Blogger Template by Blogcrowds.


Pemberkatan Nikah dan Resepsi dilakukan pada tanggal 13 November 2008. Banyak yang tanya: 'Kok tanggal 13? Itu kan angka sial?'. Tanyakan aja pada bue (kakek -red) yang sudah memilihkan tanggal tersebut berdasarkan penghitungan yang cermat. (Dan ternyata pada tanggal 13 November, di Palangka Raya sedang bulan purnama penuh. Hari yang dipercaya baik untuk menyelenggarakan pernikahan).

Pemberkatan Nikah dilakukan di Gereja Hosana, tempat kami terdaftar sebagai anggota jemaat. Prosesinya hampir sama dengan pemberkatan nikah lainnya yang dilakukan oleh jemaat GKE (Gereja Kalimantan Evangelis). Namun, setelah pengucapan janji pernikahan, aku menyanyikan sebuah lagu pendek yang liriknya diambil dari puisi Sapardi Djoko Damono. Dan ternyata, cukup membuat beberapa pasang mata berkaca-kaca. Termasuk aku dan dia.


Setelah Pemberkatan Nikah dan Catatan Sipil dilaksanakan, kami semua berangkat ke lokasi resepsi, bertempat di Gedung Wanita, Palangka Raya.

Warna yang dominan pada pernikahan kami adalah maroon dan baby pink. Mulai dari undangan sampai kue pengantin. Jadi, ketika memasuki area resepsi, kedua warna itu sangat kental terlihat (ditambah dengan beberapa warna gradasinya).

Pada resepsi, kami menayangkan foto-foto kenangan masa kecil serta rekaman perjalanan cinta kami (bisa dilihat di sini). Kemudian diriku (lagi-lagi) menyanyikan 'Two Words' yang dipopulerkan oleh Lea Salonga.

Berikut rekaman singkat resepsi pernikahan kami.





Sebagai pembuka rangkaian pernikahan warga Kalimantan Tengah, khususnya suku Dayak Ngaju, diadakanlah prosesi peneguhan pernikahan secara adat. Prosesi ini disebut 'Penganten Mandai'. Bila diartikan secara bebas, artinya adalah 'Pengantin Naik (ke rumah)'. Menggunakan kata 'naik' karena Betang, rumah adat suku Dayak Ngaju, bentuknya adalah rumah panggung.

Tanggal 12 November yang lalu aku pun menjalani prosesi yang sama. Diawali dengan kedatangan rombongan mempelai laki-laki yang diiringi dengan tabuhan gong. Ketika tiba, rombongan itu tidak langsung dipersilakan masuk ke dalam rumah mempelai wanita, namun harus melewati 'rintangan' yang disebut 'Lawang Sakepeng'. 'Lawang Sakepeng' adalah gerbang yang dihiasi dengan daun kelapa dan diberi tali-tali yang membentang. Tali itu harus diputuskan oleh dua orang pesilat dari kedua belah pihak.


Ketika tali 'rintangan' sudah terputus, maka beberapa orang penari akan mengantarkan mempelai pria masuk ke dalam rumah mempelai wanita. Dan tepat di depan pintu, ibu dan para mina (tante -red) dari mempelai wanita akan menaburkan bunga + uang logam ke arah mempelai wanita. FYI, si Mamah menyediakan banyak sekali uang logam 500 rupiah yang warnanya emas (yang lumayan berat itu). Dijamin benjol kalo kena. Hahaha!


Pembicaraan antar keluarga pun dilakukan. Keluarga mempelai wanita akan menanyakan maksud kedatangan keluarga mempelai pria. Biasanya keluarga mempelai pria akan menjawab bahwa si mempelai pria pernah beberapa kali melihat 'tanah subur' di tempat itu dan tertarik untuk 'membelinya'. Mendengar jawaban seperti itu maka keluarga mempelai wanita pun akan menanyakan dengan cara apa mempelai pria akan membeli tanah subur itu. Lalu keluarga mempelai pria akan mengeluarkan barang-barang hantaran yang biasa disebut 'Ramun Pisek' dan 'Barang Jalan Adat'.

'Ramun Pisek' yang biasanya diberikan adalah 'Pakaian Sinde Mendeng'. Merupakan semua perlengkapan yang dibutuhkan mempelai wanita dari ujung rambut sampai ujung kepala. Mulai dari perlengkapan mandi sampai alas kaki.

