Yang terlintas di pikiranku ketika tambi (nenek -red) memperlihatkan setoples kenta adalah: mirip oat meal. Benar sekali. Bentuknya dan warna hampir menyerupai.
Kenta berasal dari beras ketan yang disangrai kemudian ditumbuk. Cara menumbuknya pun tak sembarangan. Perlu teknik khusus, kata bue (kakek -red). Proses pembuatan kenta disebut mangenta. Proses tersebut didemonstrasikan pada Festival Isen Mulang, festival rakyat tahunan yang diselenggarakan menjelang HUT Kalimantan Tengah. Sayang sekali aku tak berkesempatan melihatnya.
Kebetulan, seorang mina (tante -red) ikut ambil bagian pada proses mangenta tersebut. Jadi tambi sempat inden duluan. Karena sekarang kenta hampir-hampir menjadi barang langka. Di pasar tradisional pun tak ada.
Proses mengolah kenta sehingga di makan sangatlah mudah. Hanya perlu menambahkan kelapa parut, gula merah, dan sedikit air yang telah dicampur garam, kenta sudah bisa disantap. Dan rasanya? Persis seperti makan nasi yang belum masak.
Lalu dia memintaku untuk menemaninya ke bengkel untuk melakukan 'check-up' terhadap mobilnya. Dan karena masih ada cukup waktu sebelum kami kembali bekerja, selepas dari bengkel kami pun memutuskan untuk singgah di KFC.
Karena masih kenyang dan terbayang-bayang raut kenikmatan keponakanku waktu menikmati lychee float, akhirnya aku memesan minuman itu. Temanku pun jadi ikut-ikutan. Bedanya dia pesan lychee soda (plus chicken fillet!).
Roman kami berubah menjadi heran ketika pesanan kami siap. Apa sebab? Lychee float-ku warnanya hijau dan lychee soda-nya berwarna hijau kekuningan. Seketika itu kami langsung saling menatap.
"Warnanya kok beda ya? Padahal kan sama-sama lychee?"
"Iya, bedanya kan cuma punyaku pake es krim trus punyamu pake soda. Harusnya gak ada pengaruhnya dengan warna kan?"
Lalu terciptalah percakapan tidak penting antara aku (P a.k.a Piyek), temanku (TP a.k.a Teman Piyek), dan mbak-mbak KFC (MK).
TP : "Mbak, emangnya apa bedanya dua minuman ini?"
MK : "Beda mbak. Yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *roll my eyes* "Iya, tapi bedanya apa?"
MK : "Yang ini pake es krim, trus yang satunya tambah soda."
TP : "Iya tau mbak. Maksudnya, kenapa jadi keliatan beda?"
MK : *mulai bingung sambil menatap aku dan temanku bergantian*
TP : "Kok yang ini warnanya hijau trus yang ini warnanya kuning."
MK : "Soalnya yang ini Lychee Float, trus yang ini Lychee Soda."
P : *halah!* "Ini sama-sama lychee kan?"
MK : "Iya"
P : "Trus kenapa warnanya beda? Padahal dua-duanya kan lychee. Cuma beda es krim sama soda aja."
MK : "Soalnya yang Lychee Soda dikasih orange juice mbak, makanya warnanya agak kuning."
P + TP : *dengan wajah lega* "Oooooo..."
Mbak-mbak yang ngantri di samping kami pun ikut-ikutan tertawa. Ternyata dia nguping dari tadi.
Labels: foods, friendship, life
SMS
sender: +628563065xxx
date: 26.09.2008
text:
Haiiiii..
Sebuah pesan singkat mampir ke inbox HP ku beberapa waktu yang lalu. Waktu saat itu kira-kira menunjukkan pukul 2 dinihari. Waktu yang tidak biasa untuk menghubungi seseorang kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.
Pesan ini datangnya dari seorang sahabat, Pastini. Mantan teman kost semasa kuliah dulu. Dan sejak 3 bulan sebelum dirinya melahirkan anak pertamanya, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Singaraja - Bali.
