Blogger Template by Blogcrowds.

Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Mbak E

Perbincangan ini terjadi antara 2 bocah perempuan. Yang satu Jawa (Bocah 1) dan satunya lagi Cina-Dayak (Bocah 2).

Bocah 1: "Mbak'e.. Mbak'e.." (memanggil Bocah 2)
Bocah 2: "Namaku bukan Mbak E. Namaku Michelle. Jadi aku ini Mbak M. Susan tuh Mbak S. Nah, Ella itu yang Mbak E."

Gubrak!

short stories

Di kantor, berbincang dengan beberapa teman.

Teman : "Aku kok pengen nambah anak lagi ya? Soalnya anakku suka ngomong sendiri."
Aku : "............"

Mungkin karena temanku mengatakan hal itu dengan nuansa menerawang, sehingga bagian yang bercetak tebal itu terdengar ehm.... mengkhawatirkan.

********

Meja makan, ketika sedang makan malam.

Tiba-tiba.

Papah : "Coba perhatikan. Aku bisa bikin sendok ini jadi bengkok." *sambil menggoyang-goyangkan sendok ala pesulap berambut separo itu*

Hhhh... terkadang si Papah suka AJAIB.

********

Jum'at malam, menonton pemilihan Miss Indonesia di RCTI.

Baju putih yang dipakai Indah Pelapory sangat indah. Sesuai dengan imajinasiku akan baju putri-putri dalam dongeng. Namun, yang agak mengganggu adalah ketika Indah mulai berbicara. Nada bicaranya tinggi sekali. Wah, kalo jadi penyanyi pasti Mariah Carey kalah tuh ;-)

Keanehan kedua.

Aku lupa finalis dari provinsi mana, tapi yang pasti wanita ini masuk 10 besar. Ketika diberikan pertanyaan yang bunyinya kira-kira seperti ini:

"Siapakah sosok yang paling menginspirasi Anda dan mengapa?"

Dan jawabannya adalah... jeng.. jeng.. jeng.. jeng..

"Sosok yang paling memberikan inspirasi adalah ibu. Karena ibu selalu memberikan motivasi dan inspirasi."

????????

Jawaban yang bersifat rekursif.


9 April 2009.
Pagi.
Meja makan.
Si Papah. Si Mamah. Aku.

"Mah, jam berapa kita ke TPS?", kataku di sela-sela mengunyah sarapan.

"Tau lah..", jawab si Mamah.

"Agak siangan ja Mah. Palingan ngantri juga."

"Milih siapa yuk lah?", aku bertanya.

Si Papah mulai menyimak pembicaraanku dan Mamah.

"Ih, itah milih 'si Mina (Tante -red)' ih..", Papah pun angkat bicara. (Kita milih 'si Mina' aja...)

"Emangnya 'si Mina' tu DPRD Provinsi atau Kota Pah?", tanyaku.

"Amun dia sala, Provinsi angat ah". (Kalo gak salah sih rasanya Provinsi)

"Tapi kan 'si Om' juga caleg Provinsi Pah."

"Kutuh ih gin. Ikau dengan indum mamilih 'si Om', kareh aku mamilih 'si Mina' te. Mangat adil." (Gini aja. Kamu sama Mamah milih 'si Om', nanti Papah milih si Mina. Supaya adil.)

"Amun nang Kota-nya pang siapa yang kita pilih?", si Mamah berujar. (Trus, yang Provinsi siapa yang kita pilih?)

"Milih 'si Itu' ja Mah."

"Ela. 'Si Jituh' ih. Pasie, jatun gawie.", Papah mengusulkan (Jangan. 'Si Ini' aja. Kasian, gak punya pekerjaan).

"Limbah te, je DPD ah itah milih 'Bapak jite' ih. Bahalap ie te." (Trus, untuk DPD kita pilih 'Bapak Itu' aja. Bagus.)

"Nah, kalo yang DPR RI kita pilih 'Mas Itu' ja.", aku mengusulkan pilihanku.

"Iyuh", jawab Papah. (Iya)

'Rapat' selesai.

