luar biasa seperti sekarang ini.
Yang hampir saja membuatku sanggup
untuk menyerahkan tangan kananku
untuk mendapatkan kembali hari-hariku yang dulu.
Namun ketika aku menatap binar mata itu,
melihat senyum dengan gusi tak bergigi itu,
aku sanggup melupakan segalanya.
Labels: being a mom, my thoughts
...
'Kalian pasti gak tau kan?'
...
'Aku lagi ngurus perceraianku.'
'Kenapa?', tanyaku.
Lalu dia menjelaskan dengan singkat dan jelas bahwa yang menjadi alasan utama adalah perbedaan prinsip dan pola pikir. Bagiku yang menjadikan infotainment sebagai tontonan yang menyenangkan (silakan ditertawakan ;-P), entah kenapa alasan tersebut tidak terdengar klise. Aku malah bisa memahami. Dan rasanya aku juga tak berhak untuk bertanya lebih detail lagi tentang sejauh mana perbedaan prinsip dan pola pikir itu.
Aku bukan orang yang menyenangi perceraian. Apalagi Nabi Besar yang kuikuti ajaran-Nya pun mengatakan bahwa perceraian hanya diperbolehkan apabila terjadi perzinahan. Tapi bukannya aku tak bisa menerimanya bila alasan yang diberikan masuk akal. Terutama ketika sang teman mengatakan bahwa sang suami beberapa kali melakukan kekerasan fisik yang dapat kupastikan disertai dengan kekerasan psikis pula.
Aku sama sekali tak menyarankannya untuk tidak bercerai. Bahkan ketika teman-teman yang lain sangat menyayangkan bila hal itu terjadi.
Lalu akhirnya aku pun bersuara.
Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk tidak bercerai. Alasan untuk bersama harusnya adalah karena suami tak bisa hidup tanpa istri dan begitu pula sebaliknya. Bukankah (sebagian besar) orang menikah bukan karena anak, tapi karena keinginan kedua belah pihak? Dan harusnya alasan yang sama yang tetap menyatukan mereka.
Dan mungkin yang membuat teman-temanku cukup tercengang ketika aku mengeluarkan pernyataan ini:
Bukan pemikiran yang lazim memang.
Tapi bagaimana aku bisa jadi ibu yang baik kalau aku tidak bisa jadi istri yang baik? Bagiku suami tetap menduduki peringkat pertama. Karena dengannyalah aku berkomitmen untuk membentuk sebuah rumah tangga yang kami jalani sekarang. Bila aku menghargai dan menghormati suamiku, maka anak-anakku dapat melihat bagaimana sebuah relasi yang baik dan melakukan hal yang serupa pula ketika mereka berelasi dengan orang lain.
Dilihat dari kening-kening yang bertaut sepertinya teman-temanku tak seberapa setuju. Tapi ah, aku kan tak bisa mengontrol pikiran mereka :-)
Labels: friendship, life, marriage, my thoughts
Sering kali, sulit untuk bisa menerima jawaban "tidak".
Terlebih bila itu datangnya dari Tuhan.
Labels: my thoughts
Pagi.
Meja makan.
Si Papah. Si Mamah. Aku.
"Mah, jam berapa kita ke TPS?", kataku di sela-sela mengunyah sarapan.
"Tau lah..", jawab si Mamah.
"Agak siangan ja Mah. Palingan ngantri juga."
"Milih siapa yuk lah?", aku bertanya.
Si Papah mulai menyimak pembicaraanku dan Mamah.
"Ih, itah milih 'si Mina (Tante -red)' ih..", Papah pun angkat bicara. (Kita milih 'si Mina' aja...)
"Emangnya 'si Mina' tu DPRD Provinsi atau Kota Pah?", tanyaku.
"Amun dia sala, Provinsi angat ah". (Kalo gak salah sih rasanya Provinsi)
"Tapi kan 'si Om' juga caleg Provinsi Pah."
"Kutuh ih gin. Ikau dengan indum mamilih 'si Om', kareh aku mamilih 'si Mina' te. Mangat adil." (Gini aja. Kamu sama Mamah milih 'si Om', nanti Papah milih si Mina. Supaya adil.)
"Amun nang Kota-nya pang siapa yang kita pilih?", si Mamah berujar. (Trus, yang Provinsi siapa yang kita pilih?)
"Milih 'si Itu' ja Mah."
"Ela. 'Si Jituh' ih. Pasie, jatun gawie.", Papah mengusulkan (Jangan. 'Si Ini' aja. Kasian, gak punya pekerjaan).
