Blogger Template by Blogcrowds.

Sebelum memulai posting ini, sekali lagi...

TUHAN, ampuni aku...

Hari Minggu kemaren aku pergi beribadah *ceilee.. masih ingat TUHAN juga rupanya*. Karena 2 minggu sebelumnya mesti bangun pagi terus, kemaren aku memutuskan bangun agak siang. Lalu mesti mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap *malas mode on*.

Waktu nyuci:
Mama : "Gak ke gereja?"
Aku: "Ummm... nanti sore aja."
Mama: "Palingan nanti gak ke gereja" *nuansa menyindir*
Aku: *merasa tersindir* "Ke gereja kok...."

Akhirnya jam 5 sore aku sudah duduk manis di dalam gereja *plok.. plok.. plok...*

Walaupun sedikit banyak aku bisa berada di gereja karena sindiran mamaku, tapi aku juga memantapkan hati untuk beribadah sekhitmat dan setulus mungkin. Sebelum ibadah dimulai, aku berdoa dengan segenap hati *tsah* supaya diberikan kesungguhan untuk beribadah.

"Marilah kita bangkit berdiri dan menyanyikan pujian..."

Aku pun bernyanyi dengan segenap kesungguhan. Tapi ternyata masih kalah dengan bapak-bapak yang duduk di belakangku. Hebat juga tuh bapak.

"Jemaat dimohon duduk kembali"

Ada keluarga kecil -terdiri dari ayah, ibu, anak perempuan berbaju merah yang diperkirakan berumur 5 tahun- yang datang terlambat dan duduk di sebelahku. Hhhhh.. masih ada yang datang terlambat ke geraja.

TUHAN, ampuni aku...

Ketika aku berada di puncak kekhusyukkanku, gadis kecil berbaju merah yang duduk disampingku mau keluar mendatangi saudara kecilnya yang duduk beberapa bangku di depan bangku kami. Aku tersenyum manis kepadanya, dan memberikan jalan untuk keluar ke lorong gereja.

"Pembacaan Alkitab terambil dari..."

Anak kecil yang duduk di lorong sebelah mulai bosan. Berjalan mondar mandir di sepanjang lorong. Lalu duduk di pinggir bangku sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Bukkk... Sesuatu mengenai kakiku. Ternyata sandal anak itu kena betisku. Yay,,, lumayan sakit. Tapi masih dengan sedikit senyum manis, kukembalikanlah sandal biru itu kepada pemiliknya sambil membatin: "Kok bapaknya anak ini cuek aja ya?"

TUHAN, ampuni aku...

"Bawa persembahanmu, tanda sukacitamuuuuu..."

Aku tetap bernyanyi dengan penuh semangat. Berusaha mengalahkan teriakan anak-anak (ada 2 orang) yang berlarian sepanjang lorong di sampingku. Semakin keras aku bernyanyi, semakin keras pula teriakan anak-anak itu. Teriakan pun sudah berubah menjadi lengkingan. Iiiihhh... gemes deh. Mana sih orang tuanya? Anaknya bikin ribut kok dibiarin aja?

Di saat yang bersamaan, aku juga harus memberi jalan untuk gadis kecil berbaju merah bersama saudara kecilnya untuk mendatangi orang tuanya yang duduk di sebelahku. Aduh... kakiku keinjak. Alkitabku juga jatuh karena tersenggol. Orang tua gadis berbaju merah menatapku dengan permohonan maaf, yang ku balas dengan senyum getir.

TUHAN, ampuni aku...

"Sebelum memasuki sakramen perjamuan kudus..."

Dalam posisi berdiri, aku melirik dari sudut mataku kalo gadis kecil berbaju merah itu lagi merangkak *iya, MERANGKAK!* di atas bangku, lalu ke bagian bangku tempat aku duduk dan menuju lorong. Dalam perjalanan merangkaknya itu, aku merasa kalo sepatu mungilnya itu mengenai betisku. Waduh... pasti kakiku kotor nih. Aku langsung melirik tajam ke arah orang tuanya, yang lagi-lagi memohon maaf melalui tatapannya.

TUHAN, ampuni aku...

"Kita akan memasuki doa syafaat, mari kita berdoa..."

Anak-anak kecil itu tetap berlarian di lorong sambil menjerit-jerit. Kemana sih orang tuanya? Kok cuek aja anaknya bikin ribut di tempat ibadah? Bukannya sudah disediakan Sekolah Minggu untuk mengakomodasi anak-anak yang ingin beribadah? Kakiku gatal banget, pengen diselonjorkan ke samping lorong supaya mereka gak bisa lari-lari lagi.

TUHAN, ampuni aku...

Terdengar suara bapak-bapak di belakangku berusaha untuk menegur anaknya yang berlari-lari: "Sini, nanti kamu dicubit Mama". Pengen sekali rasanya aku berbalik ke belakang dan bilang: "Pak, kalo mau negur anaknya, langsung datangi anaknya sana! Anak kecil mana ngerti kalo diteriaki dan diancam! Apalagi mau dicubit, mana mau dia!".

