Blogger Template by Blogcrowds.

divorce

'Sebenarnya aku lagi ada masalah besar."

...

'Kalian pasti gak tau kan?'

...

'Aku lagi ngurus perceraianku.'

Begitulah kalimat-kalimat yang keluar dari mulut seorang rekan kerjaku tanpa ada keinginan untuk kuinterupsi.

'Kenapa?', tanyaku.

Lalu dia menjelaskan dengan singkat dan jelas bahwa yang menjadi alasan utama adalah perbedaan prinsip dan pola pikir. Bagiku yang menjadikan infotainment sebagai tontonan yang menyenangkan (silakan ditertawakan ;-P), entah kenapa alasan tersebut tidak terdengar klise. Aku malah bisa memahami. Dan rasanya aku juga tak berhak untuk bertanya lebih detail lagi tentang sejauh mana perbedaan prinsip dan pola pikir itu.

Aku bukan orang yang menyenangi perceraian. Apalagi Nabi Besar yang kuikuti ajaran-Nya pun mengatakan bahwa perceraian hanya diperbolehkan apabila terjadi perzinahan. Tapi bukannya aku tak bisa menerimanya bila alasan yang diberikan masuk akal. Terutama ketika sang teman mengatakan bahwa sang suami beberapa kali melakukan kekerasan fisik yang dapat kupastikan disertai dengan kekerasan psikis pula.

Aku sama sekali tak menyarankannya untuk tidak bercerai. Bahkan ketika teman-teman yang lain sangat menyayangkan bila hal itu terjadi.

'Kan kasihan anaknya.", kata seorang teman.

Lalu akhirnya aku pun bersuara.

Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk tidak bercerai. Alasan untuk bersama harusnya adalah karena suami tak bisa hidup tanpa istri dan begitu pula sebaliknya. Bukankah (sebagian besar) orang menikah bukan karena anak, tapi karena keinginan kedua belah pihak? Dan harusnya alasan yang sama yang tetap menyatukan mereka.

Dan mungkin yang membuat teman-temanku cukup tercengang ketika aku mengeluarkan pernyataan ini:

'Kalo aku ditanya siapa yang bakal ku dahulukan? Suami atau anak? Aku bakal pilih suami.'

Bukan pemikiran yang lazim memang.

Tapi bagaimana aku bisa jadi ibu yang baik kalau aku tidak bisa jadi istri yang baik? Bagiku suami tetap menduduki peringkat pertama. Karena dengannyalah aku berkomitmen untuk membentuk sebuah rumah tangga yang kami jalani sekarang. Bila aku menghargai dan menghormati suamiku, maka anak-anakku dapat melihat bagaimana sebuah relasi yang baik dan melakukan hal yang serupa pula ketika mereka berelasi dengan orang lain.

Dilihat dari kening-kening yang bertaut sepertinya teman-temanku tak seberapa setuju. Tapi ah, aku kan tak bisa mengontrol pikiran mereka :-)


Dulu ku tak pernah percaya
'kan cinta yang tak harus memiliki
Pernah ku paksakan walau tak sejalan
Meski ku tau ku salah

Dan ku coba melupakanmu
Karna ku tau kau bukan milikku

Dan ku berhenti berharap
Akan cintamu yang dulu ada di hati
Dan ku coba 'tuk bertahan
Walau berat kini ku berhenti berharap

Kini ku akui
Hatiku tak bisa slalu miliki dirimu

MARCELL

kenta


Lafalkan judul tersebut dengan huruf 'e' pada 'bebek'. Dan ini berlaku pada semua kata dalam bahasa Dayak Ngaju yang mengandung huruf 'e'.

Yang terlintas di pikiranku ketika tambi (nenek -red) memperlihatkan setoples kenta adalah: mirip oat meal. Benar sekali. Bentuknya dan warna hampir menyerupai.