PS:
Seperti inilah demokrasi di mata kami, keluarga kecil yang juga orang-orang kecil. Tanpa keributan kami tetap bisa mencapai mufakat. Itu pun kami lakukan dengan 3 bahasa yang berbeda.

tantangan


Tepat jam 6 sore, si Mamah sudah bersiap di depan TV. Remote TV tak pernah jauh dari tangannya. Semua kegiatan diselesaikan sebelumnya. Bahkan urusan mandi sore, sudah dilakukan jauh sebelumnya lagi. Di kalangan keluarga, si Mamah memang terkenal sebagai seorang penggila sinetron.

Tepat jam 6 sore pula aku menghampiri Mamah dan mengajukan sebuah usulan.

"Mah, gimana kalo kita adakan tantangan buat Mamah."

Mamah menoleh sebentar, lalu berkata, "Tantangan apa?"

"Gimana kalo Mamah ditantang gak nonton TV sama sekali selama seminggu. Tapi ada hadiahnya Mah", lanjutku.

"Apa hadiahnya?", si Mamah mulai kelihatan tertarik.

Aku berpikir sebentar. "Kubeliin Mamah sepatu."

"Bah, kada sepadan hadiahnya tu." (Hadiahnya gak sepadan)

Aku pun memutar otak, kemudian melakukan bargaining lagi dengan si Mamah.

"Gini ja, kita ganti. Mamah gak boleh nonton TV mulai dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Selama satu minggu." *FYI, parade sinetron di televisi dimulai dari jam 6 sore sampe jam 10 malam. Ha!*

Mamah pun menjawab dengan mantap, "Ayu ja." (Ayooo)

Sekarang giliran aku yang mikir-mikir. Harga sepasang sepatu buat si Mamah lumayan juga. Kena deh!

Tak mau terlihat kalah, aku pun menjawab, "Oke. Kita mulai besok lah. Mamah gak boleh nonton Marvel, Alissa, dan teman-temannya... Hahaha, Mamah pasti ketinggalan banyak ceritanya."

Mamah terlihat berpikir, lalu melakukan penawaran, "Kayak apa amun sehari ja?" (Gimana kalo cuma satu hari aja?)

"Ih, gak bisa! Rugi aku. Pokoknya harus satu minggu. Kalo gak mau, gak jadi ja tantangannya."

Si Mamah pun melancarkan aksi bulusnya, "Ayu ja! Tapi mulai jam 6 aku bejalan lah?" (Oke! Tapi mulai jam 6 aku jalan-jalan ya?)

"Gak bisa juga! Mamah harus di rumah ja. Kayak aku gak tau ja akal Mamah tu. Palingan Mamah jalan ke rumah Mina (Tante-red) Mamah Yani trus nonton di sana."

Si Mamah pun tersenyum malu-malu.

"Gimana ni? Jadi gak tantangannya?"

Si Mamah pun menyerah, "Kada jadi ja gin. Kada kawa aku amun lawas kada menonton Marvel. Kada tahu kesahnya kena." (Gak jadi deh. Gak bisa aku gak nonton Marvel lama-lama. Nanti gak tau ceritanya.)

Aku menang!

Suatu siang, aku dan suami berkunjung ke rumah Oom (dari suami). Kondisi kesehatan beliau akhir-akhir ini sedang menurun diakibatkan penyakit diabetes yang sudah sejak lama diidapnya.

Ketika kami berkumpul di ruang tengah, dua orang anak kembar si Oom bersama sang kakak sedang bermain X-Box. Tampaklah perkelahian sengit antara 2 orang jagoan dan penduduk yang berwajah seram. Dengan ukuran televisi yang cukup besar, permainan itu tampak nyata. Ditambah lagi kualitas gambar yang menyerupai asli. Ah, kecanggihan teknologi :-)

Aku pun tanpa disadari menyimak dengan seksama permainan itu sementara suamiku berbincang dengan Oom.

"Bantuin tho.. Aku wis mau mati iki!", seru sang kakak kepada salah satu adik kembarnya.

"Sek ta. Peluruku juga mau entek.", sang adik pun menjawab.

Tak berapa lama, si kembar yang tak ikut bermain berteriak.

"Awas Mas, ada gigolo! Itu loh nang mburimu!"

Awalnya aku menanggapi biasa-biasa saja percakapan seru mereka. Tapi... tunggu dulu. Rasanya ada yang aneh. Hmm... apa ya?

Kemudian.

"Itu loh Mas! Gigolonya! Cepetan ditembak!"

Hah? Gigolo?

