Blogger Template by Blogcrowds.

Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

sakit gigi

Semuanya berawal dari apa yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Kala itu, karena keengganan (yang dikarenakan ketakutan) untuk mencabut gigiku yang berlubang, maka semakin merajalelalah lubang tersebut. Bahkan yang tersisa hanya bagian dindingnya saja. Sedangkan isinya? Sudah lumat dibabat bakteri.

Setelah mengumpulkan keberanian dan ditemani sang (mantan) pacar, akhirnya aku pun mencabut gigiku yang tinggal seupil itu. Namun apa daya, karena sudah terlampau rapuh, sang dokter pun tak dapat mencabut bagian gigi yang masih tertanam di gusi. Sang dokter gigi pun memintaku untuk kembali lagi tahun depannya.

Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tapi gigiku tetap terabaikan.

Sampai 2 minggu yang lalu. Aku merasakan ngilu pada geraham bawahku. Tepat pada gigiku yang masih tersisa itu. Semakin lama semakin ngilu dan akhirnya aku menyerah. Esoknya aku langsung memeriksakan diriku ke puskesmas terdekat. Lalu diberikan obat pereda nyeri dan diminta kembali lagi untuk mencabut gigi.

Kali ini aku tidak mangkir. Dengan ditemani sang suami, aku pun melangkah pasti ke kursi eksekusi. Namun yang terjadi kemudian jauh lebih mengerikan dari pada yang kubayangkan.

Karena ternyata gigiku cuma tinggal seupil, maka orang pertama yang mengeksekusi pun kewalahan dan bantuan orang kedua pun tak membuahkan hasil yang memuaskan. Mmm, ada sih yang mereka hasilkan: menghasilkan luka di sudut mulutku. Akhirnya orang ketiga pun turun tangan. Dengan bantuan orang kedua untuk memegangi kepalaku serta masukan dari orang pertama, akhirnya orang ketiga berhasil mengeluarkan sisa gigiku yang masih tertinggal di dalam gusi. Dihitung-hitung, dibutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menuntaskannya.

Kali ini tak ada sisa gigi yang tertinggal. Namun menyisakan trauma mendalam bagiku. Bagaimana tidak, sampai hari ini pun gusiku masih sakit bukan kepalang serta luka di sudut mulutku juga belum sembuh. Seketika itu pula niatku untuk memasang kawat gigi langsung lenyap mengingat harus ada beberapa gigi lagi yang mesti dicabut. Hiii.. ngeri. Ternyata, sakit gigi tak lebih baik dari pada sakit hati.

Quick Update

Ah, sudah lama sekali rasanya tak menyentuh tempat ini.

Ada beberapa hal penting yang terjadi selama ini:

Sekarang aku menetap di kota lain untuk sementara.

Aku sedang menjalani kehidupan menjadi mahasiswa (lagi).

Hamil.

Dan 1,5 bulan yang lalu telah melahirkan seorang bayi perempuan yang (menurutku) paling lucu sedunia :-)

Hal-hal tersebutlah yang membuatku hilang dari peredaran selama beberapa bulan terakhir ini.

Terlebih lagi sekarang, di mana aku harus berurusan dengan tugas-tugas kuliah, mengganti popok, jadwal memberikan ASI, mencuci botol susu, memandikan si kecil, serta jam tidur bayi yang tak pernah tentu.

Oh, dia mulai menggeliat. Itu tandanya tulisan ini harus segera diakhiri :-)

divorce

'Sebenarnya aku lagi ada masalah besar."

...

'Kalian pasti gak tau kan?'

...

'Aku lagi ngurus perceraianku.'

Begitulah kalimat-kalimat yang keluar dari mulut seorang rekan kerjaku tanpa ada keinginan untuk kuinterupsi.

'Kenapa?', tanyaku.

Lalu dia menjelaskan dengan singkat dan jelas bahwa yang menjadi alasan utama adalah perbedaan prinsip dan pola pikir. Bagiku yang menjadikan infotainment sebagai tontonan yang menyenangkan (silakan ditertawakan ;-P), entah kenapa alasan tersebut tidak terdengar klise. Aku malah bisa memahami. Dan rasanya aku juga tak berhak untuk bertanya lebih detail lagi tentang sejauh mana perbedaan prinsip dan pola pikir itu.

Aku bukan orang yang menyenangi perceraian. Apalagi Nabi Besar yang kuikuti ajaran-Nya pun mengatakan bahwa perceraian hanya diperbolehkan apabila terjadi perzinahan. Tapi bukannya aku tak bisa menerimanya bila alasan yang diberikan masuk akal. Terutama ketika sang teman mengatakan bahwa sang suami beberapa kali melakukan kekerasan fisik yang dapat kupastikan disertai dengan kekerasan psikis pula.

Aku sama sekali tak menyarankannya untuk tidak bercerai. Bahkan ketika teman-teman yang lain sangat menyayangkan bila hal itu terjadi.

'Kan kasihan anaknya.", kata seorang teman.

Lalu akhirnya aku pun bersuara.

Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk tidak bercerai. Alasan untuk bersama harusnya adalah karena suami tak bisa hidup tanpa istri dan begitu pula sebaliknya. Bukankah (sebagian besar) orang menikah bukan karena anak, tapi karena keinginan kedua belah pihak? Dan harusnya alasan yang sama yang tetap menyatukan mereka.

Dan mungkin yang membuat teman-temanku cukup tercengang ketika aku mengeluarkan pernyataan ini:

'Kalo aku ditanya siapa yang bakal ku dahulukan? Suami atau anak? Aku bakal pilih suami.'

Bukan pemikiran yang lazim memang.

Tapi bagaimana aku bisa jadi ibu yang baik kalau aku tidak bisa jadi istri yang baik? Bagiku suami tetap menduduki peringkat pertama. Karena dengannyalah aku berkomitmen untuk membentuk sebuah rumah tangga yang kami jalani sekarang. Bila aku menghargai dan menghormati suamiku, maka anak-anakku dapat melihat bagaimana sebuah relasi yang baik dan melakukan hal yang serupa pula ketika mereka berelasi dengan orang lain.

Dilihat dari kening-kening yang bertaut sepertinya teman-temanku tak seberapa setuju. Tapi ah, aku kan tak bisa mengontrol pikiran mereka :-)

short stories

Di kantor, berbincang dengan beberapa teman.

Teman : "Aku kok pengen nambah anak lagi ya? Soalnya anakku suka ngomong sendiri."
Aku : "............"

Mungkin karena temanku mengatakan hal itu dengan nuansa menerawang, sehingga bagian yang bercetak tebal itu terdengar ehm.... mengkhawatirkan.

********

Meja makan, ketika sedang makan malam.

Tiba-tiba.

Papah : "Coba perhatikan. Aku bisa bikin sendok ini jadi bengkok." *sambil menggoyang-goyangkan sendok ala pesulap berambut separo itu*

Hhhh... terkadang si Papah suka AJAIB.

********

Jum'at malam, menonton pemilihan Miss Indonesia di RCTI.

Baju putih yang dipakai Indah Pelapory sangat indah. Sesuai dengan imajinasiku akan baju putri-putri dalam dongeng. Namun, yang agak mengganggu adalah ketika Indah mulai berbicara. Nada bicaranya tinggi sekali. Wah, kalo jadi penyanyi pasti Mariah Carey kalah tuh ;-)

Keanehan kedua.

Aku lupa finalis dari provinsi mana, tapi yang pasti wanita ini masuk 10 besar. Ketika diberikan pertanyaan yang bunyinya kira-kira seperti ini:

"Siapakah sosok yang paling menginspirasi Anda dan mengapa?"

Dan jawabannya adalah... jeng.. jeng.. jeng.. jeng..