Kenta berasal dari beras ketan yang disangrai kemudian ditumbuk. Cara menumbuknya pun tak sembarangan. Perlu teknik khusus, kata bue (kakek -red). Proses pembuatan kenta disebut mangenta. Proses tersebut didemonstrasikan pada Festival Isen Mulang, festival rakyat tahunan yang diselenggarakan menjelang HUT Kalimantan Tengah. Sayang sekali aku tak berkesempatan melihatnya.

Kebetulan, seorang mina (tante -red) ikut ambil bagian pada proses mangenta tersebut. Jadi tambi sempat inden duluan. Karena sekarang kenta hampir-hampir menjadi barang langka. Di pasar tradisional pun tak ada.

Proses mengolah kenta sehingga di makan sangatlah mudah. Hanya perlu menambahkan kelapa parut, gula merah, dan sedikit air yang telah dicampur garam, kenta sudah bisa disantap. Dan rasanya? Persis seperti makan nasi yang belum masak.

short stories

Di kantor, berbincang dengan beberapa teman.

Teman : "Aku kok pengen nambah anak lagi ya? Soalnya anakku suka ngomong sendiri."
Aku : "............"

Mungkin karena temanku mengatakan hal itu dengan nuansa menerawang, sehingga bagian yang bercetak tebal itu terdengar ehm.... mengkhawatirkan.

********

Meja makan, ketika sedang makan malam.

Tiba-tiba.

Papah : "Coba perhatikan. Aku bisa bikin sendok ini jadi bengkok." *sambil menggoyang-goyangkan sendok ala pesulap berambut separo itu*

Hhhh... terkadang si Papah suka AJAIB.

********

Jum'at malam, menonton pemilihan Miss Indonesia di RCTI.

Baju putih yang dipakai Indah Pelapory sangat indah. Sesuai dengan imajinasiku akan baju putri-putri dalam dongeng. Namun, yang agak mengganggu adalah ketika Indah mulai berbicara. Nada bicaranya tinggi sekali. Wah, kalo jadi penyanyi pasti Mariah Carey kalah tuh ;-)

Keanehan kedua.

Aku lupa finalis dari provinsi mana, tapi yang pasti wanita ini masuk 10 besar. Ketika diberikan pertanyaan yang bunyinya kira-kira seperti ini:

"Siapakah sosok yang paling menginspirasi Anda dan mengapa?"

Dan jawabannya adalah... jeng.. jeng.. jeng.. jeng..

"Sosok yang paling memberikan inspirasi adalah ibu. Karena ibu selalu memberikan motivasi dan inspirasi."

????????

Jawaban yang bersifat rekursif.

bagaimana ku bisa
berpaling darimu
sekian lama ku mencari
separuh jiwaku

ku mau menunggu
tak pernah berhenti
sampai suatu saat nanti kau kan menyadari

kuingin kau tau takkan ada habisnya
ku masih miliki cinta
melebihi yang kau kira

hanyalah senyummu
yang menghapus rinduku
telah lama tak ku jumpa
menghilang dariku

akan ku lakukan
asal kau kembali
ku tak sanggup sendiri lebih lama lagi

kuingin kau tau takkan ada habisnya
kumasih miliki cinta
melebihi yang kau kira

kuingin kau tau kau tetap dihatiku
ada yang harus kau mengerti
kau takkan ada gantinya

yang aku inginkan hanyalah dirimu
bersamaku selamanya
bantu aku pergi dari sepi
yang kurasa menyakitkan

IPANG


P.S.
Yah... yah.. lagu ini GANAS

sigh



Sering kali, sulit untuk bisa menerima jawaban "tidak".

Terlebih bila itu datangnya dari Tuhan.


oh no!

Ah, sudah lama aku gak menulis sesuatu di sini. Berkunjung sih setiap hari, tapi tak pernah meninggalkan jejak berupa secuil tulisan. Setiap kali diriku berinteraksi dengan internet, buku muka itu selalu menarik perhatianku. Biasa, barang baru :-)

Entah kenapa, beberapa bulan belakangan ini keinginanku untuk menulis seperti teredam. Penyebabnya, aku tak tahu persis. Sibuk lah, mengurusi suami lah, tergoda hal lain lah, atau karena memang sedang tak ingin. Dan aku memang tak mau memaksakan diri kalo memang sedang tak ingin.

