********
Jum'at malam, menonton pemilihan Miss Indonesia di RCTI.
Baju putih yang dipakai Indah Pelapory sangat indah. Sesuai dengan imajinasiku akan baju putri-putri dalam dongeng. Namun, yang agak mengganggu adalah ketika Indah mulai berbicara. Nada bicaranya tinggi sekali. Wah, kalo jadi penyanyi pasti Mariah Carey kalah tuh ;-)
Labels: at work, family, friendship, life
My best quote for my students. Thanks to Beby for this quote :)
NB:
Ini postingan mboh kamsud.
Imbas dari pusing membuat laporan.
Bukan hal penting.
Jangan dimasukkan ke dalam hati.
Tak perlu dipikirkan masak2.
.
.
.
OMG, kok sekarang semakin mboh kamsud.
Maafkan.
Baiklah, aku berhenti.
STOP.
Labels: at work, my thoughts
Kira2 gimana ya kalo para pekerja berkumpul dan menghabiskan weekend di lapangan bulu tangkis.
Hasilnya adalah permainan sering sekali terhenti karena:
- Banyak sekali yang datang minta tanda tangan. Dan yang bikin sebel, mintanya kreditan. Maksudnya selang 15 menit ada 2 atau 3 orang yang datang untuk minta tanda tangan.
- Beberapa kali diinterupsi kurir yang menyerahkan berkas2 atau sekedar bon pembelian.
- Telpon masuk *dan ini sering sekali terjadi*.
- Membalas sms penting.
Ini benar2 terjadi!
Lagi bete berat. Apa pasal? Berkas naik pangkat gak LOLOS.
FYI, sebagai tenaga pengajar, kalo mau naik pangkat or jabatan fungsional mesti mengumpulkan angka kredit. Nah, untuk kenaikan pangkat kali ini aku mesti mengumpulkan 50 angka kredit.
Dengan susah payah aku mengumpulkan 50 angka kredit itu. Membuat makalah, menulis di jurnal, mengajar banyak sekali materi, bahkan mesti aktif di kepanitiaan institusi tempatku bekerja *karena itu juga dinilai*.
Mendekati hari pengumpulan berkas, aku pun sibuk menlengkapi berkas2ku yang seabrek itu. Bermodal tanya sana tanya sini *karena gak ada panduan atau manual book-nya* akhirnya aku bisa menyelesaikan berkas2 naik pangkat itu dan merampungkan penghitungan angka kredit. Aku ngotot membuat sendiri perhitungan angka kreditku, padahal banyak aja yang menawarkan 'jasa' penghitungan angka kredit dengan kompensasi yang bervariasi. Mulai dari Rp. 100.000,- sampai Rp. 500.000,-.
Dan beberapa hari yang lalu, aku dikabari sama temenku kalo berkas ku gak lolos karena angka kreditku kurang 1 poin. Rasanya gemes banget, kok bisa kurang 1 poin? Setelah tanya sana tanya sini (lagi), berkas temanku yang lolos gak jauh beda sama punyaku. Trus kurangnya dimana?
Setelah itu aku langsung ke bagian kepegawaian, dan dari mereka aku tau kalo poin di bagian pengajaranku banyak yang gak diakui.
HOW COME??? Padahal aku sudah melampirkan SK *surat keterangan -red* mengajarku. Trus kemana larinya kelas2 yang pernah ku ajar itu? Kemana perginya kerja kerasku di bidang pendidikan ini? Kemana hilangnya apresiasi terhadap dedikasiku?
Yang membuatku bingung bukan kepalang adalah pejabat penilai kenaikan pangkat adalah atasanku yang notabene orang2 yang dengan senang hati membebankan begitu banyak pekerjaan ke aku. Dan aku pun dengan senang hati pula mengerjakannya atas nama pengabdian.
Yang masih mengganjal sampai sekarang:
Apa mereka lupa sama aku?
Lupa dengan kerja rodiku selama ini?
Atau, cuma ingat waktu ada kerjaan aja?
Atau, jangan-jangan aku ini transparan?
Astaga!!! Sepertinya aku mulai tak terlihat.
Labels: at work, life, my thoughts
Hari Minggu kemaren, ada seorang muridku *sebut saja X* menelpon ke rumahku. Beginilah kira2 percakapan yang terjadi antara kami.
X : "Bu, saya mau nanya. Kok nilai UTS Struktur Data saya O (nol) ya Bu?"
Aku : "Oya?"
X : "Iya Bu."
Aku : "Besok kita lihat ya."
X : "Iya Bu."
