Blogger Template by Blogcrowds.


Dear God,

Hari ini aku sedih.
Beberapa sahabat mengalami
saat-saat terberat mereka belakangan ini.

Ada yang karena terlalu beratnya, sebelum kata-kata keluar dari mulutnya,
air mata yang lebih dulu meluncur dari matanya.

Namun tanpa perlu tahu apa masalahnya, aku bisa merasakan kesedihannya.

Kuatkan mereka ya Tuhan.

Amin.

sakit gigi

Semuanya berawal dari apa yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Kala itu, karena keengganan (yang dikarenakan ketakutan) untuk mencabut gigiku yang berlubang, maka semakin merajalelalah lubang tersebut. Bahkan yang tersisa hanya bagian dindingnya saja. Sedangkan isinya? Sudah lumat dibabat bakteri.

Setelah mengumpulkan keberanian dan ditemani sang (mantan) pacar, akhirnya aku pun mencabut gigiku yang tinggal seupil itu. Namun apa daya, karena sudah terlampau rapuh, sang dokter pun tak dapat mencabut bagian gigi yang masih tertanam di gusi. Sang dokter gigi pun memintaku untuk kembali lagi tahun depannya.

Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tapi gigiku tetap terabaikan.

Sampai 2 minggu yang lalu. Aku merasakan ngilu pada geraham bawahku. Tepat pada gigiku yang masih tersisa itu. Semakin lama semakin ngilu dan akhirnya aku menyerah. Esoknya aku langsung memeriksakan diriku ke puskesmas terdekat. Lalu diberikan obat pereda nyeri dan diminta kembali lagi untuk mencabut gigi.

Kali ini aku tidak mangkir. Dengan ditemani sang suami, aku pun melangkah pasti ke kursi eksekusi. Namun yang terjadi kemudian jauh lebih mengerikan dari pada yang kubayangkan.

Karena ternyata gigiku cuma tinggal seupil, maka orang pertama yang mengeksekusi pun kewalahan dan bantuan orang kedua pun tak membuahkan hasil yang memuaskan. Mmm, ada sih yang mereka hasilkan: menghasilkan luka di sudut mulutku. Akhirnya orang ketiga pun turun tangan. Dengan bantuan orang kedua untuk memegangi kepalaku serta masukan dari orang pertama, akhirnya orang ketiga berhasil mengeluarkan sisa gigiku yang masih tertinggal di dalam gusi. Dihitung-hitung, dibutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menuntaskannya.

Kali ini tak ada sisa gigi yang tertinggal. Namun menyisakan trauma mendalam bagiku. Bagaimana tidak, sampai hari ini pun gusiku masih sakit bukan kepalang serta luka di sudut mulutku juga belum sembuh. Seketika itu pula niatku untuk memasang kawat gigi langsung lenyap mengingat harus ada beberapa gigi lagi yang mesti dicabut. Hiii.. ngeri. Ternyata, sakit gigi tak lebih baik dari pada sakit hati.

day by day


Day by day,
O dear Lord, three things I pray

To see Thee more clearly,
love Thee more dearly,
follow Thee more nearly,
day by day


Belum pernah aku merasa kelelahan
luar biasa seperti sekarang ini.
Yang hampir saja membuatku sanggup
untuk menyerahkan tangan kananku
untuk mendapatkan kembali hari-hariku yang dulu.


Namun ketika aku menatap binar mata itu,
melihat senyum dengan gusi tak bergigi itu,
aku sanggup melupakan segalanya.

Quick Update

Ah, sudah lama sekali rasanya tak menyentuh tempat ini.

Ada beberapa hal penting yang terjadi selama ini:

Sekarang aku menetap di kota lain untuk sementara.

Aku sedang menjalani kehidupan menjadi mahasiswa (lagi).

Hamil.

Dan 1,5 bulan yang lalu telah melahirkan seorang bayi perempuan yang (menurutku) paling lucu sedunia :-)

Hal-hal tersebutlah yang membuatku hilang dari peredaran selama beberapa bulan terakhir ini.

Terlebih lagi sekarang, di mana aku harus berurusan dengan tugas-tugas kuliah, mengganti popok, jadwal memberikan ASI, mencuci botol susu, memandikan si kecil, serta jam tidur bayi yang tak pernah tentu.

Oh, dia mulai menggeliat. Itu tandanya tulisan ini harus segera diakhiri :-)

Newer Posts Older Posts Home