Blogger Template by Blogcrowds.


Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu


Sapardi Djoko Damono

Michelle, ketika berusia 1 tahun 10 bulan


'Mau jadi kue.'

Itu jawaban yang dengan spontan sekaligus tegas keluar dari mulut seorang anak sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-3 ketika ditanya ingin jadi apa dia bila sudah besar nanti. Bocah perempuan itu adalah keponakan suamiku yang posturnya menyerupai anak usia 5 tahun.

mboh kamsud

Text:
Devy km dmn dgn spa

From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009

Biasanya, bila ada sms tak jelas yang serupa tak pernah kubalas. Nomor tak terdaftar di phone book, tak menyebutkan nama, dan berlagak kenal baik pula. Buang-buang pulsa dan bikin pegel jempol aja.

Tapi tunggu dulu. Kok kayak pernah tau kalimat ini ya. Oh, kayak iklan rokok itu. Lalu rasa isengku pun tersentil dan ku balaslah sms itu.

Text:
Dirmh sendiri tidur.

From:
05363353xxx
Sent:
30-Jan-2009

Tak berapa lama kemudian, sms alert berbunyi.

Text:
Corry n'cpa???Aq kn g zmz qm cman zmz tmnq

From:
085249006xxx
Sent:
30-Jan-2009

Kita sedang di planet mana ya? Bahasanya kok aneh? Capeee deeeh... :-D

MLM

Dua hari yang lalu aku bertemu seorang teman di gereja. Lama juga kami tak berjumpa. Setelah bertukar kabar dan berbasa-basi sampe basi, akhirnya kami tiba pada topik yang cepat atau lambat akan muncul ke permukaan: pekerjaan.

Seketika itu pula raut wajahnya mendadak cerah. Dan dengan bersemangatnya dia 'memprospek'ku untuk bergabung dengan bisnis barunya. Cara kerjanya sederhana: beli beberapa 'titik' (ya, dia bilang titik, entah apa yang dimaksudnya dengan 'titik' itu), kemudian rekrutlah anggota sejumlah 'titik' yang kita beli tadi. Semakin banyak 'bawahan' yang direkrut semakin banyak pula penghasilan yang diterima.

"Trus, kita ngapain setelah itu? Jualan?", tanyaku.

"Gak ada. Cuma nyari orang aja lagi buat direkrut."

Wah, kata-kata itu terdengar indah di telingaku. Modal air liur aja (karena mesti bercuap-cuap merekrut anggota) udah bisa memperoleh penghasilan berkali lipat gajiku sebagai guru. Belum lagi ada tambahan bonus pulsa setiap minggunya. Diriku semakin mengeluarkan air liur lagi (karena ngiler dengan keuntungan yang bakal diperoleh dari bisnis ini). Bisa menghemat uang pulsa untuk menelpon suami nun jauh di sana, pikirku.

Namun, tak berapa lama kemudian akal sehat yang tadinya sedang leyeh-leyeh menemukan kesadarannya kembali. It's too good to be true. Prinsip ekonomi yang diterapkan habis-habisan: dengan usaha mini dapat hasil maksi.

Lalu pertanyaan berikut muncul dalam benakku. Gimana dengan mereka yang rendah secara hirarki dalam pohon bisnis ini? Tak mendapatkan apa-apa padahal keberadaan mereka lah yang memperkaya para 'atasan'nya.

Dengan pertimbangan belas kasihan pada mereka yang tak akan mendapatkan apa-apa itulah aku memutuskan untuk tidak memiliki niat untuk bergabung pada MLM tak jelas itu. Sapa tau malah aku yang nantinya punya kasta paling rendah dalam strata sosial MLM tersebut. Benar tidak?

Newer Posts Older Posts Home