelah pengucapan janji pernikahan, aku menyanyikan sebuah lagu pendek yang liriknya diambil dari puisi Sapardi Djoko Damono. Dan ternyata, cukup membuat beberapa pasang mata berkaca-kaca. Termasuk aku dan dia.


Setelah Pemberkatan Nikah dan Catatan Sipil dilaksanakan, kami semua berangkat ke lokasi resepsi, bertempat di Gedung Wanita, Palangka Raya.

Warna yang dominan pada pernikahan kami adalah maroon dan baby pink. Mulai dari undangan sampai kue pengantin. Jadi, ketika memasuki area resepsi, kedua warna itu sangat kental terlihat (ditambah dengan beberapa warna gradasinya).

Pada resepsi, kami menayangkan foto-foto kenangan masa kecil serta rekaman perjalanan cinta kami (bisa dilihat di sini). Kemudian diriku (lagi-lagi) menyanyikan 'Two Words' yang dipopulerkan oleh Lea Salonga.

Berikut rekaman singkat resepsi pernikahan kami.





Sebagai pembuka rangkaian pernikahan warga Kalimantan Tengah, khususnya suku Dayak Ngaju, diadakanlah prosesi peneguhan pernikahan secara adat. Prosesi ini disebut 'Penganten Mandai'. Bila diartikan secara bebas, artinya adalah 'Pengantin Naik (ke rumah)'. Menggunakan kata 'naik' karena Betang, rumah adat suku Dayak Ngaju, bentuknya adalah rumah panggung.

Tanggal 12 November yang lalu aku pun menjalani prosesi yang sama. Diawali dengan kedatangan rombongan mempelai laki-laki yang diiringi dengan tabuhan gong. Ketika tiba, rombongan itu tidak langsung dipersilakan masuk ke dalam rumah mempelai wanita, namun harus melewati 'rintangan' yang disebut 'Lawang Sakepeng'. 'Lawang Sakepeng' adalah gerbang yang dihiasi dengan daun kelapa dan diberi tali-tali yang membentang. Tali itu harus diputuskan oleh dua orang pesilat dari kedua belah pihak.


Ketika tali 'rintangan' sudah terputus, maka beberapa orang penari akan mengantarkan mempelai pria masuk ke dalam rumah mempelai wanita. Dan tepat di depan pintu, ibu dan para mina (tante -red) dari mempelai wanita akan menaburkan bunga + uang logam ke arah mempelai wanita. FYI, si Mamah menyediakan banyak sekali uang logam 500 rupiah yang warnanya emas (yang lumayan berat itu). Dijamin benjol kalo kena. Hahaha!


Pembicaraan antar keluarga pun dilakukan. Keluarga mempelai wanita akan menanyakan maksud kedatangan keluarga mempelai pria. Biasanya keluarga mempelai pria akan menjawab bahwa si mempelai pria pernah beberapa kali melihat 'tanah subur' di tempat itu dan tertarik untuk 'membelinya'. Mendengar jawaban seperti itu maka keluarga mempelai wanita pun akan menanyakan dengan cara apa mempelai pria akan membeli tanah subur itu. Lalu keluarga mempelai pria akan mengeluarkan barang-barang hantaran yang biasa disebut 'Ramun Pisek' dan 'Barang Jalan Adat'.

'Ramun Pisek' yang biasanya diberikan adalah 'Pakaian Sinde Mendeng'. Merupakan semua perlengkapan yang dibutuhkan mempelai wanita dari ujung rambut sampai ujung kepala. Mulai dari perlengkapan mandi sampai alas kaki.

Sedangkan 'Barang Jalan Adat' terdiri dari beberapa item, yaitu:
1. Palaku, berupa sebidang tanah lengkap dengan bukti kepemilikan (dan ini akan jadi hak mempelai wanita :p)
2. Saput
3. Pakaian, yang kemudian akan diberikan kepada saudara kandung mempelai wanita.
4. Garantung kuluk pelek, berupa satu buah gong
5. Bulau singah pelek, sepasang cincin kawin
6. Lamiang turus pelek
7. Sinjang entang, kain panjang dan kain sarung yang kemudian akan diberikan kepada ibu dan nenek mempelai wanita (yang konon kabarnya digunakan untuk 'membayar' lelah mereka selama merawat si mempelai wanita)
8. Lapik luang, selembar kain panjang yang biasa disebut 'bahalai'
9. Duit ringgit lapik ruji
10. Andas ije bata tutup uwan, kain hitam sepanjang 2 meter yang akan diberikan kepada nenek mempelai wanita (uwan = uban)
11. Pinggan pananan pahanjean kuman, satu set perlengkapan makan
12. Bulau ngandung (panginan jandau), sebesar biaya konsumsi yang dibutuhkan dalam acara pernikahan
13. Rapin tuak, minuman (keras) secukupnya. Biasanya yang disediakan adalah 'baram', minuman keras khas hasil fermentasi.
14. Timbuk tangga
15. Duit turus
16. Jangkut amak, satu set perlengkapan tidur
17. Batu kaja, berupa perhiasan emas yang akan dibayar ketika 'Pakaja Manantu' (yang akan diulas di postingan berikutnya)


Setelah 'transaksi' selesai dilakukan, maka keluarga mempelai wanita 'wajib' memperlihatkan 'tanah' yang diincar oleh mempelai pria. Namun umumnya, keluarga mempelai wanita akan memperlihatkan beberapa wanita lain dengan maksud mengecoh mempelai pria sebelum mempelai wanita dipersilakan keluar.

Bila mempelai wanita sudah keluar, maka akan dilakukan pembacaan serta penandatanganan 'Surat Perjanjian Kawin Adat'. Pada surat perjanjian ini dituliskan pula denda yang harus dibayar oleh pihak yang bersalah jika terjadi perceraian (amit-amit jabang bayi). Besarnya denda sesuai dengan kesepakatan bersama, di sini kami mencantumkan 500 gram emas sebagai dendanya.


Untuk menutup rangkaian prosesi, dilakukanlah ritual 'Tampung Tawar' untuk memanjatkan doa bagi kedua mempelai. Dilakukan dengan memercikkan air yang sudah dicampur dengan minyak wangi dan minyak kelapa menggunakan daun pandan. Lalu diakhiri dengan meletakkan sejumput beras di kepala kedua mempelai. 'Tampung Tawar' ini dilakukan oleh orang tua dan orang-orang yang dituakan dari masing-masing mempelai. Jadi, bisa dibayangkan betapa berminyak dan ber-beras kepala kami.


"Remember to play after every storm"

Itulah kalimat yang akan menyambut kita bila berkunjung ke sini. Sebuah situs yang dibuat demi mengenang seorang bocah laki-laki yang menjalani hidupnya (hanya) 13 tahun. Bila Mattie (demikian orang sering menyapanya) mengetahui bahwa aku menambahkan kata 'hanya' di depan usianya, mungkin ia akan protes berat. Karena (mungkin) baginya waktu 13 tahun itu sudah lebih dari cukup untuk mengabarkan berita baik ke penjuru dunia.

Anak yang menakjubkan. Begitu yang bisa kukatakan untuk mendeskripsikan seorang Mattie Stepanek. Dalam setiap gambarnya yang kurekam dalam ingatanku, tak pernah sekalipun senyum absen dari wajah mungilnya (yang imut).

Mattie menderita kelainan otot yang sifatnya genetik. Ibunya mengalami hal yang sama. Bahkan seorang adiknya meninggal dikarenakan penyakit tersebut. Tapi herannya, Mattie yang sehari-harinya sangat bergantung dengan kursi roda seolah-olah punya daya jangkau yang luas.

Puisi serta buku yang dibuatnya mencelikkan mata. Membuka mata bahwa semua yang kita alami patut disyukuri. Seorang anak yang begitu menghargai hidup dan berterima kasih atas semua yang dimilikinya. Termasuk kematian yang berjalan mendekat ke arahnya. Karena hanya dengan begitu kita dapat melihat keindahan pelangi setelah badai yang menerpa.