"Sosok yang paling memberikan inspirasi adalah ibu. Karena ibu selalu memberikan motivasi dan inspirasi."

????????

Jawaban yang bersifat rekursif.

oh no!

Ah, sudah lama aku gak menulis sesuatu di sini. Berkunjung sih setiap hari, tapi tak pernah meninggalkan jejak berupa secuil tulisan. Setiap kali diriku berinteraksi dengan internet, buku muka itu selalu menarik perhatianku. Biasa, barang baru :-)

Entah kenapa, beberapa bulan belakangan ini keinginanku untuk menulis seperti teredam. Penyebabnya, aku tak tahu persis. Sibuk lah, mengurusi suami lah, tergoda hal lain lah, atau karena memang sedang tak ingin. Dan aku memang tak mau memaksakan diri kalo memang sedang tak ingin.

And now, I want to make a confession.

I'm 50. YES! I'M 50!

OH.MY.GOD.

I gained weight. A LOT.

Dan ketika aku mengatakan ini pada suami, jawaban dari seberang adalah:

"Devi genduuuuut... Devi genduuuut..."


Dasar! Dulu, waktu pacaran, mana berani dia ngomong begitu. Huh!

Sudahlah. Lupakan saja.

Tadi, aku nonton Finding Nemo di RCTI. Senang juga bisa nonton animasi itu lagi. Namun, yang bikin acara menonton tadi kurang sedap adalah: film itu di-dubbing ke bahasa Indonesia. Menurutku itu mengurangi keindahannya. Hhhhh...

Jadi ingat pas masih SMA dulu, ada telenovela yang di-dubbing ke bahasa Inggris lalu diberi subtitle Indonesia. Asli, ini agak... AJAIB. Dan yang lebih anehnya lagi, dubber-nya berlogat Jawa yang sangat kental. Ah, televisi Indonesia memang selalu AJAIB.

Nah, kembali lagi ke Finding Nemo tadi.

Oke, tak apa lah di-dubbing. Masih lucu kok. Gak apa-apa. Supaya anak-anak yang belum bisa baca dapat mengerti jalan cerita. Hiburku dalam hati. Namun, hampir di akhir cerita ada hal yang mengganggu (lagi).

Ceritanya nih, di perjalanan ingin menyelamatkan Nemo, papa Nemo bertemu dengan sekelompok penyu. Dan sodara-sodara sekalian, ketika sang penyu berbicara, aku merasa ada kejanggalan. Tapi apa ya? Kok di telinga kedengarannya gimana gitu.

Ah, ya! Aku tau sekarang.

Si penyu itu BERLOGAT Madura.


Beneran. Sumpah. Gak bohong. Entah apa yang ada di benak sang dubber.

Sekali lagi... AJAIB.

P.S.
Aku ingat judul telenovela yang di-dubbing ke bahasa Janglish (Javanese English) itu.
ESMERALDA. Hahahahaha!


9 April 2009.
Pagi.
Meja makan.
Si Papah. Si Mamah. Aku.

"Mah, jam berapa kita ke TPS?", kataku di sela-sela mengunyah sarapan.

"Tau lah..", jawab si Mamah.

"Agak siangan ja Mah. Palingan ngantri juga."

"Milih siapa yuk lah?", aku bertanya.

Si Papah mulai menyimak pembicaraanku dan Mamah.

"Ih, itah milih 'si Mina (Tante -red)' ih..", Papah pun angkat bicara. (Kita milih 'si Mina' aja...)

"Emangnya 'si Mina' tu DPRD Provinsi atau Kota Pah?", tanyaku.

"Amun dia sala, Provinsi angat ah". (Kalo gak salah sih rasanya Provinsi)

"Tapi kan 'si Om' juga caleg Provinsi Pah."

"Kutuh ih gin. Ikau dengan indum mamilih 'si Om', kareh aku mamilih 'si Mina' te. Mangat adil." (Gini aja. Kamu sama Mamah milih 'si Om', nanti Papah milih si Mina. Supaya adil.)

"Amun nang Kota-nya pang siapa yang kita pilih?", si Mamah berujar. (Trus, yang Provinsi siapa yang kita pilih?)

"Milih 'si Itu' ja Mah."

"Ela. 'Si Jituh' ih. Pasie, jatun gawie.", Papah mengusulkan (Jangan. 'Si Ini' aja. Kasian, gak punya pekerjaan).

"Limbah te, je DPD ah itah milih 'Bapak jite' ih. Bahalap ie te." (Trus, untuk DPD kita pilih 'Bapak Itu' aja. Bagus.)

"Nah, kalo yang DPR RI kita pilih 'Mas Itu' ja.", aku mengusulkan pilihanku.

"Iyuh", jawab Papah. (Iya)

'Rapat' selesai.

PS:
Seperti inilah demokrasi di mata kami, keluarga kecil yang juga orang-orang kecil. Tanpa keributan kami tetap bisa mencapai mufakat. Itu pun kami lakukan dengan 3 bahasa yang berbeda.

mboh kamsud

Text:
Devy km dmn dgn spa

From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009

Biasanya, bila ada sms tak jelas yang serupa tak pernah kubalas. Nomor tak terdaftar di phone book, tak menyebutkan nama, dan berlagak kenal baik pula. Buang-buang pulsa dan bikin pegel jempol aja.

Tapi tunggu dulu. Kok kayak pernah tau kalimat ini ya. Oh, kayak iklan rokok itu. Lalu rasa isengku pun tersentil dan ku balaslah sms itu.

Text:
Dirmh sendiri tidur.

From:
05363353xxx
Sent:
30-Jan-2009

Tak berapa lama kemudian, sms alert berbunyi.

Text:
Corry n'cpa???Aq kn g zmz qm cman zmz tmnq

From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009

Kita sedang di planet mana ya? Bahasanya kok aneh? Capeee deeeh... :-D

MLM

Dua hari yang lalu aku bertemu seorang teman di gereja. Lama juga kami tak berjumpa. Setelah bertukar kabar dan berbasa-basi sampe basi, akhirnya kami tiba pada topik yang cepat atau lambat akan muncul ke permukaan: pekerjaan.

Seketika itu pula raut wajahnya mendadak cerah. Dan dengan bersemangatnya dia 'memprospek'ku untuk bergabung dengan bisnis barunya. Cara kerjanya sederhana: beli beberapa 'titik' (ya, dia bilang titik, entah apa yang dimaksudnya dengan 'titik' itu), kemudian rekrutlah anggota sejumlah 'titik' yang kita beli tadi. Semakin banyak 'bawahan' yang direkrut semakin banyak pula penghasilan yang diterima.

"Trus, kita ngapain setelah itu? Jualan?", tanyaku.

"Gak ada. Cuma nyari orang aja lagi buat direkrut."

Wah, kata-kata itu terdengar indah di telingaku. Modal air liur aja (karena mesti bercuap-cuap merekrut anggota) udah bisa memperoleh penghasilan berkali lipat gajiku sebagai guru. Belum lagi ada tambahan bonus pulsa setiap minggunya. Diriku semakin mengeluarkan air liur lagi (karena ngiler dengan keuntungan yang bakal diperoleh dari bisnis ini). Bisa menghemat uang pulsa untuk menelpon suami nun jauh di sana, pikirku.

Namun, tak berapa lama kemudian akal sehat yang tadinya sedang leyeh-leyeh menemukan kesadarannya kembali. It's too good to be true. Prinsip ekonomi yang diterapkan habis-habisan: dengan usaha mini dapat hasil maksi.

Lalu pertanyaan berikut muncul dalam benakku. Gimana dengan mereka yang rendah secara hirarki dalam pohon bisnis ini? Tak mendapatkan apa-apa padahal keberadaan mereka lah yang memperkaya para 'atasan'nya.