Sedangkan 'Barang Jalan Adat' terdiri dari beberapa item, yaitu:
1. Palaku, berupa sebidang tanah lengkap dengan bukti kepemilikan (dan ini akan jadi hak mempelai wanita :p)
2. Saput
3. Pakaian, yang kemudian akan diberikan kepada saudara kandung mempelai wanita.
4. Garantung kuluk pelek, berupa satu buah gong
5. Bulau singah pelek, sepasang cincin kawin
6. Lamiang turus pelek
7. Sinjang entang, kain panjang dan kain sarung yang kemudian akan diberikan kepada ibu dan nenek mempelai wanita (yang konon kabarnya digunakan untuk 'membayar' lelah mereka selama merawat si mempelai wanita)
8. Lapik luang, selembar kain panjang yang biasa disebut 'bahalai'
9. Duit ringgit lapik ruji
10. Andas ije bata tutup uwan, kain hitam sepanjang 2 meter yang akan diberikan kepada nenek mempelai wanita (uwan = uban)
11. Pinggan pananan pahanjean kuman, satu set perlengkapan makan
12. Bulau ngandung (panginan jandau), sebesar biaya konsumsi yang dibutuhkan dalam acara pernikahan
13. Rapin tuak, minuman (keras) secukupnya. Biasanya yang disediakan adalah 'baram', minuman keras khas hasil fermentasi.
14. Timbuk tangga
15. Duit turus
16. Jangkut amak, satu set perlengkapan tidur
17. Batu kaja, berupa perhiasan emas yang akan dibayar ketika 'Pakaja Manantu' (yang akan diulas di postingan berikutnya)


Setelah 'transaksi' selesai dilakukan, maka keluarga mempelai wanita 'wajib' memperlihatkan 'tanah' yang diincar oleh mempelai pria. Namun umumnya, keluarga mempelai wanita akan memperlihatkan beberapa wanita lain dengan maksud mengecoh mempelai pria sebelum mempelai wanita dipersilakan keluar.

Bila mempelai wanita sudah keluar, maka akan dilakukan pembacaan serta penandatanganan 'Surat Perjanjian Kawin Adat'. Pada surat perjanjian ini dituliskan pula denda yang harus dibayar oleh pihak yang bersalah jika terjadi perceraian (amit-amit jabang bayi). Besarnya denda sesuai dengan kesepakatan bersama, di sini kami mencantumkan 500 gram emas sebagai dendanya.


Untuk menutup rangkaian prosesi, dilakukanlah ritual 'Tampung Tawar' untuk memanjatkan doa bagi kedua mempelai. Dilakukan dengan memercikkan air yang sudah dicampur dengan minyak wangi dan minyak kelapa menggunakan daun pandan. Lalu diakhiri dengan meletakkan sejumput beras di kepala kedua mempelai. 'Tampung Tawar' ini dilakukan oleh orang tua dan orang-orang yang dituakan dari masing-masing mempelai. Jadi, bisa dibayangkan betapa berminyak dan ber-beras kepala kami.


"Remember to play after every storm"

Itulah kalimat yang akan menyambut kita bila berkunjung ke sini. Sebuah situs yang dibuat demi mengenang seorang bocah laki-laki yang menjalani hidupnya (hanya) 13 tahun. Bila Mattie (demikian orang sering menyapanya) mengetahui bahwa aku menambahkan kata 'hanya' di depan usianya, mungkin ia akan protes berat. Karena (mungkin) baginya waktu 13 tahun itu sudah lebih dari cukup untuk mengabarkan berita baik ke penjuru dunia.

Anak yang menakjubkan. Begitu yang bisa kukatakan untuk mendeskripsikan seorang Mattie Stepanek. Dalam setiap gambarnya yang kurekam dalam ingatanku, tak pernah sekalipun senyum absen dari wajah mungilnya (yang imut).

Mattie menderita kelainan otot yang sifatnya genetik. Ibunya mengalami hal yang sama. Bahkan seorang adiknya meninggal dikarenakan penyakit tersebut. Tapi herannya, Mattie yang sehari-harinya sangat bergantung dengan kursi roda seolah-olah punya daya jangkau yang luas.