Seorang anak, yang bahkan dengan mengingatnya saja, membuatku merinding dan terharu.

Dan ketika Tuhan memanggilnya kembali, sebuah upacara pemakaman - yang (lagi-lagi) membuatku nyaris menangis - dipersembahkan untuk mengenang seorang anak berhati mulia ini. Mattie dimakamkan layaknya seorang Pemadam Kebakaran - yang menjadi pahlawan dalam versinya. Bukti bahwa Mattie adalah seorang pahlawan - dengan caranya sendiri.


Bila dirimu merasa lelah dengan hidup yang dijalani, mencibir atas semua yang terjadi, kecewa dengan yang kau terima, sering-seringlah berkunjung ke sini. Mudah-mudahan dapat memberi pencerahan dan kau dapat tersenyum kembali. Palus wei...


Beberapa puisi karyanya

HEARTSONG

I have a song, deep in my heart,
And only I can hear it.
If I close my eyes and sit very still
It is so easy to listen to my song.
When my eyes are open and
I am so busy and moving and busy,
If I take time and listen very hard,
I can still hear my Heartsong.
It makes me feel happy.
Happier than ever.
Happier than everywhere
And everything and everyone
In the whole wide world
Happy like thinking about Going to Heaven when I die.
My Heartsong sounds like this:

I love you! I love you!
How happy you can be!
How happy you can make
The whole world be!

And sometimes it's other
Tunes and words, too,
But it always sings the
Same special feeling to me.
It makes me think of
Jamie, and Katie and Stevie,
And other wonderful things.
This is my special song.
But do you know what?
All people have a special song
Inside their hearts!
Everyone in the show wide world
Has a special Heartsong.
If you believe in magical, musical hearts,
And if you believe you can be happy,
Then you, too, will hear your song.


PRAYER FOR A JOURNEY

Thank You, God,
Not just for life,
But for our journey through life.
Life is a miracle,
And a journey through life
Is so full of so many more miracles
If we travel with our Heartsongs.
Thank You, God,
For blessing me with the
Gift of Heartsongs,
So that I can enjoy my miracles.

Tidakkah kau terdiam sejenak?

Puisi dapat ditengok di sini

the prayer

Tuhan..
Aku tau (setau-taunya) dan sadar (sesadar-sadarnya) bahwa semua yang terjadi dalam hidupku - besar maupun kecil - sudah tertulis dalam buku catatanmu. Benar kan Tuhan, buku catatan - diary, jurnal, agenda, apalahnamanya - itu memang ada?

Berbekal pengetahuan serta kesadaran itu sudah sepatutnya aku tak perlu kuatir. Karena memaksakan kehendakku kepada-Mu pun sama saja dengan usaha menjaring angin. Sia-sia.

Sekarang yang kuminta, ya Tuhan, hanyalah kekuatan & kebesaran hati untuk menerima semua yang sudah Kau rencanakan. Dan ku yakin bahwa semua yang kualami kemaren, saat ini, dan masa mendatang pasti akan membuatku menjadi pribadi yang lebih baik selama aku tak meragukanMU.

Kuatkan punggungku ya Tuhan, karena beban yang mesti ku bawa kali ini agaknya lebih berat daripada sebelumnya.


Sudahkah kita melakukan hal yang sesuai dengan LENTERA JIWA kita?

Aku?
Belum.

Tapi kuyakin suatu hari nanti.
Pasti.


Tiada kata terlambat untuk mengikuti LENTERA JIWA-mu

Bulan depan.
Tahun depan.
Sewindu lagi.
Atau beberapa dasawarsa kemudian.
Entah.


Bagaimana dengan kamu?
Sudahkah menemukan LENTERA JIWA-mu?

Your time is limited...

So don't waste it by living someone else's life.


Jangan mati lenteraku.
Ku mohon..





pengumuman

I'm getting married.
Next week.

(Mungkin) sedikit mengejutkan. Karena sebelumnya aku memang tak pernah menyinggung-nyinggung tentang rencana pernikahanku di blog ini. Kenapa? Karena memang tak ingin. Tapi rasanya tak adil jika tak membagi perubahan status dari lajang menjadi menikah yang akan ku alami tepat minggu depan.


Minggu depan, aku dan seseorang itu (yang sering kubahasakan sebagai 'dia') akan berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu setia, saling mencintai, dan menghormati di tiap-tiap hari dalam hidup kami. (Beberapa hari yang lalu sempat diprotes olehnya: Kenapa gak 'sampai maut memisahkan'? Kemudian ku balas dengan: Di hari bahagia itu aku gak mau mengungkit-ungkit tentang 'maut'.)

Minggu depan, aku dan seseorang itu harus mulai berkompromi dengan segala perbedaan yang kami miliki (yang dapat dengan mudah terlihat ketika kami berbelanja sabun mandi, shampoo, pasta gigi, danseterusnyadanseterusnya) demi sebuah visi yang sama. Membentuk keluarga yang bahagia.

Minggu depan, aku dan seseorang itu akan menggantikan 'aku' dan 'kamu' dengan 'kami' dan 'kita'.

Lompat ke topik berikutnya..

Siapakah seseorang yang malang ups.. beruntung ini? (Yang harus menyediakan telinga selama kira-kira setengah hari di sepanjang hidupnya untuk mendengarkan celotehanku. Hahaha!)

Kami sekolah di SMA yang sama. Bukan teman karena rasanya kata 'teman' terlalu intim untuk menggambarkan relasi yang kami miliki dulu. Karena semasa SMA, relasi kami hanya sebatas 'Hai' atau senyum basa-basi bila berpapasan. Tak lebih. Tak kurang.

Kami kuliah di kota yang sama. Tapi tak pernah bertemu, berpapasan, atau saling melihat kelebat. Padahal, aku pernah main ke kampusnya dan dia pernah jalan-jalan ke kampusku. Membuatku menyadari bahwa terkadang dunia juga tak sekecil yang kita kira.

Kami bekerja di institusi yang sama. Nah, inilah yang kemudian mempertemukan kami. Karena sering bertemu? Tidak. Trus? Because everything has been written down. Jadi, silakan tanya Sang Empunya Jagat Raya. Beliau yang lebih tau kenapa kami bisa membentuk relasi yang lebih dari sekedar teman. 'Tuhan tahu, tapi menunggu', begitu yang sering kukatakan padanya bila dia mulai bertanya-tanya. (Mengutip dari Laskar Pelangi ^_^).

Seorang kekasih yang pada awal hubungan kukatakan padanya: 'Sekarang -dan untuk beberapa lama ke depan, jangan dulu tanya apa aku sayang kamu, apa aku cinta kamu. Karena kamu pasti tau jawabannya - Gak. Untuk sekarang ini sayang dan cintaku masih punya dia.'. Dia pun mengangguk.

Seorang kekasih yang beberapa bulan setelah memulai relasi ku pinjam bahunya dan menangis sejadi-jadinya ketika ku ketahui mantan pacar akan menikah. (Sempat kecewa karena aku masih menangisi lelaki itu, tapi kemudian tetap dengan senang hati memasak mie goreng instan untukku).

Seorang kekasih yang kemudian menyarankanku (serta memperbolehkanku) untuk menelpon mantan pacar. Untuk menyelesaikan semua yang masih mengganjal, begitu katanya. Dan memintaku untuk tidak menangisi orang bodoh itu lagi. Bodoh karena tidak punya keberanian untuk memperjuangkanku, tambahnya.

Seorang kekasih yang tidak romantis yang melamarku sembari menyetir mobil dengan kata-kata: 'Kalo gak menikah denganmu, hidupku gak akan sama lagi'. Menatapku sepersekian detik, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.