Sebuah 'buzz' yang singkat dan jelas. Singkat karena, kalau mau meluangkan sedikit waktu, hanya berisi 9 karakter. Dan jelas, karena untuk ukuran seorang Pastini yang paling anti menggunakan kalimat yang berbunga-bunga atau berbusa-busa atau berbuih-buih atau apalah namanya. Pesan ini dengan JELAS menyampaikan bahwa dia sedang kangen.
Kalau boleh, aku ingin bercerita sedikit *emmm.. mungkin kepanjangan kalo aku agak lupa diri* tentang Pastini, temanku ini.
Pastini adalah asli orang Bali. Lahir dengan embel-embel Ida Ayu di bagian depan namanya, yang kita ketahui bersama bahwa hal itu menandakan bahwa dirinya berada pada urutan tertinggi kasta yang berlaku di Bali. Dan bukan cuma itu, keluarganya pun tergolong keluarga yang terpandang di Singaraja.
Dari semua anak kost, Pastini lah yang kondisi keuangannya selalu 'aman'. Tidak seperti kami yang selalu cekak kalo sudah sampai akhir bulan. Hahaha.. Dan cuma dia seorang yang di antara kami se-kost yang mampu membeli 2 kemeja Lee Cooper sekaligus. Yaa... untuk ukuran anak kost seperti kami, bisa membeli 1 kemeja Lee Cooper aja kayaknya berkah yang patut disyukuri *apa sih...*
Namun, sebuah langkah yang sangat besar diambilnya ketika dia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan langkah yang terlampau besar menurutku. Karena hanya dengan sekali langkah itu saja, Pastini harus meninggalkan status sosial serta keamanan finansialnya. Ya, dia memutuskan untuk menikah dengan kekasih semasa SMA-nya yang berkasta rendah.
Orang tuanya sudah pasti tidak merestui. Mereka pun berusaha untuk menjodohkan Pastini dengan pria yang berstatus sosial yang sama. Dan puncaknya adalah ketika Pastini yang kala itu bekerja di Surabaya, akan 'ditarik' orang tuanya kembali ke Bali. Pastini dan (kala itu masih) suaminya memutuskan untuk menikah secara adat.
Singkat cerita, orang tua Pastini sekarang sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Dan puji Tuhan, mereka sudah bisa merestui. Walaupun sampai saat ini Pastini masih belum diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya (dikarenakan adat yang berlaku), tapi mereka masih bisa bertemu di tempat lain.
Nah, dari cerita singkat (yang agak kepanjangan) tentang Pastini itu, aku bisa merasakan 'kesepian' yang dialaminya. Jauh dari orang tuanya, ade2nya, serta teman terdekatnya.
Kuakui, sudah beberapa lama aku tidak menghubunginya. Terakhir kali aku menelponnya adalah ketika dia melahirkan anaknya (it's a boy :D), which is 2 months ago. Cukup lama bukan? Dan pesannya yang (amat) singkat ini seolah mem-'buzz' diriku.
Kemudian aku membalas pesannya, setelah aku benar2 tersadar dari tidur tentunya :) Tidak banyak yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami hanya mengirimkan 2 buah pesan singkat. Karena memang Pastini bukan orang yang suka bicara panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membahagiakanku dan (kuharap) dirinya juga :)
Salad Buah In Action
Dan ternyata pesan (amat) singkat itu menyadarkanku kalo ada beberapa kerabat dan teman-teman yang sudah sekian lama tidak pernah kukunjungi. Bahkan ada yang sudah setahun tidak pernah bertemu muka. Mudah2an postingan ini tidak membuat yang membacanya kapok berteman denganku. Hehehe..
Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan teman dekat yang sudah kuanggap saudara. Tapi rasanya ada yang kurang kalo aku gak membawa buah tangan dalam kunjunganku itu. Ya.. sekaligus sebagai permintaan maaf terselubung karena sudah lama (sekali) tidak mengunjungi mereka :)
Ku putuskan untuk bikin salad buah. Ada 2 alasan. Pertama, karena bahan-bahan dressing salad masih banyak di kulkas. Kedua, karena biasanya salad buahku cukup berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyenangkan hati orang yang memakannya *tsah*. Tinggal beli buah-buahan segar dan kalengan untuk melengkapinya.
Pada hari pertama liburan Lebaran, aku pun beraksi *apa sih...*
Dan terjadilah insiden memilukan itu *hiperbola mode on*. Jempolku luka kena pinggiran kaleng susu kental manis. Biasanya sih aku minta tolong Papah untuk membuka kaleng susu kental manis, tapi pada waktu itu si pria serba bisa itu lagi gak ada di rumah. Dan voila... tanganku luka karena keahlian membuka kaleng yang sangat minim.
Terpaksa mesti membangunkan Mamah yang lagi tidur siang untuk bantuin membebat tanganku pake kain karena darahnya gak mau berhenti. Mamah pun bangun dengan kaget: kaget karena bangun siang secara mendadak (sori, gak bisa menemukan kata yang lebih tepat) dan kaget karena lihat tanganku yang berdarah.
Kegiatan pun terhenti beberapa saat.
Untungnya Mamah merelakan jam tidur siangnya untuk membantuku. Kasian liat kerjaanku banyak yang belum kelar. Kuning telur belum dipisahin dari putihnya, buah-buahan sama agar-agar belum dipotong, dressing salah belum dibuat, ditambah lagi loyang-loyang berserakan minta dicucui. Thanks a bunch Mom :)
Dan voila... salad buah pun siap :D

Destination #1
Tujuan berkunjungku yang pertama adalah: rumah tambi (nenek dalam bahasa Dayak -red). Bukan nenek kandungku, tapi suaminya adalah ade kandung dari kakekku *mbulet ya.. :D*. Dan kunjungan itu ku pas2kan supaya aku tiba di rumahnya menjelang berbuka puasa. Oya, FYI, my Grand Dad (from my mother's side) was a Moslem.
Next...
Sudah lama sekali aku gak berkunjung kesana. Emmm.. rasanya terakhir kali aku kesana pas Lebaran tahun lalu. Bahkan pada saat anaknya rawat inap di rumah sakit pun aku gak sempat menjenguk. Hhhh.. benar-benar cucu yang durhaka. Padahal dulu, aku termasuk orang yang paling sering berkunjung ke rumah tambiku yang satu ini. Apalagi kalo bulan puasa. Aku cukup sering mengantarkan makanan *biasanya beli, gak bikin :P* untuk berbuka puasa.
Pas tiba di rumahnya, para penghuni rumah itu cukup kaget melihat kedatanganku. Mungkin karena saking lamanya aku gak pernah mampir. Orang-orang rumah pada melongo melihatku di depan pintu dengan sapaan khas-ku: "TAMBIIIIII...". Cukup keras untuk bisa didengar orang-orang satu rumah. Hehehehe...
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami pun mengobrol di teras depan rumah. Saling bertukar kabar terbaru, berbicara tentang kondisi terakhir om yang baru aja kembali setelah rawat inap, dan masih banyak lagi.
Rasanya sangat menyenangkan.
Ketika hampir maghrib, aku pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.
Destination #2
Kunjungan berikutnya adalah rumah seorang teman baik yang sudah kuanggap seperti saudara, Febi. Sebenarnya tujuanku berkunjung adalah untuk menengok ibunya Febi, karena biasanya jam segitu si Febi belum pulang ngantor.
Sejak ayahnya Febi meninggal, aku beberapa kali meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya. Baik itu mengantarkan makanan atau sekadar menemaninya mengobrol. Tapi hampir setahun belakangan ini, aku absen dari kegiatan itu.
Ketika aku tiba di rumahnya, ternyata Febi yang membukakan pintu. Loh kok sudah pulang kerja? Tumben. Setelah diusut, ternyata jam kerjanya lebih pendek karena saat itu adalah bulan puasa. Ooooo...