Kemudian aku memperhatikan dengan seksama layar televisi di hadapanku. Ada sosok manusia besar, bertopeng besi, membawa tombak. Inikah yang dimaksud dengan 'gigolo' itu?

Lalu aku berkata, "Ya ampun Calvin, ini lak bukan gigolo. Ini algojo."

Si Calvin menoleh sesaat dan dengan bersemangat dia berteriak, "Awas Mas, ada gigolo!".

Michelle, ketika berusia 1 tahun 10 bulan


'Mau jadi kue.'

Itu jawaban yang dengan spontan sekaligus tegas keluar dari mulut seorang anak sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-3 ketika ditanya ingin jadi apa dia bila sudah besar nanti. Bocah perempuan itu adalah keponakan suamiku yang posturnya menyerupai anak usia 5 tahun.

Pernah liat iklan sabun cuci (kalo gak salah sabun cuci, tapi kalo bukan, yang pasti iklan ini pernah eksis :P) yang ceritanya tentang seorang anak yang punya baju favorit. Saban bajunya kering habis dicuci, langsung dipake. Rasanya demam cuci-kering-pake ini melanda hampir semua anak. Kukatakan hampir, karena aku sendiri gak mengalaminya. Aku memiliki 'demam' lain yang kuanggap terlalu memalukan untuk diungkapkan pada blog ini. Dan 'demam' terus terjadi sampe sekarang. Hahaha!

Jangan salah, ternyata falsafah cuci-kering-pake gak cuma melanda anak-anak. Ada satu orang dewasa, yang kukenal dengan sangat baik, yang menganut paham ini. Orang itu tak lain dan tak bukan: si Papah.

Aku sih baru nyadar akhir-akhir ini aja kalo ternyata si Papah kalo lagi suka sama satu baju pasti bakal itu baju bakal sering banget dipake.

Sekarang ini Papah lagi seneng sama salah satu bajunya. Mau Papah ke tetangga, ke rumah sodara, ke ibadah rumah tangga, bahkan sekedar ngumpul2 di warung sebelah rumah, mesti baju ini di pake. Sempat diprotes sih sama Mamah: "Ih... bajunya kok itu terus? Gak malu? Nanti dikira gak ada baju yang lain". Jawaban si Papah: cuek beibeh, yang kurang lebih bisa diartikan: "Iya aku tau. Tapi aku suka banget baju ini".

Pernah satu hari, pas aku lagi nyuci, si Papah nyamperin dan bilang: "Titip lah" sambil menyorongkan baju kesayangan. Minta dicucikan. Sorenya, pas aku lagi melipat baju2 yang sudah kering, aku liat Papah sibuk bolak balik. Seperti sedang mencari sesuatu. Setelah beberapa kali bolak balik, mata Papah kemudian tertuju ke tumpukan baju yang sudah ku lipat. Lalu Papah mengambil baju kesayangannya yang baru aja dilipat, dan berjalan ke arah meja setrika. Semua dilakukan tanpa mengatakan apa pun. FYI, baju favorit itu bakal jarang sekali terlihat dalam keadaan terlipat rapi di dalam lemari. Ada dua sebab. Pertama, baju lagi ada di jemuran. Atau, yang kedua, bajunya lagi di pake Papah.



Oya, ada satu lagi hobi aneh si Papah. Main suling recorder.

Di Palangka Raya lumayan sering terjadi pemadaman listrik (hhh..). Kira-kira 2 atau 3 hari sekali pasti kena giliran pemadaman. Kan bikin keki tuh. Gak tau mau ngapain. Tapi ada satu orang dirumahku yang paling gak keki sekaligus tau mau ngapain kalo ada pemadaman. Tak lain dan tak bukan: si Papah.

Saban ada pemadaman, si Papah bakal mengumpulkan anggota geng musiknya yang terdiri dari: suling recorder punya adeku (dia main suling ini waktu SD, tapi sekarang pura-pura lupa kalo pernah punya) & buku Kidung Jemaat (kumpulan lagu pujian yang dinyanyikan waktu ibadah di Gereja). Biasanya kalo sudah ada tanda-tanda seperti ini, aku sama Mamah langsung nyari suaka. Suaka.. suaka..

Empat hari yang lalu, kompleks rumahku kena giliran pemadaman. Seperti biasa, Papah sudah standby di meja makan bersama suling recorder dan buku Kidung Jemaat. Aku yang lagi asik browsing pake HP di meja makan (maksudnya aku juga gabung sama Papah duduk di meja makan) pun memasrahkan telinga untuk mendengarkan aksi musikal si Papah.