"Limbah te, je DPD ah itah milih 'Bapak jite' ih. Bahalap ie te." (Trus, untuk DPD kita pilih 'Bapak Itu' aja. Bagus.)
"Nah, kalo yang DPR RI kita pilih 'Mas Itu' ja.", aku mengusulkan pilihanku.
"Iyuh", jawab Papah. (Iya)
'Rapat' selesai.
PS:
Seperti inilah demokrasi di mata kami, keluarga kecil yang juga orang-orang kecil. Tanpa keributan kami tetap bisa mencapai mufakat. Itu pun kami lakukan dengan 3 bahasa yang berbeda.
Labels: family, life, my thoughts
Text:
Devy km dmn dgn spa
From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009
Biasanya, bila ada sms tak jelas yang serupa tak pernah kubalas. Nomor tak terdaftar di phone book, tak menyebutkan nama, dan berlagak kenal baik pula. Buang-buang pulsa dan bikin pegel jempol aja.
Tapi tunggu dulu. Kok kayak pernah tau kalimat ini ya. Oh, kayak iklan rokok itu. Lalu rasa isengku pun tersentil dan ku balaslah sms itu.
Text:
Dirmh sendiri tidur.
From:
05363353xxx
Sent:
30-Jan-2009
Tak berapa lama kemudian, sms alert berbunyi.
Text:
Corry n'cpa???Aq kn g zmz qm cman zmz tmnq
From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009
Kita sedang di planet mana ya? Bahasanya kok aneh? Capeee deeeh... :-D
Labels: life, my thoughts
Seketika itu pula raut wajahnya mendadak cerah. Dan dengan bersemangatnya dia 'memprospek'ku untuk bergabung dengan bisnis barunya. Cara kerjanya sederhana: beli beberapa 'titik' (ya, dia bilang titik, entah apa yang dimaksudnya dengan 'titik' itu), kemudian rekrutlah anggota sejumlah 'titik' yang kita beli tadi. Semakin banyak 'bawahan' yang direkrut semakin banyak pula penghasilan yang diterima.
"Trus, kita ngapain setelah itu? Jualan?", tanyaku.
"Gak ada. Cuma nyari orang aja lagi buat direkrut."
Wah, kata-kata itu terdengar indah di telingaku. Modal air liur aja (karena mesti bercuap-cuap merekrut anggota) udah bisa memperoleh penghasilan berkali lipat gajiku sebagai guru. Belum lagi ada tambahan bonus pulsa setiap minggunya. Diriku semakin mengeluarkan air liur lagi (karena ngiler dengan keuntungan yang bakal diperoleh dari bisnis ini). Bisa menghemat uang pulsa untuk menelpon suami nun jauh di sana, pikirku.
Namun, tak berapa lama kemudian akal sehat yang tadinya sedang leyeh-leyeh menemukan kesadarannya kembali. It's too good to be true. Prinsip ekonomi yang diterapkan habis-habisan: dengan usaha mini dapat hasil maksi.
Lalu pertanyaan berikut muncul dalam benakku. Gimana dengan mereka yang rendah secara hirarki dalam pohon bisnis ini? Tak mendapatkan apa-apa padahal keberadaan mereka lah yang memperkaya para 'atasan'nya.
Dengan pertimbangan belas kasihan pada mereka yang tak akan mendapatkan apa-apa itulah aku memutuskan untuk tidak memiliki niat untuk bergabung pada MLM tak jelas itu. Sapa tau malah aku yang nantinya punya kasta paling rendah dalam strata sosial MLM tersebut. Benar tidak?
Labels: life, my thoughts
Walau hidup susah
Walau ‘tuk senyumpun susah
Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan
Ku bahagia - Sherina
Mudah-mudahan masih bisa mengingat posting kali ini bila saat-saat 'susah' itu akhirnya datang.
(And it already happened when I was 'playing' with my blog's layout, hhhh...)
Labels: my thoughts, songs
whenever you're sad.
Carry you around when your arthritis is bad.
Oh, all I wanna do, is grow old with you.
I'll get you medicine when your tummy aches,
build you a fire if the furnace breaks.
Oh, it could be so nice, growin' old with you.
I'll miss you, kiss you,
give you my coat when you are cold.
Need you, feed you,
I'll even let you hold the remote control.
So let me do the dishes in our kitchen sink,
put you to bed when you've had too much to drink.
Oh I could be the man who grows old with you.
I wanna grow old with you..
