
Minggu depan, aku dan seseorang itu harus mulai berkompromi dengan segala perbedaan yang kami miliki (yang dapat dengan mudah terlihat ketika kami berbelanja sabun mandi, shampoo, pasta gigi, danseterusnyadanseterusnya) demi sebuah visi yang sama. Membentuk keluarga yang bahagia.
Minggu depan, aku dan seseorang itu akan menggantikan 'aku' dan 'kamu' dengan 'kami' dan 'kita'.
Lompat ke topik berikutnya..
Siapakah seseorang yang malang ups.. beruntung ini? (Yang harus menyediakan telinga selama kira-kira setengah hari di sepanjang hidupnya untuk mendengarkan celotehanku. Hahaha!)
Kami sekolah di SMA yang sama. Bukan teman karena rasanya kata 'teman' terlalu intim untuk menggambarkan relasi yang kami miliki dulu. Karena semasa SMA, relasi kami hanya sebatas 'Hai' atau senyum basa-basi bila berpapasan. Tak lebih. Tak kurang.
Kami kuliah di kota yang sama. Tapi tak pernah bertemu, berpapasan, atau saling melihat kelebat. Padahal, aku pernah main ke kampusnya dan dia pernah jalan-jalan ke kampusku. Membuatku menyadari bahwa terkadang dunia juga tak sekecil yang kita kira.
Kami bekerja di institusi yang sama. Nah, inilah yang kemudian mempertemukan kami. Karena sering bertemu? Tidak. Trus? Because everything has been written down. Jadi, silakan tanya Sang Empunya Jagat Raya. Beliau yang lebih tau kenapa kami bisa membentuk relasi yang lebih dari sekedar teman. 'Tuhan tahu, tapi menunggu', begitu yang sering kukatakan padanya bila dia mulai bertanya-tanya. (Mengutip dari Laskar Pelangi ^_^).
Seorang kekasih yang pada awal hubungan kukatakan padanya: 'Sekarang -dan untuk beberapa lama ke depan, jangan dulu tanya apa aku sayang kamu, apa aku cinta kamu. Karena kamu pasti tau jawabannya - Gak. Untuk sekarang ini sayang dan cintaku masih punya dia.'. Dia pun mengangguk.
Seorang kekasih yang beberapa bulan setelah memulai relasi ku pinjam bahunya dan menangis sejadi-jadinya ketika ku ketahui mantan pacar akan menikah. (Sempat kecewa karena aku masih menangisi lelaki itu, tapi kemudian tetap dengan senang hati memasak mie goreng instan untukku).
Seorang kekasih yang kemudian menyarankanku (serta memperbolehkanku) untuk menelpon mantan pacar. Untuk menyelesaikan semua yang masih mengganjal, begitu katanya. Dan memintaku untuk tidak menangisi orang bodoh itu lagi. Bodoh karena tidak punya keberanian untuk memperjuangkanku, tambahnya.
Seorang kekasih yang tidak romantis yang melamarku sembari menyetir mobil dengan kata-kata: 'Kalo gak menikah denganmu, hidupku gak akan sama lagi'. Menatapku sepersekian detik, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke depan.
Seseorang yang mulai minggu depan kuharapkan akan tetap menjadi seorang kekasih merangkap teman baik. Di tiap-tiap hari sepanjang hidup kami.
Labels: life, love, marriage, my thoughts
Aku meluangkan waktu (seluang-luangnya) ketika membaca Rectoverso. Menyelesaikan semua kegiatan, men-silent hp, kemudian berbaring dengan santai. Menenggelamkan diri dalam kesunyian. Hening.
Lembar demi lembar itu memaksaku untuk terus membaca. Seperti tak rela membiarkanku berpaling dari pesona keindahan aksara yang tertera di atasnya.
Cerita yang disuguhkan sepertinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan ketika aku membacanya, yang terlintas di pikiranku adalah 'ini kok mirip ceritaku ya..', 'ih, kayak ceritanya si anu', 'cerita ini si anu banget deh', danseterusnyadanseterusnya.