Lalu setelah beberapa memainkan beberapa lagu dari Kidung Jemaat, Papah diam sejenak. Kemudian, dengan cukup mengagetkan, Papah memainkan lagunya Ebiet G. Ade (gak tau judulnya). Seketika itu juga, aku langsung meninggalkan Opera Mini dan mengarahkan pandanganku ke Papah. Tak lama kemudian terdengar suara Mamah dari kamar: "Lagunya lah...". Si Papah cuma nyengir-nyengir + sedikit besar kepala dan kembali memainkan beberapa lagu dengan suling recordernya.

Kemudian Papah berhenti sejenak. Menatapku. Lalu bilang: "Hmmm... Nanti aku mau beli saxophone. Buat latihan."

Sesaat setelah kalimat Papah berakhir, aku tertawa terbahak-bahak.

berkunjung

SMS

sender: +628563065xxx
date: 26.09.2008
text:
Haiiiii..


Sebuah pesan singkat mampir ke inbox HP ku beberapa waktu yang lalu. Waktu saat itu kira-kira menunjukkan pukul 2 dinihari. Waktu yang tidak biasa untuk menghubungi seseorang kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.

Pesan ini datangnya dari seorang sahabat, Pastini. Mantan teman kost semasa kuliah dulu. Dan sejak 3 bulan sebelum dirinya melahirkan anak pertamanya, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Singaraja - Bali.

Sebuah 'buzz' yang singkat dan jelas. Singkat karena, kalau mau meluangkan sedikit waktu, hanya berisi 9 karakter. Dan jelas, karena untuk ukuran seorang Pastini yang paling anti menggunakan kalimat yang berbunga-bunga atau berbusa-busa atau berbuih-buih atau apalah namanya. Pesan ini dengan JELAS menyampaikan bahwa dia sedang kangen.

Kalau boleh, aku ingin bercerita sedikit *emmm.. mungkin kepanjangan kalo aku agak lupa diri* tentang Pastini, temanku ini.

Pastini adalah asli orang Bali. Lahir dengan embel-embel Ida Ayu di bagian depan namanya, yang kita ketahui bersama bahwa hal itu menandakan bahwa dirinya berada pada urutan tertinggi kasta yang berlaku di Bali. Dan bukan cuma itu, keluarganya pun tergolong keluarga yang terpandang di Singaraja.

Dari semua anak kost, Pastini lah yang kondisi keuangannya selalu 'aman'. Tidak seperti kami yang selalu cekak kalo sudah sampai akhir bulan. Hahaha.. Dan cuma dia seorang yang di antara kami se-kost yang mampu membeli 2 kemeja Lee Cooper sekaligus. Yaa... untuk ukuran anak kost seperti kami, bisa membeli 1 kemeja Lee Cooper aja kayaknya berkah yang patut disyukuri *apa sih...*

Namun, sebuah langkah yang sangat besar diambilnya ketika dia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan langkah yang terlampau besar menurutku. Karena hanya dengan sekali langkah itu saja, Pastini harus meninggalkan status sosial serta keamanan finansialnya. Ya, dia memutuskan untuk menikah dengan kekasih semasa SMA-nya yang berkasta rendah.

Orang tuanya sudah pasti tidak merestui. Mereka pun berusaha untuk menjodohkan Pastini dengan pria yang berstatus sosial yang sama. Dan puncaknya adalah ketika Pastini yang kala itu bekerja di Surabaya, akan 'ditarik' orang tuanya kembali ke Bali. Pastini dan (kala itu masih) suaminya memutuskan untuk menikah secara adat.

Singkat cerita, orang tua Pastini sekarang sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Dan puji Tuhan, mereka sudah bisa merestui. Walaupun sampai saat ini Pastini masih belum diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya (dikarenakan adat yang berlaku), tapi mereka masih bisa bertemu di tempat lain.

Nah, dari cerita singkat (yang agak kepanjangan) tentang Pastini itu, aku bisa merasakan 'kesepian' yang dialaminya. Jauh dari orang tuanya, ade2nya, serta teman terdekatnya.