Dengan pertimbangan belas kasihan pada mereka yang tak akan mendapatkan apa-apa itulah aku memutuskan untuk tidak memiliki niat untuk bergabung pada MLM tak jelas itu. Sapa tau malah aku yang nantinya punya kasta paling rendah dalam strata sosial MLM tersebut. Benar tidak?


Kemaren seorang teman meneleponku untuk mengajakku makan. Aku tak bisa mengklasifikasikan ajakan 'makan' berdasarkan pembagian waktu yang biasanya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sarapan? Rasanya sudah terlalu siang. Makan siang? Terlalu pagi. Ehm.. tak penting. Yang pasti kami berdua pergi makan bareng.

Lalu dia memintaku untuk menemaninya ke bengkel untuk melakukan 'check-up' terhadap mobilnya. Dan karena masih ada cukup waktu sebelum kami kembali bekerja, selepas dari bengkel kami pun memutuskan untuk singgah di KFC.

Karena masih kenyang dan terbayang-bayang raut kenikmatan keponakanku waktu menikmati lychee float, akhirnya aku memesan minuman itu. Temanku pun jadi ikut-ikutan. Bedanya dia pesan lychee soda (plus chicken fillet!).

Roman kami berubah menjadi heran ketika pesanan kami siap. Apa sebab? Lychee float-ku warnanya hijau dan lychee soda-nya berwarna hijau kekuningan. Seketika itu kami langsung saling menatap.

"Warnanya kok beda ya? Padahal kan sama-sama lychee?"

"Iya, bedanya kan cuma punyaku pake es krim trus punyamu pake soda. Harusnya gak ada pengaruhnya dengan warna kan?"

Lalu terciptalah percakapan tidak penting antara aku (P a.k.a Piyek), temanku (TP a.k.a Teman Piyek), dan mbak-mbak KFC (MK).

TP : "Mbak, emangnya apa bedanya dua minuman ini?"
MK : "Beda mbak. Yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *roll my eyes* "Iya, tapi bedanya apa?"
MK : "Yang ini pake es krim, trus yang satunya tambah soda."
TP : "Iya tau mbak. Maksudnya, kenapa jadi keliatan beda?"
MK : *mulai bingung sambil menatap aku dan temanku bergantian*
TP : "Kok yang ini warnanya hijau trus yang ini warnanya kuning."
MK : "Soalnya yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *halah!* "Ini sama-sama lychee kan?"
MK : "Iya"
P : "Trus kenapa warnanya beda? Padahal dua-duanya kan lychee. Cuma beda es krim sama soda aja."
MK : "Soalnya yang Lychee Soda dikasih orange juice mbak, makanya warnanya agak kuning."
P + TP : *dengan wajah lega* "Oooooo..."

Mbak-mbak yang ngantri di samping kami pun ikut-ikutan tertawa. Ternyata dia nguping dari tadi.


Halo semua. Selamat tahun baru ya...

Lama sekali aku tak mengurusi hideaway place-ku ini. Ini dikarenakan aku sedang beradaptasi menjadi seorang ibu rumah tangga. Dan ternyata itu perlu kerja keras saudara2. Tidak mudah untuk konsisten menyapu rumah paling tidak satu kali sehari, mengepel rumah paling tidak dua hari sekali, memasak setidaknya 3 kali sehari, mencuci pakaian kira2 3 hari sekali diimbuhi dengan menyetrika pula, danseterusnyadanseterusnya. Ditambah perayaan ulang tahun serta Natal, otomatis beban kerja sebagai ibu rumah tangga pun berlipat ganda. (menghela napas)

Sebenarnya kesibukan sebagai ibu rumah tangga bukanlah satu-satunya penyebab jarangnya diriku membenahi tempat ini. Faktor utamanya adalah kesulitan untuk melakukan akses internet dengan nyaman. Internetan pake HP sih sebenarnya sering kulakukan selama aku di Surabaya. Tapi tingkat kenyamanannya itu loh, sangat rendah. Wong mengetik sms agak panjang aja diriku sudah mengalami kram jempol. Apalagi kalo mesti mengetik postingan. Alamak!

Selama di Surabaya aku dan suami menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi. Dan dikarenakan seringnya kami menjumpai lampu lalu-lintas di jalanan, aku mengamati hal-hal yang terjadi. (Secara, lampu merahnya lama banget. Huh!).

Dari pengamatanku terlihat bahwa kaidah-kaidah (hah?? kaidah??) yang berlaku di seputaran lampu lalu-lintas sudah agak rancu. Para pengendara sepeda motor biasanya nangkring setelah garis batas zebra cross untuk menunggu lampu hijau menyala. Tapi tunggu dulu... Bukannya mereka gak bisa liat tuh lampu menyala, secara mereka ada beberapa meter di depan traffic light.

"Gimana mereka bisa tau kalo lampu hijaunya nyala?", tanyaku pada suami.

"Kalo ada yang nglakson dari belakang artinya sudah lampu hijau"

Nah, kalo ada yang tingkat keisengannya cukup tinggi lalu membunyikan klakson sebelum lampu hijau menyala, bagaimana?


"Remember to play after every storm"

Itulah kalimat yang akan menyambut kita bila berkunjung ke sini. Sebuah situs yang dibuat demi mengenang seorang bocah laki-laki yang menjalani hidupnya (hanya) 13 tahun. Bila Mattie (demikian orang sering menyapanya) mengetahui bahwa aku menambahkan kata 'hanya' di depan usianya, mungkin ia akan protes berat. Karena (mungkin) baginya waktu 13 tahun itu sudah lebih dari cukup untuk mengabarkan berita baik ke penjuru dunia.

Anak yang menakjubkan. Begitu yang bisa kukatakan untuk mendeskripsikan seorang Mattie Stepanek. Dalam setiap gambarnya yang kurekam dalam ingatanku, tak pernah sekalipun senyum absen dari wajah mungilnya (yang imut).

Mattie menderita kelainan otot yang sifatnya genetik. Ibunya mengalami hal yang sama. Bahkan seorang adiknya meninggal dikarenakan penyakit tersebut. Tapi herannya, Mattie yang sehari-harinya sangat bergantung dengan kursi roda seolah-olah punya daya jangkau yang luas.

Puisi serta buku yang dibuatnya mencelikkan mata. Membuka mata bahwa semua yang kita alami patut disyukuri. Seorang anak yang begitu menghargai hidup dan berterima kasih atas semua yang dimilikinya. Termasuk kematian yang berjalan mendekat ke arahnya. Karena hanya dengan begitu kita dapat melihat keindahan pelangi setelah badai yang menerpa.

Seorang anak, yang bahkan dengan mengingatnya saja, membuatku merinding dan terharu.

Dan ketika Tuhan memanggilnya kembali, sebuah upacara pemakaman - yang (lagi-lagi) membuatku nyaris menangis - dipersembahkan untuk mengenang seorang anak berhati mulia ini. Mattie dimakamkan layaknya seorang Pemadam Kebakaran - yang menjadi pahlawan dalam versinya. Bukti bahwa Mattie adalah seorang pahlawan - dengan caranya sendiri.


Bila dirimu merasa lelah dengan hidup yang dijalani, mencibir atas semua yang terjadi, kecewa dengan yang kau terima, sering-seringlah berkunjung ke sini. Mudah-mudahan dapat memberi pencerahan dan kau dapat tersenyum kembali. Palus wei...


Beberapa puisi karyanya

HEARTSONG

I have a song, deep in my heart,
And only I can hear it.
If I close my eyes and sit very still
It is so easy to listen to my song.
When my eyes are open and
I am so busy and moving and busy,
If I take time and listen very hard,
I can still hear my Heartsong.
It makes me feel happy.
Happier than ever.
Happier than everywhere
And everything and everyone
In the whole wide world
Happy like thinking about Going to Heaven when I die.
My Heartsong sounds like this:

I love you! I love you!
How happy you can be!
How happy you can make
The whole world be!

