...
'Kalian pasti gak tau kan?'
...
'Aku lagi ngurus perceraianku.'
'Kenapa?', tanyaku.
Lalu dia menjelaskan dengan singkat dan jelas bahwa yang menjadi alasan utama adalah perbedaan prinsip dan pola pikir. Bagiku yang menjadikan infotainment sebagai tontonan yang menyenangkan (silakan ditertawakan ;-P), entah kenapa alasan tersebut tidak terdengar klise. Aku malah bisa memahami. Dan rasanya aku juga tak berhak untuk bertanya lebih detail lagi tentang sejauh mana perbedaan prinsip dan pola pikir itu.
Aku bukan orang yang menyenangi perceraian. Apalagi Nabi Besar yang kuikuti ajaran-Nya pun mengatakan bahwa perceraian hanya diperbolehkan apabila terjadi perzinahan. Tapi bukannya aku tak bisa menerimanya bila alasan yang diberikan masuk akal. Terutama ketika sang teman mengatakan bahwa sang suami beberapa kali melakukan kekerasan fisik yang dapat kupastikan disertai dengan kekerasan psikis pula.
Aku sama sekali tak menyarankannya untuk tidak bercerai. Bahkan ketika teman-teman yang lain sangat menyayangkan bila hal itu terjadi.
Lalu akhirnya aku pun bersuara.
Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk tidak bercerai. Alasan untuk bersama harusnya adalah karena suami tak bisa hidup tanpa istri dan begitu pula sebaliknya. Bukankah (sebagian besar) orang menikah bukan karena anak, tapi karena keinginan kedua belah pihak? Dan harusnya alasan yang sama yang tetap menyatukan mereka.
Dan mungkin yang membuat teman-temanku cukup tercengang ketika aku mengeluarkan pernyataan ini:
Bukan pemikiran yang lazim memang.
Tapi bagaimana aku bisa jadi ibu yang baik kalau aku tidak bisa jadi istri yang baik? Bagiku suami tetap menduduki peringkat pertama. Karena dengannyalah aku berkomitmen untuk membentuk sebuah rumah tangga yang kami jalani sekarang. Bila aku menghargai dan menghormati suamiku, maka anak-anakku dapat melihat bagaimana sebuah relasi yang baik dan melakukan hal yang serupa pula ketika mereka berelasi dengan orang lain.
Dilihat dari kening-kening yang bertaut sepertinya teman-temanku tak seberapa setuju. Tapi ah, aku kan tak bisa mengontrol pikiran mereka :-)
Labels: friendship, life, marriage, my thoughts
Entah kenapa, beberapa bulan belakangan ini keinginanku untuk menulis seperti teredam. Penyebabnya, aku tak tahu persis. Sibuk lah, mengurusi suami lah, tergoda hal lain lah, atau karena memang sedang tak ingin. Dan aku memang tak mau memaksakan diri kalo memang sedang tak ingin.
And now, I want to make a confession.
I'm 50. YES! I'M 50!
OH.MY.GOD.
I gained weight. A LOT.
Dan ketika aku mengatakan ini pada suami, jawaban dari seberang adalah:
Dasar! Dulu, waktu pacaran, mana berani dia ngomong begitu. Huh!
Sudahlah. Lupakan saja.
Tadi, aku nonton Finding Nemo di RCTI. Senang juga bisa nonton animasi itu lagi. Namun, yang bikin acara menonton tadi kurang sedap adalah: film itu di-dubbing ke bahasa Indonesia. Menurutku itu mengurangi keindahannya. Hhhhh...
Jadi ingat pas masih SMA dulu, ada telenovela yang di-dubbing ke bahasa Inggris lalu diberi subtitle Indonesia. Asli, ini agak... AJAIB. Dan yang lebih anehnya lagi, dubber-nya berlogat Jawa yang sangat kental. Ah, televisi Indonesia memang selalu AJAIB.
Nah, kembali lagi ke Finding Nemo tadi.
Oke, tak apa lah di-dubbing. Masih lucu kok. Gak apa-apa. Supaya anak-anak yang belum bisa baca dapat mengerti jalan cerita. Hiburku dalam hati. Namun, hampir di akhir cerita ada hal yang mengganggu (lagi).
Ceritanya nih, di perjalanan ingin menyelamatkan Nemo, papa Nemo bertemu dengan sekelompok penyu. Dan sodara-sodara sekalian, ketika sang penyu berbicara, aku merasa ada kejanggalan. Tapi apa ya? Kok di telinga kedengarannya gimana gitu.