Kuakui, sudah beberapa lama aku tidak menghubunginya. Terakhir kali aku menelponnya adalah ketika dia melahirkan anaknya (it's a boy :D), which is 2 months ago. Cukup lama bukan? Dan pesannya yang (amat) singkat ini seolah mem-'buzz' diriku.

Kemudian aku membalas pesannya, setelah aku benar2 tersadar dari tidur tentunya :) Tidak banyak yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami hanya mengirimkan 2 buah pesan singkat. Karena memang Pastini bukan orang yang suka bicara panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membahagiakanku dan (kuharap) dirinya juga :)


Salad Buah In Action

Dan ternyata pesan (amat) singkat itu menyadarkanku kalo ada beberapa kerabat dan teman-teman yang sudah sekian lama tidak pernah kukunjungi. Bahkan ada yang sudah setahun tidak pernah bertemu muka. Mudah2an postingan ini tidak membuat yang membacanya kapok berteman denganku. Hehehe..

Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan teman dekat yang sudah kuanggap saudara. Tapi rasanya ada yang kurang kalo aku gak membawa buah tangan dalam kunjunganku itu. Ya.. sekaligus sebagai permintaan maaf terselubung karena sudah lama (sekali) tidak mengunjungi mereka :)

Ku putuskan untuk bikin salad buah. Ada 2 alasan. Pertama, karena bahan-bahan dressing salad masih banyak di kulkas. Kedua, karena biasanya salad buahku cukup berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyenangkan hati orang yang memakannya *tsah*. Tinggal beli buah-buahan segar dan kalengan untuk melengkapinya.

Pada hari pertama liburan Lebaran, aku pun beraksi *apa sih...*

Dan terjadilah insiden memilukan itu *hiperbola mode on*. Jempolku luka kena pinggiran kaleng susu kental manis. Biasanya sih aku minta tolong Papah untuk membuka kaleng susu kental manis, tapi pada waktu itu si pria serba bisa itu lagi gak ada di rumah. Dan voila... tanganku luka karena keahlian membuka kaleng yang sangat minim.

Terpaksa mesti membangunkan Mamah yang lagi tidur siang untuk bantuin membebat tanganku pake kain karena darahnya gak mau berhenti. Mamah pun bangun dengan kaget: kaget karena bangun siang secara mendadak (sori, gak bisa menemukan kata yang lebih tepat) dan kaget karena lihat tanganku yang berdarah.



Kegiatan pun terhenti beberapa saat.

Untungnya Mamah merelakan jam tidur siangnya untuk membantuku. Kasian liat kerjaanku banyak yang belum kelar. Kuning telur belum dipisahin dari putihnya, buah-buahan sama agar-agar belum dipotong, dressing salah belum dibuat, ditambah lagi loyang-loyang berserakan minta dicucui. Thanks a bunch Mom :)

Dan voila... salad buah pun siap :D






Destination #1

Tujuan berkunjungku yang pertama adalah: rumah tambi (nenek dalam bahasa Dayak -red). Bukan nenek kandungku, tapi suaminya adalah ade kandung dari kakekku *mbulet ya.. :D*. Dan kunjungan itu ku pas2kan supaya aku tiba di rumahnya menjelang berbuka puasa. Oya, FYI, my Grand Dad (from my mother's side) was a Moslem.

Next...

Sudah lama sekali aku gak berkunjung kesana. Emmm.. rasanya terakhir kali aku kesana pas Lebaran tahun lalu. Bahkan pada saat anaknya rawat inap di rumah sakit pun aku gak sempat menjenguk. Hhhh.. benar-benar cucu yang durhaka. Padahal dulu, aku termasuk orang yang paling sering berkunjung ke rumah tambiku yang satu ini. Apalagi kalo bulan puasa. Aku cukup sering mengantarkan makanan *biasanya beli, gak bikin :P* untuk berbuka puasa.

Pas tiba di rumahnya, para penghuni rumah itu cukup kaget melihat kedatanganku. Mungkin karena saking lamanya aku gak pernah mampir. Orang-orang rumah pada melongo melihatku di depan pintu dengan sapaan khas-ku: "TAMBIIIIII...". Cukup keras untuk bisa didengar orang-orang satu rumah. Hehehehe...

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami pun mengobrol di teras depan rumah. Saling bertukar kabar terbaru, berbicara tentang kondisi terakhir om yang baru aja kembali setelah rawat inap, dan masih banyak lagi.

