Blogger Template by Blogcrowds.

Showing posts with label friendship. Show all posts
Showing posts with label friendship. Show all posts


Dear God,

Hari ini aku sedih.
Beberapa sahabat mengalami
saat-saat terberat mereka belakangan ini.

Ada yang karena terlalu beratnya, sebelum kata-kata keluar dari mulutnya,
air mata yang lebih dulu meluncur dari matanya.

Namun tanpa perlu tahu apa masalahnya, aku bisa merasakan kesedihannya.

Kuatkan mereka ya Tuhan.

Amin.

divorce

'Sebenarnya aku lagi ada masalah besar."

...

'Kalian pasti gak tau kan?'

...

'Aku lagi ngurus perceraianku.'

Begitulah kalimat-kalimat yang keluar dari mulut seorang rekan kerjaku tanpa ada keinginan untuk kuinterupsi.

'Kenapa?', tanyaku.

Lalu dia menjelaskan dengan singkat dan jelas bahwa yang menjadi alasan utama adalah perbedaan prinsip dan pola pikir. Bagiku yang menjadikan infotainment sebagai tontonan yang menyenangkan (silakan ditertawakan ;-P), entah kenapa alasan tersebut tidak terdengar klise. Aku malah bisa memahami. Dan rasanya aku juga tak berhak untuk bertanya lebih detail lagi tentang sejauh mana perbedaan prinsip dan pola pikir itu.

Aku bukan orang yang menyenangi perceraian. Apalagi Nabi Besar yang kuikuti ajaran-Nya pun mengatakan bahwa perceraian hanya diperbolehkan apabila terjadi perzinahan. Tapi bukannya aku tak bisa menerimanya bila alasan yang diberikan masuk akal. Terutama ketika sang teman mengatakan bahwa sang suami beberapa kali melakukan kekerasan fisik yang dapat kupastikan disertai dengan kekerasan psikis pula.

Aku sama sekali tak menyarankannya untuk tidak bercerai. Bahkan ketika teman-teman yang lain sangat menyayangkan bila hal itu terjadi.

'Kan kasihan anaknya.", kata seorang teman.

Lalu akhirnya aku pun bersuara.

Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk tidak bercerai. Alasan untuk bersama harusnya adalah karena suami tak bisa hidup tanpa istri dan begitu pula sebaliknya. Bukankah (sebagian besar) orang menikah bukan karena anak, tapi karena keinginan kedua belah pihak? Dan harusnya alasan yang sama yang tetap menyatukan mereka.

Dan mungkin yang membuat teman-temanku cukup tercengang ketika aku mengeluarkan pernyataan ini:

'Kalo aku ditanya siapa yang bakal ku dahulukan? Suami atau anak? Aku bakal pilih suami.'

Bukan pemikiran yang lazim memang.

Tapi bagaimana aku bisa jadi ibu yang baik kalau aku tidak bisa jadi istri yang baik? Bagiku suami tetap menduduki peringkat pertama. Karena dengannyalah aku berkomitmen untuk membentuk sebuah rumah tangga yang kami jalani sekarang. Bila aku menghargai dan menghormati suamiku, maka anak-anakku dapat melihat bagaimana sebuah relasi yang baik dan melakukan hal yang serupa pula ketika mereka berelasi dengan orang lain.

Dilihat dari kening-kening yang bertaut sepertinya teman-temanku tak seberapa setuju. Tapi ah, aku kan tak bisa mengontrol pikiran mereka :-)

short stories

Di kantor, berbincang dengan beberapa teman.

Teman : "Aku kok pengen nambah anak lagi ya? Soalnya anakku suka ngomong sendiri."
Aku : "............"

Mungkin karena temanku mengatakan hal itu dengan nuansa menerawang, sehingga bagian yang bercetak tebal itu terdengar ehm.... mengkhawatirkan.

********

Meja makan, ketika sedang makan malam.

Tiba-tiba.

Papah : "Coba perhatikan. Aku bisa bikin sendok ini jadi bengkok." *sambil menggoyang-goyangkan sendok ala pesulap berambut separo itu*

Hhhh... terkadang si Papah suka AJAIB.

********

Jum'at malam, menonton pemilihan Miss Indonesia di RCTI.

Baju putih yang dipakai Indah Pelapory sangat indah. Sesuai dengan imajinasiku akan baju putri-putri dalam dongeng. Namun, yang agak mengganggu adalah ketika Indah mulai berbicara. Nada bicaranya tinggi sekali. Wah, kalo jadi penyanyi pasti Mariah Carey kalah tuh ;-)

Keanehan kedua.

Aku lupa finalis dari provinsi mana, tapi yang pasti wanita ini masuk 10 besar. Ketika diberikan pertanyaan yang bunyinya kira-kira seperti ini:

"Siapakah sosok yang paling menginspirasi Anda dan mengapa?"

Dan jawabannya adalah... jeng.. jeng.. jeng.. jeng..

"Sosok yang paling memberikan inspirasi adalah ibu. Karena ibu selalu memberikan motivasi dan inspirasi."

????????

Jawaban yang bersifat rekursif.


Kemaren sore aku jalan-jalan bareng teman wanitaku (maksudnya seorang teman yang berjenis kelamin wanita. ah, dirimu tau lah yang kumaksudkan :-P). Ketika sedang menikmati es teler, entah kenapa kami bisa sampai ke topik pembicaraan yang satu ini. BRA. Ya, bra.