Kemaren X mendatangiku waktu aku di lab.
X : "Bu, saya yang kemaren nelpon Ibu."
Aku : "Sabar dulu ya.. Saya mau ngajar, sudah ditunggu ini."
X : "Iya Bu."
Setelah aku mengajar.
Aku : *mengeluarkan daftar hadir UTS* "Coba kita lihat, apa kamu ikut UTS atau gak." *membuka daftar hadir dan dia gak ada ttd daftar hadir itu* "Kamu ikut UTS apa gak?"
X : *menjawab dengan ringan* "Gak Bu."
Aku : "Makanya nilaimu gak ada."
X : "Iya Bu."
Beberapa lama kemudian X mendatangiku lagi.
X : "Bu, soal UTS itu yang tentang antrian ya Bu?"
Aku : *mencari file soal ujian di komputerku dan ngasih liat ke X* "Kamu merasa pernah mengerjakan soal ini?"
X : *sambil garuk2 kepala* "Mmmm... rasanya Bu. Saya lupa2 ingat, soalnya sudah lama sekali Bu."
Aku : *sigh* "Kamu kok gak yakin sih? Trus gimana dong."
Tadi, X mendatangiku (LAGI!!!).
X : "Bu, kata Ellen UTSnya diadakan di audit. Kalo itu, saya ikut Bu."
Aku : "Trus?"
X : "Saya duduknya di samping Jadmiko, Bu. Soal no. 3 saya kerjasama sama Jadmiko, Bu."
Aku : "HAAAHHH???? Kamu kerjasama sama Jadmiko???" *sumpah, aku juga kaget mendengar suara cemprengku*
Labels: at work

Tadi pagi jadwal ku untuk mengajar anak-anak TKJ (Teknisi Komputer dan Jaringan). Karena aku gak punya jadwal *belum di-print sama temenku*, aku mencoba mengingat-ingat *dengan daya ingat yang sangat payah* jadwal ngajarku yang sudah dikasih tau sama temenku itu beberapa hari yang lalu.
Setelah mencoba mengingat, dengan pede-nya aku berjalan ke arah kelas yang biasanya memang diperuntukkan bagi perkuliahan TKJ. Pas aku sampai di kelas itu, ada beberapa orang murid yang sudah ada di dalam kelas. Lalu ada 1 orang anak TKJ yang keluar kelas untuk memanggil teman-temannya yang lain. Batinku: "Hhh... memang anak2 ini, mesti dipanggil-panggil dulu baru masuk kelas".
Beberapa menit kemudian, beberapa anak sudah memasuki ruangan. Hmmm... kok banyak yang gak kukenali ya wajahnya? Tapi aku cuek aja, soalnya kelas ini besar banget. Jumlahnya lebih dari 100 orang dan susah banget untuk menghapal wajah mereka semua.
Lalu ada 1 orang muridku menghampiri dan terjadilah percakapan berikut:
Muridku : "Bu, anak TKJ masuk juga lah?"
Aku : "Iya, kan sekarang kita ada kelas?"
Muridku : *bingung*
Aku : "Teman2mu yang lain mana?"
Muridku : "Ada di bawah Bu."
Aku : "Loh, kelasnya disini kan?" *aku mencium sesuatu yang tidak beres*
Muridku : "Mmmm... tapi biasanya di ruangan bawah Bu".
Aku : *menatap kearah murid2 yang duduk di bangku kelas* "Ini anak2 TKJ kan?"
Mereka : *menjawab dengan serempak* "Bukaaaannnn..."
Aku : *gubrak mode on* "Trus ini kelas apa?"
Mereka : "Mekanika Rekayasaaaa..." *lagi-lagi dengan kompak*
Aku : *gelagapan+malu+gengsi* "Oooohh... maaf ya, Saya salah masuk kelas...."
Mereka : *sambil menahan ketawa* "Gak papa Buuuuu..."
Aku : *melangkah keluar kelas sambil menatap lurus ke depan*
Seperti kata ponakanku: "Malu deeehh..."
Labels: at work

Hari Senin (2 hari yang lalu), adalah hari yang sangat melelahkan.
Dimulai dengan bangun pagi dengan kesadaran antara ada dan tiada, karena 2 hari sebelumnya aku harus menjamu teman2 yang datang dari Surabaya. Setelah itu aku mesti mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang ada untuk bersih-bersih rumah serta menyiapkan sarapan.