Seseorang yang mulai minggu depan kuharapkan akan tetap menjadi seorang kekasih merangkap teman baik. Di tiap-tiap hari sepanjang hidup kami.




Perempuan dengan tingkat sentimentil yang rendah ini nyaris menitikkan air mata ketika:

Membaca 'Malaikat Juga Tahu'
Mendengar 'Malaikat Juga Tahu'

Melihat 'Malaikat Juga Tahu'


Membuka mata bahwa setiap manusia memiliki (setidaknya) seorang 'malaikat' yang punya wujud. Begitu riil. Namun entah kenapa tingkat transparansinya sangat tinggi sehingga tak kasat mata.

* masih terkena demam Rectoverso


Sekitar 2 minggu yang lalu aku membaca Rectoverso. Seorang teman melontarkan pernyataan (yang kurang lebih intinya): 'Ku tunggu reviewnya'. Seketika itu juga aku menolak untuk memberi review karena merasa kapabilitas yang minim untuk mengobok-obok karya paling mutakhir dari seorang Dewi Lestari. Dan berikut ini bukan review, hanya cerita perjalananku bersama Rectoverso.

Aku meluangkan waktu (seluang-luangnya) ketika membaca Rectoverso. Menyelesaikan semua kegiatan, men-silent hp, kemudian berbaring dengan santai. Menenggelamkan diri dalam kesunyian. Hening.

Lembar demi lembar itu memaksaku untuk terus membaca. Seperti tak rela membiarkanku berpaling dari pesona keindahan aksara yang tertera di atasnya.

Cerita yang disuguhkan sepertinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan ketika aku membacanya, yang terlintas di pikiranku adalah 'ini kok mirip ceritaku ya..', 'ih, kayak ceritanya si anu', 'cerita ini si anu banget deh', danseterusnyadanseterusnya.

Contohnya 'Hanya Isyarat' yang sangat kuingat sebagai 'Cinta Punggung Ayam'. Bercerita tentang cinta yang tak berani diungkapkan. Padahal orang itu begitu dekat, begitu nyata (mmm.. kok terdengar seperti jargon operator telepon selular ya.. tak ada maksud menjiplak.. sungguhsuersumpah).

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, atau hujan.

Sedih. Karena aku pernah mengalami hal yang sama. Lebih tepatnya: mirip. Konon, waktu SMA. Jatuh cinta pada orang yang begitu dekat, begitu nyata (aduh.. kok pake term ini lagi sih?). Begitu mudah disapa, digapai, dijamah, atau diboncengi pake sepeda motor. Tapi entah kenapa dia meletakkan hatinya di tempat yang jauh. Tak dapat disapa, tak tergapai, tak mampu dijamah, bahkan bila harus mbonceng pake sepeda motor sekalipun. (sigh).

Kemudian ada 'Malaikat Juga Tahu' yang bercerita tentang cinta-setengah-mati seorang pria. Sayangnya si wanita menganggapnya hanya sebagai rekanan yang sangat setia. Selalu siap pakai kapan pun dibutuhkan. Walaupun cerita yang persis sama seperti ini akan jarang sekali kita temui pada kehidupan sehari-hari, tapi secara garis besar cerita seperti ini banyak beredar di jagat nyata. Memilukan. Mencelikkan mata. Membuatku nyaris menangis.

Karena tak kau lihat terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Aku percaya, every song has its own story. Every written story has its own song. Unik untuk tiap cerita. Spesial untuk tiap lagu. Cerita itu dapat tersurat pada syair lagu, dapat pula tersirat pada deretan not yang membentuk nada lagu tersebut. Lagu dan cerita dibaliknya bagaikan belahan jiwa. Soulmate.

Dan pada Rectoverso kedua belahan jiwa tersebut akhirnya dipertemukan. Utuh. Komplit.

Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment...
...
If everything has been written down, so why worry we say
It's you and me with a little left of sanity
...

*semua kutipan diambil dari sini

ngempet


Pernahkah kamu merasa jengkel setengah mati mmm.. (diganti aja dengan) bukan kepalang terhadap seseorang sehingga merasa dirimu sanggup untuk menelan orang itu hidup-hidup?

Sekarang aku bahkan sanggup menelan DUA orang sekaligus! Dua manusia itu! Makhluk yang punya mata, telinga, mulut, hidung, kaki, tangan, usus, paru-paru, tapi sayang hatinya ketinggalan entah di mana.

Ditelan. Bulat-bulat. Hidup-hidup.

Supaya mereka tau rasanya tinggal dalam perut manusia.

time machine

Sama dengan permintaanku di buku pertama, kalo ada yg nemuin buku ini (dan mungkin jg membacanya), tolong dikembaliin ke alamatku yang ditulis di lbr sblmnya.

Jadi, kalo dikembalikan, tlg dibungkus rapat2 trus dimasukin dlm amplop. Buat sedemikian hingga, spy gak ada yg bisa ngintip & menebak apa isinya. Soalnya aku gak mau ada org lain yg baca buku ini (selain kamu!!!).

Trus kalo ke alamatku, jgn cari aku. Cari aja temen kost (Desi, Sisca, Lona, Welly, Leni). Ingat, jangan cari aku!!! Soalnya aku gak mau kamu ingat mukaku & aku jg ingat mukamu. Sdh cukup rasanya aku tau ada org lain yg baca buku ini, jd tlg jgn ditambah dg tau siapa yg baca.

Kalo misalnya kamu kenal aku, tlg jgn diungkit2 lagi soal apa yg ada di buku ini. Dan tlg kalo di hadapanku, kamu berpura2 gak pernah baca buku ini (akting.. akting..). Kalo gak, aku akan mendiamkanmu u/ waktu yg sangaaaat lamaaa..!!!

Misalnya merasa berat u/ ngembaliin buku ini, tlg dimusnahkan aja. Kalo kamu berniat menyimpan buku ini dengan maksud u/ memerasku suatu saat, HAHAHAHA... kamu salah besar!!! Aku serius loh...


Hahaha! Lucu banget ya... Aku jadi agak geli-gimana-gitu waktu baca ini. Kekonyolan di masa lalu. Hahaha!


Tulisan itu ku buat di buku jurnal ku (Kenapa bukan 'diary'? Karena rasanya terdengar terlalu abegeh. Ups.. sori ya para abegeh..). Ditulis pada masa-masa kuliah. Dulu sih pernah punya yang beginian pas SMA (nah, yang satu ini pantas disebut 'diary' :P). Tapi cuma bertahan setahun. Setelah itu malas nulis lagi. Masalah klasik: gak telaten.

Pas agak akhir kuliah aku tergerak untuk punya lagi catatan harian. Alasan utamanya sih karena (mantan) pacarku sudah balik ke kampung halamannya, dan seketika itu juga aku kehilangan teman bercerita paling terpercaya. (Hehehe.. begitulah nasib pacar (pacar) ku. Harus tahan mendengar ceritaku yang tak ada habisnya :D).

Selama kuliah aku punya 2 buku jurnal. Tapi karena pindahan alias balik kampung, sebagian buku-bukuku mendekam di kardus-kardus (yang malas untuk ku utak-atik, karena belum menemukan media penyimpanan yang memadai). Dan buku jurnal yang pertama (rasanya) salah satu dari buku-buku terpendam itu. (Atau.. jangan2 sudah berpindah tangan. Alamak!!).

Isi buku ini cukup ringan (karena aku bukan tipe pemikir yang pandai berfilosofis *apaan sih..*). Kalo lagi sendirian di kamar kost aku paling seneng dengerin radio dan secara otomatis tanganku akan meraih pulpen dan menorehkan sesuatu di buku itu (mmm.. biasanya ditemani secangkir kopi pula). Entah itu memuji atau mencerca lagu yang sedang diputer, menulis lirik lagu yang sedang kugandrungi, perasaanku terhadap (mantan) pacar yang jauh di seberang pulau, kelakukan temen kost yang ngeselin, pengalaman travelling ke beberapa tempat, karcis bioskop yang ditonton bersama (mantan) pacar atau teman-teman (hanya sebagian kecil, karena ada beberapa karcis yang hilang), atau sekedar menuliskan daftar pengeluaranku hari itu.


