Blogger Template by Blogcrowds.

"Kapan mau punya anak lagi?"

"Gak pengen nambah (anak) lagi?"

"Gak pengen ngasih adek buat Olyn?"

Pertanyaan-pertanyaan yang serupa dengan itu akhir-akhir ini semakin sering dilontarkan (selain pertanyaan "Kapan lulus?" tentunya *sigh*). Kalo tiap ada yang nanya dikasih piring cantik, kayaknya piring, gelas, dan mangkok di rumah bakal habis dibagi-bagi.

Biasanya kalo yang nanya karena cuma pengen basa-basi, aku juga menjawabnya dengan jawaban basa-basi juga:
"Kuliah aja belum kelar. Ntar aja."

atau

"Satu ini aja belum habis."

atau

"Nunggu abis lucunya."

Kalo yang nanya adalah orang-orang dekat, barulah aku bakal mengungkapkan alasan-alasan lain selain alasan basa-basi di atas.

Di rekam medik setelah melahirkan, tertera 'Eclampsia Postpartum'. Aku kurang bisa menjelaskannya, jadi ada baiknya googling aja untuk tahu lebih jelas. Aku melahirkan dengan tekanan darah yang cukup tinggi, dan hasil pemeriksaan di lab menunjukkan bahwa protein urinku mencapai +3. Dengan kondisi seperti itu, dokter yang menangani kehamilanku menyarankan agar kelahiran dilakukan melalui c-section.

Sebelum c-section, aku sudah diberi suntikan anti kejang sebanyak 3 kali. Dan ketika suntikan ke-3 diinjeksi melalui infus, maka seketika itu juga sekujur tubuhku serasa terbakar api. Memang, dokterku sudah memperingatkan bahwa akan terasa SEDIKIT panas.

12 jam pasca c-section, aku mengalami kejang-kejang. Waktu itu aku sedang ditinggal sendirian di kamar observasi. Suami dan si Papah yang kena giliran jaga sedang keluar makan. Dan kejadian kejang-kejang itu terjadi hanya seketika setelah suamiku tiba.

Bukan hanya proses melahirkan itu saja yang membuatku dan suami memutuskan untuk menunda kehamilan sampai beberapa tahun lagi. Setelah melahirkan aku terkena sindrom 'baby blues'. Awalnya aku menyangkal. Aku merasa aku sudah well-prepared dan membekali diri tentang segala sesuatu mengenai kehamilan dan persalinan, dan baby blues salah satunya. Namun, aku melupakan bahwa segala sesuatu bisa terjadi di bawah kolong langit ini.

Ada beberapa kemungkinan yang kucurigai sebagai penyebab baby blues ini. Kemungkinan pertama adalah karena seminggu sebelum persalinan, aku sedang menghadapi UAS. Bahkan sehari sebelum melahirkan aku masih ke kampus untuk presentasi tugas akhir. Yang kedua adalah persalinan yang menegangkan. Gimana gak menegangkan, wong sempat bikin keluarga panik.

Hal yang paling membuatku yakin aku mengalami baby blues adalah ketika pertama kali aku menggendong bayiku. Saat itu aku tidak merasakan koneksi apa pun. Perasaanku saat itu datar saja, dan ini sempat membuatku merasa aneh. Selain itu, aku menjadi sangat sensitif. Sedikit-sedikit menangis. Bahkan sempat terpikir ingin bunuh diri. Mengerikan memang. Setelah beberapa bulan, barulah aku merasakan koneksi dengan bayiku dan semakin lama semakin kuat. Selain itu, emosiku pun kian stabil.

Hal-hal inilah yang membuatku sengaja menunda kehamilan yang kedua sampai aku merasa benar-benar siap. Yah, walau pun orang-orang di sekitar kayaknya lagi kena musim hamil, tapi aku berusaha supaya tidak impulsif. Impulsif tetap disimpan untuk urusan belanja aja. Haha!

Mbak E

Perbincangan ini terjadi antara 2 bocah perempuan. Yang satu Jawa (Bocah 1) dan satunya lagi Cina-Dayak (Bocah 2).

Bocah 1: "Mbak'e.. Mbak'e.." (memanggil Bocah 2)
Bocah 2: "Namaku bukan Mbak E. Namaku Michelle. Jadi aku ini Mbak M. Susan tuh Mbak S. Nah, Ella itu yang Mbak E."

Gubrak!

Newer Posts Older Posts Home