Rasanya sangat menyenangkan.

Ketika hampir maghrib, aku pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.


Destination #2

Kunjungan berikutnya adalah rumah seorang teman baik yang sudah kuanggap seperti saudara, Febi. Sebenarnya tujuanku berkunjung adalah untuk menengok ibunya Febi, karena biasanya jam segitu si Febi belum pulang ngantor.

Sejak ayahnya Febi meninggal, aku beberapa kali meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya. Baik itu mengantarkan makanan atau sekadar menemaninya mengobrol. Tapi hampir setahun belakangan ini, aku absen dari kegiatan itu.

Ketika aku tiba di rumahnya, ternyata Febi yang membukakan pintu. Loh kok sudah pulang kerja? Tumben. Setelah diusut, ternyata jam kerjanya lebih pendek karena saat itu adalah bulan puasa. Ooooo...

Si Tante pun sama terkejutnya dengan tambi yang kukunjungi sebelumnya. Mungkin ini reaksi standar yang diperoleh kalo sudah lama tidak berkunjung. Hhhhh...

Setelah pulih dari keterkejutannya *apaan sih..*, si Tante pun mengajakku untuk makan malam bersama karena kebetulan mereka lagi makan malam. Aku yang merasa sungkan untuk menolak (ditambah lagi kondisi perut yang lumayan lapar, hahaha..) akhirnya menerima ajakan itu. Dan kemudian gantian aku yang kaget. Karena di meja makan sudah ada pacarnya Febi juga. Ups..

FYI, pacarnya Febi yang sebelumnya sangat tidak menyukaiku. Gak tau kenapa. Mungkin dipikirannya aku adalah wanita yang memiliki potensi sangat besar untuk merebut Febi dari sisinya (halah! still can't find the right words :P). Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu. Impas.

Tapi aku memutuskan untuk menyukai pacar Febi yang satu ini. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah tatapan ramahnya terhadapku. Dan kami berempat (Febi, ibunya, pacarnya, dan temannya-aku) pun makan sambil bertukar kabar.

Menyenangkan (lagi).


Epilog


Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahagia sekali. Segala sesuatunya terasa lebih ringan. Betapa perhatian kecil yang kuberikan ke orang-orang terdekat dapat berbalik arah kembali dengan bentuk yang berbeda. Dan dampaknya terhadapku ternyata sangat besar.

Sepertinya aku harus merencanakan kunjungan berikutnya. Kali ini bikin apa ya?


Hari Minggu kemaren, ada undangan makan2 di rumah tanteku. Sebuah undangan yang paling cepat direspons oleh semua keluarga. Daya tariknya tentu saja, makan2nya itu :D

Ada beberapa alasan sih kenapa aku datang ke rumahnya tanteku:

  1. Itu salah satu tante favoritku dan aku deket banget sama anaknya.
  2. Rumahnya gak seberapa jauh dari rumahku.
  3. Papah sama Mamah kesana. Dan karena aku gak mau sendirian di rumah, aku juga kesana.
  4. Last but not least, ya makan2nya itu tadi :D
Setelah sampe di sana, eh ternyata makan2nya belum mulai (hh.. timing yang kurang cermat). Jadi sembari menunggu waktu makan2 itu tiba, kami semua ngumpul2 di teras belakang.

Pas lagi asik ndengerin gosip baru dari seorang tante, terjadilah percakapan antara aku dan sang tuan rumah.
Om : "Vi, pernah makan itu gak?" *sambil nunjuk ke arah keranjang buah di atas meja*
Aku : *melihat keranjang itu* "Ini apa Om?"
Om : "Buah marau."
Aku : "Eee.." *dengan tampang bego karena gak tau*
Om : "Buah rotan."
Aku : *mulut membentuk ooo...* "Emang bisa dimakan Om?"
Om : "Bisa.Coba ja." *sambil senyum2*
Aku : *terjadi peperangan antara penasaran dan keraguan* "Enak lah Om?"
Om : "Coba ja." *sambil senyum2 lagi*
Aku : *keraguan dikalahkan penasaran*

Akhirnya aku ambil 1 buah marau itu. Yang jadi perhatian pertamaku adalah tekstur kulitnya yang keras dan bersisik. Mirip kulit salak, tapi lebih keras. Jempolku aja sampe luka sedikit waktu mengupas buah marau itu.