Kalo lagi malas mendengarkan dosen memberikan kuliah, aku bakal mengeluarkan buku itu dan menuliskan beberapa baris di dalamnya. Atau ketika lagi nunggu teman di kantin, menulis di jurnal tercinta itu cukup membantu mengatasi kejenuhan.

Frekuensi menulisku beragam. Dalam satu hari aku bisa melakukan entry tulisan sampe 4 kali. Tapi kalo mood menulis mendadak hilang mungkin 4 hari kemudian aku baru menuliskan sesuatu. Bila itu terjadi, aku bakal menggambari lembar-lembar dalam buku itu. Yah.. kuakui kemampuan menggambarku sangat minim, tapi lumayan membuat lembar-lembar itu berwarna :D Pada masa itu, jika membuka tasku maka akan terlihat penghuni tetapnya: buku jurnalku dan seikat pensil warna. (Kuikat pake karet gelang karena kotaknya sudah jelek dan tak berbentuk. Hahaha!)


Setelah ku baca ulang beberapa hari yang lalu, aku menyadari betapa banyak perubahan yang telah ku alami. Dari tulisanku aku bisa membandingkan pemahamanku saat itu dan sekarang, dan ternyata cukup berbeda. Dan terkadang bisa membuatku menertawakan diriku sendiri. Kok bisa ya aku dulu bisa begitu? Hahaha!

Dari buku ini baru tau juga kalo aku ternyata pernah liat-liat situs Blogger pada tahun 2004! (Dan baru sekarang punya blog. Go-blog! Go-blog!)



Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang memintaku untuk membuat postingan tentang tips berenang. Dari pembicaraan melalui sms, ku ketahui ternyata dirinya tak begitu pandai berenang. (Setelah ini, aku siap-siap kabur.. :P)

Sebelum memulai tips, seperti sebagian (aku tak menambahkan kata 'besar' atau 'kecil' loh ya...) orang Indonesia yang terbiasa untuk berbicara ngalor-ngidul sebelum menuju topik utama, maka aku pun ingin bercerita tentang pengalamanku belajar berenang.

Waktu kecil aku divonis kena 'firasat' dimakan buaya. Mengerikan ya.. Indikasinya adalah: urat hijau yang melintang di antara dua mataku. Menurut cerita Papah, diadakanlah ritual untuk membuang sial (atas desakan keluarga besar). Rasanya itu dilakukan waktu aku masih kecil sekali, karena sekarang aku tidak punya ingatan tentang hal itu. Secuil pun tidak.

Oleh karena itu, di antara sepupu2 dari pihak Papah, hanya aku yang gak bisa berenang. Mungkin keluargaku takut aku disambar buaya kalo berenang di sungai. Yang paling sering kulakukan adalah menonton sepupu2ku berenang2 di sungai sambil sesekali diolok2 karena tidak bisa berenang.

Entah ini ada hubungannya atau tidak dengan 'firasat' dimakan buaya tadi, aku juga menjadi pemegang rekor sering tenggelam di antara sepupu2ku. Entah itu karena kebodohanku yang menganggap bahwa semua orang bisa serta merta mengapung ketika menceburkan diri ke sungai, jatuh waktu menyeberang jembatan (yang panjangnya hanya 3 meter), terlalu bersemangat berteriak ke sepupuku yang memetik buah di seberang sungai sampai2 terpeleset dan jatuh ke sungai, atau karena nekat belajar berenang di sungai sendirian. Rekor itu pula lah yang bikin aku sempat trauma untuk belajar berenang.

Di akhir SMA, sekolahku menetapkan renang sebagai olahraga yang wajib dipelajari. Dan sialnya, nilai kelulusan untuk mata pelajaran Penjaskes ditentukan dari nilai kelas renang tersebut. Aku yang tadinya takut belajar berenang akhirnya mau tidak mau harus bisa berenang. Rasa takut dapat nilai jelek mengalahkan rasa takut berenang.

Untungnya di akhir caturwulan aku bisa berenang juga. Walaupun berenangnya hanya berbekal satu tarikan napas. Jadi kalo napas sudah megap-megap, aku mesti berdiri (itulah sebabnya aku pilih kolam untuk anak kecil kala itu) dan mengambil napas untuk bekal menempuh jarak berikutnya. Hahaha!

Aku menyempurnakan kemahiran berenangku (apaan sih...) ketika kuliah. Kebetulan tak jauh dari kostku (menurut standard jauh-dekat di Surabaya) ada kompleks perumahan yang memiliki fasilitas kolam renang. Dan hampir tiap minggu aku dan teman2ku menyempatkan diri berenang di sana. Hingga akhirnya skill berenangku mengalami perkembangan yang signifikan (apaan sih..). Rekor renang terbaikku: mengelilingi kolam renang itu sebanyak 15 kali. Yah.. walaupun ukuran kolam renangnya tak seberapa besar. Hehehe...

Oke, balik ke topik..

Tips renangku ini mungkin bukan yang terbaik, tapi sudah pernah ku uji coba pada dua orang temanku yang sama sekali belum bisa berenang. Dan hasilnya, mereka berdua langsung bisa berenang pada pertemuan pertama (dengan catatan: renang dengan satu tarikan napas :P). Alangkah lebih baik jika menggunakan kaca mata renang. Lebih nyaman.

Lesson #1: Membenamkan kepala ke dalam air

Tarik napas dalam-dalam. Lalu benamkan badan ke dalam air dan buang napas di dalam air. Kalo napasnya sudah habis jangan lupa untuk kembali ke permukaan (hehehehe..). Lakukan sebanyak 5 kali. Ini dimaksudkan agar kita terbiasa dengan air, supaya gak 'cegek'.

Lesson #2: Mengapung

Ini hal yang paling gampang dari pelajarang berenang. Apa sebab? Coba benamkan kepala ke air sampai batas telinga, lalu angkatlah kaki. Dengan serta merta kita akan mengapung. Percayalah. Kalo sudah berhasil mengapung, biarkan badan mengambang di permukaan air untuk beberapa saat. Ini untuk membiasakan diri dengan sensasi yang terjadi ketika berat tubuh ditahan oleh air. Disarankan juga untuk melakukannya beberapa kali sebelum melangkah ke pelajaran berikutnya.

Lesson #3: Kaki

Ketika sudah bisa mengapung, kita pasti tidak ingin ngambang di tempat aja kan? Oleh karena itu, ketika sudah mahir mengapung, gerakkanlah kedua kaki untuk mendorong maju. Tapi perlu di ingat, betis dan paha harus selalu sejajar selama kaki digerakkan.

Lesson #4: Tangan

Lima jari harus rapat karena tangan dianalogikan sebagai dayung selama berenang. Ketika mengayunkan tangan ke dalam air, usahakan lengan membentuk setengah lingkaran. Kemudian pada saat di dalam air, gerakkan tangan membentuk sudut 180 derajat. Ketika lengan sudah menyentuh permukaan air, tarik dan ulangi lagi dari awal. (Maaf, penjelasannya acak-adut. Mudah2an bisa mengerti). Catatan: sebaiknya gerakan tangan dipelajari setelah mahir melakukan gerakan kaki.