Puisi serta buku yang dibuatnya mencelikkan mata. Membuka mata bahwa semua yang kita alami patut disyukuri. Seorang anak yang begitu menghargai hidup dan berterima kasih atas semua yang dimilikinya. Termasuk kematian yang berjalan mendekat ke arahnya. Karena hanya dengan begitu kita dapat melihat keindahan pelangi setelah badai yang menerpa.

Seorang anak, yang bahkan dengan mengingatnya saja, membuatku merinding dan terharu.

Dan ketika Tuhan memanggilnya kembali, sebuah upacara pemakaman - yang (lagi-lagi) membuatku nyaris menangis - dipersembahkan untuk mengenang seorang anak berhati mulia ini. Mattie dimakamkan layaknya seorang Pemadam Kebakaran - yang menjadi pahlawan dalam versinya. Bukti bahwa Mattie adalah seorang pahlawan - dengan caranya sendiri.


Bila dirimu merasa lelah dengan hidup yang dijalani, mencibir atas semua yang terjadi, kecewa dengan yang kau terima, sering-seringlah berkunjung ke sini. Mudah-mudahan dapat memberi pencerahan dan kau dapat tersenyum kembali. Palus wei...


Beberapa puisi karyanya

HEARTSONG

I have a song, deep in my heart,
And only I can hear it.
If I close my eyes and sit very still
It is so easy to listen to my song.
When my eyes are open and
I am so busy and moving and busy,
If I take time and listen very hard,
I can still hear my Heartsong.
It makes me feel happy.
Happier than ever.
Happier than everywhere
And everything and everyone
In the whole wide world
Happy like thinking about Going to Heaven when I die.
My Heartsong sounds like this:

I love you! I love you!
How happy you can be!
How happy you can make
The whole world be!

And sometimes it's other
Tunes and words, too,
But it always sings the
Same special feeling to me.
It makes me think of
Jamie, and Katie and Stevie,
And other wonderful things.
This is my special song.
But do you know what?
All people have a special song
Inside their hearts!
Everyone in the show wide world
Has a special Heartsong.
If you believe in magical, musical hearts,
And if you believe you can be happy,
Then you, too, will hear your song.


PRAYER FOR A JOURNEY

Thank You, God,
Not just for life,
But for our journey through life.
Life is a miracle,
And a journey through life
Is so full of so many more miracles
If we travel with our Heartsongs.
Thank You, God,
For blessing me with the
Gift of Heartsongs,
So that I can enjoy my miracles.

Tidakkah kau terdiam sejenak?

Puisi dapat ditengok di sini

the prayer

Tuhan..
Aku tau (setau-taunya) dan sadar (sesadar-sadarnya) bahwa semua yang terjadi dalam hidupku - besar maupun kecil - sudah tertulis dalam buku catatanmu. Benar kan Tuhan, buku catatan - diary, jurnal, agenda, apalahnamanya - itu memang ada?

Berbekal pengetahuan serta kesadaran itu sudah sepatutnya aku tak perlu kuatir. Karena memaksakan kehendakku kepada-Mu pun sama saja dengan usaha menjaring angin. Sia-sia.

Sekarang yang kuminta, ya Tuhan, hanyalah kekuatan & kebesaran hati untuk menerima semua yang sudah Kau rencanakan. Dan ku yakin bahwa semua yang kualami kemaren, saat ini, dan masa mendatang pasti akan membuatku menjadi pribadi yang lebih baik selama aku tak meragukanMU.

Kuatkan punggungku ya Tuhan, karena beban yang mesti ku bawa kali ini agaknya lebih berat daripada sebelumnya.


Sudahkah kita melakukan hal yang sesuai dengan LENTERA JIWA kita?

Aku?
Belum.

Tapi kuyakin suatu hari nanti.
Pasti.


Tiada kata terlambat untuk mengikuti LENTERA JIWA-mu

Bulan depan.
Tahun depan.
Sewindu lagi.
Atau beberapa dasawarsa kemudian.
Entah.


Bagaimana dengan kamu?
Sudahkah menemukan LENTERA JIWA-mu?

Your time is limited...

So don't waste it by living someone else's life.


Jangan mati lenteraku.
Ku mohon..





pengumuman

I'm getting married.
Next week.

(Mungkin) sedikit mengejutkan. Karena sebelumnya aku memang tak pernah menyinggung-nyinggung tentang rencana pernikahanku di blog ini. Kenapa? Karena memang tak ingin. Tapi rasanya tak adil jika tak membagi perubahan status dari lajang menjadi menikah yang akan ku alami tepat minggu depan.