Contohnya 'Hanya Isyarat' yang sangat kuingat sebagai 'Cinta Punggung Ayam'. Bercerita tentang cinta yang tak berani diungkapkan. Padahal orang itu begitu dekat, begitu nyata (mmm.. kok terdengar seperti jargon operator telepon selular ya.. tak ada maksud menjiplak.. sungguhsuersumpah).
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, atau hujan.
Kemudian ada 'Malaikat Juga Tahu' yang bercerita tentang cinta-setengah-mati seorang pria. Sayangnya si wanita menganggapnya hanya sebagai rekanan yang sangat setia. Selalu siap pakai kapan pun dibutuhkan. Walaupun cerita yang persis sama seperti ini akan jarang sekali kita temui pada kehidupan sehari-hari, tapi secara garis besar cerita seperti ini banyak beredar di jagat nyata. Memilukan. Mencelikkan mata. Membuatku nyaris menangis.
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
I'm thankful for this moment...
...
If everything has been written down, so why worry we say
It's you and me with a little left of sanity
...
*semua kutipan diambil dari sini
Labels: book, friendship, life, love, my thoughts, songs

Berikut adalah percakapanku dengan seorang teman yang baru aja diputusin pacarnya beberapa minggu yang lalu. Rupanya agak sulit baginya untuk memulihkan hati, dan sekarang teman yang lain sedang berusaha menjodohkannya dengan seorang wanita.
"Sekarang aku baru nyadar. Kalo ternyata 'makanan' yang enak bukan cuma ayam. Masih ada sapi, kambing, kepiting... Mataku baru aja terbuka.", katanya di ujung telepon.
Mendengar itu, aku lalu berkata, "Bener katamu. Tapi tetap harus hati-hati. Karena banyak makanan enak yang mengandung kolesterol yang tinggi."
Hmmm.. Terkadang orang bisa 'kalap' setelah menderita patah hati yang teramat sangat.
Labels: friendship, love

Inilah percakapan yang akan terjadi jika seseorang menelpon pada saat aku tidur siang dan memaksakan diri untuk tetap mengobrol denganku.
(percakapan sebelumnya tidak dapat terekam dengan baik oleh otakku)
Dia : "Kalo ke Bali tuh arahnya ke mana ya? Ke Mojokerto?"
Aku : "Emmm..."
Dia : *menunggu jawaban*
Aku : "Ke atas."
Dia : "Hah??"
Aku : "Ke atas."
Dia : *hening*
Aku : "Bali kan deket sama bulan."
Dia : "Hah??"
Aku : "Iya"
Dia : "...."
Aku : "...."
Dia : "Iya. Aku ke atas."
Aku : "Kalo ke atas, aku titip salam ya.."
Dia : "Buat siapa?"
Aku : "Buat bintang. Kan deket sama bulan."
Dia : "Gak mau. Badanku sudah berat. Ditambah titipanmu nanti tambah berat. Nanti gak bisa nyampe ke atas."
Aku : "Ya udah. Aku tulis surat aja."
Dia : "Mana bisa suratmu sampai ke bintang."
Aku : "Kita liat aja yang mana yang duluan sampe. Kamu atau suratku."
Dia : "...."
Aku : *kembali tidur*
NB:
Semua ini disebabkan tingkat kecerdasanku pada saat itu ada pada level terendah.
Tolong pahami itu.
Terima kasih.

Ini salah satu film yang kutunggu dan akhirnya sudah ku tonton. Setelah negosiasi dengan adeku yang ada di Bandung, akhirnya dia mau mencarikan dvd film ini. Negosiasi itu berupa: uang jalan, ongkos kirim, uang jajan, serta sedikit ancaman penghentian pasokan pulsa gsm-nya. Hhh... terkadang berbisnis dengan sodara sendiri bisa menjadi sesuatu yang menyebalkan.
Intinya film ini bercerita tentang seorang pria yang setia menanti seorang wanita selama 50 tahun. Maaf, aku gak bisa banyak memberikan review karena takut bahasaku yang sangat sederhana ini bisa merusak keindahan filmnya. Ada baiknya ditonton langsung aja.
Sensasi selama aku menonton film ini hampir sama dengan sensasi naik kora-kora. Aku gak tau apa bisa disamakan dengan sensasi naik rollercoaster, karena aku baru sampai tahapan naik kora2. Mungkin suatu saat ada kesempatan naik rollercoaster dan akan kucoba untuk membandingkan sensasi antara naik rollercoaster dan menonton Love In The Time of Cholera *halah*.