I Wanna Grow Old With You - Adam Sandler
PS. Berharap ini bisa dijadikan theme song for my marriage life
Labels: marriage, my thoughts, songs
Anak yang menakjubkan. Begitu yang bisa kukatakan untuk mendeskripsikan seorang Mattie Stepanek. Dalam setiap gambarnya yang kurekam dalam ingatanku, tak pernah sekalipun senyum absen dari wajah mungilnya (yang imut).
Mattie menderita kelainan otot yang sifatnya genetik. Ibunya mengalami hal yang sama. Bahkan seorang adiknya meninggal dikarenakan penyakit tersebut. Tapi herannya, Mattie yang sehari-harinya sangat bergantung dengan kursi roda seolah-olah punya daya jangkau yang luas.
Puisi serta buku yang dibuatnya mencelikkan mata. Membuka mata bahwa semua yang kita alami patut disyukuri. Seorang anak yang begitu menghargai hidup dan berterima kasih atas semua yang dimilikinya. Termasuk kematian yang berjalan mendekat ke arahnya. Karena hanya dengan begitu kita dapat melihat keindahan pelangi setelah badai yang menerpa.
Seorang anak, yang bahkan dengan mengingatnya saja, membuatku merinding dan terharu.
Dan ketika Tuhan memanggilnya kembali, sebuah upacara pemakaman - yang (lagi-lagi) membuatku nyaris menangis - dipersembahkan untuk mengenang seorang anak berhati mulia ini. Mattie dimakamkan layaknya seorang Pemadam Kebakaran - yang menjadi pahlawan dalam versinya. Bukti bahwa Mattie adalah seorang pahlawan - dengan caranya sendiri.


Beberapa puisi karyanya
I have a song, deep in my heart,
And only I can hear it.
If I close my eyes and sit very still
It is so easy to listen to my song.
When my eyes are open and
I am so busy and moving and busy,
If I take time and listen very hard,
I can still hear my Heartsong.
It makes me feel happy.
Happier than ever.
Happier than everywhere
And everything and everyone
In the whole wide world
Happy like thinking about Going to Heaven when I die.
My Heartsong sounds like this:
I love you! I love you!
How happy you can be!
How happy you can make
The whole world be!
And sometimes it's other
Tunes and words, too,
But it always sings the
Same special feeling to me.
It makes me think of
Jamie, and Katie and Stevie,
And other wonderful things.
This is my special song.
But do you know what?
All people have a special song
Inside their hearts!
Everyone in the show wide world
Has a special Heartsong.
If you believe in magical, musical hearts,
And if you believe you can be happy,
Then you, too, will hear your song.
Thank You, God,
Not just for life,
But for our journey through life.
Life is a miracle,
And a journey through life
Is so full of so many more miracles
If we travel with our Heartsongs.
Thank You, God,
For blessing me with the
Gift of Heartsongs,
So that I can enjoy my miracles.
Tidakkah kau terdiam sejenak?
Puisi dapat ditengok di sini
Labels: life, my thoughts, poem
Tuhan..
Aku tau (setau-taunya) dan sadar (sesadar-sadarnya) bahwa semua yang terjadi dalam hidupku - besar maupun kecil - sudah tertulis dalam buku catatanmu. Benar kan Tuhan, buku catatan - diary, jurnal, agenda, apalahnamanya - itu memang ada?
Berbekal pengetahuan serta kesadaran itu sudah sepatutnya aku tak perlu kuatir. Karena memaksakan kehendakku kepada-Mu pun sama saja dengan usaha menjaring angin. Sia-sia.
Sekarang yang kuminta, ya Tuhan, hanyalah kekuatan & kebesaran hati untuk menerima semua yang sudah Kau rencanakan. Dan ku yakin bahwa semua yang kualami kemaren, saat ini, dan masa mendatang pasti akan membuatku menjadi pribadi yang lebih baik selama aku tak meragukanMU.
Kuatkan punggungku ya Tuhan, karena beban yang mesti ku bawa kali ini agaknya lebih berat daripada sebelumnya.
Labels: my thoughts
Belum.
Tapi kuyakin suatu hari nanti.
Pasti.
Tahun depan.
Sewindu lagi.
Atau beberapa dasawarsa kemudian.
Entah.
Bagaimana dengan kamu?
Sudahkah menemukan LENTERA JIWA-mu?
Your time is limited...
So don't waste it by living someone else's life.
Jangan mati lenteraku.
Ku mohon..