Lesson #5: Mengambil napas

Biasanya materi ini kuberikan pada pertemuan kedua karena sedikit rumit. Perlu diketahui, arah mengambil napas harus selalu sama. Konstan. Bila ke arah kiri, selalu ke kiri. Bila ke arah kanan, selalu ke kanan. Di sini ku contohkan cara mengambil napas ke arah kanan (menurut kebiasaanku, supaya gampang membayangkannya :P). Ketika tangan kiri yang sedang berada di dalam air membentuk sudut 90 derajat terhadap tubuh, angkatlah sedikit tubuh bagian atas dan miringkan kepala ke arah kanan. Kemudian bernapaslah dengan mulut. Kenapa? Karena dengan waktu yang singkat kita harus mengambil napas secara maksimal. Rasanya dua lubang hidup yang kecil itu masih belum bisa mengalahkan kemampuan satu (lubang) mulut yang besar itu bukan? Hahahaha! Ini juga untuk mencegah resiko yang terjadi jika hidung kemasukan air.

Demikianlah pelajaran berenang bersama Piyek. Semoga bisa bermanfaat dan berguna bagi kemajuan hidup kita bersama(garing.. garing..)


I like the feel of your name on my lips
and I like the sound of your sweet gentle kiss.
The way that your fingers run through my hair,
and how your scent lingers even when you're not there.

And I like the way your eyes dance when you laugh,
and how you enjoy your two hour bath.
And how you convinced me to dance in the rain
with everyone watching like we were insane.

I love the way you love me.
Strong and wild, slow and easy.
Heart and soul, so completely.
I love the way you love me.

I like the way that you sing sweet and low
When they're playing our song on the radio
And I like the innocent way that you cry
At old time movies you've seen hundreds of times

And I could list a million things
That I love to like about you,
but they all come down to one reason I could never live,
live without you.


ERIC MARTIN

PS:
We love someone because of some reasons, don't we?

*Di sela-sela lembur pada hari Minggu T_T*

overload

Ternyata berdiri di tengah tidaklah gampang.

Berusaha menahan gerakan dari sisi kiri agar tak menyakiti sisi kanan. Memfilter aksi-aksi yang dilakukan sisi kanan agar sisi kiri tak semakin marah.

Yang berdiri di tengah pun lebam-lebam. Hhh...

Dan saat tak ada lagi perbedaan antara sisi kiri dan sisi kanan, semua akan meninggalkan lapangan dengan hati bahagia. Yang tersisa adalah: si tengah, dengan probabilitas yang besar untuk disambar petir. Ha!

Tuhan, aku boleh curhat gak?

Pernah liat iklan sabun cuci (kalo gak salah sabun cuci, tapi kalo bukan, yang pasti iklan ini pernah eksis :P) yang ceritanya tentang seorang anak yang punya baju favorit. Saban bajunya kering habis dicuci, langsung dipake. Rasanya demam cuci-kering-pake ini melanda hampir semua anak. Kukatakan hampir, karena aku sendiri gak mengalaminya. Aku memiliki 'demam' lain yang kuanggap terlalu memalukan untuk diungkapkan pada blog ini. Dan 'demam' terus terjadi sampe sekarang. Hahaha!

Jangan salah, ternyata falsafah cuci-kering-pake gak cuma melanda anak-anak. Ada satu orang dewasa, yang kukenal dengan sangat baik, yang menganut paham ini. Orang itu tak lain dan tak bukan: si Papah.

Aku sih baru nyadar akhir-akhir ini aja kalo ternyata si Papah kalo lagi suka sama satu baju pasti bakal itu baju bakal sering banget dipake.

Sekarang ini Papah lagi seneng sama salah satu bajunya. Mau Papah ke tetangga, ke rumah sodara, ke ibadah rumah tangga, bahkan sekedar ngumpul2 di warung sebelah rumah, mesti baju ini di pake. Sempat diprotes sih sama Mamah: "Ih... bajunya kok itu terus? Gak malu? Nanti dikira gak ada baju yang lain". Jawaban si Papah: cuek beibeh, yang kurang lebih bisa diartikan: "Iya aku tau. Tapi aku suka banget baju ini".

Pernah satu hari, pas aku lagi nyuci, si Papah nyamperin dan bilang: "Titip lah" sambil menyorongkan baju kesayangan. Minta dicucikan. Sorenya, pas aku lagi melipat baju2 yang sudah kering, aku liat Papah sibuk bolak balik. Seperti sedang mencari sesuatu. Setelah beberapa kali bolak balik, mata Papah kemudian tertuju ke tumpukan baju yang sudah ku lipat. Lalu Papah mengambil baju kesayangannya yang baru aja dilipat, dan berjalan ke arah meja setrika. Semua dilakukan tanpa mengatakan apa pun. FYI, baju favorit itu bakal jarang sekali terlihat dalam keadaan terlipat rapi di dalam lemari. Ada dua sebab. Pertama, baju lagi ada di jemuran. Atau, yang kedua, bajunya lagi di pake Papah.



Oya, ada satu lagi hobi aneh si Papah. Main suling recorder.

Di Palangka Raya lumayan sering terjadi pemadaman listrik (hhh..). Kira-kira 2 atau 3 hari sekali pasti kena giliran pemadaman. Kan bikin keki tuh. Gak tau mau ngapain. Tapi ada satu orang dirumahku yang paling gak keki sekaligus tau mau ngapain kalo ada pemadaman. Tak lain dan tak bukan: si Papah.

Saban ada pemadaman, si Papah bakal mengumpulkan anggota geng musiknya yang terdiri dari: suling recorder punya adeku (dia main suling ini waktu SD, tapi sekarang pura-pura lupa kalo pernah punya) & buku Kidung Jemaat (kumpulan lagu pujian yang dinyanyikan waktu ibadah di Gereja). Biasanya kalo sudah ada tanda-tanda seperti ini, aku sama Mamah langsung nyari suaka. Suaka.. suaka..

Empat hari yang lalu, kompleks rumahku kena giliran pemadaman. Seperti biasa, Papah sudah standby di meja makan bersama suling recorder dan buku Kidung Jemaat. Aku yang lagi asik browsing pake HP di meja makan (maksudnya aku juga gabung sama Papah duduk di meja makan) pun memasrahkan telinga untuk mendengarkan aksi musikal si Papah.

Lalu setelah beberapa memainkan beberapa lagu dari Kidung Jemaat, Papah diam sejenak. Kemudian, dengan cukup mengagetkan, Papah memainkan lagunya Ebiet G. Ade (gak tau judulnya). Seketika itu juga, aku langsung meninggalkan Opera Mini dan mengarahkan pandanganku ke Papah. Tak lama kemudian terdengar suara Mamah dari kamar: "Lagunya lah...". Si Papah cuma nyengir-nyengir + sedikit besar kepala dan kembali memainkan beberapa lagu dengan suling recordernya.

Kemudian Papah berhenti sejenak. Menatapku. Lalu bilang: "Hmmm... Nanti aku mau beli saxophone. Buat latihan."

Sesaat setelah kalimat Papah berakhir, aku tertawa terbahak-bahak.

tenggelam..

...dalam kesunyian.

Tak mau berbagi.
Sedang tak ingin ditemani.

Kecuali...

...dia



Maaf


Berikut adalah percakapanku dengan seorang teman yang baru aja diputusin pacarnya beberapa minggu yang lalu. Rupanya agak sulit baginya untuk memulihkan hati, dan sekarang teman yang lain sedang berusaha menjodohkannya dengan seorang wanita.

"Sekarang aku baru nyadar. Kalo ternyata 'makanan' yang enak bukan cuma ayam. Masih ada sapi, kambing, kepiting... Mataku baru aja terbuka.", katanya di ujung telepon.

Mendengar itu, aku lalu berkata, "Bener katamu. Tapi tetap harus hati-hati. Karena banyak makanan enak yang mengandung kolesterol yang tinggi."

Hmmm.. Terkadang orang bisa 'kalap' setelah menderita patah hati yang teramat sangat.