And now, I want to make a confession.

I'm 50. YES! I'M 50!

OH.MY.GOD.

I gained weight. A LOT.

Dan ketika aku mengatakan ini pada suami, jawaban dari seberang adalah:

"Devi genduuuuut... Devi genduuuut..."


Dasar! Dulu, waktu pacaran, mana berani dia ngomong begitu. Huh!

Sudahlah. Lupakan saja.

Tadi, aku nonton Finding Nemo di RCTI. Senang juga bisa nonton animasi itu lagi. Namun, yang bikin acara menonton tadi kurang sedap adalah: film itu di-dubbing ke bahasa Indonesia. Menurutku itu mengurangi keindahannya. Hhhhh...

Jadi ingat pas masih SMA dulu, ada telenovela yang di-dubbing ke bahasa Inggris lalu diberi subtitle Indonesia. Asli, ini agak... AJAIB. Dan yang lebih anehnya lagi, dubber-nya berlogat Jawa yang sangat kental. Ah, televisi Indonesia memang selalu AJAIB.

Nah, kembali lagi ke Finding Nemo tadi.

Oke, tak apa lah di-dubbing. Masih lucu kok. Gak apa-apa. Supaya anak-anak yang belum bisa baca dapat mengerti jalan cerita. Hiburku dalam hati. Namun, hampir di akhir cerita ada hal yang mengganggu (lagi).

Ceritanya nih, di perjalanan ingin menyelamatkan Nemo, papa Nemo bertemu dengan sekelompok penyu. Dan sodara-sodara sekalian, ketika sang penyu berbicara, aku merasa ada kejanggalan. Tapi apa ya? Kok di telinga kedengarannya gimana gitu.

Ah, ya! Aku tau sekarang.

Si penyu itu BERLOGAT Madura.


Beneran. Sumpah. Gak bohong. Entah apa yang ada di benak sang dubber.

Sekali lagi... AJAIB.

P.S.
Aku ingat judul telenovela yang di-dubbing ke bahasa Janglish (Javanese English) itu.
ESMERALDA. Hahahahaha!


9 April 2009.
Pagi.
Meja makan.
Si Papah. Si Mamah. Aku.

"Mah, jam berapa kita ke TPS?", kataku di sela-sela mengunyah sarapan.

"Tau lah..", jawab si Mamah.

"Agak siangan ja Mah. Palingan ngantri juga."

"Milih siapa yuk lah?", aku bertanya.

Si Papah mulai menyimak pembicaraanku dan Mamah.

"Ih, itah milih 'si Mina (Tante -red)' ih..", Papah pun angkat bicara. (Kita milih 'si Mina' aja...)

"Emangnya 'si Mina' tu DPRD Provinsi atau Kota Pah?", tanyaku.

"Amun dia sala, Provinsi angat ah". (Kalo gak salah sih rasanya Provinsi)

"Tapi kan 'si Om' juga caleg Provinsi Pah."

"Kutuh ih gin. Ikau dengan indum mamilih 'si Om', kareh aku mamilih 'si Mina' te. Mangat adil." (Gini aja. Kamu sama Mamah milih 'si Om', nanti Papah milih si Mina. Supaya adil.)

"Amun nang Kota-nya pang siapa yang kita pilih?", si Mamah berujar. (Trus, yang Provinsi siapa yang kita pilih?)

"Milih 'si Itu' ja Mah."

"Ela. 'Si Jituh' ih. Pasie, jatun gawie.", Papah mengusulkan (Jangan. 'Si Ini' aja. Kasian, gak punya pekerjaan).

"Limbah te, je DPD ah itah milih 'Bapak jite' ih. Bahalap ie te." (Trus, untuk DPD kita pilih 'Bapak Itu' aja. Bagus.)