Labels: dreams, my thoughts

Minggu depan, aku dan seseorang itu harus mulai berkompromi dengan segala perbedaan yang kami miliki (yang dapat dengan mudah terlihat ketika kami berbelanja sabun mandi, shampoo, pasta gigi, danseterusnyadanseterusnya) demi sebuah visi yang sama. Membentuk keluarga yang bahagia.
Minggu depan, aku dan seseorang itu akan menggantikan 'aku' dan 'kamu' dengan 'kami' dan 'kita'.
Lompat ke topik berikutnya..
Siapakah seseorang yang malang ups.. beruntung ini? (Yang harus menyediakan telinga selama kira-kira setengah hari di sepanjang hidupnya untuk mendengarkan celotehanku. Hahaha!)
Kami sekolah di SMA yang sama. Bukan teman karena rasanya kata 'teman' terlalu intim untuk menggambarkan relasi yang kami miliki dulu. Karena semasa SMA, relasi kami hanya sebatas 'Hai' atau senyum basa-basi bila berpapasan. Tak lebih. Tak kurang.
Kami kuliah di kota yang sama. Tapi tak pernah bertemu, berpapasan, atau saling melihat kelebat. Padahal, aku pernah main ke kampusnya dan dia pernah jalan-jalan ke kampusku. Membuatku menyadari bahwa terkadang dunia juga tak sekecil yang kita kira.
Kami bekerja di institusi yang sama. Nah, inilah yang kemudian mempertemukan kami. Karena sering bertemu? Tidak. Trus? Because everything has been written down. Jadi, silakan tanya Sang Empunya Jagat Raya. Beliau yang lebih tau kenapa kami bisa membentuk relasi yang lebih dari sekedar teman. 'Tuhan tahu, tapi menunggu', begitu yang sering kukatakan padanya bila dia mulai bertanya-tanya. (Mengutip dari Laskar Pelangi ^_^).
Seorang kekasih yang pada awal hubungan kukatakan padanya: 'Sekarang -dan untuk beberapa lama ke depan, jangan dulu tanya apa aku sayang kamu, apa aku cinta kamu. Karena kamu pasti tau jawabannya - Gak. Untuk sekarang ini sayang dan cintaku masih punya dia.'. Dia pun mengangguk.
Seorang kekasih yang beberapa bulan setelah memulai relasi ku pinjam bahunya dan menangis sejadi-jadinya ketika ku ketahui mantan pacar akan menikah. (Sempat kecewa karena aku masih menangisi lelaki itu, tapi kemudian tetap dengan senang hati memasak mie goreng instan untukku).
Seorang kekasih yang kemudian menyarankanku (serta memperbolehkanku) untuk menelpon mantan pacar. Untuk menyelesaikan semua yang masih mengganjal, begitu katanya. Dan memintaku untuk tidak menangisi orang bodoh itu lagi. Bodoh karena tidak punya keberanian untuk memperjuangkanku, tambahnya.
Seorang kekasih yang tidak romantis yang melamarku sembari menyetir mobil dengan kata-kata: 'Kalo gak menikah denganmu, hidupku gak akan sama lagi'. Menatapku sepersekian detik, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.
Seseorang yang mulai minggu depan kuharapkan akan tetap menjadi seorang kekasih merangkap teman baik. Di tiap-tiap hari sepanjang hidup kami.
Labels: life, love, marriage, my thoughts

Perempuan dengan tingkat sentimentil yang rendah ini nyaris menitikkan air mata ketika:
Mendengar 'Malaikat Juga Tahu'
Melihat 'Malaikat Juga Tahu'
Membuka mata bahwa setiap manusia memiliki (setidaknya) seorang 'malaikat' yang punya wujud. Begitu riil. Namun entah kenapa tingkat transparansinya sangat tinggi sehingga tak kasat mata.
* masih terkena demam Rectoverso
Labels: book, my thoughts, songs
Aku meluangkan waktu (seluang-luangnya) ketika membaca Rectoverso. Menyelesaikan semua kegiatan, men-silent hp, kemudian berbaring dengan santai. Menenggelamkan diri dalam kesunyian. Hening.
Lembar demi lembar itu memaksaku untuk terus membaca. Seperti tak rela membiarkanku berpaling dari pesona keindahan aksara yang tertera di atasnya.
Cerita yang disuguhkan sepertinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan ketika aku membacanya, yang terlintas di pikiranku adalah 'ini kok mirip ceritaku ya..', 'ih, kayak ceritanya si anu', 'cerita ini si anu banget deh', danseterusnyadanseterusnya.