Lalu kami bercerita tentang bra yang nyaman dipakai dan yang tidak. Dan biasanya berpengaruh juga pada harganya. Serta menceritakan reaksi pasangan masing-masing ketika mengetahui ternyata harga bra tidak semurah yang mereka kira. Ehm, ada sih yang harganya sangat terjangkau. Tapi biasanya disertai dengan kemungkinan 'aset berharga' tersebut lecet-lecet terkena kawat penyangga yang menyembul dengan seenaknya. (Dan ini juga dari hasil pengalaman pribadi ketika ingin menghemat pengeluaran belanja bra ;-P)

Temanku kemudian bercerita kalo dia menemukan sebuah ungkapan menarik yang ada sangkut pautnya dengan bra. Dan ketika aku mendengarkannya, saat itu pula aku memutuskan untuk menjadikannya favoritku juga.

Friends are like bras:
close to your heart and there for support


Hahaha! Kena banget deh ;-)


Kemaren seorang teman meneleponku untuk mengajakku makan. Aku tak bisa mengklasifikasikan ajakan 'makan' berdasarkan pembagian waktu yang biasanya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sarapan? Rasanya sudah terlalu siang. Makan siang? Terlalu pagi. Ehm.. tak penting. Yang pasti kami berdua pergi makan bareng.

Lalu dia memintaku untuk menemaninya ke bengkel untuk melakukan 'check-up' terhadap mobilnya. Dan karena masih ada cukup waktu sebelum kami kembali bekerja, selepas dari bengkel kami pun memutuskan untuk singgah di KFC.

Karena masih kenyang dan terbayang-bayang raut kenikmatan keponakanku waktu menikmati lychee float, akhirnya aku memesan minuman itu. Temanku pun jadi ikut-ikutan. Bedanya dia pesan lychee soda (plus chicken fillet!).

Roman kami berubah menjadi heran ketika pesanan kami siap. Apa sebab? Lychee float-ku warnanya hijau dan lychee soda-nya berwarna hijau kekuningan. Seketika itu kami langsung saling menatap.

"Warnanya kok beda ya? Padahal kan sama-sama lychee?"

"Iya, bedanya kan cuma punyaku pake es krim trus punyamu pake soda. Harusnya gak ada pengaruhnya dengan warna kan?"

Lalu terciptalah percakapan tidak penting antara aku (P a.k.a Piyek), temanku (TP a.k.a Teman Piyek), dan mbak-mbak KFC (MK).

TP : "Mbak, emangnya apa bedanya dua minuman ini?"
MK : "Beda mbak. Yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *roll my eyes* "Iya, tapi bedanya apa?"
MK : "Yang ini pake es krim, trus yang satunya tambah soda."
TP : "Iya tau mbak. Maksudnya, kenapa jadi keliatan beda?"
MK : *mulai bingung sambil menatap aku dan temanku bergantian*
TP : "Kok yang ini warnanya hijau trus yang ini warnanya kuning."
MK : "Soalnya yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *halah!* "Ini sama-sama lychee kan?"
MK : "Iya"
P : "Trus kenapa warnanya beda? Padahal dua-duanya kan lychee. Cuma beda es krim sama soda aja."
MK : "Soalnya yang Lychee Soda dikasih orange juice mbak, makanya warnanya agak kuning."
P + TP : *dengan wajah lega* "Oooooo..."

Mbak-mbak yang ngantri di samping kami pun ikut-ikutan tertawa. Ternyata dia nguping dari tadi.


Sekitar 2 minggu yang lalu aku membaca Rectoverso. Seorang teman melontarkan pernyataan (yang kurang lebih intinya): 'Ku tunggu reviewnya'. Seketika itu juga aku menolak untuk memberi review karena merasa kapabilitas yang minim untuk mengobok-obok karya paling mutakhir dari seorang Dewi Lestari. Dan berikut ini bukan review, hanya cerita perjalananku bersama Rectoverso.

Aku meluangkan waktu (seluang-luangnya) ketika membaca Rectoverso. Menyelesaikan semua kegiatan, men-silent hp, kemudian berbaring dengan santai. Menenggelamkan diri dalam kesunyian. Hening.

Lembar demi lembar itu memaksaku untuk terus membaca. Seperti tak rela membiarkanku berpaling dari pesona keindahan aksara yang tertera di atasnya.

Cerita yang disuguhkan sepertinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan ketika aku membacanya, yang terlintas di pikiranku adalah 'ini kok mirip ceritaku ya..', 'ih, kayak ceritanya si anu', 'cerita ini si anu banget deh', danseterusnyadanseterusnya.

Contohnya 'Hanya Isyarat' yang sangat kuingat sebagai 'Cinta Punggung Ayam'. Bercerita tentang cinta yang tak berani diungkapkan. Padahal orang itu begitu dekat, begitu nyata (mmm.. kok terdengar seperti jargon operator telepon selular ya.. tak ada maksud menjiplak.. sungguhsuersumpah).

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, atau hujan.

Sedih. Karena aku pernah mengalami hal yang sama. Lebih tepatnya: mirip. Konon, waktu SMA. Jatuh cinta pada orang yang begitu dekat, begitu nyata (aduh.. kok pake term ini lagi sih?). Begitu mudah disapa, digapai, dijamah, atau diboncengi pake sepeda motor. Tapi entah kenapa dia meletakkan hatinya di tempat yang jauh. Tak dapat disapa, tak tergapai, tak mampu dijamah, bahkan bila harus mbonceng pake sepeda motor sekalipun. (sigh).