Si Tante pun sama terkejutnya dengan tambi yang kukunjungi sebelumnya. Mungkin ini reaksi standar yang diperoleh kalo sudah lama tidak berkunjung. Hhhhh...
Setelah pulih dari keterkejutannya *apaan sih..*, si Tante pun mengajakku untuk makan malam bersama karena kebetulan mereka lagi makan malam. Aku yang merasa sungkan untuk menolak (ditambah lagi kondisi perut yang lumayan lapar, hahaha..) akhirnya menerima ajakan itu. Dan kemudian gantian aku yang kaget. Karena di meja makan sudah ada pacarnya Febi juga. Ups..
FYI, pacarnya Febi yang sebelumnya sangat tidak menyukaiku. Gak tau kenapa. Mungkin dipikirannya aku adalah wanita yang memiliki potensi sangat besar untuk merebut Febi dari sisinya (halah! still can't find the right words :P). Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu. Impas.
Tapi aku memutuskan untuk menyukai pacar Febi yang satu ini. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah tatapan ramahnya terhadapku. Dan kami berempat (Febi, ibunya, pacarnya, dan temannya-aku) pun makan sambil bertukar kabar.
Menyenangkan (lagi).
Epilog
Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahagia sekali. Segala sesuatunya terasa lebih ringan. Betapa perhatian kecil yang kuberikan ke orang-orang terdekat dapat berbalik arah kembali dengan bentuk yang berbeda. Dan dampaknya terhadapku ternyata sangat besar.
Sepertinya aku harus merencanakan kunjungan berikutnya. Kali ini bikin apa ya?
Labels: family, foods, friendship, life, my thoughts

Hari Minggu kemaren, ada undangan makan2 di rumah tanteku. Sebuah undangan yang paling cepat direspons oleh semua keluarga. Daya tariknya tentu saja, makan2nya itu :D
Ada beberapa alasan sih kenapa aku datang ke rumahnya tanteku:
- Itu salah satu tante favoritku dan aku deket banget sama anaknya.
- Rumahnya gak seberapa jauh dari rumahku.
- Papah sama Mamah kesana. Dan karena aku gak mau sendirian di rumah, aku juga kesana.
- Last but not least, ya makan2nya itu tadi :D
Pas lagi asik ndengerin gosip baru dari seorang tante, terjadilah percakapan antara aku dan sang tuan rumah.
Om : "Vi, pernah makan itu gak?" *sambil nunjuk ke arah keranjang buah di atas meja*
Aku : *melihat keranjang itu* "Ini apa Om?"
Om : "Buah marau."
Aku : "Eee.." *dengan tampang bego karena gak tau*
Om : "Buah rotan."
Aku : *mulut membentuk ooo...* "Emang bisa dimakan Om?"
Om : "Bisa.Coba ja." *sambil senyum2*
Aku : *terjadi peperangan antara penasaran dan keraguan* "Enak lah Om?"
Om : "Coba ja." *sambil senyum2 lagi*
Aku : *keraguan dikalahkan penasaran*
Akhirnya aku ambil 1 buah marau itu. Yang jadi perhatian pertamaku adalah tekstur kulitnya yang keras dan bersisik. Mirip kulit salak, tapi lebih keras. Jempolku aja sampe luka sedikit waktu mengupas buah marau itu.
Dan sebelum tepat sebelum kumasukkan buah itu ke dalam mulutku, seorang tanteku yang duduk di sebelahku bilang: "Masam sekali". Tapi sudah terlambat, karena sesaat sebelum kalimat tanteku itu berakhir, buah itu sudah bersemayam di dalam mulutku. Dan.... astaga, asam sekali!!! Saking asamnya sampai aku gak bisa berkata2 lagi.