Hari itu adalah hari pertama sertifikasi untuk murid2ku. Dan entah kenapa, hari pertama kegiatan selalu menjadi satu paket dengan hiruk pikuk. Daftar hadir yang entah kemana, printer yang gak bisa jalan, komputer yang terkunci, sampai2 rengekan murid yang gak bisa buat file baru di Ms. Word *ternyata dia gak klik File -> New. Gubraaaaak *
Menjelang siang, hari semakin panas. Ac pun tak banyak membantu meringankan hawa yang menyengat ini. Energi serta kesabaran rasanya mulai menguap saking panasnya cuaca hari itu. Sampai-sampai pacarku yang sudah sangat terbiasa dengan 'keganasanku' aja bilang : "Kamu kok mengerikan hari ini".
Pesan moral:
Jangan memulai kegiatan yang melelahkan *seminar, workshop, pameran, ujian, dll* pada hari Senin. Kasian juga kalo Senin selalu diidentikkan dengan kata "melelahkan".
Trus, maksud dari judul posting lo apa?
Dududududududu....
Labels: at work, my thoughts
Disini aku terpuruk.
4 jam sudah.
Aku butuh udara segar!
Buka semua pintu.
Buka semua jendela.
Kapan perlu, copot saja atap yang bertengger di atasku ini.
Aku perlu udara segar!
*OMG, siapa yang badannya bau banget nih...*
Labels: at work, life, my thoughts

Hari ini diawali dengan bete.
Pagi tadi hujan. Dan seperti biasa, kalo hujan di pagi hari biasanya dibarengi dengan rasa malas ngapa2in. Ditambah hari ini hari Jumat, yang notabene tinggal selangkah lagi dari weekend (gosh... I love weekend). Tapi, karena hari ini ada kelas, alhasil aku (dengan terpaksa) harus berangkat ngajar.
Setelah sampe, ternyata ruang kelas tempatku harusnya mengajar dipake oleh pengajar yang lain (baca: yang lebih tua) untuk ujian. Mau protes, tapi sungkan. Lagian kalo misalnya aku protes, gimana nasib yang sedang ujian? Tapi sebel juga, soalnya gak pake permisi make ruangan yang harusnya jatah orang lain. Masak gak liat jadwal dulu sebelum make ruangan.
Akhirnya aku dan murid2ku mesti hunting ruang kelas yang kosong.
Untungnya dapet. Tapi suasana belajarnya dalam kondisi harap-harap cemas, sapa tau ada yang mau make kelas itu juga.
Ini bukan yang pertama kalinya ruang kelas yang harusnya jadi jatahku, diserobot oleh pengajar (senior) yang lain. Kenapa sih, yang tua2 itu selalu seenaknya? Giliran serobot menyerobot mesti gerakannya cepat banget. Tapi kalo udah ada kerjaan, bisanya cuma ngasih arahan dan yang muda-muda (termasuk aku *masih muda :P*) yang jadi pelaksananya.
Jangan sampe nanti kalo udah senior (jangan dibaca: udah tua) aku juga gitu. Amit-amit jabang bayi deh.... *btw, bayinya sapa?*
Labels: at work, my thoughts
Kenapa ya, tingkat kebisingan di ruangan ini semakin meningkat?
Ada yang nelpon (sambil nyari perhatian)...
Ada yang nanya-nanya...
Ada yang ngasih penjelasan...
Ada yang rebutan komputer...
Ada yang nyari-nyari sesuatu... (tapi pake mulut gak pake tangan..)
Labels: at work, my thoughts

Pekerjaan yang mesti diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya:
1. Ngoreksi hasil ujian, laporan, sama tugas-tugasnya murid-muridku
2. Mengadakan ujian untuk 1 kelas lagi
3. Menyelesaikan laporan akreditasi yang segambreng
Cape deeeeeeeh...
Labels: at work
Menurutku hari Senin itu very tempting...
Setelah menjalani weekend, rasanya mesin-mesin tubuh mesti 'dipanaskan' lagi sebelum mulai kerja. Oleh karena itu, hari Senin rasanya berat banget....
Pengennya sih di-skip aja...
Tapi gak bisa, soalnya hari ini aku ngadain Ujian Tengah Semester buat murid-muridku.
Alhasil hari ini mesti bangun pagi (lagi), datang ke tempat kerja lebih cepat untuk menyiapkan UTS.
Sekarang lagi ngawas anak-anak ujian. Seperti kata pepatah: Sambil menyelam minum air, kalo aku sih,,, sambil ngawas posting blog,,, Hahahahaha...
Tapi tetep kok dalam pengawasan yang ketat.... :P
"Bu, bisa minta lembar jawaban lagi?"
Uuupsss.... aku mesti kerja lagi... :)