"Nah, kalo yang DPR RI kita pilih 'Mas Itu' ja.", aku mengusulkan pilihanku.

"Iyuh", jawab Papah. (Iya)

'Rapat' selesai.

PS:
Seperti inilah demokrasi di mata kami, keluarga kecil yang juga orang-orang kecil. Tanpa keributan kami tetap bisa mencapai mufakat. Itu pun kami lakukan dengan 3 bahasa yang berbeda.

tantangan


Tepat jam 6 sore, si Mamah sudah bersiap di depan TV. Remote TV tak pernah jauh dari tangannya. Semua kegiatan diselesaikan sebelumnya. Bahkan urusan mandi sore, sudah dilakukan jauh sebelumnya lagi. Di kalangan keluarga, si Mamah memang terkenal sebagai seorang penggila sinetron.

Tepat jam 6 sore pula aku menghampiri Mamah dan mengajukan sebuah usulan.

"Mah, gimana kalo kita adakan tantangan buat Mamah."

Mamah menoleh sebentar, lalu berkata, "Tantangan apa?"

"Gimana kalo Mamah ditantang gak nonton TV sama sekali selama seminggu. Tapi ada hadiahnya Mah", lanjutku.

"Apa hadiahnya?", si Mamah mulai kelihatan tertarik.

Aku berpikir sebentar. "Kubeliin Mamah sepatu."

"Bah, kada sepadan hadiahnya tu." (Hadiahnya gak sepadan)

Aku pun memutar otak, kemudian melakukan bargaining lagi dengan si Mamah.

"Gini ja, kita ganti. Mamah gak boleh nonton TV mulai dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Selama satu minggu." *FYI, parade sinetron di televisi dimulai dari jam 6 sore sampe jam 10 malam. Ha!*

Mamah pun menjawab dengan mantap, "Ayu ja." (Ayooo)

Sekarang giliran aku yang mikir-mikir. Harga sepasang sepatu buat si Mamah lumayan juga. Kena deh!

Tak mau terlihat kalah, aku pun menjawab, "Oke. Kita mulai besok lah. Mamah gak boleh nonton Marvel, Alissa, dan teman-temannya... Hahaha, Mamah pasti ketinggalan banyak ceritanya."

Mamah terlihat berpikir, lalu melakukan penawaran, "Kayak apa amun sehari ja?" (Gimana kalo cuma satu hari aja?)

"Ih, gak bisa! Rugi aku. Pokoknya harus satu minggu. Kalo gak mau, gak jadi ja tantangannya."

Si Mamah pun melancarkan aksi bulusnya, "Ayu ja! Tapi mulai jam 6 aku bejalan lah?" (Oke! Tapi mulai jam 6 aku jalan-jalan ya?)

"Gak bisa juga! Mamah harus di rumah ja. Kayak aku gak tau ja akal Mamah tu. Palingan Mamah jalan ke rumah Mina (Tante-red) Mamah Yani trus nonton di sana."

Si Mamah pun tersenyum malu-malu.

"Gimana ni? Jadi gak tantangannya?"

Si Mamah pun menyerah, "Kada jadi ja gin. Kada kawa aku amun lawas kada menonton Marvel. Kada tahu kesahnya kena." (Gak jadi deh. Gak bisa aku gak nonton Marvel lama-lama. Nanti gak tau ceritanya.)

Aku menang!

Suatu siang, aku dan suami berkunjung ke rumah Oom (dari suami). Kondisi kesehatan beliau akhir-akhir ini sedang menurun diakibatkan penyakit diabetes yang sudah sejak lama diidapnya.

Ketika kami berkumpul di ruang tengah, dua orang anak kembar si Oom bersama sang kakak sedang bermain X-Box. Tampaklah perkelahian sengit antara 2 orang jagoan dan penduduk yang berwajah seram. Dengan ukuran televisi yang cukup besar, permainan itu tampak nyata. Ditambah lagi kualitas gambar yang menyerupai asli. Ah, kecanggihan teknologi :-)

Aku pun tanpa disadari menyimak dengan seksama permainan itu sementara suamiku berbincang dengan Oom.