Upss.. kebablasan. Balik ke topik.
Kenapa kusamakan dengan naik kora2? Karena emosiku naik-turun selama nonton film ini. Dan selama itu pula aku ngerasa ulu hatiku seperti diaduk2. Kira2 seperti habis implant mixer di perut.
Film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama. Pengarangnya adalah Gabriel Garcia Marquez. Novel yang sekarang ini jadi buruan utamaku. Susah banget nyarinya, bahkan di toko2 buku besar. Dan dari hasil pencarianku, buku ini ada di salah satu daftar katalog buku impor di sebuah situs penjualan buku online. Beli gak ya? Atau ada yang ingin menghadiahiku? Hehehe...
Kabarnya sekarang gimana?
Kalian pacaran berapa lama sih?
Masih cinta gak sama dia? Kalian kan pacarannya lama banget...
Married-nya Desember apa Januari sih?
Sudah punya anak apa belum?
Suara bapak tadi mirip sama suara dia ya...
Eh, gimana kalo misalnya dia ternyata menceraikan istrinya dan tiba2 datang kesini?
Masih sering inget dia apa gak?
Susah gak ngelupain dia?
STOP!!!!
Hello guys...
I will still remember him if all of you keep talking about him.
Can you all just stop talking about him please... Because it hurts me, you know. Hurts me so deep.
Thank you for listening to me anyway.
Labels: love, my thoughts
Dia : "Malam ini kita makan apa ya?"
Aku : "Bukannya tadi kamu bilang malam ini kita minum susu aja? Besok malam juga, besok malamnya lagi juga begitu. Ayooo... lupa ya..."
Dia : *Berpikir* "Hmm... Iya ya. Lupa."
Beberapa menit kemudian.
Dia : "Aku mau beli mi goreng aja ah. Trus beli sate ayam. Mi goreng yang kapan hari itu enak juga ya? Beli disitu lagi ah..."
Aku : "Loh??? Bukannya kita mau diet. Gimana sih?"
Dia : "Hmmm... bener juga ya.."
Beberapa menit kemudian (lagi).
Dia : Sambil memandang ke awang2. "Hmmm... kayaknya makan mi goreng enak banget deh. Apalagi sama sate ayam. Wih... sedap... Aku mau makan mi goreng aja ah. Enak.. enak.. enak.."
Aku : *hening*
Dia : "Kalo kamu mau minum susu, silakan aja...."
Aku : *mulai membanding2kan kelezatan mi goreng + sate ayam vs. segelas susu coklat*
Dia : "Pulang dari sini mau beli mi goreng ah..."
Aku : *kebimbangan mulai melanda + agak2 ngences*
Dia : "Hmmm.. aromanya sudah terbayang2 nih"
Aku : *at that time i can imagine how eve's feeling* "AKU JUGA MAUUUU!!!!"
Tak mampu melepasnya
Walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa masih memilikinya
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya
Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya
Memiliki Kehilangan - Letto
Kehilangan, aku sudah siap untuk melepasmu. Karena tetap memeliharamu di pikiranku ternyata tidak bisa membuatnya kembali. Sekarang aku siap untuk menempuh perjalanan yang baru, dan kuharap tidak berjumpa denganmu lagi di persimpangan.
Relakan aku, seperti aku merelakanmu.
FIN
VOLTOOIING
TAMAT
Labels: love, my thoughts
Beberapa minggu yang lalu setelah dia pulang dari Surabaya. Pembicaraan ini dilakukan ketika ngantri bensin di SPBU.
Aku : "Kacamatamu baru ya?"
Dia : "Iya. Bagus gak?"
Aku : *sambil memperhatikan wajahnya* "Mmmm... lumayan. Tapi bagusan yang kayak punya ko Ronald."
Dia : "Kalo yang kayak punya Ko Ronald itu mahal, harganya 2 jutaan"
Aku : "Kalo yang ini?"
