Blogger Template by Blogcrowds.

Showing posts with label book. Show all posts
Showing posts with label book. Show all posts


Perempuan dengan tingkat sentimentil yang rendah ini nyaris menitikkan air mata ketika:

Membaca 'Malaikat Juga Tahu'
Mendengar 'Malaikat Juga Tahu'

Melihat 'Malaikat Juga Tahu'


Membuka mata bahwa setiap manusia memiliki (setidaknya) seorang 'malaikat' yang punya wujud. Begitu riil. Namun entah kenapa tingkat transparansinya sangat tinggi sehingga tak kasat mata.

* masih terkena demam Rectoverso


Sekitar 2 minggu yang lalu aku membaca Rectoverso. Seorang teman melontarkan pernyataan (yang kurang lebih intinya): 'Ku tunggu reviewnya'. Seketika itu juga aku menolak untuk memberi review karena merasa kapabilitas yang minim untuk mengobok-obok karya paling mutakhir dari seorang Dewi Lestari. Dan berikut ini bukan review, hanya cerita perjalananku bersama Rectoverso.

Aku meluangkan waktu (seluang-luangnya) ketika membaca Rectoverso. Menyelesaikan semua kegiatan, men-silent hp, kemudian berbaring dengan santai. Menenggelamkan diri dalam kesunyian. Hening.

Lembar demi lembar itu memaksaku untuk terus membaca. Seperti tak rela membiarkanku berpaling dari pesona keindahan aksara yang tertera di atasnya.

Cerita yang disuguhkan sepertinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan ketika aku membacanya, yang terlintas di pikiranku adalah 'ini kok mirip ceritaku ya..', 'ih, kayak ceritanya si anu', 'cerita ini si anu banget deh', danseterusnyadanseterusnya.

Contohnya 'Hanya Isyarat' yang sangat kuingat sebagai 'Cinta Punggung Ayam'. Bercerita tentang cinta yang tak berani diungkapkan. Padahal orang itu begitu dekat, begitu nyata (mmm.. kok terdengar seperti jargon operator telepon selular ya.. tak ada maksud menjiplak.. sungguhsuersumpah).

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, atau hujan.

Sedih. Karena aku pernah mengalami hal yang sama. Lebih tepatnya: mirip. Konon, waktu SMA. Jatuh cinta pada orang yang begitu dekat, begitu nyata (aduh.. kok pake term ini lagi sih?). Begitu mudah disapa, digapai, dijamah, atau diboncengi pake sepeda motor. Tapi entah kenapa dia meletakkan hatinya di tempat yang jauh. Tak dapat disapa, tak tergapai, tak mampu dijamah, bahkan bila harus mbonceng pake sepeda motor sekalipun. (sigh).

Kemudian ada 'Malaikat Juga Tahu' yang bercerita tentang cinta-setengah-mati seorang pria. Sayangnya si wanita menganggapnya hanya sebagai rekanan yang sangat setia. Selalu siap pakai kapan pun dibutuhkan. Walaupun cerita yang persis sama seperti ini akan jarang sekali kita temui pada kehidupan sehari-hari, tapi secara garis besar cerita seperti ini banyak beredar di jagat nyata. Memilukan. Mencelikkan mata. Membuatku nyaris menangis.

Karena tak kau lihat terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Aku percaya, every song has its own story. Every written story has its own song. Unik untuk tiap cerita. Spesial untuk tiap lagu. Cerita itu dapat tersurat pada syair lagu, dapat pula tersirat pada deretan not yang membentuk nada lagu tersebut. Lagu dan cerita dibaliknya bagaikan belahan jiwa. Soulmate.

Dan pada Rectoverso kedua belahan jiwa tersebut akhirnya dipertemukan. Utuh. Komplit.

Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment...
...
If everything has been written down, so why worry we say
It's you and me with a little left of sanity
...

*semua kutipan diambil dari sini

tenggelam..

...dalam kesunyian.

Tak mau berbagi.
Sedang tak ingin ditemani.

Kecuali...

...dia



Maaf




Si Orang Biru tersenyum. "Tidak Edward. Kau ada di sini agar aku bisa mengajarimu sesuatu. Semua orang kau temui di sini punya sesuatu untuk diajarkan padamu."

Eddie tidak percaya. Tangannya masih terkepal.

"Apa?" tanyanya.


"Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin."

=============

"Orang-orang asing," kata si Orang Biru, "adalah keluarga yang masih belum kaukenal."

=============

"Tidak ada kehidupan yang sia-sia," kata si Orang Biru.

"Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian."