Kemudian ada 'Malaikat Juga Tahu' yang bercerita tentang cinta-setengah-mati seorang pria. Sayangnya si wanita menganggapnya hanya sebagai rekanan yang sangat setia. Selalu siap pakai kapan pun dibutuhkan. Walaupun cerita yang persis sama seperti ini akan jarang sekali kita temui pada kehidupan sehari-hari, tapi secara garis besar cerita seperti ini banyak beredar di jagat nyata. Memilukan. Mencelikkan mata. Membuatku nyaris menangis.

Karena tak kau lihat terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Aku percaya, every song has its own story. Every written story has its own song. Unik untuk tiap cerita. Spesial untuk tiap lagu. Cerita itu dapat tersurat pada syair lagu, dapat pula tersirat pada deretan not yang membentuk nada lagu tersebut. Lagu dan cerita dibaliknya bagaikan belahan jiwa. Soulmate.

Dan pada Rectoverso kedua belahan jiwa tersebut akhirnya dipertemukan. Utuh. Komplit.

Having you close to my heart as I say a little grace
I'm thankful for this moment...
...
If everything has been written down, so why worry we say
It's you and me with a little left of sanity
...

*semua kutipan diambil dari sini



Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang memintaku untuk membuat postingan tentang tips berenang. Dari pembicaraan melalui sms, ku ketahui ternyata dirinya tak begitu pandai berenang. (Setelah ini, aku siap-siap kabur.. :P)

Sebelum memulai tips, seperti sebagian (aku tak menambahkan kata 'besar' atau 'kecil' loh ya...) orang Indonesia yang terbiasa untuk berbicara ngalor-ngidul sebelum menuju topik utama, maka aku pun ingin bercerita tentang pengalamanku belajar berenang.

Waktu kecil aku divonis kena 'firasat' dimakan buaya. Mengerikan ya.. Indikasinya adalah: urat hijau yang melintang di antara dua mataku. Menurut cerita Papah, diadakanlah ritual untuk membuang sial (atas desakan keluarga besar). Rasanya itu dilakukan waktu aku masih kecil sekali, karena sekarang aku tidak punya ingatan tentang hal itu. Secuil pun tidak.

Oleh karena itu, di antara sepupu2 dari pihak Papah, hanya aku yang gak bisa berenang. Mungkin keluargaku takut aku disambar buaya kalo berenang di sungai. Yang paling sering kulakukan adalah menonton sepupu2ku berenang2 di sungai sambil sesekali diolok2 karena tidak bisa berenang.

Entah ini ada hubungannya atau tidak dengan 'firasat' dimakan buaya tadi, aku juga menjadi pemegang rekor sering tenggelam di antara sepupu2ku. Entah itu karena kebodohanku yang menganggap bahwa semua orang bisa serta merta mengapung ketika menceburkan diri ke sungai, jatuh waktu menyeberang jembatan (yang panjangnya hanya 3 meter), terlalu bersemangat berteriak ke sepupuku yang memetik buah di seberang sungai sampai2 terpeleset dan jatuh ke sungai, atau karena nekat belajar berenang di sungai sendirian. Rekor itu pula lah yang bikin aku sempat trauma untuk belajar berenang.

Di akhir SMA, sekolahku menetapkan renang sebagai olahraga yang wajib dipelajari. Dan sialnya, nilai kelulusan untuk mata pelajaran Penjaskes ditentukan dari nilai kelas renang tersebut. Aku yang tadinya takut belajar berenang akhirnya mau tidak mau harus bisa berenang. Rasa takut dapat nilai jelek mengalahkan rasa takut berenang.

Untungnya di akhir caturwulan aku bisa berenang juga. Walaupun berenangnya hanya berbekal satu tarikan napas. Jadi kalo napas sudah megap-megap, aku mesti berdiri (itulah sebabnya aku pilih kolam untuk anak kecil kala itu) dan mengambil napas untuk bekal menempuh jarak berikutnya. Hahaha!

Aku menyempurnakan kemahiran berenangku (apaan sih...) ketika kuliah. Kebetulan tak jauh dari kostku (menurut standard jauh-dekat di Surabaya) ada kompleks perumahan yang memiliki fasilitas kolam renang. Dan hampir tiap minggu aku dan teman2ku menyempatkan diri berenang di sana. Hingga akhirnya skill berenangku mengalami perkembangan yang signifikan (apaan sih..). Rekor renang terbaikku: mengelilingi kolam renang itu sebanyak 15 kali. Yah.. walaupun ukuran kolam renangnya tak seberapa besar. Hehehe...

Oke, balik ke topik..

Tips renangku ini mungkin bukan yang terbaik, tapi sudah pernah ku uji coba pada dua orang temanku yang sama sekali belum bisa berenang. Dan hasilnya, mereka berdua langsung bisa berenang pada pertemuan pertama (dengan catatan: renang dengan satu tarikan napas :P). Alangkah lebih baik jika menggunakan kaca mata renang. Lebih nyaman.

Lesson #1: Membenamkan kepala ke dalam air

Tarik napas dalam-dalam. Lalu benamkan badan ke dalam air dan buang napas di dalam air. Kalo napasnya sudah habis jangan lupa untuk kembali ke permukaan (hehehehe..). Lakukan sebanyak 5 kali. Ini dimaksudkan agar kita terbiasa dengan air, supaya gak 'cegek'.