Dia : "1.800.000"
Aku : "Mahal banget" *sambil geleng-geleng kepala*
Dia : "Gak kok. Aku beli tembakannya di Wonokromo. Harganya cuma 250ribu"
Aku : "Masa sih?" *dengan tatapan menyelidik*
Dia : "Iya... beneran. Ngapain juga beli yang mahal2."
Aku : "Ooooo..."
Beberapa hari yang lalu, di ruang tamu rumahku.
Dia : *Ngebersihin kacamatanya, sambil mengamat-amatinya* "Penjualnya hampir salah ngasih harga loh waktu aku beli kacamata ini."
Aku : "Emangnya dikasih harga berapa?"
Dia : "Dia bilang harganya 1.500.000"
Aku : "Harusnya...?"
Dia : "Harusnya 1.800.000. Hampir aja dia salah jual. Hehehe.."
Aku : *mengerutkan kening* "Bukannya kamu bilang harganya 250ribu?"
Dia : *hening*
Warning: Wanita adalah ahli sejarah terbaik di dunia!
Labels: love
Beberapa hari yang lalu aku bermimpi tentang seseorang dari masa lalu.
Labels: love, my thoughts

"Kapan menikah?"
Itu pertanyaan yang lumayan sering dilontarkan kerabat, sanak saudara, teman-teman, rekan kerja, kepadaku. Jawabannya beragam, tergantung mood. Mulai dari : "Lagi ngumpulin duitnya nih" *biasanya dijawab balik: "Gak kawin2 kalo nunggu ngumpulin duit mah"*, "Mau sekolah dulu" *dan dijawab: "Kawin aja dulu, kelamaan kalo nunggu sekolah lagi", dan kalo suasana hati sedang tidak mood untuk berbalas pantun mengenai rencana pernikahan, akan kujawab: "Tau...".
Beberapa waktu yang lalu ada beberapa orang yang mencoba untuk 'mendekatiku' *sok laris gitu.. :P* tapi entah kenapa setelah beberapa saat PDKT aku ngerasa gak cocok dengan orang-orang itu. Beberapa orang di sekitarku yang kebelet pengen aku cepat menikah *entah itu karena mereka takut aku turun kelas jadi perawan tua, ataukah karena mereka iri dengan status single but happy-ku*, menanyakan kenapa aku menolak cowok-cowok yang PDKT itu. Aku sendiri bingung bagaimana membahasakannya, sampai kemaren.
Aku baru saja menyelesaikan sebuah buku yang awalnya ku pinjam di book rental hanya untuk menyegarkan pikiran yang beberapa minggu ini dipaksa untuk bekerja keras. Buku itu bercerita tentang seorang wanita, sebut saja Dian, yang sedang dalam pencarian untuk menemukan Mr. Right. Dalam pencariannya tersebut dia menemukan seorang pria, kita namai saja Sastro, yang menurutnya dan beberapa orang di sekitarnya merupakan orang yang tepat untuk dijadikan suami.
Sastro adalah pria yang sangat mapan, bekerja sebagai bankir investasi dan telah memiliki rumah mewah di daerah yang elit pula. Dian pun dimanjakan dengan segala bentuk perhatian dan kemewahan. Mulai dari dinner di restoran mahal, diantar jemput menggunakan Porsche *it's PORSCHE!!!*, dibelikan baju rancangan desainer, dihadiahi tas Gucci. Pikir Dian, apalagi yang kurang dengan calon suaminya ini.
Namun, ada pertanyaan dari seorang temannya yang selalu diam di benak Dian: "Sanggupkah kamu melalui sisa hidupmu bersamanya?".
Nah, itulah jawabannya!
Menikah bukanlah untuk mendapatkan status, menjadi Ny. Anu atau Mrs. Anu. Ataukah dijadikan sebagai sebuah pencapaian. Bukan pula karena tuntutan lingkungan *sudah lama pacaran lah, sudah cukup umur lah, bla bla bla*.
Menikah adalah menerima pasangan dengan paket komplitnya, dan harus tahan dengan semua itu sepanjang hidup bersamanya. Mulai dari kebiasaan2 kecil seperti suka ngorok, tidak meletakkan pakaian kotor di keranjang, bla bla bla. Yang kadang kala bisa jadi sanggat mengganggu.