=============

"Pengorbanan," kata Kapten. "Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah dengan pengorbanan yang kauberikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kaukorbankan."

"Kau belum mengerti. Pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukannya sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. Pengorbanan kecil. Pengorbanan besar. Seorang ibu bekerja keras agar anaknya bisa sekolah. Seorang anak perempuan pindah rumah untuk merawat ayahnya yang sakit."

=============

Kapten berdecak dengan lidahnya. "Justru di situlah intinya. Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain."

=============

"Aku ingin kau belajar ini dariku. Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri."

=============

Orang sering mengatakan mereka "menemukan" cinta, seakan-akan cinta sejenis benda yang tersembunyi dibalik bongkahan-bongkahan batu. Tapi cinta mempunyai berbagai bentuk, dan tidak pernah sama bagi setiap pria dan wanita. Yang ditemukan orang sebenarnya cinta tertentu.

=============

Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup.


MITCH ALBOM

bimbang

Maafkan aku, atas keputusanku yang ku tahu akan mempengaruhimu.

Bukannya aku tak setia padamu. Tapi coba kau lihat lagi jejak memori yang tertinggal. Tiap kali aku pergi ke tempat seharusnya kita bertemu, kau tak pernah ada. Selalu. Jauh jarak yang harus ku tempuh, tapi kau tak pernah nampak di sana. Selalu.

Kuakui, di saat-saat aku tak dapat menemukanmu selalu ada yang menggantikan tempatmu. Maafkan aku. Ku tak sanggup sendiri. Tapi ku rasa dunia tak kan memusuhiku karena itu.

Dan kini, kita dipertemukan oleh nasib. Aku sempat melonjak kegirangan ketika melihatmu. Di sana, di tempat seharusnya kau menungguku. Tapi entah kenapa, mataku disilaukan oleh sesuatu yang lain. Dia.

Permohonan maaf yang sangat besar ku haturkan padamu. Sebagian hatiku memang sangat menginginkanmu. Ditambah lagi aku melihat kebimbangan sedang berdiri di sudut ruang dan menatap tajam ke arahku. Namun pesona maha dahsyat yang dipancarkannya tak mampu ku tolak. Maaf.

New Moon, aku lebih memilih Lolita ketimbang dirimu.

NB:
Dan ternyata Lolita membawa teman-temannya untuk menemaniku: Teh Kotak dan SilverQueen Chunky Bar. Ha!


Ini salah satu film yang kutunggu dan akhirnya sudah ku tonton. Setelah negosiasi dengan adeku yang ada di Bandung, akhirnya dia mau mencarikan dvd film ini. Negosiasi itu berupa: uang jalan, ongkos kirim, uang jajan, serta sedikit ancaman penghentian pasokan pulsa gsm-nya. Hhh... terkadang berbisnis dengan sodara sendiri bisa menjadi sesuatu yang menyebalkan.

Intinya film ini bercerita tentang seorang pria yang setia menanti seorang wanita selama 50 tahun. Maaf, aku gak bisa banyak memberikan review karena takut bahasaku yang sangat sederhana ini bisa merusak keindahan filmnya. Ada baiknya ditonton langsung aja.

Sensasi selama aku menonton film ini hampir sama dengan sensasi naik kora-kora. Aku gak tau apa bisa disamakan dengan sensasi naik rollercoaster, karena aku baru sampai tahapan naik kora2. Mungkin suatu saat ada kesempatan naik rollercoaster dan akan kucoba untuk membandingkan sensasi antara naik rollercoaster dan menonton Love In The Time of Cholera *halah*.

Upss.. kebablasan. Balik ke topik.

Kenapa kusamakan dengan naik kora2? Karena emosiku naik-turun selama nonton film ini. Dan selama itu pula aku ngerasa ulu hatiku seperti diaduk2. Kira2 seperti habis implant mixer di perut.


Film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama. Pengarangnya adalah Gabriel Garcia Marquez. Novel yang sekarang ini jadi buruan utamaku. Susah banget nyarinya, bahkan di toko2 buku besar. Dan dari hasil pencarianku, buku ini ada di salah satu daftar katalog buku impor di sebuah situs penjualan buku online. Beli gak ya? Atau ada yang ingin menghadiahiku? Hehehe...



"...Tidak, Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia." Jean Louise alias Scout dalam To Kill A Mocking Bird

Sesaat setelah membaca kalimat ini, aku berhenti sejenak. Menutup buku dan mencoba memahami perkataan gadis kecil itu *yang sesungguhnya adalah media yang digunakan oleh Harper Lee*.