And sometimes it's other
Tunes and words, too,
But it always sings the
Same special feeling to me.
It makes me think of
Jamie, and Katie and Stevie,
And other wonderful things.
This is my special song.
But do you know what?
All people have a special song
Inside their hearts!
Everyone in the show wide world
Has a special Heartsong.
If you believe in magical, musical hearts,
And if you believe you can be happy,
Then you, too, will hear your song.


PRAYER FOR A JOURNEY

Thank You, God,
Not just for life,
But for our journey through life.
Life is a miracle,
And a journey through life
Is so full of so many more miracles
If we travel with our Heartsongs.
Thank You, God,
For blessing me with the
Gift of Heartsongs,
So that I can enjoy my miracles.

Tidakkah kau terdiam sejenak?

Puisi dapat ditengok di sini

pengumuman

I'm getting married.
Next week.

(Mungkin) sedikit mengejutkan. Karena sebelumnya aku memang tak pernah menyinggung-nyinggung tentang rencana pernikahanku di blog ini. Kenapa? Karena memang tak ingin. Tapi rasanya tak adil jika tak membagi perubahan status dari lajang menjadi menikah yang akan ku alami tepat minggu depan.


Minggu depan, aku dan seseorang itu (yang sering kubahasakan sebagai 'dia') akan berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu setia, saling mencintai, dan menghormati di tiap-tiap hari dalam hidup kami. (Beberapa hari yang lalu sempat diprotes olehnya: Kenapa gak 'sampai maut memisahkan'? Kemudian ku balas dengan: Di hari bahagia itu aku gak mau mengungkit-ungkit tentang 'maut'.)

Minggu depan, aku dan seseorang itu harus mulai berkompromi dengan segala perbedaan yang kami miliki (yang dapat dengan mudah terlihat ketika kami berbelanja sabun mandi, shampoo, pasta gigi, danseterusnyadanseterusnya) demi sebuah visi yang sama. Membentuk keluarga yang bahagia.

Minggu depan, aku dan seseorang itu akan menggantikan 'aku' dan 'kamu' dengan 'kami' dan 'kita'.

Lompat ke topik berikutnya..

Siapakah seseorang yang malang ups.. beruntung ini? (Yang harus menyediakan telinga selama kira-kira setengah hari di sepanjang hidupnya untuk mendengarkan celotehanku. Hahaha!)

Kami sekolah di SMA yang sama. Bukan teman karena rasanya kata 'teman' terlalu intim untuk menggambarkan relasi yang kami miliki dulu. Karena semasa SMA, relasi kami hanya sebatas 'Hai' atau senyum basa-basi bila berpapasan. Tak lebih. Tak kurang.

Kami kuliah di kota yang sama. Tapi tak pernah bertemu, berpapasan, atau saling melihat kelebat. Padahal, aku pernah main ke kampusnya dan dia pernah jalan-jalan ke kampusku. Membuatku menyadari bahwa terkadang dunia juga tak sekecil yang kita kira.

Kami bekerja di institusi yang sama. Nah, inilah yang kemudian mempertemukan kami. Karena sering bertemu? Tidak. Trus? Because everything has been written down. Jadi, silakan tanya Sang Empunya Jagat Raya. Beliau yang lebih tau kenapa kami bisa membentuk relasi yang lebih dari sekedar teman. 'Tuhan tahu, tapi menunggu', begitu yang sering kukatakan padanya bila dia mulai bertanya-tanya. (Mengutip dari Laskar Pelangi ^_^).

Seorang kekasih yang pada awal hubungan kukatakan padanya: 'Sekarang -dan untuk beberapa lama ke depan, jangan dulu tanya apa aku sayang kamu, apa aku cinta kamu. Karena kamu pasti tau jawabannya - Gak. Untuk sekarang ini sayang dan cintaku masih punya dia.'. Dia pun mengangguk.

Seorang kekasih yang beberapa bulan setelah memulai relasi ku pinjam bahunya dan menangis sejadi-jadinya ketika ku ketahui mantan pacar akan menikah. (Sempat kecewa karena aku masih menangisi lelaki itu, tapi kemudian tetap dengan senang hati memasak mie goreng instan untukku).

Seorang kekasih yang kemudian menyarankanku (serta memperbolehkanku) untuk menelpon mantan pacar. Untuk menyelesaikan semua yang masih mengganjal, begitu katanya. Dan memintaku untuk tidak menangisi orang bodoh itu lagi. Bodoh karena tidak punya keberanian untuk memperjuangkanku, tambahnya.

Seorang kekasih yang tidak romantis yang melamarku sembari menyetir mobil dengan kata-kata: 'Kalo gak menikah denganmu, hidupku gak akan sama lagi'. Menatapku sepersekian detik, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.

Seseorang yang mulai minggu depan kuharapkan akan tetap menjadi seorang kekasih merangkap teman baik. Di tiap-tiap hari sepanjang hidup kami.




Sekitar 2 minggu yang lalu aku membaca Rectoverso. Seorang teman melontarkan pernyataan (yang kurang lebih intinya): 'Ku tunggu reviewnya'. Seketika itu juga aku menolak untuk memberi review karena merasa kapabilitas yang minim untuk mengobok-obok karya paling mutakhir dari seorang Dewi Lestari. Dan berikut ini bukan review, hanya cerita perjalananku bersama Rectoverso.

Aku meluangkan waktu (seluang-luangnya) ketika membaca Rectoverso. Menyelesaikan semua kegiatan, men-silent hp, kemudian berbaring dengan santai. Menenggelamkan diri dalam kesunyian. Hening.

Lembar demi lembar itu memaksaku untuk terus membaca. Seperti tak rela membiarkanku berpaling dari pesona keindahan aksara yang tertera di atasnya.

Cerita yang disuguhkan sepertinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan ketika aku membacanya, yang terlintas di pikiranku adalah 'ini kok mirip ceritaku ya..', 'ih, kayak ceritanya si anu', 'cerita ini si anu banget deh', danseterusnyadanseterusnya.

Contohnya 'Hanya Isyarat' yang sangat kuingat sebagai 'Cinta Punggung Ayam'. Bercerita tentang cinta yang tak berani diungkapkan. Padahal orang itu begitu dekat, begitu nyata (mmm.. kok terdengar seperti jargon operator telepon selular ya.. tak ada maksud menjiplak.. sungguhsuersumpah).

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, atau hujan.

Sedih. Karena aku pernah mengalami hal yang sama. Lebih tepatnya: mirip. Konon, waktu SMA. Jatuh cinta pada orang yang begitu dekat, begitu nyata (aduh.. kok pake term ini lagi sih?). Begitu mudah disapa, digapai, dijamah, atau diboncengi pake sepeda motor. Tapi entah kenapa dia meletakkan hatinya di tempat yang jauh. Tak dapat disapa, tak tergapai, tak mampu dijamah, bahkan bila harus mbonceng pake sepeda motor sekalipun. (sigh).

Kemudian ada 'Malaikat Juga Tahu' yang bercerita tentang cinta-setengah-mati seorang pria. Sayangnya si wanita menganggapnya hanya sebagai rekanan yang sangat setia. Selalu siap pakai kapan pun dibutuhkan. Walaupun cerita yang persis sama seperti ini akan jarang sekali kita temui pada kehidupan sehari-hari, tapi secara garis besar cerita seperti ini banyak beredar di jagat nyata. Memilukan. Mencelikkan mata. Membuatku nyaris menangis.