Nah, siapkah Anda menikah?
Labels: book, love, my thoughts

Suatu malam, di warung tenda.
Dia : Cobain deh roti bakarnya
Aku : Gak mau
Dia : Cobain deh. Enak.. Selai... Nanasnya...
Aku : *memandang ke arah roti bakar. hmm...keliatannya lumayan juga* Gak ah...
Dia : Gurih. Renyah, serenyah cintaku padamu
Aku : Emang cinta bisa renyah juga? *sambil nyomot roti bakar itu*

Judul postingnya menyeramkan ya...
Sebenernya gak segitu-gitunya kok, tapi lebih ke cara menarik perhatian aja. Hehehe...
Sejak beberapa bulan yang lalu aku bertekad untuk menabung uang di celengan.
Itu setelah aku baca bukunya Safir Senduk yang dikasih sama temenku (temenku kayaknya tau banget kalo aku bukan financial planner yang baik :P).
Buku itu bilang kalo celengan jangan dianggap remeh. Bisa memberikan hasil yang tak diduga.
Caranya, setiap ada uang 20ribu, masukin aja ke celengan.
Kemudian aku berpikir, kalo saban ketemu uang 20ribu trus dimasukin celengan, bisa2 miskin mendadak.. Misalnya ya, uang di dompet ada 60ribu (3 lembar uang 20ribu), kalo dimasukin celengan semua kan bisa kere... Fiuh...
Jadinya aku memutuskan untuk mengganti uang 20ribu itu dengan uang 5ribuan. Yah... emang sih jomplang banget.. Tapi kan liat niatnya dong,,,,, *usaha pembenaran diri*
Beberapa bulan kemudian.... *which is beberapa minggu yang lalu*
Aku : "Kayaknya celengan gajahku sudah penuh deh..."
Dia : "Masa sih?"
Aku : "He-eh" *lalu dengan bangga membawa keluar celengan gajah kesayangan itu*
Dia : *sambil menimbang-nimbang celenganku* "Ringan aja nih"
Aku : "Ya iya lah... Kan isinya uang kertas semua" *ekspresi gak terima*
"Di buka aja yuk... Kayaknya banyak banget, di buku bilang kalo jumlahnya bisa bikin kaget"
Dia : "Masa sih?"
Aku : "Iya!" *nuansa penuh semangat*
Dia : "Ambil gunting sana"
Akhirnya dia menggunting celenganku (terbuat dari plastik).
Aku : "Kok ngguntingnya gitu?"
Dia : "Ini namanya 'The art of killing'"
Aku : *Membentuk 'ooooo' dengan mulutku*
Hasilnya membuatku kaget: Rp. 275.000,00.
Ya iyalah,,, bikin kaget, soalnya gak sebanyak yang kuharapkan....
Gubraaaak.....
Dia : "Ya iya lah... celengannya se'emprit ini" *sambil tertawa puas*
Beli bensin di mana yang?
Terserah. Di pasar ikan juga gak papa. Yang penting ada bensinnya.
*wanita memang punya kemampuan untuk menghasilkan kalimat yang berarti ganda (hasil dari membaca sebuah majalah wanita)*
Labels: love

... apa kabar ya??
Sehat gak ya?
Sudah agak gemukan apa tetep aja?
Kerjaannya gimana?
Mmmm... masih mikirin aku apa gak ya,,,?
Gimana kabar:
orang tuanya?
adek2 nya?
keponakannya?
keluarganya yang lain?
Gak nanya kabar istrinya sekalian?
Buat apa?
Kan kabar yang lain ditanyain, masa istrinya gak ditanyain?
Malas ah...
Loh kok gitu sih,,,, :)
Istrinya galak!
Labels: love, my thoughts

Paling males kalo ditanyain kapan kawin sama keluarga, temen2, bahkan sama orang-orang
cuma kenal sekelebat (wah bisa jadi istilah baru tuh,,,,)
Kapan kawin?
Apalagi yang ditunggu??
Umur sudah cukup, calon sudah ada, kerjaan sudah mantap...
Pengen banget aku bilang:
Duitnya yang belum ngumpul,,,,
Bagi duitnya donggggg,,,,,,,