Ah, ya! Aku tau sekarang.
Beneran. Sumpah. Gak bohong. Entah apa yang ada di benak sang dubber.
Sekali lagi... AJAIB.
Aku ingat judul telenovela yang di-dubbing ke bahasa Janglish (Javanese English) itu.
ESMERALDA. Hahahahaha!
whenever you're sad.
Carry you around when your arthritis is bad.
Oh, all I wanna do, is grow old with you.
I'll get you medicine when your tummy aches,
build you a fire if the furnace breaks.
Oh, it could be so nice, growin' old with you.
I'll miss you, kiss you,
give you my coat when you are cold.
Need you, feed you,
I'll even let you hold the remote control.
So let me do the dishes in our kitchen sink,
put you to bed when you've had too much to drink.
Oh I could be the man who grows old with you.
I wanna grow old with you..
I Wanna Grow Old With You - Adam Sandler
PS. Berharap ini bisa dijadikan theme song for my marriage life
Labels: marriage, my thoughts, songs
Lama sekali aku tak mengurusi hideaway place-ku ini. Ini dikarenakan aku sedang beradaptasi menjadi seorang ibu rumah tangga. Dan ternyata itu perlu kerja keras saudara2. Tidak mudah untuk konsisten menyapu rumah paling tidak satu kali sehari, mengepel rumah paling tidak dua hari sekali, memasak setidaknya 3 kali sehari, mencuci pakaian kira2 3 hari sekali diimbuhi dengan menyetrika pula, danseterusnyadanseterusnya. Ditambah perayaan ulang tahun serta Natal, otomatis beban kerja sebagai ibu rumah tangga pun berlipat ganda. (menghela napas)
Sebenarnya kesibukan sebagai ibu rumah tangga bukanlah satu-satunya penyebab jarangnya diriku membenahi tempat ini. Faktor utamanya adalah kesulitan untuk melakukan akses internet dengan nyaman. Internetan pake HP sih sebenarnya sering kulakukan selama aku di Surabaya. Tapi tingkat kenyamanannya itu loh, sangat rendah. Wong mengetik sms agak panjang aja diriku sudah mengalami kram jempol. Apalagi kalo mesti mengetik postingan. Alamak!
Selama di Surabaya aku dan suami menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi. Dan dikarenakan seringnya kami menjumpai lampu lalu-lintas di jalanan, aku mengamati hal-hal yang terjadi. (Secara, lampu merahnya lama banget. Huh!).
Dari pengamatanku terlihat bahwa kaidah-kaidah (hah?? kaidah??) yang berlaku di seputaran lampu lalu-lintas sudah agak rancu. Para pengendara sepeda motor biasanya nangkring setelah garis batas zebra cross untuk menunggu lampu hijau menyala. Tapi tunggu dulu... Bukannya mereka gak bisa liat tuh lampu menyala, secara mereka ada beberapa meter di depan traffic light.
"Gimana mereka bisa tau kalo lampu hijaunya nyala?", tanyaku pada suami.
"Kalo ada yang nglakson dari belakang artinya sudah lampu hijau"
Nah, kalo ada yang tingkat keisengannya cukup tinggi lalu membunyikan klakson sebelum lampu hijau menyala, bagaimana?
Pemberkatan Nikah dilakukan di Gereja Hosana, tempat kami terdaftar sebagai anggota jemaat. Prosesinya hampir sama dengan pemberkatan nikah lainnya yang dilakukan oleh jemaat GKE (Gereja Kalimantan Evangelis). Namun, setelah pengucapan janji pernikahan, aku menyanyikan sebuah lagu pendek yang liriknya diambil dari puisi Sapardi Djoko Damono. Dan ternyata, cukup membuat beberapa pasang mata berkaca-kaca. Termasuk aku dan dia.
Warna yang dominan pada pernikahan kami adalah maroon dan baby pink. Mulai dari undangan sampai kue pengantin. Jadi, ketika memasuki area resepsi, kedua warna itu sangat kental terlihat (ditambah dengan beberapa warna gradasinya).
Pada resepsi, kami menayangkan foto-foto kenangan masa kecil serta rekaman perjalanan cinta kami (bisa dilihat di sini). Kemudian diriku (lagi-lagi) menyanyikan 'Two Words' yang dipopulerkan oleh Lea Salonga.
Berikut rekaman singkat resepsi pernikahan kami.