"Bantuin tho.. Aku wis mau mati iki!", seru sang kakak kepada salah satu adik kembarnya.

"Sek ta. Peluruku juga mau entek.", sang adik pun menjawab.

Tak berapa lama, si kembar yang tak ikut bermain berteriak.

"Awas Mas, ada gigolo! Itu loh nang mburimu!"

Awalnya aku menanggapi biasa-biasa saja percakapan seru mereka. Tapi... tunggu dulu. Rasanya ada yang aneh. Hmm... apa ya?

Kemudian.

"Itu loh Mas! Gigolonya! Cepetan ditembak!"

Hah? Gigolo?

Kemudian aku memperhatikan dengan seksama layar televisi di hadapanku. Ada sosok manusia besar, bertopeng besi, membawa tombak. Inikah yang dimaksud dengan 'gigolo' itu?

Lalu aku berkata, "Ya ampun Calvin, ini lak bukan gigolo. Ini algojo."

Si Calvin menoleh sesaat dan dengan bersemangat dia berteriak, "Awas Mas, ada gigolo!".


Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu


Sapardi Djoko Damono

Michelle, ketika berusia 1 tahun 10 bulan


'Mau jadi kue.'

Itu jawaban yang dengan spontan sekaligus tegas keluar dari mulut seorang anak sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-3 ketika ditanya ingin jadi apa dia bila sudah besar nanti. Bocah perempuan itu adalah keponakan suamiku yang posturnya menyerupai anak usia 5 tahun.

mboh kamsud

Text:
Devy km dmn dgn spa

From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009

Biasanya, bila ada sms tak jelas yang serupa tak pernah kubalas. Nomor tak terdaftar di phone book, tak menyebutkan nama, dan berlagak kenal baik pula. Buang-buang pulsa dan bikin pegel jempol aja.

Tapi tunggu dulu. Kok kayak pernah tau kalimat ini ya. Oh, kayak iklan rokok itu. Lalu rasa isengku pun tersentil dan ku balaslah sms itu.

Text:
Dirmh sendiri tidur.

From:
05363353xxx
Sent:
30-Jan-2009

Tak berapa lama kemudian, sms alert berbunyi.

Text:
Corry n'cpa???Aq kn g zmz qm cman zmz tmnq

From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009

Kita sedang di planet mana ya? Bahasanya kok aneh? Capeee deeeh... :-D

MLM

Dua hari yang lalu aku bertemu seorang teman di gereja. Lama juga kami tak berjumpa. Setelah bertukar kabar dan berbasa-basi sampe basi, akhirnya kami tiba pada topik yang cepat atau lambat akan muncul ke permukaan: pekerjaan.

Seketika itu pula raut wajahnya mendadak cerah. Dan dengan bersemangatnya dia 'memprospek'ku untuk bergabung dengan bisnis barunya. Cara kerjanya sederhana: beli beberapa 'titik' (ya, dia bilang titik, entah apa yang dimaksudnya dengan 'titik' itu), kemudian rekrutlah anggota sejumlah 'titik' yang kita beli tadi. Semakin banyak 'bawahan' yang direkrut semakin banyak pula penghasilan yang diterima.

"Trus, kita ngapain setelah itu? Jualan?", tanyaku.

"Gak ada. Cuma nyari orang aja lagi buat direkrut."

Wah, kata-kata itu terdengar indah di telingaku. Modal air liur aja (karena mesti bercuap-cuap merekrut anggota) udah bisa memperoleh penghasilan berkali lipat gajiku sebagai guru. Belum lagi ada tambahan bonus pulsa setiap minggunya. Diriku semakin mengeluarkan air liur lagi (karena ngiler dengan keuntungan yang bakal diperoleh dari bisnis ini). Bisa menghemat uang pulsa untuk menelpon suami nun jauh di sana, pikirku.