Dan sebelum tepat sebelum kumasukkan buah itu ke dalam mulutku, seorang tanteku yang duduk di sebelahku bilang: "Masam sekali". Tapi sudah terlambat, karena sesaat sebelum kalimat tanteku itu berakhir, buah itu sudah bersemayam di dalam mulutku. Dan.... astaga, asam sekali!!! Saking asamnya sampai aku gak bisa berkata2 lagi.

Om : "Ditaroh gusi bagian luar"
Aku : "mmmm...mmm...mmm..." *ingin mengatakan sesuatu, tapi gak bisa buka mulut*
Om : "Jangan digigit, dibiarin aja sampai masamnya hilang"
Aku : "mmm..mmm..mmm...mmm..." *semakin menggerakkan mulut ternyata semakin asam*
Om : "Nanti lama2 rasa masamnya hilang sendiri"
Aku : *ya iyalah...* "mmm...mmm...mmm..."

Dari cerita Om ku, buah marau ternyata adalah buah rotan. Pernah liat kursi, meja, keranjang, tempat majalah yang terbuat dari rotan? Nah, buah marau adalah buah yang dihasilkan oleh batang rotan itu.

Kita gak akan pernah liat buah ini dijual di pasaran. Bukan karena penggemarnya sedikit *mengingat rasa asamnya itu*, tapi karena sudah semakin langka. Eksploitasi hutan secara besar-besaran membuat buah ini semakin jarang ditemui. Biasanya cuma ada di hutan2 yang jarang dijamah oleh manusia.

Walaupun aku memutuskan untuk tidak menyukai buah ini, aku senang sekali punya pengalaman makan buah marau itu. Apalagi kalo melihat ekspresi senangnya para keluarga *khususnya yang generasi atas* waktu liat buah itu. Sumpah, mata mereka berbinar-binar :)

Ini lanjutan cerita hasil 'kreativitas' si Papah.

Beberapa hari yang lalu, Papah membuatkanku bedsheet alias sprei. Ini pun hasil paksaan hampir 1 bulan. Soalnya di sini susah banget nyari sprei yang sesuai dengan keinginanku. Yang ada motif dan warnanya selera 'tua'. Secara diriku masih muda *ceile...*, kan malas banget beli yang gituan.

Alhasil, pas jalan2 ke toko kain, aku ngeliat ada bahan sprei yang warna dan motifnya sesuai selera. Trus aku beli kainnya, dan ku 'paksa' Papah untuk menjahitnya. Setelah omelan: "Aduh, gak ada waktu ni", "Lagi banyak kerjaan", "Kenapa gak beli aja", dll, akhirnya Papah mau juga menjahit spreiku.

Dan jadilah sprei baruku... Bagus kan??


Tapi sayangnya, kainnya cuma cukup untuk bikin sprei + 2 sarung bantal. Blame it to si penjual kain who said: "Cukup haja tu. Biasanya amun gasan ranjang ukuran nomor 2, 3 meter satangah tu cukup banar."*

Dan tempat tidurku itu, juga bikinan Papah. Waktu pengerjaannya lama banget. Hampir 6 bulan. Dibuat waktu aku masih SMP, dan sampai sekarang masih dalam kondisi yang bagus.

Oya, sebenarnya masih ada satu lagi keahlian Papah yang lupa ku cantumkan. Memotong rambut.

Papah paling jarang ke tukang cukur. Kami sampai terheran-heran ngeliat Papah bela2in memberdayakan 3 cermin *sisi depan, belakang, samping agak menyerong* kalo lagi potong rambutnya sendiri. Oya, aku sama adeku juga orang yang paling sering jadi pelanggan 'salon' Papah. Sebenarnya sih kami terpaksa, soalnya pas kami bilang: "Mau potong rambut ah...", Papah langsung bergegas mengambil peralatan memotong rambutnya dan mendudukkan kami di kursi makan dan harus menerima hasilnya apa adanya.

Alhasil, acara memotong rambut selalu jadi momok buatku sama adeku dan jadi tontonan yang menarik untuk salah satu dari kami yang sedang tidak dipotong rambutnya. 'Salon' itu pasti diiringi dengan kalimat: "Jangan gerak2, nanti telinganya terpotong!", "Gimana gak gerak2, gatal ni!", "Hah??? Kenapa hasilnya jadi kayak gini??", "Mamaaaaahhhh!!!!!".