Karena tak kau lihat terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Aku percaya, every song has its own story. Every written story has its own song. Unik untuk tiap cerita. Spesial untuk tiap lagu. Cerita itu dapat tersurat pada syair lagu, dapat pula tersirat pada deretan not yang membentuk nada lagu tersebut. Lagu dan cerita dibaliknya bagaikan belahan jiwa. Soulmate.

Dan pada Rectoverso kedua belahan jiwa tersebut akhirnya dipertemukan. Utuh. Komplit.

Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment...
...
If everything has been written down, so why worry we say
It's you and me with a little left of sanity
...

*semua kutipan diambil dari sini

time machine

Sama dengan permintaanku di buku pertama, kalo ada yg nemuin buku ini (dan mungkin jg membacanya), tolong dikembaliin ke alamatku yang ditulis di lbr sblmnya.

Jadi, kalo dikembalikan, tlg dibungkus rapat2 trus dimasukin dlm amplop. Buat sedemikian hingga, spy gak ada yg bisa ngintip & menebak apa isinya. Soalnya aku gak mau ada org lain yg baca buku ini (selain kamu!!!).

Trus kalo ke alamatku, jgn cari aku. Cari aja temen kost (Desi, Sisca, Lona, Welly, Leni). Ingat, jangan cari aku!!! Soalnya aku gak mau kamu ingat mukaku & aku jg ingat mukamu. Sdh cukup rasanya aku tau ada org lain yg baca buku ini, jd tlg jgn ditambah dg tau siapa yg baca.

Kalo misalnya kamu kenal aku, tlg jgn diungkit2 lagi soal apa yg ada di buku ini. Dan tlg kalo di hadapanku, kamu berpura2 gak pernah baca buku ini (akting.. akting..). Kalo gak, aku akan mendiamkanmu u/ waktu yg sangaaaat lamaaa..!!!

Misalnya merasa berat u/ ngembaliin buku ini, tlg dimusnahkan aja. Kalo kamu berniat menyimpan buku ini dengan maksud u/ memerasku suatu saat, HAHAHAHA... kamu salah besar!!! Aku serius loh...


Hahaha! Lucu banget ya... Aku jadi agak geli-gimana-gitu waktu baca ini. Kekonyolan di masa lalu. Hahaha!


Tulisan itu ku buat di buku jurnal ku (Kenapa bukan 'diary'? Karena rasanya terdengar terlalu abegeh. Ups.. sori ya para abegeh..). Ditulis pada masa-masa kuliah. Dulu sih pernah punya yang beginian pas SMA (nah, yang satu ini pantas disebut 'diary' :P). Tapi cuma bertahan setahun. Setelah itu malas nulis lagi. Masalah klasik: gak telaten.

Pas agak akhir kuliah aku tergerak untuk punya lagi catatan harian. Alasan utamanya sih karena (mantan) pacarku sudah balik ke kampung halamannya, dan seketika itu juga aku kehilangan teman bercerita paling terpercaya. (Hehehe.. begitulah nasib pacar (pacar) ku. Harus tahan mendengar ceritaku yang tak ada habisnya :D).

Selama kuliah aku punya 2 buku jurnal. Tapi karena pindahan alias balik kampung, sebagian buku-bukuku mendekam di kardus-kardus (yang malas untuk ku utak-atik, karena belum menemukan media penyimpanan yang memadai). Dan buku jurnal yang pertama (rasanya) salah satu dari buku-buku terpendam itu. (Atau.. jangan2 sudah berpindah tangan. Alamak!!).

Isi buku ini cukup ringan (karena aku bukan tipe pemikir yang pandai berfilosofis *apaan sih..*). Kalo lagi sendirian di kamar kost aku paling seneng dengerin radio dan secara otomatis tanganku akan meraih pulpen dan menorehkan sesuatu di buku itu (mmm.. biasanya ditemani secangkir kopi pula). Entah itu memuji atau mencerca lagu yang sedang diputer, menulis lirik lagu yang sedang kugandrungi, perasaanku terhadap (mantan) pacar yang jauh di seberang pulau, kelakukan temen kost yang ngeselin, pengalaman travelling ke beberapa tempat, karcis bioskop yang ditonton bersama (mantan) pacar atau teman-teman (hanya sebagian kecil, karena ada beberapa karcis yang hilang), atau sekedar menuliskan daftar pengeluaranku hari itu.


Kalo lagi malas mendengarkan dosen memberikan kuliah, aku bakal mengeluarkan buku itu dan menuliskan beberapa baris di dalamnya. Atau ketika lagi nunggu teman di kantin, menulis di jurnal tercinta itu cukup membantu mengatasi kejenuhan.

Frekuensi menulisku beragam. Dalam satu hari aku bisa melakukan entry tulisan sampe 4 kali. Tapi kalo mood menulis mendadak hilang mungkin 4 hari kemudian aku baru menuliskan sesuatu. Bila itu terjadi, aku bakal menggambari lembar-lembar dalam buku itu. Yah.. kuakui kemampuan menggambarku sangat minim, tapi lumayan membuat lembar-lembar itu berwarna :D Pada masa itu, jika membuka tasku maka akan terlihat penghuni tetapnya: buku jurnalku dan seikat pensil warna. (Kuikat pake karet gelang karena kotaknya sudah jelek dan tak berbentuk. Hahaha!)


Setelah ku baca ulang beberapa hari yang lalu, aku menyadari betapa banyak perubahan yang telah ku alami. Dari tulisanku aku bisa membandingkan pemahamanku saat itu dan sekarang, dan ternyata cukup berbeda. Dan terkadang bisa membuatku menertawakan diriku sendiri. Kok bisa ya aku dulu bisa begitu? Hahaha!

Dari buku ini baru tau juga kalo aku ternyata pernah liat-liat situs Blogger pada tahun 2004! (Dan baru sekarang punya blog. Go-blog! Go-blog!)

berkunjung

SMS

sender: +628563065xxx
date: 26.09.2008
text:
Haiiiii..


Sebuah pesan singkat mampir ke inbox HP ku beberapa waktu yang lalu. Waktu saat itu kira-kira menunjukkan pukul 2 dinihari. Waktu yang tidak biasa untuk menghubungi seseorang kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.

Pesan ini datangnya dari seorang sahabat, Pastini. Mantan teman kost semasa kuliah dulu. Dan sejak 3 bulan sebelum dirinya melahirkan anak pertamanya, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Singaraja - Bali.

Sebuah 'buzz' yang singkat dan jelas. Singkat karena, kalau mau meluangkan sedikit waktu, hanya berisi 9 karakter. Dan jelas, karena untuk ukuran seorang Pastini yang paling anti menggunakan kalimat yang berbunga-bunga atau berbusa-busa atau berbuih-buih atau apalah namanya. Pesan ini dengan JELAS menyampaikan bahwa dia sedang kangen.

Kalau boleh, aku ingin bercerita sedikit *emmm.. mungkin kepanjangan kalo aku agak lupa diri* tentang Pastini, temanku ini.

Pastini adalah asli orang Bali. Lahir dengan embel-embel Ida Ayu di bagian depan namanya, yang kita ketahui bersama bahwa hal itu menandakan bahwa dirinya berada pada urutan tertinggi kasta yang berlaku di Bali. Dan bukan cuma itu, keluarganya pun tergolong keluarga yang terpandang di Singaraja.