Labels: marriage
Sebagai pembuka rangkaian pernikahan warga Kalimantan Tengah, khususnya suku Dayak Ngaju, diadakanlah prosesi peneguhan pernikahan secara adat. Prosesi ini disebut 'Penganten Mandai'. Bila diartikan secara bebas, artinya adalah 'Pengantin Naik (ke rumah)'. Menggunakan kata 'naik' karena Betang, rumah adat suku Dayak Ngaju, bentuknya adalah rumah panggung.
Tanggal 12 November yang lalu aku pun menjalani prosesi yang sama. Diawali dengan kedatangan rombongan mempelai laki-laki yang diiringi dengan tabuhan gong. Ketika tiba, rombongan itu tidak langsung dipersilakan masuk ke dalam rumah mempelai wanita, namun harus melewati 'rintangan' yang disebut 'Lawang Sakepeng'. 'Lawang Sakepeng' adalah gerbang yang dihiasi dengan daun kelapa dan diberi tali-tali yang membentang. Tali itu harus diputuskan oleh dua orang pesilat dari kedua belah pihak.
Ketika tali 'rintangan' sudah terputus, maka beberapa orang penari akan mengantarkan mempelai pria masuk ke dalam rumah mempelai wanita. Dan tepat di depan pintu, ibu dan para mina (tante -red) dari mempelai wanita akan menaburkan bunga + uang logam ke arah mempelai wanita. FYI, si Mamah menyediakan banyak sekali uang logam 500 rupiah yang warnanya emas (yang lumayan berat itu). Dijamin benjol kalo kena. Hahaha!
Pembicaraan antar keluarga pun dilakukan. Keluarga mempelai wanita akan menanyakan maksud kedatangan keluarga mempelai pria. Biasanya keluarga mempelai pria akan menjawab bahwa si mempelai pria pernah beberapa kali melihat 'tanah subur' di tempat itu dan tertarik untuk 'membelinya'. Mendengar jawaban seperti itu maka keluarga mempelai wanita pun akan menanyakan dengan cara apa mempelai pria akan membeli tanah subur itu. Lalu keluarga mempelai pria akan mengeluarkan barang-barang hantaran yang biasa disebut 'Ramun Pisek' dan 'Barang Jalan Adat'.
'Ramun Pisek' yang biasanya diberikan adalah 'Pakaian Sinde Mendeng'. Merupakan semua perlengkapan yang dibutuhkan mempelai wanita dari ujung rambut sampai ujung kepala. Mulai dari perlengkapan mandi sampai alas kaki.
Sedangkan 'Barang Jalan Adat' terdiri dari beberapa item, yaitu:
1. Palaku, berupa sebidang tanah lengkap dengan bukti kepemilikan (dan ini akan jadi hak mempelai wanita :p)
2. Saput
3. Pakaian, yang kemudian akan diberikan kepada saudara kandung mempelai wanita.
4. Garantung kuluk pelek, berupa satu buah gong
5. Bulau singah pelek, sepasang cincin kawin
6. Lamiang turus pelek
7. Sinjang entang, kain panjang dan kain sarung yang kemudian akan diberikan kepada ibu dan nenek mempelai wanita (yang konon kabarnya digunakan untuk 'membayar' lelah mereka selama merawat si mempelai wanita)
8. Lapik luang, selembar kain panjang yang biasa disebut 'bahalai'
9. Duit ringgit lapik ruji
10. Andas ije bata tutup uwan, kain hitam sepanjang 2 meter yang akan diberikan kepada nenek mempelai wanita (uwan = uban)
11. Pinggan pananan pahanjean kuman, satu set perlengkapan makan
12. Bulau ngandung (panginan jandau), sebesar biaya konsumsi yang dibutuhkan dalam acara pernikahan
13. Rapin tuak, minuman (keras) secukupnya. Biasanya yang disediakan adalah 'baram', minuman keras khas hasil fermentasi.
14. Timbuk tangga
15. Duit turus
16. Jangkut amak, satu set perlengkapan tidur
17. Batu kaja, berupa perhiasan emas yang akan dibayar ketika 'Pakaja Manantu' (yang akan diulas di postingan berikutnya)
Setelah 'transaksi' selesai dilakukan, maka keluarga mempelai wanita 'wajib' memperlihatkan 'tanah' yang diincar oleh mempelai pria. Namun umumnya, keluarga mempelai wanita akan memperlihatkan beberapa wanita lain dengan maksud mengecoh mempelai pria sebelum mempelai wanita dipersilakan keluar.