Contohnya 'Hanya Isyarat' yang sangat kuingat sebagai 'Cinta Punggung Ayam'. Bercerita tentang cinta yang tak berani diungkapkan. Padahal orang itu begitu dekat, begitu nyata (mmm.. kok terdengar seperti jargon operator telepon selular ya.. tak ada maksud menjiplak.. sungguhsuersumpah).
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, atau hujan.
Kemudian ada 'Malaikat Juga Tahu' yang bercerita tentang cinta-setengah-mati seorang pria. Sayangnya si wanita menganggapnya hanya sebagai rekanan yang sangat setia. Selalu siap pakai kapan pun dibutuhkan. Walaupun cerita yang persis sama seperti ini akan jarang sekali kita temui pada kehidupan sehari-hari, tapi secara garis besar cerita seperti ini banyak beredar di jagat nyata. Memilukan. Mencelikkan mata. Membuatku nyaris menangis.
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
I'm thankful for this moment...
...
If everything has been written down, so why worry we say
It's you and me with a little left of sanity
...
*semua kutipan diambil dari sini
Labels: book, friendship, life, love, my thoughts, songs

Pernahkah kamu merasa jengkel setengah mati mmm.. (diganti aja dengan) bukan kepalang terhadap seseorang sehingga merasa dirimu sanggup untuk menelan orang itu hidup-hidup?
Sekarang aku bahkan sanggup menelan DUA orang sekaligus! Dua manusia itu! Makhluk yang punya mata, telinga, mulut, hidung, kaki, tangan, usus, paru-paru, tapi sayang hatinya ketinggalan entah di mana.
Ditelan. Bulat-bulat. Hidup-hidup.
Supaya mereka tau rasanya tinggal dalam perut manusia.
Labels: my thoughts
Sama dengan permintaanku di buku pertama, kalo ada yg nemuin buku ini (dan mungkin jg membacanya), tolong dikembaliin ke alamatku yang ditulis di lbr sblmnya.
Jadi, kalo dikembalikan, tlg dibungkus rapat2 trus dimasukin dlm amplop. Buat sedemikian hingga, spy gak ada yg bisa ngintip & menebak apa isinya. Soalnya aku gak mau ada org lain yg baca buku ini (selain kamu!!!).
Trus kalo ke alamatku, jgn cari aku. Cari aja temen kost (Desi, Sisca, Lona, Welly, Leni). Ingat, jangan cari aku!!! Soalnya aku gak mau kamu ingat mukaku & aku jg ingat mukamu. Sdh cukup rasanya aku tau ada org lain yg baca buku ini, jd tlg jgn ditambah dg tau siapa yg baca.
Kalo misalnya kamu kenal aku, tlg jgn diungkit2 lagi soal apa yg ada di buku ini. Dan tlg kalo di hadapanku, kamu berpura2 gak pernah baca buku ini (akting.. akting..). Kalo gak, aku akan mendiamkanmu u/ waktu yg sangaaaat lamaaa..!!!
Misalnya merasa berat u/ ngembaliin buku ini, tlg dimusnahkan aja. Kalo kamu berniat menyimpan buku ini dengan maksud u/ memerasku suatu saat, HAHAHAHA... kamu salah besar!!! Aku serius loh...
Hahaha! Lucu banget ya... Aku jadi agak geli-gimana-gitu waktu baca ini. Kekonyolan di masa lalu. Hahaha!
Tulisan itu ku buat di buku jurnal ku (Kenapa bukan 'diary'? Karena rasanya terdengar terlalu abegeh. Ups.. sori ya para abegeh..). Ditulis pada masa-masa kuliah. Dulu sih pernah punya yang beginian pas SMA (nah, yang satu ini pantas disebut 'diary' :P). Tapi cuma bertahan setahun. Setelah itu malas nulis lagi. Masalah klasik: gak telaten.
Pas agak akhir kuliah aku tergerak untuk punya lagi catatan harian. Alasan utamanya sih karena (mantan) pacarku sudah balik ke kampung halamannya, dan seketika itu juga aku kehilangan teman bercerita paling terpercaya. (Hehehe.. begitulah nasib pacar (pacar) ku. Harus tahan mendengar ceritaku yang tak ada habisnya :D).
Selama kuliah aku punya 2 buku jurnal. Tapi karena pindahan alias balik kampung, sebagian buku-bukuku mendekam di kardus-kardus (yang malas untuk ku utak-atik, karena belum menemukan media penyimpanan yang memadai). Dan buku jurnal yang pertama (rasanya) salah satu dari buku-buku terpendam itu. (Atau.. jangan2 sudah berpindah tangan. Alamak!!).