Sampai aku tamat SMP, rambutku selalu dipotong sama Papah. Begitu juga adeku. Jadi, aku sudah terbiasa dengan poni yang kependekan, rambut yang gak rata, dan 1 jam berada di 'salon' Papah *soalnya proses pemotongan rambut memakan waktu yang sangat lama.

Tapi yang paling tragis waktu rambutku dipotong persis kayak rambutnya Adi Bing Slamet waktu kecil. Persis banget, sampe2 aku jadi Adi versi cewek. Apalagi poninya, mirip banget. Padahal Papah gak menggunakan mangkok loh waktu motong rambutku.

Gara2 itu, aku jadi ngambek dan gak mau keluar rumah seharian. Setelah aku mengancam besoknya gak mau sekolah, akhirnya Mamah 'melarikanku' ke salon langganannya. FYI, cuma Mamah yang punya cukup akal sehat untuk gak mau jadi pelanggan 'salon' Papah. Hhhh... kenapa pada masa itu akalku tak sesehat itu??

* Cukup aja itu. Biasanya untuk ukuran ranjang nomor 2, 3,5 meter cukup banget - Bahasa Banjar (red)


My Dad = My MacGyver. Bisa bikin apa aja, selama masih bisa diakalin. Aku pernah ditanya, kalo misalnya mesti tinggal di suatu pulau bersama satu orang aja, mau tinggal sama sapa? Dan aku jawab: "Papah" (begitu kami memanggil ayah di sini).

Contoh kekreativitasannya:

  1. Mengajariku menyulam kristik. Even my Mom can't do that (sorry Mah, bukan maksud mengecilkanmu. Hehehehe...)
  2. Membuatkan (hampir semua) prakaryaku. Mulai dari boneka dari lilin, vas bunga dari tanah liat, asbak dari tempurung kelapa, dan masih banyak lagi.
  3. Menjahitkan ku baju Natal. Ini beneran loh.. Waktu itu aku pengen banget punya baju Natal yang modelnya Baby Doll. Nenekku yang membuatkan polanya dan Papah yang menjahitkannya. Sumpah...
  4. Memperbaiki mesin mobil dan sepeda motor (paling gengsi kalo mesti ke bengkel).

Tapi banyak juga barang-barang di rumah yang dijadikan bahan percobaan:
  1. Semua mixer Mamah yang rusak, coba diperbaiki tapi malah tambah rusak. Hahaha...
  2. Pulpen listrikku (salah satu kejahilan masa kuliah) yang rusak, diperbaiki. Pas sudah bener, eh malah kumparan listriknya hilang entah kemana. Jadinya sama aja, tetep rusak.
  3. Radio mini oleh2 dari Singapura bunyinya agak kresek2, trus diperbaiki sama Papah. Sudah oke, gak taunya tutup batereinya patah keinjak sama Papah. Halah...
  4. Mencoba menambal sendiri ban sepeda motor Mamah yang bocor. Pas mau dipakai, ternyata ban motornya dicopot sama Papah. Dan menambal bannya perlu waktu setengah hari. Buset dah...
Kejadian yang paling gres, pas lampur ruang tengah mati. Papah sudah beli yang baru dan menggantinya. Trus aku liat Papah kok sibuk dengan solder dan teman2nya. Wah, pasti lagi memperbaiki sesuatu, pikirku. Setelah beberapa lama, tiba2 Papah mengganti lampu ruang tengah yang baru itu. Diganti sama lampu yang sebelumnya mati.

Aku : "Kenapa diganti Pah? Itu kan tadi mati?"
Papah : "Sudah diperbaiki."
Aku : "Memangnya bisa?"
Papah : "Bisa."

Trus, aku yang penasaran nungguin sampe proses pemasangan lampu itu selesai. Setelah lampunya selesai dipasang, Papah menghidupkan saklar lampunya.

Dan... Blap... Listrik satu rumah padam.

Horoscope



Ini ada percakapan yang selalu terjadi kalo aku baru aja beli majalah.

Mom : *sambil memegang majalah yang baru aja ku beli* "Ini baru kah?"
Aku : "Iya."
Mom : "Ada bintangnya lah?" *horoskop maksudnya*
Aku : *roll my eyes* "Ada."

Older Posts Home