Lesson #2: Mengapung

Ini hal yang paling gampang dari pelajarang berenang. Apa sebab? Coba benamkan kepala ke air sampai batas telinga, lalu angkatlah kaki. Dengan serta merta kita akan mengapung. Percayalah. Kalo sudah berhasil mengapung, biarkan badan mengambang di permukaan air untuk beberapa saat. Ini untuk membiasakan diri dengan sensasi yang terjadi ketika berat tubuh ditahan oleh air. Disarankan juga untuk melakukannya beberapa kali sebelum melangkah ke pelajaran berikutnya.

Lesson #3: Kaki

Ketika sudah bisa mengapung, kita pasti tidak ingin ngambang di tempat aja kan? Oleh karena itu, ketika sudah mahir mengapung, gerakkanlah kedua kaki untuk mendorong maju. Tapi perlu di ingat, betis dan paha harus selalu sejajar selama kaki digerakkan.

Lesson #4: Tangan

Lima jari harus rapat karena tangan dianalogikan sebagai dayung selama berenang. Ketika mengayunkan tangan ke dalam air, usahakan lengan membentuk setengah lingkaran. Kemudian pada saat di dalam air, gerakkan tangan membentuk sudut 180 derajat. Ketika lengan sudah menyentuh permukaan air, tarik dan ulangi lagi dari awal. (Maaf, penjelasannya acak-adut. Mudah2an bisa mengerti). Catatan: sebaiknya gerakan tangan dipelajari setelah mahir melakukan gerakan kaki.

Lesson #5: Mengambil napas

Biasanya materi ini kuberikan pada pertemuan kedua karena sedikit rumit. Perlu diketahui, arah mengambil napas harus selalu sama. Konstan. Bila ke arah kiri, selalu ke kiri. Bila ke arah kanan, selalu ke kanan. Di sini ku contohkan cara mengambil napas ke arah kanan (menurut kebiasaanku, supaya gampang membayangkannya :P). Ketika tangan kiri yang sedang berada di dalam air membentuk sudut 90 derajat terhadap tubuh, angkatlah sedikit tubuh bagian atas dan miringkan kepala ke arah kanan. Kemudian bernapaslah dengan mulut. Kenapa? Karena dengan waktu yang singkat kita harus mengambil napas secara maksimal. Rasanya dua lubang hidup yang kecil itu masih belum bisa mengalahkan kemampuan satu (lubang) mulut yang besar itu bukan? Hahahaha! Ini juga untuk mencegah resiko yang terjadi jika hidung kemasukan air.

Demikianlah pelajaran berenang bersama Piyek. Semoga bisa bermanfaat dan berguna bagi kemajuan hidup kita bersama(garing.. garing..)


Berikut adalah percakapanku dengan seorang teman yang baru aja diputusin pacarnya beberapa minggu yang lalu. Rupanya agak sulit baginya untuk memulihkan hati, dan sekarang teman yang lain sedang berusaha menjodohkannya dengan seorang wanita.

"Sekarang aku baru nyadar. Kalo ternyata 'makanan' yang enak bukan cuma ayam. Masih ada sapi, kambing, kepiting... Mataku baru aja terbuka.", katanya di ujung telepon.

Mendengar itu, aku lalu berkata, "Bener katamu. Tapi tetap harus hati-hati. Karena banyak makanan enak yang mengandung kolesterol yang tinggi."

Hmmm.. Terkadang orang bisa 'kalap' setelah menderita patah hati yang teramat sangat.

berkunjung

SMS

sender: +628563065xxx
date: 26.09.2008
text:
Haiiiii..


Sebuah pesan singkat mampir ke inbox HP ku beberapa waktu yang lalu. Waktu saat itu kira-kira menunjukkan pukul 2 dinihari. Waktu yang tidak biasa untuk menghubungi seseorang kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.

Pesan ini datangnya dari seorang sahabat, Pastini. Mantan teman kost semasa kuliah dulu. Dan sejak 3 bulan sebelum dirinya melahirkan anak pertamanya, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Singaraja - Bali.

Sebuah 'buzz' yang singkat dan jelas. Singkat karena, kalau mau meluangkan sedikit waktu, hanya berisi 9 karakter. Dan jelas, karena untuk ukuran seorang Pastini yang paling anti menggunakan kalimat yang berbunga-bunga atau berbusa-busa atau berbuih-buih atau apalah namanya. Pesan ini dengan JELAS menyampaikan bahwa dia sedang kangen.

Kalau boleh, aku ingin bercerita sedikit *emmm.. mungkin kepanjangan kalo aku agak lupa diri* tentang Pastini, temanku ini.

Pastini adalah asli orang Bali. Lahir dengan embel-embel Ida Ayu di bagian depan namanya, yang kita ketahui bersama bahwa hal itu menandakan bahwa dirinya berada pada urutan tertinggi kasta yang berlaku di Bali. Dan bukan cuma itu, keluarganya pun tergolong keluarga yang terpandang di Singaraja.