DEWI*



Kutanamkan hatiku, tumbuh bersamamu
Takkan kupetik hingga akhir masa hidupku
Dengarlah, kau dengar
Selama bumi berputar, ku tetap milikmu

Dewi, bukalah kedua matamu
Pandanglah ruang di hatiku
Dewi, berikan nafasmu untukku
Agar kuhirup bersamamu
bersamamu…
terus bersamamu

ALEXA

*my recent fave song

berkunjung

SMS

sender: +628563065xxx
date: 26.09.2008
text:
Haiiiii..


Sebuah pesan singkat mampir ke inbox HP ku beberapa waktu yang lalu. Waktu saat itu kira-kira menunjukkan pukul 2 dinihari. Waktu yang tidak biasa untuk menghubungi seseorang kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.

Pesan ini datangnya dari seorang sahabat, Pastini. Mantan teman kost semasa kuliah dulu. Dan sejak 3 bulan sebelum dirinya melahirkan anak pertamanya, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Singaraja - Bali.

Sebuah 'buzz' yang singkat dan jelas. Singkat karena, kalau mau meluangkan sedikit waktu, hanya berisi 9 karakter. Dan jelas, karena untuk ukuran seorang Pastini yang paling anti menggunakan kalimat yang berbunga-bunga atau berbusa-busa atau berbuih-buih atau apalah namanya. Pesan ini dengan JELAS menyampaikan bahwa dia sedang kangen.

Kalau boleh, aku ingin bercerita sedikit *emmm.. mungkin kepanjangan kalo aku agak lupa diri* tentang Pastini, temanku ini.

Pastini adalah asli orang Bali. Lahir dengan embel-embel Ida Ayu di bagian depan namanya, yang kita ketahui bersama bahwa hal itu menandakan bahwa dirinya berada pada urutan tertinggi kasta yang berlaku di Bali. Dan bukan cuma itu, keluarganya pun tergolong keluarga yang terpandang di Singaraja.

Dari semua anak kost, Pastini lah yang kondisi keuangannya selalu 'aman'. Tidak seperti kami yang selalu cekak kalo sudah sampai akhir bulan. Hahaha.. Dan cuma dia seorang yang di antara kami se-kost yang mampu membeli 2 kemeja Lee Cooper sekaligus. Yaa... untuk ukuran anak kost seperti kami, bisa membeli 1 kemeja Lee Cooper aja kayaknya berkah yang patut disyukuri *apa sih...*

Namun, sebuah langkah yang sangat besar diambilnya ketika dia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan langkah yang terlampau besar menurutku. Karena hanya dengan sekali langkah itu saja, Pastini harus meninggalkan status sosial serta keamanan finansialnya. Ya, dia memutuskan untuk menikah dengan kekasih semasa SMA-nya yang berkasta rendah.

Orang tuanya sudah pasti tidak merestui. Mereka pun berusaha untuk menjodohkan Pastini dengan pria yang berstatus sosial yang sama. Dan puncaknya adalah ketika Pastini yang kala itu bekerja di Surabaya, akan 'ditarik' orang tuanya kembali ke Bali. Pastini dan (kala itu masih) suaminya memutuskan untuk menikah secara adat.

Singkat cerita, orang tua Pastini sekarang sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Dan puji Tuhan, mereka sudah bisa merestui. Walaupun sampai saat ini Pastini masih belum diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya (dikarenakan adat yang berlaku), tapi mereka masih bisa bertemu di tempat lain.

Nah, dari cerita singkat (yang agak kepanjangan) tentang Pastini itu, aku bisa merasakan 'kesepian' yang dialaminya. Jauh dari orang tuanya, ade2nya, serta teman terdekatnya.

Kuakui, sudah beberapa lama aku tidak menghubunginya. Terakhir kali aku menelponnya adalah ketika dia melahirkan anaknya (it's a boy :D), which is 2 months ago. Cukup lama bukan? Dan pesannya yang (amat) singkat ini seolah mem-'buzz' diriku.

Kemudian aku membalas pesannya, setelah aku benar2 tersadar dari tidur tentunya :) Tidak banyak yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami hanya mengirimkan 2 buah pesan singkat. Karena memang Pastini bukan orang yang suka bicara panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membahagiakanku dan (kuharap) dirinya juga :)


Salad Buah In Action

Dan ternyata pesan (amat) singkat itu menyadarkanku kalo ada beberapa kerabat dan teman-teman yang sudah sekian lama tidak pernah kukunjungi. Bahkan ada yang sudah setahun tidak pernah bertemu muka. Mudah2an postingan ini tidak membuat yang membacanya kapok berteman denganku. Hehehe..

Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan teman dekat yang sudah kuanggap saudara. Tapi rasanya ada yang kurang kalo aku gak membawa buah tangan dalam kunjunganku itu. Ya.. sekaligus sebagai permintaan maaf terselubung karena sudah lama (sekali) tidak mengunjungi mereka :)

Ku putuskan untuk bikin salad buah. Ada 2 alasan. Pertama, karena bahan-bahan dressing salad masih banyak di kulkas. Kedua, karena biasanya salad buahku cukup berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyenangkan hati orang yang memakannya *tsah*. Tinggal beli buah-buahan segar dan kalengan untuk melengkapinya.

Pada hari pertama liburan Lebaran, aku pun beraksi *apa sih...*

Dan terjadilah insiden memilukan itu *hiperbola mode on*. Jempolku luka kena pinggiran kaleng susu kental manis. Biasanya sih aku minta tolong Papah untuk membuka kaleng susu kental manis, tapi pada waktu itu si pria serba bisa itu lagi gak ada di rumah. Dan voila... tanganku luka karena keahlian membuka kaleng yang sangat minim.

Terpaksa mesti membangunkan Mamah yang lagi tidur siang untuk bantuin membebat tanganku pake kain karena darahnya gak mau berhenti. Mamah pun bangun dengan kaget: kaget karena bangun siang secara mendadak (sori, gak bisa menemukan kata yang lebih tepat) dan kaget karena lihat tanganku yang berdarah.



Kegiatan pun terhenti beberapa saat.

Untungnya Mamah merelakan jam tidur siangnya untuk membantuku. Kasian liat kerjaanku banyak yang belum kelar. Kuning telur belum dipisahin dari putihnya, buah-buahan sama agar-agar belum dipotong, dressing salah belum dibuat, ditambah lagi loyang-loyang berserakan minta dicucui. Thanks a bunch Mom :)

Dan voila... salad buah pun siap :D






Destination #1

Tujuan berkunjungku yang pertama adalah: rumah tambi (nenek dalam bahasa Dayak -red). Bukan nenek kandungku, tapi suaminya adalah ade kandung dari kakekku *mbulet ya.. :D*. Dan kunjungan itu ku pas2kan supaya aku tiba di rumahnya menjelang berbuka puasa. Oya, FYI, my Grand Dad (from my mother's side) was a Moslem.

Next...

Sudah lama sekali aku gak berkunjung kesana. Emmm.. rasanya terakhir kali aku kesana pas Lebaran tahun lalu. Bahkan pada saat anaknya rawat inap di rumah sakit pun aku gak sempat menjenguk. Hhhh.. benar-benar cucu yang durhaka. Padahal dulu, aku termasuk orang yang paling sering berkunjung ke rumah tambiku yang satu ini. Apalagi kalo bulan puasa. Aku cukup sering mengantarkan makanan *biasanya beli, gak bikin :P* untuk berbuka puasa.

Pas tiba di rumahnya, para penghuni rumah itu cukup kaget melihat kedatanganku. Mungkin karena saking lamanya aku gak pernah mampir. Orang-orang rumah pada melongo melihatku di depan pintu dengan sapaan khas-ku: "TAMBIIIIII...". Cukup keras untuk bisa didengar orang-orang satu rumah. Hehehehe...