Namun, tak berapa lama kemudian akal sehat yang tadinya sedang leyeh-leyeh menemukan kesadarannya kembali. It's too good to be true. Prinsip ekonomi yang diterapkan habis-habisan: dengan usaha mini dapat hasil maksi.

Lalu pertanyaan berikut muncul dalam benakku. Gimana dengan mereka yang rendah secara hirarki dalam pohon bisnis ini? Tak mendapatkan apa-apa padahal keberadaan mereka lah yang memperkaya para 'atasan'nya.

Dengan pertimbangan belas kasihan pada mereka yang tak akan mendapatkan apa-apa itulah aku memutuskan untuk tidak memiliki niat untuk bergabung pada MLM tak jelas itu. Sapa tau malah aku yang nantinya punya kasta paling rendah dalam strata sosial MLM tersebut. Benar tidak?

hope


Walau makan susah
Walau hidup susah

Walau ‘tuk senyumpun susah

Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan


Ku bahagia - Sherina


Mudah-mudahan masih bisa mengingat posting kali ini bila saat-saat 'susah' itu akhirnya datang.
(And it already happened when I was 'playing' with my blog's layout, hhhh...)


Kemaren sore aku jalan-jalan bareng teman wanitaku (maksudnya seorang teman yang berjenis kelamin wanita. ah, dirimu tau lah yang kumaksudkan :-P). Ketika sedang menikmati es teler, entah kenapa kami bisa sampai ke topik pembicaraan yang satu ini. BRA. Ya, bra.

Lalu kami bercerita tentang bra yang nyaman dipakai dan yang tidak. Dan biasanya berpengaruh juga pada harganya. Serta menceritakan reaksi pasangan masing-masing ketika mengetahui ternyata harga bra tidak semurah yang mereka kira. Ehm, ada sih yang harganya sangat terjangkau. Tapi biasanya disertai dengan kemungkinan 'aset berharga' tersebut lecet-lecet terkena kawat penyangga yang menyembul dengan seenaknya. (Dan ini juga dari hasil pengalaman pribadi ketika ingin menghemat pengeluaran belanja bra ;-P)

Temanku kemudian bercerita kalo dia menemukan sebuah ungkapan menarik yang ada sangkut pautnya dengan bra. Dan ketika aku mendengarkannya, saat itu pula aku memutuskan untuk menjadikannya favoritku juga.

Friends are like bras:
close to your heart and there for support


Hahaha! Kena banget deh ;-)


I wanna make you smile,
whenever you're sad.
Carry you around when your arthritis is bad.
Oh, all I wanna do, is grow old with you.

I'll get you medicine when your tummy aches,
build you a fire if the furnace breaks.
Oh, it could be so nice, growin' old with you.

I'll miss you, kiss you,
give you my coat when you are cold.
Need you, feed you,
I'll even let you hold the remote control.

So let me do the dishes in our kitchen sink,
put you to bed when you've had too much to drink.
Oh I could be the man who grows old with you.

I wanna grow old with you..

I Wanna Grow Old With You - Adam Sandler

PS. Berharap ini bisa dijadikan theme song for my marriage life


Kemaren seorang teman meneleponku untuk mengajakku makan. Aku tak bisa mengklasifikasikan ajakan 'makan' berdasarkan pembagian waktu yang biasanya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sarapan? Rasanya sudah terlalu siang. Makan siang? Terlalu pagi. Ehm.. tak penting. Yang pasti kami berdua pergi makan bareng.

Lalu dia memintaku untuk menemaninya ke bengkel untuk melakukan 'check-up' terhadap mobilnya. Dan karena masih ada cukup waktu sebelum kami kembali bekerja, selepas dari bengkel kami pun memutuskan untuk singgah di KFC.

Karena masih kenyang dan terbayang-bayang raut kenikmatan keponakanku waktu menikmati lychee float, akhirnya aku memesan minuman itu. Temanku pun jadi ikut-ikutan. Bedanya dia pesan lychee soda (plus chicken fillet!).