Bila mempelai wanita sudah keluar, maka akan dilakukan pembacaan serta penandatanganan 'Surat Perjanjian Kawin Adat'. Pada surat perjanjian ini dituliskan pula denda yang harus dibayar oleh pihak yang bersalah jika terjadi perceraian (amit-amit jabang bayi). Besarnya denda sesuai dengan kesepakatan bersama, di sini kami mencantumkan 500 gram emas sebagai dendanya.
Untuk menutup rangkaian prosesi, dilakukanlah ritual 'Tampung Tawar' untuk memanjatkan doa bagi kedua mempelai. Dilakukan dengan memercikkan air yang sudah dicampur dengan minyak wangi dan minyak kelapa menggunakan daun pandan. Lalu diakhiri dengan meletakkan sejumput beras di kepala kedua mempelai. 'Tampung Tawar' ini dilakukan oleh orang tua dan orang-orang yang dituakan dari masing-masing mempelai. Jadi, bisa dibayangkan betapa berminyak dan ber-beras kepala kami.

Minggu depan, aku dan seseorang itu harus mulai berkompromi dengan segala perbedaan yang kami miliki (yang dapat dengan mudah terlihat ketika kami berbelanja sabun mandi, shampoo, pasta gigi, danseterusnyadanseterusnya) demi sebuah visi yang sama. Membentuk keluarga yang bahagia.
Minggu depan, aku dan seseorang itu akan menggantikan 'aku' dan 'kamu' dengan 'kami' dan 'kita'.
Lompat ke topik berikutnya..
Siapakah seseorang yang malang ups.. beruntung ini? (Yang harus menyediakan telinga selama kira-kira setengah hari di sepanjang hidupnya untuk mendengarkan celotehanku. Hahaha!)
Kami sekolah di SMA yang sama. Bukan teman karena rasanya kata 'teman' terlalu intim untuk menggambarkan relasi yang kami miliki dulu. Karena semasa SMA, relasi kami hanya sebatas 'Hai' atau senyum basa-basi bila berpapasan. Tak lebih. Tak kurang.
Kami kuliah di kota yang sama. Tapi tak pernah bertemu, berpapasan, atau saling melihat kelebat. Padahal, aku pernah main ke kampusnya dan dia pernah jalan-jalan ke kampusku. Membuatku menyadari bahwa terkadang dunia juga tak sekecil yang kita kira.
Kami bekerja di institusi yang sama. Nah, inilah yang kemudian mempertemukan kami. Karena sering bertemu? Tidak. Trus? Because everything has been written down. Jadi, silakan tanya Sang Empunya Jagat Raya. Beliau yang lebih tau kenapa kami bisa membentuk relasi yang lebih dari sekedar teman. 'Tuhan tahu, tapi menunggu', begitu yang sering kukatakan padanya bila dia mulai bertanya-tanya. (Mengutip dari Laskar Pelangi ^_^).
Seorang kekasih yang pada awal hubungan kukatakan padanya: 'Sekarang -dan untuk beberapa lama ke depan, jangan dulu tanya apa aku sayang kamu, apa aku cinta kamu. Karena kamu pasti tau jawabannya - Gak. Untuk sekarang ini sayang dan cintaku masih punya dia.'. Dia pun mengangguk.
Seorang kekasih yang beberapa bulan setelah memulai relasi ku pinjam bahunya dan menangis sejadi-jadinya ketika ku ketahui mantan pacar akan menikah. (Sempat kecewa karena aku masih menangisi lelaki itu, tapi kemudian tetap dengan senang hati memasak mie goreng instan untukku).
Seorang kekasih yang kemudian menyarankanku (serta memperbolehkanku) untuk menelpon mantan pacar. Untuk menyelesaikan semua yang masih mengganjal, begitu katanya. Dan memintaku untuk tidak menangisi orang bodoh itu lagi. Bodoh karena tidak punya keberanian untuk memperjuangkanku, tambahnya.
Seorang kekasih yang tidak romantis yang melamarku sembari menyetir mobil dengan kata-kata: 'Kalo gak menikah denganmu, hidupku gak akan sama lagi'. Menatapku sepersekian detik, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.
Seseorang yang mulai minggu depan kuharapkan akan tetap menjadi seorang kekasih merangkap teman baik. Di tiap-tiap hari sepanjang hidup kami.
Labels: life, love, marriage, my thoughts