Dari semua anak kost, Pastini lah yang kondisi keuangannya selalu 'aman'. Tidak seperti kami yang selalu cekak kalo sudah sampai akhir bulan. Hahaha.. Dan cuma dia seorang yang di antara kami se-kost yang mampu membeli 2 kemeja Lee Cooper sekaligus. Yaa... untuk ukuran anak kost seperti kami, bisa membeli 1 kemeja Lee Cooper aja kayaknya berkah yang patut disyukuri *apa sih...*

Namun, sebuah langkah yang sangat besar diambilnya ketika dia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan langkah yang terlampau besar menurutku. Karena hanya dengan sekali langkah itu saja, Pastini harus meninggalkan status sosial serta keamanan finansialnya. Ya, dia memutuskan untuk menikah dengan kekasih semasa SMA-nya yang berkasta rendah.

Orang tuanya sudah pasti tidak merestui. Mereka pun berusaha untuk menjodohkan Pastini dengan pria yang berstatus sosial yang sama. Dan puncaknya adalah ketika Pastini yang kala itu bekerja di Surabaya, akan 'ditarik' orang tuanya kembali ke Bali. Pastini dan (kala itu masih) suaminya memutuskan untuk menikah secara adat.

Singkat cerita, orang tua Pastini sekarang sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Dan puji Tuhan, mereka sudah bisa merestui. Walaupun sampai saat ini Pastini masih belum diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya (dikarenakan adat yang berlaku), tapi mereka masih bisa bertemu di tempat lain.

Nah, dari cerita singkat (yang agak kepanjangan) tentang Pastini itu, aku bisa merasakan 'kesepian' yang dialaminya. Jauh dari orang tuanya, ade2nya, serta teman terdekatnya.

Kuakui, sudah beberapa lama aku tidak menghubunginya. Terakhir kali aku menelponnya adalah ketika dia melahirkan anaknya (it's a boy :D), which is 2 months ago. Cukup lama bukan? Dan pesannya yang (amat) singkat ini seolah mem-'buzz' diriku.

Kemudian aku membalas pesannya, setelah aku benar2 tersadar dari tidur tentunya :) Tidak banyak yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami hanya mengirimkan 2 buah pesan singkat. Karena memang Pastini bukan orang yang suka bicara panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membahagiakanku dan (kuharap) dirinya juga :)


Salad Buah In Action

Dan ternyata pesan (amat) singkat itu menyadarkanku kalo ada beberapa kerabat dan teman-teman yang sudah sekian lama tidak pernah kukunjungi. Bahkan ada yang sudah setahun tidak pernah bertemu muka. Mudah2an postingan ini tidak membuat yang membacanya kapok berteman denganku. Hehehe..

Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan teman dekat yang sudah kuanggap saudara. Tapi rasanya ada yang kurang kalo aku gak membawa buah tangan dalam kunjunganku itu. Ya.. sekaligus sebagai permintaan maaf terselubung karena sudah lama (sekali) tidak mengunjungi mereka :)

Ku putuskan untuk bikin salad buah. Ada 2 alasan. Pertama, karena bahan-bahan dressing salad masih banyak di kulkas. Kedua, karena biasanya salad buahku cukup berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyenangkan hati orang yang memakannya *tsah*. Tinggal beli buah-buahan segar dan kalengan untuk melengkapinya.

Pada hari pertama liburan Lebaran, aku pun beraksi *apa sih...*

Dan terjadilah insiden memilukan itu *hiperbola mode on*. Jempolku luka kena pinggiran kaleng susu kental manis. Biasanya sih aku minta tolong Papah untuk membuka kaleng susu kental manis, tapi pada waktu itu si pria serba bisa itu lagi gak ada di rumah. Dan voila... tanganku luka karena keahlian membuka kaleng yang sangat minim.

Terpaksa mesti membangunkan Mamah yang lagi tidur siang untuk bantuin membebat tanganku pake kain karena darahnya gak mau berhenti. Mamah pun bangun dengan kaget: kaget karena bangun siang secara mendadak (sori, gak bisa menemukan kata yang lebih tepat) dan kaget karena lihat tanganku yang berdarah.



Kegiatan pun terhenti beberapa saat.

Untungnya Mamah merelakan jam tidur siangnya untuk membantuku. Kasian liat kerjaanku banyak yang belum kelar. Kuning telur belum dipisahin dari putihnya, buah-buahan sama agar-agar belum dipotong, dressing salah belum dibuat, ditambah lagi loyang-loyang berserakan minta dicucui. Thanks a bunch Mom :)

Dan voila... salad buah pun siap :D






Destination #1

Tujuan berkunjungku yang pertama adalah: rumah tambi (nenek dalam bahasa Dayak -red). Bukan nenek kandungku, tapi suaminya adalah ade kandung dari kakekku *mbulet ya.. :D*. Dan kunjungan itu ku pas2kan supaya aku tiba di rumahnya menjelang berbuka puasa. Oya, FYI, my Grand Dad (from my mother's side) was a Moslem.

Next...

Sudah lama sekali aku gak berkunjung kesana. Emmm.. rasanya terakhir kali aku kesana pas Lebaran tahun lalu. Bahkan pada saat anaknya rawat inap di rumah sakit pun aku gak sempat menjenguk. Hhhh.. benar-benar cucu yang durhaka. Padahal dulu, aku termasuk orang yang paling sering berkunjung ke rumah tambiku yang satu ini. Apalagi kalo bulan puasa. Aku cukup sering mengantarkan makanan *biasanya beli, gak bikin :P* untuk berbuka puasa.

Pas tiba di rumahnya, para penghuni rumah itu cukup kaget melihat kedatanganku. Mungkin karena saking lamanya aku gak pernah mampir. Orang-orang rumah pada melongo melihatku di depan pintu dengan sapaan khas-ku: "TAMBIIIIII...". Cukup keras untuk bisa didengar orang-orang satu rumah. Hehehehe...

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami pun mengobrol di teras depan rumah. Saling bertukar kabar terbaru, berbicara tentang kondisi terakhir om yang baru aja kembali setelah rawat inap, dan masih banyak lagi.

Rasanya sangat menyenangkan.

Ketika hampir maghrib, aku pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.


Destination #2

Kunjungan berikutnya adalah rumah seorang teman baik yang sudah kuanggap seperti saudara, Febi. Sebenarnya tujuanku berkunjung adalah untuk menengok ibunya Febi, karena biasanya jam segitu si Febi belum pulang ngantor.

Sejak ayahnya Febi meninggal, aku beberapa kali meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya. Baik itu mengantarkan makanan atau sekadar menemaninya mengobrol. Tapi hampir setahun belakangan ini, aku absen dari kegiatan itu.

Ketika aku tiba di rumahnya, ternyata Febi yang membukakan pintu. Loh kok sudah pulang kerja? Tumben. Setelah diusut, ternyata jam kerjanya lebih pendek karena saat itu adalah bulan puasa. Ooooo...

Si Tante pun sama terkejutnya dengan tambi yang kukunjungi sebelumnya. Mungkin ini reaksi standar yang diperoleh kalo sudah lama tidak berkunjung. Hhhhh...

Setelah pulih dari keterkejutannya *apaan sih..*, si Tante pun mengajakku untuk makan malam bersama karena kebetulan mereka lagi makan malam. Aku yang merasa sungkan untuk menolak (ditambah lagi kondisi perut yang lumayan lapar, hahaha..) akhirnya menerima ajakan itu. Dan kemudian gantian aku yang kaget. Karena di meja makan sudah ada pacarnya Febi juga. Ups..

FYI, pacarnya Febi yang sebelumnya sangat tidak menyukaiku. Gak tau kenapa. Mungkin dipikirannya aku adalah wanita yang memiliki potensi sangat besar untuk merebut Febi dari sisinya (halah! still can't find the right words :P). Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu. Impas.

Tapi aku memutuskan untuk menyukai pacar Febi yang satu ini. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah tatapan ramahnya terhadapku. Dan kami berempat (Febi, ibunya, pacarnya, dan temannya-aku) pun makan sambil bertukar kabar.