Minggu depan, aku dan seseorang itu (yang sering kubahasakan sebagai 'dia') akan berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu setia, saling mencintai, dan menghormati di tiap-tiap hari dalam hidup kami. (Beberapa hari yang lalu sempat diprotes olehnya: Kenapa gak 'sampai maut memisahkan'? Kemudian ku balas dengan: Di hari bahagia itu aku gak mau mengungkit-ungkit tentang 'maut'.)

Minggu depan, aku dan seseorang itu harus mulai berkompromi dengan segala perbedaan yang kami miliki (yang dapat dengan mudah terlihat ketika kami berbelanja sabun mandi, shampoo, pasta gigi, danseterusnyadanseterusnya) demi sebuah visi yang sama. Membentuk keluarga yang bahagia.

Minggu depan, aku dan seseorang itu akan menggantikan 'aku' dan 'kamu' dengan 'kami' dan 'kita'.

Lompat ke topik berikutnya..

Siapakah seseorang yang malang ups.. beruntung ini? (Yang harus menyediakan telinga selama kira-kira setengah hari di sepanjang hidupnya untuk mendengarkan celotehanku. Hahaha!)

Kami sekolah di SMA yang sama. Bukan teman karena rasanya kata 'teman' terlalu intim untuk menggambarkan relasi yang kami miliki dulu. Karena semasa SMA, relasi kami hanya sebatas 'Hai' atau senyum basa-basi bila berpapasan. Tak lebih. Tak kurang.

Kami kuliah di kota yang sama. Tapi tak pernah bertemu, berpapasan, atau saling melihat kelebat. Padahal, aku pernah main ke kampusnya dan dia pernah jalan-jalan ke kampusku. Membuatku menyadari bahwa terkadang dunia juga tak sekecil yang kita kira.

Kami bekerja di institusi yang sama. Nah, inilah yang kemudian mempertemukan kami. Karena sering bertemu? Tidak. Trus? Because everything has been written down. Jadi, silakan tanya Sang Empunya Jagat Raya. Beliau yang lebih tau kenapa kami bisa membentuk relasi yang lebih dari sekedar teman. 'Tuhan tahu, tapi menunggu', begitu yang sering kukatakan padanya bila dia mulai bertanya-tanya. (Mengutip dari Laskar Pelangi ^_^).

Seorang kekasih yang pada awal hubungan kukatakan padanya: 'Sekarang -dan untuk beberapa lama ke depan, jangan dulu tanya apa aku sayang kamu, apa aku cinta kamu. Karena kamu pasti tau jawabannya - Gak. Untuk sekarang ini sayang dan cintaku masih punya dia.'. Dia pun mengangguk.

Seorang kekasih yang beberapa bulan setelah memulai relasi ku pinjam bahunya dan menangis sejadi-jadinya ketika ku ketahui mantan pacar akan menikah. (Sempat kecewa karena aku masih menangisi lelaki itu, tapi kemudian tetap dengan senang hati memasak mie goreng instan untukku).

Seorang kekasih yang kemudian menyarankanku (serta memperbolehkanku) untuk menelpon mantan pacar. Untuk menyelesaikan semua yang masih mengganjal, begitu katanya. Dan memintaku untuk tidak menangisi orang bodoh itu lagi. Bodoh karena tidak punya keberanian untuk memperjuangkanku, tambahnya.

Seorang kekasih yang tidak romantis yang melamarku sembari menyetir mobil dengan kata-kata: 'Kalo gak menikah denganmu, hidupku gak akan sama lagi'. Menatapku sepersekian detik, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.

Seseorang yang mulai minggu depan kuharapkan akan tetap menjadi seorang kekasih merangkap teman baik. Di tiap-tiap hari sepanjang hidup kami.




Perempuan dengan tingkat sentimentil yang rendah ini nyaris menitikkan air mata ketika:

Membaca 'Malaikat Juga Tahu'
Mendengar 'Malaikat Juga Tahu'

Melihat 'Malaikat Juga Tahu'


Membuka mata bahwa setiap manusia memiliki (setidaknya) seorang 'malaikat' yang punya wujud. Begitu riil. Namun entah kenapa tingkat transparansinya sangat tinggi sehingga tak kasat mata.

* masih terkena demam Rectoverso

Newer Posts Older Posts Home