Isi buku ini cukup ringan (karena aku bukan tipe pemikir yang pandai berfilosofis *apaan sih..*). Kalo lagi sendirian di kamar kost aku paling seneng dengerin radio dan secara otomatis tanganku akan meraih pulpen dan menorehkan sesuatu di buku itu (mmm.. biasanya ditemani secangkir kopi pula). Entah itu memuji atau mencerca lagu yang sedang diputer, menulis lirik lagu yang sedang kugandrungi, perasaanku terhadap (mantan) pacar yang jauh di seberang pulau, kelakukan temen kost yang ngeselin, pengalaman travelling ke beberapa tempat, karcis bioskop yang ditonton bersama (mantan) pacar atau teman-teman (hanya sebagian kecil, karena ada beberapa karcis yang hilang), atau sekedar menuliskan daftar pengeluaranku hari itu. 
Kalo lagi malas mendengarkan dosen memberikan kuliah, aku bakal mengeluarkan buku itu dan menuliskan beberapa baris di dalamnya. Atau ketika lagi nunggu teman di kantin, menulis di jurnal tercinta itu cukup membantu mengatasi kejenuhan.
Frekuensi menulisku beragam. Dalam satu hari aku bisa melakukan entry tulisan sampe 4 kali. Tapi kalo mood menulis mendadak hilang mungkin 4 hari kemudian aku baru menuliskan sesuatu. Bila itu terjadi, aku bakal menggambari lembar-lembar dalam buku itu. Yah.. kuakui kemampuan menggambarku sangat minim, tapi lumayan membuat lembar-lembar itu berwarna :D Pada masa itu, jika membuka tasku maka akan terlihat penghuni tetapnya: buku jurnalku dan seikat pensil warna. (Kuikat pake karet gelang karena kotaknya sudah jelek dan tak berbentuk. Hahaha!)
Setelah ku baca ulang beberapa hari yang lalu, aku menyadari betapa banyak perubahan yang telah ku alami. Dari tulisanku aku bisa membandingkan pemahamanku saat itu dan sekarang, dan ternyata cukup berbeda. Dan terkadang bisa membuatku menertawakan diriku sendiri. Kok bisa ya aku dulu bisa begitu? Hahaha!
Dari buku ini baru tau juga kalo aku ternyata pernah liat-liat situs Blogger pada tahun 2004! (Dan baru sekarang punya blog. Go-blog! Go-blog!)
Labels: life, my thoughts
Ternyata berdiri di tengah tidaklah gampang.
Berusaha menahan gerakan dari sisi kiri agar tak menyakiti sisi kanan. Memfilter aksi-aksi yang dilakukan sisi kanan agar sisi kiri tak semakin marah.
Yang berdiri di tengah pun lebam-lebam. Hhh...
Dan saat tak ada lagi perbedaan antara sisi kiri dan sisi kanan, semua akan meninggalkan lapangan dengan hati bahagia. Yang tersisa adalah: si tengah, dengan probabilitas yang besar untuk disambar petir. Ha!
Tuhan, aku boleh curhat gak?
Labels: my thoughts
Labels: book, my thoughts
SMS
sender: +628563065xxx
date: 26.09.2008
text:
Haiiiii..
Sebuah pesan singkat mampir ke inbox HP ku beberapa waktu yang lalu. Waktu saat itu kira-kira menunjukkan pukul 2 dinihari. Waktu yang tidak biasa untuk menghubungi seseorang kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.
Pesan ini datangnya dari seorang sahabat, Pastini. Mantan teman kost semasa kuliah dulu. Dan sejak 3 bulan sebelum dirinya melahirkan anak pertamanya, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Singaraja - Bali.
Sebuah 'buzz' yang singkat dan jelas. Singkat karena, kalau mau meluangkan sedikit waktu, hanya berisi 9 karakter. Dan jelas, karena untuk ukuran seorang Pastini yang paling anti menggunakan kalimat yang berbunga-bunga atau berbusa-busa atau berbuih-buih atau apalah namanya. Pesan ini dengan JELAS menyampaikan bahwa dia sedang kangen.
Kalau boleh, aku ingin bercerita sedikit *emmm.. mungkin kepanjangan kalo aku agak lupa diri* tentang Pastini, temanku ini.