Menyenangkan (lagi).


Epilog


Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahagia sekali. Segala sesuatunya terasa lebih ringan. Betapa perhatian kecil yang kuberikan ke orang-orang terdekat dapat berbalik arah kembali dengan bentuk yang berbeda. Dan dampaknya terhadapku ternyata sangat besar.

Sepertinya aku harus merencanakan kunjungan berikutnya. Kali ini bikin apa ya?

ngelindur




Inilah percakapan yang akan terjadi jika seseorang menelpon pada saat aku tidur siang dan memaksakan diri untuk tetap mengobrol denganku.

(percakapan sebelumnya tidak dapat terekam dengan baik oleh otakku)

Dia : "Kalo ke Bali tuh arahnya ke mana ya? Ke Mojokerto?"
Aku : "Emmm..."
Dia : *menunggu jawaban*
Aku : "Ke atas."
Dia : "Hah??"
Aku : "Ke atas."
Dia : *hening*
Aku : "Bali kan deket sama bulan."
Dia : "Hah??"
Aku : "Iya"
Dia : "...."
Aku : "...."
Dia : "Iya. Aku ke atas."
Aku : "Kalo ke atas, aku titip salam ya.."
Dia : "Buat siapa?"
Aku : "Buat bintang. Kan deket sama bulan."
Dia : "Gak mau. Badanku sudah berat. Ditambah titipanmu nanti tambah berat. Nanti gak bisa nyampe ke atas."
Aku : "Ya udah. Aku tulis surat aja."
Dia : "Mana bisa suratmu sampai ke bintang."
Aku : "Kita liat aja yang mana yang duluan sampe. Kamu atau suratku."
Dia : "...."
Aku : *kembali tidur*


NB:
Semua ini disebabkan tingkat kecerdasanku pada saat itu ada pada level terendah.
Tolong pahami itu.
Terima kasih.

Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya*

Jujur aja, aku bukan penggemar Nidji. Tanyakan aja nama personelnya, dan yang ku tau cuma 1: Giring. Hanya itu informasi paling akurat tentang Nidji yang bisa kusampaikan. FYI, satu2nya daya tarik Nidji bagiku adalah salah satu gitarisnya *gak tau namanya. itu loh.. yang pacaran sama Dea Ananda*. Ganteng *tersipu-malu mode on*. Jenis musik yang mereka bawakan bukan jenis musik yang bisa kucerna dengan baik. Mungkin terlalu berat untuk otakku yang sangat sederhana ini. Hehehe..

Namun ketika aku dengar mereka membawakan lagu 'Laskar Pelangi', tiba2 aku bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang kulakukan saat itu dan mendengarkan *dengan seksama* lagu itu. Seperti ada kekuatan magis yang menarikku untuk tetap mendengarkannya. Tapi aku percaya Nidji gak perlu guna2 supaya lagu mereka yang satu ini bisa laku. Musik dan liriknya berjalan bersama. Dan cuma satu kata yang bisa kukatakan untuk menggambarkan perasaanku tentang lagu ini: pas.

Laskar Pelangi
tak kan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa

Kalimat pertama lagu ini kena banget. Memang benar, mimpi adalah langkah awal dari semua langkah. Dan aku sendiri merasakannya.

Aku lahir dari keluarga yang biasa2 aja. Bahkan bisa dibilang pas2an saat itu. Tapi orang tuaku punya mimpi untuk menyekolahkan anak2 mereka setinggi mungkin. Urusan bayar biayanya gimana, masih belum tau. Tapi bekal yang paling berharga yang orang tuaku miliki adalah: mimpi untuk menjadikan anak2nya orang yang berpendidikan.

Aku pun punya mimpi yang serupa. Ingin kuliah ke Jawa supaya dapat pendidikan yang lebih bagus *bukannya mengecilkan mutu pendidikan di tempat asalku*. Tapi aku pengen punya pengalaman baru dan merasakan kehidupan di luar sana. Dan suatu hari aku liat profil sebuah kampus swasta Surabaya di tv. Mulai hari itu aku bertekad bahwa aku harus kuliah di situ. Walaupun aku sadar, biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah di sana pasti besar sekali. Caranya bagaimana? Dipikirkan nanti.

Ternyata, kampus itu menawarkan beasiswa 100% (tuition fee) bagi calon mahasiswa dari Kawasan Timur Indonesia. Kemudian aku mengikuti tes beasiswa tersebut, dan sebulan kemudian aku diterima. Rasanya hampir gak percaya. Tapi mimpi akhirnya jadi kenyataan.

Dan sekarang, lihatlah. Usaha yang ditekuni orang tuaku sudah menunjukkan hasil yang baik. Formula yang dipakai adalah mimpi + kerja keras. Bahkan mereka bisa menyekolahkan adeku di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku bangga dengan orang tuaku.

Menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di dunia,
selamanya...

Mimpi2 lain yang sering kali terwujud adalah travelling ke tempat2 yang belum pernah ku kunjungi. Aku pernah bilang dalam hati: "Belum pernah ke Bali nih. Pengen banget ke sana". Dan beberapa lama kemudian, aku sudah ada berlibur di Bali. Sejak saat itu, aku selalu menetapkan kota mana yang ingin ku tuju sebagai next destination ku.

Pernah aku bilang sama temen: "Aku pengen banget ke Manado. Entah kapan, tapi aku harus ke sana". Dan 2 tahun setelah aku bilang begitu, kesempatan itu datang. Dan lebih enaknya lagi, tak perlu mengeluarkan biaya pribadi. Menyenangkan bukan?

Mau percaya atau gak, kota2 di 5 pulau besar di Indonesia yang pernah ku kunjungi, semuanya berawal dari mimpi. Dan tujuanku berikutnya adalah: Lombok dan Singapura. Kita lihat, seberapa cepat mimpiku ini direspons :)

Cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita

Aku jadi ingat beberapa tahun yang lalu. Waktu itu masih fresh graduate dan berkeliling kota Surabaya untuk mencari pekerjaan. Dan entah kenapa, setiap kali diajukan pertanyaan *baik secara lisan maupun tulisan* tentang pekerjaan sebenarnya yang kuinginkan, aku mesti menjawab: "Jadi ibu rumah tangga dan buka cafe". Aku sampe ditegur sama mantan pacarku *yang saat itu masih jadi pacarku*, kalo cari kerja itu yang serius.

Kalo mau ditanya tingkat keseriusanku waktu ngasih jawaban itu, aku sangat serius. Aku juga gak ngerti kenapa jawaban itu bisa keluar. Tapi yang aku lebih gak ngerti lagi, walaupun aku sudah ngasih jawaban seperti itu, aku tetap dipanggil untuk interview berikutnya. Hehehehe...

Dan memang itu mimpi terbesarku saat ini. Jadi ibu rumah tangga dan pengen punya cafe. Dan kalo anak2 sudah bisa mandiri, pengen beli rumah di desa dengan halaman belakang yang luas lengkap dengan ayunan kayunya. Kemudian sesekali travelling ke tempat2 yang belum pernah dikunjungi. Lalu hidup dengan tenang sampai ajal menjemput. Ketiga hal terakhir tentu saja ingin kulakukan bersama pria yang kucintai *tersipu-malu mode on lagi*.

Laskar Pelangi
tak kan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi

Dan bagi orang2 yang bahkan untuk bermimpi pun mereka tak berani, kusampaikan pada kalian 2 kata yang sering diucapkan oleh si Gundheg *temanku* dengan logat Jawa-Toraja nya yang lucu: "Mati ae.."

*Lirik lagu Laskar Pelangi - Nidji

loneliness


Tulisan tanpa tujuan ini dibuat karena aku lagi kesepian berat.