Om : "Ditaroh gusi bagian luar"
Aku : "mmmm...mmm...mmm..." *ingin mengatakan sesuatu, tapi gak bisa buka mulut*
Om : "Jangan digigit, dibiarin aja sampai masamnya hilang"
Aku : "mmm..mmm..mmm...mmm..." *semakin menggerakkan mulut ternyata semakin asam*
Om : "Nanti lama2 rasa masamnya hilang sendiri"
Aku : *ya iyalah...* "mmm...mmm...mmm..."
Dari cerita Om ku, buah marau ternyata adalah buah rotan. Pernah liat kursi, meja, keranjang, tempat majalah yang terbuat dari rotan? Nah, buah marau adalah buah yang dihasilkan oleh batang rotan itu.
Kita gak akan pernah liat buah ini dijual di pasaran. Bukan karena penggemarnya sedikit *mengingat rasa asamnya itu*, tapi karena sudah semakin langka. Eksploitasi hutan secara besar-besaran membuat buah ini semakin jarang ditemui. Biasanya cuma ada di hutan2 yang jarang dijamah oleh manusia.
Walaupun aku memutuskan untuk tidak menyukai buah ini, aku senang sekali punya pengalaman makan buah marau itu. Apalagi kalo melihat ekspresi senangnya para keluarga *khususnya yang generasi atas* waktu liat buah itu. Sumpah, mata mereka berbinar-binar :)
Lagi pengen banget makan:
- Cheesecake-nya BreadTalk
- Empal penyet Bu Kris
- Brownies Tante Silvi
- Nasi bebek di depan gang kost2an
- Bakso di depan GKI Resud
- Izzi pizza
- Donut rasa mangga-nya J.Co
- Tiramisu-nya Starbucks
- Gado-gado Arjuno
Alangkah lebih baik lagi kalo disertai dengan tiket PP Surabaya-Palangka Raya :)
Labels: foods
Dia : "Malam ini kita makan apa ya?"
Aku : "Bukannya tadi kamu bilang malam ini kita minum susu aja? Besok malam juga, besok malamnya lagi juga begitu. Ayooo... lupa ya..."
Dia : *Berpikir* "Hmm... Iya ya. Lupa."
Beberapa menit kemudian.
Dia : "Aku mau beli mi goreng aja ah. Trus beli sate ayam. Mi goreng yang kapan hari itu enak juga ya? Beli disitu lagi ah..."
Aku : "Loh??? Bukannya kita mau diet. Gimana sih?"
Dia : "Hmmm... bener juga ya.."
Beberapa menit kemudian (lagi).
Dia : Sambil memandang ke awang2. "Hmmm... kayaknya makan mi goreng enak banget deh. Apalagi sama sate ayam. Wih... sedap... Aku mau makan mi goreng aja ah. Enak.. enak.. enak.."
Aku : *hening*
Dia : "Kalo kamu mau minum susu, silakan aja...."
Aku : *mulai membanding2kan kelezatan mi goreng + sate ayam vs. segelas susu coklat*
Dia : "Pulang dari sini mau beli mi goreng ah..."
Aku : *kebimbangan mulai melanda + agak2 ngences*
Dia : "Hmmm.. aromanya sudah terbayang2 nih"
Aku : *at that time i can imagine how eve's feeling* "AKU JUGA MAUUUU!!!!"

Suatu malam, di warung tenda.
Dia : Cobain deh roti bakarnya
Aku : Gak mau
Dia : Cobain deh. Enak.. Selai... Nanasnya...
Aku : *memandang ke arah roti bakar. hmm...keliatannya lumayan juga* Gak ah...
Dia : Gurih. Renyah, serenyah cintaku padamu
Aku : Emang cinta bisa renyah juga? *sambil nyomot roti bakar itu*

Cheesecake itu:
Lembut...
Aromanya menyenangkan...
Menggoda...
Yummy...
Lezat banget...
Ngangenin...
Tapi batas kemampuan untuk menikmatinya hanya untuk 1 slice aja...
Kalo banyak,,, bisa mblenger.. :)
Labels: foods