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami pun mengobrol di teras depan rumah. Saling bertukar kabar terbaru, berbicara tentang kondisi terakhir om yang baru aja kembali setelah rawat inap, dan masih banyak lagi.

Rasanya sangat menyenangkan.

Ketika hampir maghrib, aku pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.


Destination #2

Kunjungan berikutnya adalah rumah seorang teman baik yang sudah kuanggap seperti saudara, Febi. Sebenarnya tujuanku berkunjung adalah untuk menengok ibunya Febi, karena biasanya jam segitu si Febi belum pulang ngantor.

Sejak ayahnya Febi meninggal, aku beberapa kali meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya. Baik itu mengantarkan makanan atau sekadar menemaninya mengobrol. Tapi hampir setahun belakangan ini, aku absen dari kegiatan itu.

Ketika aku tiba di rumahnya, ternyata Febi yang membukakan pintu. Loh kok sudah pulang kerja? Tumben. Setelah diusut, ternyata jam kerjanya lebih pendek karena saat itu adalah bulan puasa. Ooooo...

Si Tante pun sama terkejutnya dengan tambi yang kukunjungi sebelumnya. Mungkin ini reaksi standar yang diperoleh kalo sudah lama tidak berkunjung. Hhhhh...

Setelah pulih dari keterkejutannya *apaan sih..*, si Tante pun mengajakku untuk makan malam bersama karena kebetulan mereka lagi makan malam. Aku yang merasa sungkan untuk menolak (ditambah lagi kondisi perut yang lumayan lapar, hahaha..) akhirnya menerima ajakan itu. Dan kemudian gantian aku yang kaget. Karena di meja makan sudah ada pacarnya Febi juga. Ups..

FYI, pacarnya Febi yang sebelumnya sangat tidak menyukaiku. Gak tau kenapa. Mungkin dipikirannya aku adalah wanita yang memiliki potensi sangat besar untuk merebut Febi dari sisinya (halah! still can't find the right words :P). Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu. Impas.

Tapi aku memutuskan untuk menyukai pacar Febi yang satu ini. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah tatapan ramahnya terhadapku. Dan kami berempat (Febi, ibunya, pacarnya, dan temannya-aku) pun makan sambil bertukar kabar.

Menyenangkan (lagi).


Epilog


Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahagia sekali. Segala sesuatunya terasa lebih ringan. Betapa perhatian kecil yang kuberikan ke orang-orang terdekat dapat berbalik arah kembali dengan bentuk yang berbeda. Dan dampaknya terhadapku ternyata sangat besar.

Sepertinya aku harus merencanakan kunjungan berikutnya. Kali ini bikin apa ya?

test

Lagi iseng.
Ganti template.
Mau pulang.
.
.
.
Lapar...




Si Orang Biru tersenyum. "Tidak Edward. Kau ada di sini agar aku bisa mengajarimu sesuatu. Semua orang kau temui di sini punya sesuatu untuk diajarkan padamu."

Eddie tidak percaya. Tangannya masih terkepal.

"Apa?" tanyanya.


"Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin."

=============

"Orang-orang asing," kata si Orang Biru, "adalah keluarga yang masih belum kaukenal."

=============

"Tidak ada kehidupan yang sia-sia," kata si Orang Biru.

"Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian."

=============

"Pengorbanan," kata Kapten. "Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah dengan pengorbanan yang kauberikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kaukorbankan."

"Kau belum mengerti. Pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukannya sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. Pengorbanan kecil. Pengorbanan besar. Seorang ibu bekerja keras agar anaknya bisa sekolah. Seorang anak perempuan pindah rumah untuk merawat ayahnya yang sakit."

=============

Kapten berdecak dengan lidahnya. "Justru di situlah intinya. Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain."

=============

"Aku ingin kau belajar ini dariku. Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri."

=============

Orang sering mengatakan mereka "menemukan" cinta, seakan-akan cinta sejenis benda yang tersembunyi dibalik bongkahan-bongkahan batu. Tapi cinta mempunyai berbagai bentuk, dan tidak pernah sama bagi setiap pria dan wanita. Yang ditemukan orang sebenarnya cinta tertentu.

=============

Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup.


MITCH ALBOM

Look, I guarantee there'll be tough times.
I guarantee that at some point,
one or both of us is gonna want to get out of this thing.
But I also guarantee that if I don't ask you to be mine,
I'll regret it for the rest of my life,
because I know, in my heart,
you're the only one for me.

Homer Eisenhower Graham - Runaway Bride


Mencoba melarikan diri dari kebosanan teramat sangat yang kemudian membuatku jatuh ke pangkuan: Runaway Bride dan semangkuk mie instan. And oh, I almost forget, Richard Gere is so damn gorgeous :D

lebaran

Si Mamat beli kain sari berkodi-kodi
Selamat Idul Fitri eperibodi..

Mohon maaf lahir batin ya.. :)

ngelindur




Inilah percakapan yang akan terjadi jika seseorang menelpon pada saat aku tidur siang dan memaksakan diri untuk tetap mengobrol denganku.

(percakapan sebelumnya tidak dapat terekam dengan baik oleh otakku)

Dia : "Kalo ke Bali tuh arahnya ke mana ya? Ke Mojokerto?"
Aku : "Emmm..."
Dia : *menunggu jawaban*
Aku : "Ke atas."
Dia : "Hah??"
Aku : "Ke atas."
Dia : *hening*
Aku : "Bali kan deket sama bulan."
Dia : "Hah??"
Aku : "Iya"
Dia : "...."
Aku : "...."
Dia : "Iya. Aku ke atas."
Aku : "Kalo ke atas, aku titip salam ya.."
Dia : "Buat siapa?"
Aku : "Buat bintang. Kan deket sama bulan."
Dia : "Gak mau. Badanku sudah berat. Ditambah titipanmu nanti tambah berat. Nanti gak bisa nyampe ke atas."
Aku : "Ya udah. Aku tulis surat aja."
Dia : "Mana bisa suratmu sampai ke bintang."
Aku : "Kita liat aja yang mana yang duluan sampe. Kamu atau suratku."
Dia : "...."
Aku : *kembali tidur*


NB:
Semua ini disebabkan tingkat kecerdasanku pada saat itu ada pada level terendah.
Tolong pahami itu.
Terima kasih.

bimbang

Maafkan aku, atas keputusanku yang ku tahu akan mempengaruhimu.

Bukannya aku tak setia padamu. Tapi coba kau lihat lagi jejak memori yang tertinggal. Tiap kali aku pergi ke tempat seharusnya kita bertemu, kau tak pernah ada. Selalu. Jauh jarak yang harus ku tempuh, tapi kau tak pernah nampak di sana. Selalu.

Kuakui, di saat-saat aku tak dapat menemukanmu selalu ada yang menggantikan tempatmu. Maafkan aku. Ku tak sanggup sendiri. Tapi ku rasa dunia tak kan memusuhiku karena itu.

Dan kini, kita dipertemukan oleh nasib. Aku sempat melonjak kegirangan ketika melihatmu. Di sana, di tempat seharusnya kau menungguku. Tapi entah kenapa, mataku disilaukan oleh sesuatu yang lain. Dia.

Permohonan maaf yang sangat besar ku haturkan padamu. Sebagian hatiku memang sangat menginginkanmu. Ditambah lagi aku melihat kebimbangan sedang berdiri di sudut ruang dan menatap tajam ke arahku. Namun pesona maha dahsyat yang dipancarkannya tak mampu ku tolak. Maaf.

New Moon, aku lebih memilih Lolita ketimbang dirimu.

NB:
Dan ternyata Lolita membawa teman-temannya untuk menemaniku: Teh Kotak dan SilverQueen Chunky Bar. Ha!

untitled



"Kecepatan suara jangan melebihi kecepatan otak"


My best quote for my students. Thanks to Beby for this quote :)

NB:
Ini postingan mboh kamsud.
Imbas dari pusing membuat laporan.
Bukan hal penting.
Jangan dimasukkan ke dalam hati.
Tak perlu dipikirkan masak2.