Dari semua anak kost, Pastini lah yang kondisi keuangannya selalu 'aman'. Tidak seperti kami yang selalu cekak kalo sudah sampai akhir bulan. Hahaha.. Dan cuma dia seorang yang di antara kami se-kost yang mampu membeli 2 kemeja Lee Cooper sekaligus. Yaa... untuk ukuran anak kost seperti kami, bisa membeli 1 kemeja Lee Cooper aja kayaknya berkah yang patut disyukuri *apa sih...*

Namun, sebuah langkah yang sangat besar diambilnya ketika dia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan langkah yang terlampau besar menurutku. Karena hanya dengan sekali langkah itu saja, Pastini harus meninggalkan status sosial serta keamanan finansialnya. Ya, dia memutuskan untuk menikah dengan kekasih semasa SMA-nya yang berkasta rendah.

Orang tuanya sudah pasti tidak merestui. Mereka pun berusaha untuk menjodohkan Pastini dengan pria yang berstatus sosial yang sama. Dan puncaknya adalah ketika Pastini yang kala itu bekerja di Surabaya, akan 'ditarik' orang tuanya kembali ke Bali. Pastini dan (kala itu masih) suaminya memutuskan untuk menikah secara adat.

Singkat cerita, orang tua Pastini sekarang sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Dan puji Tuhan, mereka sudah bisa merestui. Walaupun sampai saat ini Pastini masih belum diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya (dikarenakan adat yang berlaku), tapi mereka masih bisa bertemu di tempat lain.

Nah, dari cerita singkat (yang agak kepanjangan) tentang Pastini itu, aku bisa merasakan 'kesepian' yang dialaminya. Jauh dari orang tuanya, ade2nya, serta teman terdekatnya.

Kuakui, sudah beberapa lama aku tidak menghubunginya. Terakhir kali aku menelponnya adalah ketika dia melahirkan anaknya (it's a boy :D), which is 2 months ago. Cukup lama bukan? Dan pesannya yang (amat) singkat ini seolah mem-'buzz' diriku.

Kemudian aku membalas pesannya, setelah aku benar2 tersadar dari tidur tentunya :) Tidak banyak yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami hanya mengirimkan 2 buah pesan singkat. Karena memang Pastini bukan orang yang suka bicara panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membahagiakanku dan (kuharap) dirinya juga :)


Salad Buah In Action

Dan ternyata pesan (amat) singkat itu menyadarkanku kalo ada beberapa kerabat dan teman-teman yang sudah sekian lama tidak pernah kukunjungi. Bahkan ada yang sudah setahun tidak pernah bertemu muka. Mudah2an postingan ini tidak membuat yang membacanya kapok berteman denganku. Hehehe..

Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan teman dekat yang sudah kuanggap saudara. Tapi rasanya ada yang kurang kalo aku gak membawa buah tangan dalam kunjunganku itu. Ya.. sekaligus sebagai permintaan maaf terselubung karena sudah lama (sekali) tidak mengunjungi mereka :)

Ku putuskan untuk bikin salad buah. Ada 2 alasan. Pertama, karena bahan-bahan dressing salad masih banyak di kulkas. Kedua, karena biasanya salad buahku cukup berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyenangkan hati orang yang memakannya *tsah*. Tinggal beli buah-buahan segar dan kalengan untuk melengkapinya.

Pada hari pertama liburan Lebaran, aku pun beraksi *apa sih...*

Dan terjadilah insiden memilukan itu *hiperbola mode on*. Jempolku luka kena pinggiran kaleng susu kental manis. Biasanya sih aku minta tolong Papah untuk membuka kaleng susu kental manis, tapi pada waktu itu si pria serba bisa itu lagi gak ada di rumah. Dan voila... tanganku luka karena keahlian membuka kaleng yang sangat minim.

Terpaksa mesti membangunkan Mamah yang lagi tidur siang untuk bantuin membebat tanganku pake kain karena darahnya gak mau berhenti. Mamah pun bangun dengan kaget: kaget karena bangun siang secara mendadak (sori, gak bisa menemukan kata yang lebih tepat) dan kaget karena lihat tanganku yang berdarah.



Kegiatan pun terhenti beberapa saat.

Untungnya Mamah merelakan jam tidur siangnya untuk membantuku. Kasian liat kerjaanku banyak yang belum kelar. Kuning telur belum dipisahin dari putihnya, buah-buahan sama agar-agar belum dipotong, dressing salah belum dibuat, ditambah lagi loyang-loyang berserakan minta dicucui. Thanks a bunch Mom :)

Dan voila... salad buah pun siap :D






Destination #1

Tujuan berkunjungku yang pertama adalah: rumah tambi (nenek dalam bahasa Dayak -red). Bukan nenek kandungku, tapi suaminya adalah ade kandung dari kakekku *mbulet ya.. :D*. Dan kunjungan itu ku pas2kan supaya aku tiba di rumahnya menjelang berbuka puasa. Oya, FYI, my Grand Dad (from my mother's side) was a Moslem.

Next...

Sudah lama sekali aku gak berkunjung kesana. Emmm.. rasanya terakhir kali aku kesana pas Lebaran tahun lalu. Bahkan pada saat anaknya rawat inap di rumah sakit pun aku gak sempat menjenguk. Hhhh.. benar-benar cucu yang durhaka. Padahal dulu, aku termasuk orang yang paling sering berkunjung ke rumah tambiku yang satu ini. Apalagi kalo bulan puasa. Aku cukup sering mengantarkan makanan *biasanya beli, gak bikin :P* untuk berbuka puasa.