TUHAN, ampuni aku...

Ibadah kali itu ada ibadah yang akhirnya hanya menimbulkan banyak dosa *bagiku*. Kenapa sih orang-orang itu mesti grujuk-grujuk bawa anaknya ke gereja cuma untuk bikin ribut. Mungkin niatnya bagus, untuk mengenalkan ibadah kepada anak-anaknya. Tapi kan ada Sekolah Minggu yang mengajak anak-anak beribadah sesuai dengan porsinya. Anak-anak mana ngerti kalo diajak beribadah dengan cara orang dewasa, yang mesti duduk diam selama 2 jam. Mendengarkan khotbah yang kadang bisa begitu bertele-tele, atau menutup mata selama doa syafaat yang sangat panjang itu. Dan apabila akhirnya niat mulia para orang tua itu berakhir petaka buat orang lain *contohnya aku*, apakah niat itu masih bisa dibilang mulia?

Sekali lagi...

TUHAN, ampuni aku...


Teh rasa kopi = gak wuuuueeeenaaaakk....!!!

Balada Cinta


Ini adalah sebuah kisa nyata, tapi demi kenyamanan bersama, nama tokoh-tokoh dalam cerita ini bukan nama yang sebenarnya.

Beberapa hari ini berhembus kabar kalo temen kantorku, Guritno, akan menikah bulan Agustus nanti. Menikahnya dengan temen sekantor juga, namanya Wulan.

Cukup mengagetkan. Bukan karena berita pernikahannya, tapi karena desas desus yang menyelubunginya. Sebelumnya Guritno pernah bertunangan dengan seorang wanita, dan malah hampir menikah. Tapi setelah berkenalan dengan Wulan, hubungan Guritno dan tunangannya saat itu mulai renggang. Guritno dan Wulang semakin sering terlihat bersama.

Sepertinya tunangan Guritno mulai menyadari hubungan terlarang tersebut. Dan setelah 3 kali menunda pernikahan, tunangan Guritno memutuskan bahwa hubungan mereka harus diakhiri. Dan hanya berselang beberapa bulan setelah putusnya hubungan mereka, Guritno dan Wulan mempublikasikan rencana pernikahan mereka.

Aku membayangkan perasaan mantan tunangan Guritno setelah mendengar kabar pernikahan dua sejoli itu. Dan kok bisa ya, dengan tunangannya *dimana hubungan tersebut sudah dijalin bertahun-tahun* susah banget memutuskan untuk menikah atau tidak, tapi dengan Wulan yang baru kenal aja sudah bisa langsung memutuskan untuk menikah secepatnya.

*untuk seseorang itu (bukan Guritno): aku cuma mau tau kenapa?


Sudah beberapa bulan ini laptopku sepertinya terkena virus. Rasanya terjangkit waktu aku update fitur di operating systemnya. Aku sudah install 2 antivirus yang di-update hampir setiap hari. Tapi karena virus itu menyerang file di system32, alhasil parasit itu gak bisa dihapus.

Lambat laun laptopku mulai merengek-rengek. Yang paling menyebalkan adalah, YM hanya bisa digunakan kalo aku pake koneksi internet telkomnet instan. Males banget kan, padahal kantor sudah menyediakan fasilitas Wi-Fi. Jadi aku cuma bisa menggunakan YM under web yang fasilitasnya terbatas.

Akhirnya 3 hari yang lalu ku install ulanglah laptop kesayangan itu. Senangnya hatiku setelah semua proses instalasi selesai. Tapi pas nyoba install sound driver, loh kok gak mau? Eng.. ing.. eng..

Berbekal pengetahuan dari teman, aku search sound driver di internet, trus di install. Tapi tetap aja laptopku betah membisu. Sampe temenku bilang: "Laptopmu minta pensiun bersuara, soalnya saban hari dangdutan terus. Hahahaha...". Waduh.. Jangan-jangan bener juga kata temenku itu.

Akhirnya setelah 3 hari, dan mencari info sana-sini, laptopku akhirnya bisa bersuara juga. Senangnya bisa mendengar suara 'POP' waktu ada pesan YM yang masuk. Tapi tunggu dulu... Kok gak bisa di-mute dan dikecilin ya suaranya? Kyaaaa.... Bunyinya banter banget dan permanen pula. Gimana ini???

Sempat terpikir menyerahkan laptopku untuk ditangani oleh pihak berwajib. Tapi ada sesuatu yang menyentil egoku.
Masa gitu aja nyerah sih?
Malu sama titel tuh...

Bener juga ya. Akhirnya aku bergelut lagi dan mencoba untuk memahami perasaan laptop *halah*. Dan akhirnya komputerku sudah bebas dari ke-tunawicara-annya. HORE...

Sekarang bisa dangdutan lagi... Tariiiiiikkk maaaannnnggg.....

Newer Posts Older Posts Home