.
.
.

OMG, kok sekarang semakin mboh kamsud.
Maafkan.
Baiklah, aku berhenti.
STOP.



Ini salah satu film yang kutunggu dan akhirnya sudah ku tonton. Setelah negosiasi dengan adeku yang ada di Bandung, akhirnya dia mau mencarikan dvd film ini. Negosiasi itu berupa: uang jalan, ongkos kirim, uang jajan, serta sedikit ancaman penghentian pasokan pulsa gsm-nya. Hhh... terkadang berbisnis dengan sodara sendiri bisa menjadi sesuatu yang menyebalkan.

Intinya film ini bercerita tentang seorang pria yang setia menanti seorang wanita selama 50 tahun. Maaf, aku gak bisa banyak memberikan review karena takut bahasaku yang sangat sederhana ini bisa merusak keindahan filmnya. Ada baiknya ditonton langsung aja.

Sensasi selama aku menonton film ini hampir sama dengan sensasi naik kora-kora. Aku gak tau apa bisa disamakan dengan sensasi naik rollercoaster, karena aku baru sampai tahapan naik kora2. Mungkin suatu saat ada kesempatan naik rollercoaster dan akan kucoba untuk membandingkan sensasi antara naik rollercoaster dan menonton Love In The Time of Cholera *halah*.

Upss.. kebablasan. Balik ke topik.

Kenapa kusamakan dengan naik kora2? Karena emosiku naik-turun selama nonton film ini. Dan selama itu pula aku ngerasa ulu hatiku seperti diaduk2. Kira2 seperti habis implant mixer di perut.


Film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama. Pengarangnya adalah Gabriel Garcia Marquez. Novel yang sekarang ini jadi buruan utamaku. Susah banget nyarinya, bahkan di toko2 buku besar. Dan dari hasil pencarianku, buku ini ada di salah satu daftar katalog buku impor di sebuah situs penjualan buku online. Beli gak ya? Atau ada yang ingin menghadiahiku? Hehehe...

Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya*

Jujur aja, aku bukan penggemar Nidji. Tanyakan aja nama personelnya, dan yang ku tau cuma 1: Giring. Hanya itu informasi paling akurat tentang Nidji yang bisa kusampaikan. FYI, satu2nya daya tarik Nidji bagiku adalah salah satu gitarisnya *gak tau namanya. itu loh.. yang pacaran sama Dea Ananda*. Ganteng *tersipu-malu mode on*. Jenis musik yang mereka bawakan bukan jenis musik yang bisa kucerna dengan baik. Mungkin terlalu berat untuk otakku yang sangat sederhana ini. Hehehe..

Namun ketika aku dengar mereka membawakan lagu 'Laskar Pelangi', tiba2 aku bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang kulakukan saat itu dan mendengarkan *dengan seksama* lagu itu. Seperti ada kekuatan magis yang menarikku untuk tetap mendengarkannya. Tapi aku percaya Nidji gak perlu guna2 supaya lagu mereka yang satu ini bisa laku. Musik dan liriknya berjalan bersama. Dan cuma satu kata yang bisa kukatakan untuk menggambarkan perasaanku tentang lagu ini: pas.

Laskar Pelangi
tak kan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa

Kalimat pertama lagu ini kena banget. Memang benar, mimpi adalah langkah awal dari semua langkah. Dan aku sendiri merasakannya.

Aku lahir dari keluarga yang biasa2 aja. Bahkan bisa dibilang pas2an saat itu. Tapi orang tuaku punya mimpi untuk menyekolahkan anak2 mereka setinggi mungkin. Urusan bayar biayanya gimana, masih belum tau. Tapi bekal yang paling berharga yang orang tuaku miliki adalah: mimpi untuk menjadikan anak2nya orang yang berpendidikan.

Aku pun punya mimpi yang serupa. Ingin kuliah ke Jawa supaya dapat pendidikan yang lebih bagus *bukannya mengecilkan mutu pendidikan di tempat asalku*. Tapi aku pengen punya pengalaman baru dan merasakan kehidupan di luar sana. Dan suatu hari aku liat profil sebuah kampus swasta Surabaya di tv. Mulai hari itu aku bertekad bahwa aku harus kuliah di situ. Walaupun aku sadar, biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah di sana pasti besar sekali. Caranya bagaimana? Dipikirkan nanti.

Ternyata, kampus itu menawarkan beasiswa 100% (tuition fee) bagi calon mahasiswa dari Kawasan Timur Indonesia. Kemudian aku mengikuti tes beasiswa tersebut, dan sebulan kemudian aku diterima. Rasanya hampir gak percaya. Tapi mimpi akhirnya jadi kenyataan.

Dan sekarang, lihatlah. Usaha yang ditekuni orang tuaku sudah menunjukkan hasil yang baik. Formula yang dipakai adalah mimpi + kerja keras. Bahkan mereka bisa menyekolahkan adeku di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku bangga dengan orang tuaku.

Menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di dunia,
selamanya...

Mimpi2 lain yang sering kali terwujud adalah travelling ke tempat2 yang belum pernah ku kunjungi. Aku pernah bilang dalam hati: "Belum pernah ke Bali nih. Pengen banget ke sana". Dan beberapa lama kemudian, aku sudah ada berlibur di Bali. Sejak saat itu, aku selalu menetapkan kota mana yang ingin ku tuju sebagai next destination ku.

Pernah aku bilang sama temen: "Aku pengen banget ke Manado. Entah kapan, tapi aku harus ke sana". Dan 2 tahun setelah aku bilang begitu, kesempatan itu datang. Dan lebih enaknya lagi, tak perlu mengeluarkan biaya pribadi. Menyenangkan bukan?

Mau percaya atau gak, kota2 di 5 pulau besar di Indonesia yang pernah ku kunjungi, semuanya berawal dari mimpi. Dan tujuanku berikutnya adalah: Lombok dan Singapura. Kita lihat, seberapa cepat mimpiku ini direspons :)

Cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu. Waktu itu masih fresh graduate dan berkeliling kota Surabaya untuk mencari pekerjaan. Dan entah kenapa, setiap kali diajukan pertanyaan *baik secara lisan maupun tulisan* tentang pekerjaan sebenarnya yang kuinginkan, aku mesti menjawab: "Jadi ibu rumah tangga dan buka cafe". Aku sampe ditegur sama mantan pacarku *yang saat itu masih jadi pacarku*, kalo cari kerja itu yang serius.

Kalo mau ditanya tingkat keseriusanku waktu ngasih jawaban itu, aku sangat serius. Aku juga gak ngerti kenapa jawaban itu bisa keluar. Tapi yang aku lebih gak ngerti lagi, walaupun aku sudah ngasih jawaban seperti itu, aku tetap dipanggil untuk interview berikutnya. Hehehehe...

Dan memang itu mimpi terbesarku saat ini. Jadi ibu rumah tangga dan pengen punya cafe. Dan kalo anak2 sudah bisa mandiri, pengen beli rumah di desa dengan halaman belakang yang luas lengkap dengan ayunan kayunya. Kemudian sesekali travelling ke tempat2 yang belum pernah dikunjungi. Lalu hidup dengan tenang sampai ajal menjemput. Ketiga hal terakhir tentu saja ingin kulakukan bersama pria yang kucintai *tersipu-malu mode on lagi*.

Laskar Pelangi
tak kan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

Dan bagi orang2 yang bahkan untuk bermimpi pun mereka tak berani, kusampaikan pada kalian 2 kata yang sering diucapkan oleh si Gundheg *temanku* dengan logat Jawa-Toraja nya yang lucu: "Mati ae.."

*Lirik lagu Laskar Pelangi - Nidji

Newer Posts Older Posts Home