Pas tiba di rumahnya, para penghuni rumah itu cukup kaget melihat kedatanganku. Mungkin karena saking lamanya aku gak pernah mampir. Orang-orang rumah pada melongo melihatku di depan pintu dengan sapaan khas-ku: "TAMBIIIIII...". Cukup keras untuk bisa didengar orang-orang satu rumah. Hehehehe...

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami pun mengobrol di teras depan rumah. Saling bertukar kabar terbaru, berbicara tentang kondisi terakhir om yang baru aja kembali setelah rawat inap, dan masih banyak lagi.

Rasanya sangat menyenangkan.

Ketika hampir maghrib, aku pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.


Destination #2

Kunjungan berikutnya adalah rumah seorang teman baik yang sudah kuanggap seperti saudara, Febi. Sebenarnya tujuanku berkunjung adalah untuk menengok ibunya Febi, karena biasanya jam segitu si Febi belum pulang ngantor.

Sejak ayahnya Febi meninggal, aku beberapa kali meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya. Baik itu mengantarkan makanan atau sekadar menemaninya mengobrol. Tapi hampir setahun belakangan ini, aku absen dari kegiatan itu.

Ketika aku tiba di rumahnya, ternyata Febi yang membukakan pintu. Loh kok sudah pulang kerja? Tumben. Setelah diusut, ternyata jam kerjanya lebih pendek karena saat itu adalah bulan puasa. Ooooo...

Si Tante pun sama terkejutnya dengan tambi yang kukunjungi sebelumnya. Mungkin ini reaksi standar yang diperoleh kalo sudah lama tidak berkunjung. Hhhhh...

Setelah pulih dari keterkejutannya *apaan sih..*, si Tante pun mengajakku untuk makan malam bersama karena kebetulan mereka lagi makan malam. Aku yang merasa sungkan untuk menolak (ditambah lagi kondisi perut yang lumayan lapar, hahaha..) akhirnya menerima ajakan itu. Dan kemudian gantian aku yang kaget. Karena di meja makan sudah ada pacarnya Febi juga. Ups..

FYI, pacarnya Febi yang sebelumnya sangat tidak menyukaiku. Gak tau kenapa. Mungkin dipikirannya aku adalah wanita yang memiliki potensi sangat besar untuk merebut Febi dari sisinya (halah! still can't find the right words :P). Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu. Impas.

Tapi aku memutuskan untuk menyukai pacar Febi yang satu ini. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah tatapan ramahnya terhadapku. Dan kami berempat (Febi, ibunya, pacarnya, dan temannya-aku) pun makan sambil bertukar kabar.

Menyenangkan (lagi).


Epilog


Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahagia sekali. Segala sesuatunya terasa lebih ringan. Betapa perhatian kecil yang kuberikan ke orang-orang terdekat dapat berbalik arah kembali dengan bentuk yang berbeda. Dan dampaknya terhadapku ternyata sangat besar.

Sepertinya aku harus merencanakan kunjungan berikutnya. Kali ini bikin apa ya?

cerita lucu

Barusan ada rapat awal semester. Setelah rapat, beberapa dari kami masih ngumpul2 di ruang rapat dan ngobrol2 *upss... jangan bilang2 ya*.

Trus ada teman, sebut aja namanya Reza, yang cerita pengalamannya waktu kuliah di Jogja. Semua ceritanya lucu, tapi cerita yang satu ini merupakan favoritku.

Suatu hari Reza pergi main bola sama temen2nya. Hari itu dia kebagian jadi kiper. Entah mungkin karena minim pengalaman sebagai kiper, di tengah2 pertandingan tangannya keseleo. Lalu dengan diantar seorang temannya, sebut saja namanya Riri, Reza pun pergi ke tukang pijat.

Pas lagi dipijat, Reza bingung kok yang dipijat tangan yang kiri padahal yang keseleo adalah tangan kanannya. Tapi dia diam aja. Mungkin si Mbah lagi mempratekkan cara pijat paling mutakhir.

"Mas kok tahan ya? Biasanya kalo dipijat pada kesakitan. Sampe ada yang nangis2, bahkan mau pingsan", kata si Mbah sambil kebingungan.

"Soalnya kan yang Mbah pijat tangan yang kiri. Lha yang sakit kan tangan yang kanan".

"Loh, sampeyan kok mboten sanjang Mas..." *bener gak sih tulisannya nih? :P*

Lalu si Mbah pun memijat tangan kanan Reza. Dan beneran, sakitnya bukan kepalang *menjalar2 kian kemari... hehehe*

Setelah selesai dipijat, si Mbah pun pergi ke dapur dan kembali dengan membawa sebuah baskom. "Wah, si Mbah pasti mengeluarkan jampi2nya", pikir Reza.

"Mas, tangannya direndam di baskom ya.."

Lalu Reza pun merendam tangannya di baskom itu. Hal paling pertama yang terlintas di benak Reza adalah : Kok panas banget airnya? Tapi sekali lagi, Reza beranggapan mungkin ini prosedur yang seharusnya. Mau gimana lagi, rasa panas itu mesti ditahan.

"Masih sakit ya Mas? Memang begitu, tapi nanti agak enakan kok."

"Tangannya sih sudah enakan Mbah, tapi saya ini lagi nahan panas. Airnya panas banget Mbah."

Lalu Mbah pun mencelupkan jarinya ke dalam baskom air itu.

"Wah, kalo ini sih panas banget Mas. Sampeyan kok mboten sanjang. Sebentar ya..."