Apa sebab?
Papah sama Mamah pergi ke luar kota 2 hari yang lalu dan otomatis rumah yang hanya memiliki 3 penghuni *entah kalo ada penghuni yang tak terlihat, hiiii...* kini hanya tersisa aku.

Awalnya sih seneng2 aja, karena aku juga sudah biasa ditinggal di rumah sendirian. Gak usah berbagi remote tv, bisa pake telkomnet instan sepuasnya *biang kerok besarnya tagihan telpon bulanan :p*, bisa bangun siang tanpa diomelin Mamah, dan gak perlu sering2 nyapu rumah *FYI, Mamahku orang yang menjunjung tinggi kebersihan rumah*.

Tapi lama2 bosan juga. Soalnya sepi banget. Biasanya jam 6 sore sinetron entah-kapan-berakhir mulai berparade di tv. Itu tontonan wajib Mamahku yang biasanya kujadikan bahan celaan. Dan entah kenapa, hari ini aku merindukannya. Arrrrggghhh...

Kalo rumah kotor dikit, Mamah pasti menyalakan 'radio'-nya yang berisi omelan panjang lebar tentang betapa dia gak suka rumah yang kotor. Dan selalu yang kena sasaran adalah aku dan Papah. Beruntunglah penghuni2 lain itu *kalo emang ada* karena mereka tak terlihat. Dan sialnya, kenapa aku merindukan omelan itu ya? Hhhhh...

Sekarang aku tau kenapa orang bisa mati karena kesepian...

s.(h).i.t

Lagi bete berat. Apa pasal? Berkas naik pangkat gak LOLOS.

FYI, sebagai tenaga pengajar, kalo mau naik pangkat or jabatan fungsional mesti mengumpulkan angka kredit. Nah, untuk kenaikan pangkat kali ini aku mesti mengumpulkan 50 angka kredit.

Dengan susah payah aku mengumpulkan 50 angka kredit itu. Membuat makalah, menulis di jurnal, mengajar banyak sekali materi, bahkan mesti aktif di kepanitiaan institusi tempatku bekerja *karena itu juga dinilai*.

Mendekati hari pengumpulan berkas, aku pun sibuk menlengkapi berkas2ku yang seabrek itu. Bermodal tanya sana tanya sini *karena gak ada panduan atau manual book-nya* akhirnya aku bisa menyelesaikan berkas2 naik pangkat itu dan merampungkan penghitungan angka kredit. Aku ngotot membuat sendiri perhitungan angka kreditku, padahal banyak aja yang menawarkan 'jasa' penghitungan angka kredit dengan kompensasi yang bervariasi. Mulai dari Rp. 100.000,- sampai Rp. 500.000,-.

Dan beberapa hari yang lalu, aku dikabari sama temenku kalo berkas ku gak lolos karena angka kreditku kurang 1 poin. Rasanya gemes banget, kok bisa kurang 1 poin? Setelah tanya sana tanya sini (lagi), berkas temanku yang lolos gak jauh beda sama punyaku. Trus kurangnya dimana?

Setelah itu aku langsung ke bagian kepegawaian, dan dari mereka aku tau kalo poin di bagian pengajaranku banyak yang gak diakui.

HOW COME??? Padahal aku sudah melampirkan SK *surat keterangan -red* mengajarku. Trus kemana larinya kelas2 yang pernah ku ajar itu? Kemana perginya kerja kerasku di bidang pendidikan ini? Kemana hilangnya apresiasi terhadap dedikasiku?

Yang membuatku bingung bukan kepalang adalah pejabat penilai kenaikan pangkat adalah atasanku yang notabene orang2 yang dengan senang hati membebankan begitu banyak pekerjaan ke aku. Dan aku pun dengan senang hati pula mengerjakannya atas nama pengabdian.

Yang masih mengganjal sampai sekarang:
Apa mereka lupa sama aku?
Lupa dengan kerja rodiku selama ini?
Atau, cuma ingat waktu ada kerjaan aja?
Atau, jangan-jangan aku ini transparan?


Astaga!!! Sepertinya aku mulai tak terlihat.



Kenapa kutambahin ++ setelah kata sebuah? Karena ada 2 buah nama yang akan kubahas dipostingan kali ini

Piyek
Nama 'Piyek' dipopulerkan dipertengahan tahun 2002. Waktu itu ada lomba paduan suara mahasiswa di Kupang. Kejadian sih gak sengaja, bahkan lebih tepatnya kecipratan apes.

Salah satu temen deketku * yang waktu itu masih belum seberapa deket*, di make up sama Miss Cosmo a.k.a Kak Lia. Trus KL *alias Kak Lia* bilang: "Kon lucu yo... Kaya Panda". Sejak itu sampe sekarang, temenku yang nama aslinya Silvia itu dipanggil Panda sama anak2 PS *paduan suara-red*. Bahkan sekarang banyak temen2 yang lupa atau bahkan gak tau kalo nama aslinya. Hahaha... Sakno kon Pan...

Tak terima dirinya aja yang diberi nama panggilan yang tak mengenakkan *tapi sekarang dia udah pasrah kok*, si Panda pun mencari teman. Akhirnya aku yang kena sasaran. Dan ketemu lah nama panggilan yang cocok sama aku, PIYEK. Kenapa dinamain Piyek? Karena aku takut sama ayam. Silakanlah tertawa sepuasnya dulu, karena emang aku takut banget sama ayam.

Dan akhirnya sampe sekarang sebagian anak2 PS, terutama yang deket sama aku, manggil aku Piyek. Tapi untungnya ada beberapa yang masih dengan baik hati mengingat nama asliku dan tetap memanggilku dengan nama pemberian orang tuaku itu. Thanks guys... :)

Tentang ketakutanku sama ayam, ada satu cerita lucu yang kalo diingat2 bisa bikin malu juga. Pas SMA, entah kenapa banyak ayam keleleran di halaman sekolah. Pernah satu hari, aku pengen ke WC dan dari jauh aku sudah liat ada sepasang ayam lagi bersantai di bawah pohon deket WC sekolah. Aku sudah ambil ancang2 dan mem-planningkan rute yang akan ku ambil supaya gak perlu deket2 dengan 2 makhluk menyebalkan itu.

Entah kenapa, tiba2 ayam jago kejar2an sama ayam betina. Kayaknya si jago lagi kebelet sama si betina, tapi si betina lagi ogah. Gak tau apa si betina lagi marahan sama si jago, lagi malas aja, atau lagi datang bulan. Pas kejar2an itu lagi seru-serunya, kayaknya si betina yang melihatku mendekat mencari suaka. Tiba2 si betina sudah berlari ke arahku. Kontan aja aku lari sekencang2nya sambil teriak2. Eh bukannya menjauh, si betina malah semakin ngotot lari ke arahku, dan si jago gak kalah ngototnya ngejar si betina. Akhirnya terjadilah aksi kejar2an, di mana aku, si betina, dan si jago yang menjadi peran utamanya.

Setelah 3 putaran mengelilingi pohon, dengan paniknya aku langsung masuk WC dan kunci pintunya. Sampe temen2 yang lagi ada di WC kaget plus heran. Aku cuma bisa bilang: "Gak papa.. Gak papa..." dengan muka yang kuyakini pucat banget.

cutedv
Ini nick ku waktu masih keranjingan chatting di mIRC. Idenya gak muncul gitu aja sih. Nama ini terinsipirasi dari seseorang yang dulu pernah deket (cieeee...). Dia dulu suka manggil aku MiniDV, disebabkan bentuk tubuhku yang mungil *FYI, sekarang sudah gak mungil lagi :D*. Olehku, nama itu kuplesetkan lagi jadi CuteDV *sekarang masih tetep cute kok. Hahahahaa...*

Older Posts Home