Pastini adalah asli orang Bali. Lahir dengan embel-embel Ida Ayu di bagian depan namanya, yang kita ketahui bersama bahwa hal itu menandakan bahwa dirinya berada pada urutan tertinggi kasta yang berlaku di Bali. Dan bukan cuma itu, keluarganya pun tergolong keluarga yang terpandang di Singaraja.
Dari semua anak kost, Pastini lah yang kondisi keuangannya selalu 'aman'. Tidak seperti kami yang selalu cekak kalo sudah sampai akhir bulan. Hahaha.. Dan cuma dia seorang yang di antara kami se-kost yang mampu membeli 2 kemeja Lee Cooper sekaligus. Yaa... untuk ukuran anak kost seperti kami, bisa membeli 1 kemeja Lee Cooper aja kayaknya berkah yang patut disyukuri *apa sih...*
Namun, sebuah langkah yang sangat besar diambilnya ketika dia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan langkah yang terlampau besar menurutku. Karena hanya dengan sekali langkah itu saja, Pastini harus meninggalkan status sosial serta keamanan finansialnya. Ya, dia memutuskan untuk menikah dengan kekasih semasa SMA-nya yang berkasta rendah.
Orang tuanya sudah pasti tidak merestui. Mereka pun berusaha untuk menjodohkan Pastini dengan pria yang berstatus sosial yang sama. Dan puncaknya adalah ketika Pastini yang kala itu bekerja di Surabaya, akan 'ditarik' orang tuanya kembali ke Bali. Pastini dan (kala itu masih) suaminya memutuskan untuk menikah secara adat.
Singkat cerita, orang tua Pastini sekarang sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Dan puji Tuhan, mereka sudah bisa merestui. Walaupun sampai saat ini Pastini masih belum diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya (dikarenakan adat yang berlaku), tapi mereka masih bisa bertemu di tempat lain.
Nah, dari cerita singkat (yang agak kepanjangan) tentang Pastini itu, aku bisa merasakan 'kesepian' yang dialaminya. Jauh dari orang tuanya, ade2nya, serta teman terdekatnya.
Kuakui, sudah beberapa lama aku tidak menghubunginya. Terakhir kali aku menelponnya adalah ketika dia melahirkan anaknya (it's a boy :D), which is 2 months ago. Cukup lama bukan? Dan pesannya yang (amat) singkat ini seolah mem-'buzz' diriku.
Kemudian aku membalas pesannya, setelah aku benar2 tersadar dari tidur tentunya :) Tidak banyak yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami hanya mengirimkan 2 buah pesan singkat. Karena memang Pastini bukan orang yang suka bicara panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membahagiakanku dan (kuharap) dirinya juga :)
Salad Buah In Action
Dan ternyata pesan (amat) singkat itu menyadarkanku kalo ada beberapa kerabat dan teman-teman yang sudah sekian lama tidak pernah kukunjungi. Bahkan ada yang sudah setahun tidak pernah bertemu muka. Mudah2an postingan ini tidak membuat yang membacanya kapok berteman denganku. Hehehe..
Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan teman dekat yang sudah kuanggap saudara. Tapi rasanya ada yang kurang kalo aku gak membawa buah tangan dalam kunjunganku itu. Ya.. sekaligus sebagai permintaan maaf terselubung karena sudah lama (sekali) tidak mengunjungi mereka :)
Ku putuskan untuk bikin salad buah. Ada 2 alasan. Pertama, karena bahan-bahan dressing salad masih banyak di kulkas. Kedua, karena biasanya salad buahku cukup berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyenangkan hati orang yang memakannya *tsah*. Tinggal beli buah-buahan segar dan kalengan untuk melengkapinya.
Pada hari pertama liburan Lebaran, aku pun beraksi *apa sih...*
Dan terjadilah insiden memilukan itu *hiperbola mode on*. Jempolku luka kena pinggiran kaleng susu kental manis. Biasanya sih aku minta tolong Papah untuk membuka kaleng susu kental manis, tapi pada waktu itu si pria serba bisa itu lagi gak ada di rumah. Dan voila... tanganku luka karena keahlian membuka kaleng yang sangat minim.
Terpaksa mesti membangunkan Mamah yang lagi tidur siang untuk bantuin membebat tanganku pake kain karena darahnya gak mau berhenti. Mamah pun bangun dengan kaget: kaget karena bangun siang secara mendadak (sori, gak bisa menemukan kata yang lebih tepat) dan kaget karena lihat tanganku yang berdarah.
Kegiatan pun terhenti beberapa saat.