Si mbah kemudian memasukkan air yang lebih dingin serta garam ke dalam baskom itu.

"Nah, ini lebih enakan Mbah..." *napas lega*

Setelah acara rendam merendam itu selesai, si Mbah pun membubuhi parutan kunyit di tangan Reza yang keseleo dan membebatnya dengan kain. Lalu Reza membayar jasa si Mbah dan pergi bersama Riri.

Di perjalanan, Riri mengingatkan Reza kalo mereka mesti ke suatu tempat *aku lupa ke mana gitu...*. Selama di perjalanan, Reza melihat ada yang aneh dengan tali yang mengikat bebatan tangannya itu.

"Ri, rasanya ada yang aneh deh dengan talinya ini. Kayak tali beha." *sambil memperlihatkan tangannya ke Riri*

"Hahahaha... itu kan emang tali beha Za. Tuh ada kaitannya. HAHAHAHA...."

Karena malu, akhirnya Reza pun melepas bebatan tangannya. Biarlah tangan gak bisa sembuh dengan cepat, pikirnya. Urusan di tempat tujuan selesai, dan Reza dan Riri pun kembali ke kost2an. Sampe di kost, Reza baru nyadar kalo kunci kamarnya gak ada. Lalu dia merunut kejadian yang sudah dialaminya untuk mengingat-ingat tempat terakhir kali dia mengeluarkan kunci kamarnya. Lalu memori membawanya ke rumah si Mbah tukang pijat.

"Wah, kita mesti balik lagi ke rumah Mbah tukang pijat yang tadi."

Dan seperti tersadar akan sesuatu... Reza pun melihat tangan kanannya.

"Waduh, lilitannya sudah ku copot. Pasti nanti dimarahin sama si Mbah. Tapi talinya sudah dibuang."

Akhirnya Reza dan Riri terpaksa harus kembali ke tempat mereka membuang tali beha itu. Dan mesti nyari2 dengan susah payah , karena hari sudah mulai gelap.

Dan setelah hari itu, kalo diajak main bola lagi, Reza selalu menolak posisi sebagai kiper.

NB: Semua percakapan antara Reza, Riri, dan si Mbah dilakukan dengan bahasa Jawa.



Kenapa kutambahin ++ setelah kata sebuah? Karena ada 2 buah nama yang akan kubahas dipostingan kali ini

Piyek
Nama 'Piyek' dipopulerkan dipertengahan tahun 2002. Waktu itu ada lomba paduan suara mahasiswa di Kupang. Kejadian sih gak sengaja, bahkan lebih tepatnya kecipratan apes.

Salah satu temen deketku * yang waktu itu masih belum seberapa deket*, di make up sama Miss Cosmo a.k.a Kak Lia. Trus KL *alias Kak Lia* bilang: "Kon lucu yo... Kaya Panda". Sejak itu sampe sekarang, temenku yang nama aslinya Silvia itu dipanggil Panda sama anak2 PS *paduan suara-red*. Bahkan sekarang banyak temen2 yang lupa atau bahkan gak tau kalo nama aslinya. Hahaha... Sakno kon Pan...

Tak terima dirinya aja yang diberi nama panggilan yang tak mengenakkan *tapi sekarang dia udah pasrah kok*, si Panda pun mencari teman. Akhirnya aku yang kena sasaran. Dan ketemu lah nama panggilan yang cocok sama aku, PIYEK. Kenapa dinamain Piyek? Karena aku takut sama ayam. Silakanlah tertawa sepuasnya dulu, karena emang aku takut banget sama ayam.

Dan akhirnya sampe sekarang sebagian anak2 PS, terutama yang deket sama aku, manggil aku Piyek. Tapi untungnya ada beberapa yang masih dengan baik hati mengingat nama asliku dan tetap memanggilku dengan nama pemberian orang tuaku itu. Thanks guys... :)

Tentang ketakutanku sama ayam, ada satu cerita lucu yang kalo diingat2 bisa bikin malu juga. Pas SMA, entah kenapa banyak ayam keleleran di halaman sekolah. Pernah satu hari, aku pengen ke WC dan dari jauh aku sudah liat ada sepasang ayam lagi bersantai di bawah pohon deket WC sekolah. Aku sudah ambil ancang2 dan mem-planningkan rute yang akan ku ambil supaya gak perlu deket2 dengan 2 makhluk menyebalkan itu.

Entah kenapa, tiba2 ayam jago kejar2an sama ayam betina. Kayaknya si jago lagi kebelet sama si betina, tapi si betina lagi ogah. Gak tau apa si betina lagi marahan sama si jago, lagi malas aja, atau lagi datang bulan. Pas kejar2an itu lagi seru-serunya, kayaknya si betina yang melihatku mendekat mencari suaka. Tiba2 si betina sudah berlari ke arahku. Kontan aja aku lari sekencang2nya sambil teriak2. Eh bukannya menjauh, si betina malah semakin ngotot lari ke arahku, dan si jago gak kalah ngototnya ngejar si betina. Akhirnya terjadilah aksi kejar2an, di mana aku, si betina, dan si jago yang menjadi peran utamanya.