Roman kami berubah menjadi heran ketika pesanan kami siap. Apa sebab? Lychee float-ku warnanya hijau dan lychee soda-nya berwarna hijau kekuningan. Seketika itu kami langsung saling menatap.

"Warnanya kok beda ya? Padahal kan sama-sama lychee?"

"Iya, bedanya kan cuma punyaku pake es krim trus punyamu pake soda. Harusnya gak ada pengaruhnya dengan warna kan?"

Lalu terciptalah percakapan tidak penting antara aku (P a.k.a Piyek), temanku (TP a.k.a Teman Piyek), dan mbak-mbak KFC (MK).

TP : "Mbak, emangnya apa bedanya dua minuman ini?"
MK : "Beda mbak. Yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *roll my eyes* "Iya, tapi bedanya apa?"
MK : "Yang ini pake es krim, trus yang satunya tambah soda."
TP : "Iya tau mbak. Maksudnya, kenapa jadi keliatan beda?"
MK : *mulai bingung sambil menatap aku dan temanku bergantian*
TP : "Kok yang ini warnanya hijau trus yang ini warnanya kuning."
MK : "Soalnya yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *halah!* "Ini sama-sama lychee kan?"
MK : "Iya"
P : "Trus kenapa warnanya beda? Padahal dua-duanya kan lychee. Cuma beda es krim sama soda aja."
MK : "Soalnya yang Lychee Soda dikasih orange juice mbak, makanya warnanya agak kuning."
P + TP : *dengan wajah lega* "Oooooo..."

Mbak-mbak yang ngantri di samping kami pun ikut-ikutan tertawa. Ternyata dia nguping dari tadi.


Halo semua. Selamat tahun baru ya...

Lama sekali aku tak mengurusi hideaway place-ku ini. Ini dikarenakan aku sedang beradaptasi menjadi seorang ibu rumah tangga. Dan ternyata itu perlu kerja keras saudara2. Tidak mudah untuk konsisten menyapu rumah paling tidak satu kali sehari, mengepel rumah paling tidak dua hari sekali, memasak setidaknya 3 kali sehari, mencuci pakaian kira2 3 hari sekali diimbuhi dengan menyetrika pula, danseterusnyadanseterusnya. Ditambah perayaan ulang tahun serta Natal, otomatis beban kerja sebagai ibu rumah tangga pun berlipat ganda. (menghela napas)

Sebenarnya kesibukan sebagai ibu rumah tangga bukanlah satu-satunya penyebab jarangnya diriku membenahi tempat ini. Faktor utamanya adalah kesulitan untuk melakukan akses internet dengan nyaman. Internetan pake HP sih sebenarnya sering kulakukan selama aku di Surabaya. Tapi tingkat kenyamanannya itu loh, sangat rendah. Wong mengetik sms agak panjang aja diriku sudah mengalami kram jempol. Apalagi kalo mesti mengetik postingan. Alamak!

Selama di Surabaya aku dan suami menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi. Dan dikarenakan seringnya kami menjumpai lampu lalu-lintas di jalanan, aku mengamati hal-hal yang terjadi. (Secara, lampu merahnya lama banget. Huh!).

Dari pengamatanku terlihat bahwa kaidah-kaidah (hah?? kaidah??) yang berlaku di seputaran lampu lalu-lintas sudah agak rancu. Para pengendara sepeda motor biasanya nangkring setelah garis batas zebra cross untuk menunggu lampu hijau menyala. Tapi tunggu dulu... Bukannya mereka gak bisa liat tuh lampu menyala, secara mereka ada beberapa meter di depan traffic light.

"Gimana mereka bisa tau kalo lampu hijaunya nyala?", tanyaku pada suami.

"Kalo ada yang nglakson dari belakang artinya sudah lampu hijau"

Nah, kalo ada yang tingkat keisengannya cukup tinggi lalu membunyikan klakson sebelum lampu hijau menyala, bagaimana?

Newer Posts Older Posts Home