Untungnya Mamah merelakan jam tidur siangnya untuk membantuku. Kasian liat kerjaanku banyak yang belum kelar. Kuning telur belum dipisahin dari putihnya, buah-buahan sama agar-agar belum dipotong, dressing salah belum dibuat, ditambah lagi loyang-loyang berserakan minta dicucui. Thanks a bunch Mom :)
Dan voila... salad buah pun siap :D

Destination #1
Tujuan berkunjungku yang pertama adalah: rumah tambi (nenek dalam bahasa Dayak -red). Bukan nenek kandungku, tapi suaminya adalah ade kandung dari kakekku *mbulet ya.. :D*. Dan kunjungan itu ku pas2kan supaya aku tiba di rumahnya menjelang berbuka puasa. Oya, FYI, my Grand Dad (from my mother's side) was a Moslem.
Next...
Sudah lama sekali aku gak berkunjung kesana. Emmm.. rasanya terakhir kali aku kesana pas Lebaran tahun lalu. Bahkan pada saat anaknya rawat inap di rumah sakit pun aku gak sempat menjenguk. Hhhh.. benar-benar cucu yang durhaka. Padahal dulu, aku termasuk orang yang paling sering berkunjung ke rumah tambiku yang satu ini. Apalagi kalo bulan puasa. Aku cukup sering mengantarkan makanan *biasanya beli, gak bikin :P* untuk berbuka puasa.
Pas tiba di rumahnya, para penghuni rumah itu cukup kaget melihat kedatanganku. Mungkin karena saking lamanya aku gak pernah mampir. Orang-orang rumah pada melongo melihatku di depan pintu dengan sapaan khas-ku: "TAMBIIIIII...". Cukup keras untuk bisa didengar orang-orang satu rumah. Hehehehe...
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami pun mengobrol di teras depan rumah. Saling bertukar kabar terbaru, berbicara tentang kondisi terakhir om yang baru aja kembali setelah rawat inap, dan masih banyak lagi.
Rasanya sangat menyenangkan.
Ketika hampir maghrib, aku pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.
Destination #2
Kunjungan berikutnya adalah rumah seorang teman baik yang sudah kuanggap seperti saudara, Febi. Sebenarnya tujuanku berkunjung adalah untuk menengok ibunya Febi, karena biasanya jam segitu si Febi belum pulang ngantor.
Sejak ayahnya Febi meninggal, aku beberapa kali meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya. Baik itu mengantarkan makanan atau sekadar menemaninya mengobrol. Tapi hampir setahun belakangan ini, aku absen dari kegiatan itu.
Ketika aku tiba di rumahnya, ternyata Febi yang membukakan pintu. Loh kok sudah pulang kerja? Tumben. Setelah diusut, ternyata jam kerjanya lebih pendek karena saat itu adalah bulan puasa. Ooooo...
Si Tante pun sama terkejutnya dengan tambi yang kukunjungi sebelumnya. Mungkin ini reaksi standar yang diperoleh kalo sudah lama tidak berkunjung. Hhhhh...
Setelah pulih dari keterkejutannya *apaan sih..*, si Tante pun mengajakku untuk makan malam bersama karena kebetulan mereka lagi makan malam. Aku yang merasa sungkan untuk menolak (ditambah lagi kondisi perut yang lumayan lapar, hahaha..) akhirnya menerima ajakan itu. Dan kemudian gantian aku yang kaget. Karena di meja makan sudah ada pacarnya Febi juga. Ups..
FYI, pacarnya Febi yang sebelumnya sangat tidak menyukaiku. Gak tau kenapa. Mungkin dipikirannya aku adalah wanita yang memiliki potensi sangat besar untuk merebut Febi dari sisinya (halah! still can't find the right words :P). Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu. Impas.
Tapi aku memutuskan untuk menyukai pacar Febi yang satu ini. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah tatapan ramahnya terhadapku. Dan kami berempat (Febi, ibunya, pacarnya, dan temannya-aku) pun makan sambil bertukar kabar.
Menyenangkan (lagi).
Epilog
Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahagia sekali. Segala sesuatunya terasa lebih ringan. Betapa perhatian kecil yang kuberikan ke orang-orang terdekat dapat berbalik arah kembali dengan bentuk yang berbeda. Dan dampaknya terhadapku ternyata sangat besar.
Sepertinya aku harus merencanakan kunjungan berikutnya. Kali ini bikin apa ya?
Labels: family, foods, friendship, life, my thoughts
Lagi iseng.
Ganti template.
Mau pulang.
.
.
.
Lapar...
Labels: my thoughts