Setelah 3 putaran mengelilingi pohon, dengan paniknya aku langsung masuk WC dan kunci pintunya. Sampe temen2 yang lagi ada di WC kaget plus heran. Aku cuma bisa bilang: "Gak papa.. Gak papa..." dengan muka yang kuyakini pucat banget.

cutedv
Ini nick ku waktu masih keranjingan chatting di mIRC. Idenya gak muncul gitu aja sih. Nama ini terinsipirasi dari seseorang yang dulu pernah deket (cieeee...). Dia dulu suka manggil aku MiniDV, disebabkan bentuk tubuhku yang mungil *FYI, sekarang sudah gak mungil lagi :D*. Olehku, nama itu kuplesetkan lagi jadi CuteDV *sekarang masih tetep cute kok. Hahahahaa...*


Adegan ini diambil waktu aku terburu-buru di swalayan karena:
1. Sudah jam 10, sedangkan jam 10.30 aku mesti ngajar

2. Mesti beli wafer untuk hadiah game murid2ku

3. Aku baru ingat kalo buku untuk ngajar ketinggalan di rumah
4. Dan aku mesti mengantarkan surat dulu ke rumah pacarku.


Lanjut...


Setengah berlari sambil ngos2an, lengkap dengan atributku: jaket, sarung tangan, ransel, tas tangan. Masuk ke dalam swalayan, fokus dengan tujuan: rak makanan.
Temanku : "Hai..."

Aku : *menoleh sekilas ke asal suara* "Hai..."

Temanku : "Kok sombong sih?"

Aku : *masih ngos2an, menjawab dengan suara yang kecil* "Sori. Buru2"


Lalu aku ke bagian makanan, ngambil wafer Tango trus ke kasir. Di sana aku ketemu dengan temanku yang tadi.

Temanku: "Halo... Kamu kok sombong sih?" *memandangiku dari atas ke bawah* "Kamu tambah gendut ya?"

Aku : "Sori, aku buru2. Bentar lagi mau ngajar. Bukuku ketinggalan."

Temanku : "Oooo.. kamu ngajar? Di mana?"

Aku : *OMG, no time for basa-basi* "Di X (suatu institusi pendidikan). Sori aku buru2. Bukuku ketinggalan."

Temanku : *raut muka kecewa* "Ya udah deh..."

Kemudian dia berlalu.

Stop. Coba kita ulang lagi adegan itu.
Ya di situ. Dan di situ juga.


Dia bilang apa? Aku sombong?

Dasar apa yang bikin dia berpikiran aku sombong? Bahkan sampai 2 kali. Apa karena satu kali itu aja aku gak bisa meluangkan waktu untuk berbasa-basi dengannya, lalu aku diberi stempel SOMBONG tepat di jidatku. Padahal di waktu-waktu yang dulu, saban ketemu dia, aku selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan ocehannya, keluh kesahnya yang menurutku gak terlalu penting. Kemana perginya saat2 itu? Kenapa bisa dia lupa beberapa hal itu hanya karena SATU KALI aku gak bisa meladeni cuap2nya?

Atas dasar apa dia memberikan cap sombong ke aku? Sedekat apakah hubungan pertemanan kami sampai2 dia bisa menghakimi sifatku hanya SATU KALI kejadian itu aja? Oke, aku tau namanya dan nomor HP-nya. Tapi apakah kami pernah hang out bareng atau sering SMS-an, sampe2 dia bisa tau sifatku yang sebenarnya?

Oya. Dia tadi bilang apa? Aku tambah gendut?

Oke, emang sih sekarang lebih berisi dibanding sebelumnya. Tapi tolong jangan ungkit2 itu di depang khalayak ramai. Apalagi setelah mengataiku sombong. SOMBONG + GENDUT is not a good calculation.
So, please... Jangan main hakim sendiri.

Loh... Kok jadi sewot ya?
Biarin. Yang penting udah curhat. Hehehe...
Dan iya, aku tambah gendut sekarang :)


Halo...
Kenapa Ca?
Kamu sudah dengar beritanya?
Berita apa?
Kata mereka Oyong meninggal...
Gak mungkin, soalnya malam tadi aku masih ketemu dia, sehat-sehat aja...
Meninggalnya tadi pagi. Kecelakaan...
Gak mungkin, bohong aja kali tuh... Emang sapa yang bilang?
Teman-teman yang sekarang lagi ada di rumah sakit...
Gak mungkin!!!!


Pagi itu seperti pagi yang biasanya kujalani,,,
Bangun pagi dengan agak malas, sarapan, mandi, dan pergi ke tempat kerja.
Tiba-tiba ada telepon dari temenku yang mengatakan bahwa Oyong, temen kami di paduan suara meninggal karena kecelakaan. It was quite shocking, karena malam sebelumnya aku masih ketemu sama Oyong dan becanda kayak biasanya.
Gak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalo dia bakal pergi untuk selamanya.

Oyong itu orang yang sangat ceria. Kalo ada Oyong dan temen2 yang sama 'gila'nya, sudah bisa dipastikan gak akan berhenti ketawa. Ada aja yang ada dipikirannya yang bisa bikin kita happy.
Kalo mereka sudah mulai 'beraksi', yang kulakukan cuma duduk dan melihat aksi mereka. Bukannya aku gak berniat untuk nimbrung, tapi aku menikmati semua yang mereka katakan dan perbuat untuk kemudian menertawakannya. Aku seolah-olah gak mau kehilangan momen kelucuan mereka.

Selamat jalan Oyong,,,
Kami akan sangat merindukanmu....
Buatlah malaikat-malaikat di surga tertawa dengan kelucuanmu....


Older Posts Home