Perlu waktu hampir 3 minggu untuk menyelesaikan buku ini. Bagiku ini waktu yang terbilang lama untuk menyelesaikan
sebuah fiksi yang tidak membosankan. Biasanya bila sebuah buku yang kubaca membosankan, hanya perlu waktu 3-4 hari untuk melihat tanda2nya dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya.

Kembali pada kutipan di atas.

Kalimat tersebut mengingatkanku seberapa sering aku selama ini memilah-milah manusia ke dalam beberapa kategori. Sadar atau tidak sadar. Baik itu kategori manusia yang menyenangkan dan kategori manusia yang tidak menyenangkan *yang tentu saja kusembunyikan rapat2 dari yang bersangkutan*.

Dan sekarang mataku mulai melihat bahwa hanya ada satu kategori saja.

Manusia.


"Kapan menikah?"
Itu pertanyaan yang lumayan sering dilontarkan kerabat, sanak saudara, teman-teman, rekan kerja, kepadaku. Jawabannya beragam, tergantung mood. Mulai dari : "Lagi ngumpulin duitnya nih" *biasanya dijawab balik: "Gak kawin2 kalo nunggu ngumpulin duit mah"*, "Mau sekolah dulu" *dan dijawab: "Kawin aja dulu, kelamaan kalo nunggu sekolah lagi", dan kalo suasana hati sedang tidak mood untuk berbalas pantun mengenai rencana pernikahan, akan kujawab: "Tau...".

Beberapa waktu yang lalu ada beberapa orang yang mencoba untuk 'mendekatiku' *sok laris gitu.. :P* tapi entah kenapa setelah beberapa saat PDKT aku ngerasa gak cocok dengan orang-orang itu. Beberapa orang di sekitarku yang kebelet pengen aku cepat menikah *entah itu karena mereka takut aku turun kelas jadi perawan tua, ataukah karena mereka iri dengan status single but happy-ku*, menanyakan kenapa aku menolak cowok-cowok yang PDKT itu. Aku sendiri bingung bagaimana membahasakannya, sampai kemaren.

Aku baru saja menyelesaikan sebuah buku yang awalnya ku pinjam di book rental hanya untuk menyegarkan pikiran yang beberapa minggu ini dipaksa untuk bekerja keras. Buku itu bercerita tentang seorang wanita, sebut saja Dian, yang sedang dalam pencarian untuk menemukan Mr. Right. Dalam pencariannya tersebut dia menemukan seorang pria, kita namai saja Sastro, yang menurutnya dan beberapa orang di sekitarnya merupakan orang yang tepat untuk dijadikan suami.

Sastro adalah pria yang sangat mapan, bekerja sebagai bankir investasi dan telah memiliki rumah mewah di daerah yang elit pula. Dian pun dimanjakan dengan segala bentuk perhatian dan kemewahan. Mulai dari dinner di restoran mahal, diantar jemput menggunakan Porsche *it's PORSCHE!!!*, dibelikan baju rancangan desainer, dihadiahi tas Gucci. Pikir Dian, apalagi yang kurang dengan calon suaminya ini.

Namun, ada pertanyaan dari seorang temannya yang selalu diam di benak Dian: "Sanggupkah kamu melalui sisa hidupmu bersamanya?".

Nah, itulah jawabannya!

Menikah bukanlah untuk mendapatkan status, menjadi Ny. Anu atau Mrs. Anu. Ataukah dijadikan sebagai sebuah pencapaian. Bukan pula karena tuntutan lingkungan *sudah lama pacaran lah, sudah cukup umur lah, bla bla bla*.

Menikah adalah menerima pasangan dengan paket komplitnya, dan harus tahan dengan semua itu sepanjang hidup bersamanya. Mulai dari kebiasaan2 kecil seperti suka ngorok, tidak meletakkan pakaian kotor di keranjang, bla bla bla. Yang kadang kala bisa jadi sanggat mengganggu.

Nah, siapkah Anda menikah?


"Tuhan yang Anda sebut kedengarannya adalah Tuhan yang mahabengis. Tuhan yang punya problem mengendalikan emosinya. Tuhan yang gampang naik pitam, tukang menghukum. Dan Tuhan yang harus disogok dengan sikap baik dan kepatuhan seratus persen karena jika melenceng sedikit saja, ganjarannya adalah neraka seumur alam semesta."

...

"Hati-hati, Bu, hidup bersama Tuhan yang seperti itu. Karena jika Dia sanggup murka pada dosa orang lain, Dia pun mudah murka pada Anda."

Clara Ng - Tiga Venus

*Kepada mereka yang menganggap Tuhan hanya menerima orang yang sempurna*

Older Posts Home