Blogger Template by Blogcrowds.

LOST


Tak mampu melepasnya

Walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa masih memilikinya

Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa

Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah memilikinya

Memiliki Kehilangan - Letto

Walaupun sudah lama berlalu, tapi masih tidak bisa melupakan. Sudah berusaha sekuat tenaga, tapi entah kenapa ingatan itu masih berpegangan erat di benakku.

Kehilangan, aku sudah siap untuk melepasmu. Karena tetap memeliharamu di pikiranku ternyata tidak bisa membuatnya kembali. Sekarang aku siap untuk menempuh perjalanan yang baru, dan kuharap tidak berjumpa denganmu lagi di persimpangan.

Relakan aku, seperti aku merelakanmu.

THE END

FIN

VOLTOOIING

TAMAT


Adegan ini diambil waktu aku terburu-buru di swalayan karena:
1. Sudah jam 10, sedangkan jam 10.30 aku mesti ngajar

2. Mesti beli wafer untuk hadiah game murid2ku

3. Aku baru ingat kalo buku untuk ngajar ketinggalan di rumah
4. Dan aku mesti mengantarkan surat dulu ke rumah pacarku.


Lanjut...


Setengah berlari sambil ngos2an, lengkap dengan atributku: jaket, sarung tangan, ransel, tas tangan. Masuk ke dalam swalayan, fokus dengan tujuan: rak makanan.
Temanku : "Hai..."

Aku : *menoleh sekilas ke asal suara* "Hai..."

Temanku : "Kok sombong sih?"

Aku : *masih ngos2an, menjawab dengan suara yang kecil* "Sori. Buru2"


Lalu aku ke bagian makanan, ngambil wafer Tango trus ke kasir. Di sana aku ketemu dengan temanku yang tadi.

Temanku: "Halo... Kamu kok sombong sih?" *memandangiku dari atas ke bawah* "Kamu tambah gendut ya?"

Aku : "Sori, aku buru2. Bentar lagi mau ngajar. Bukuku ketinggalan."

Temanku : "Oooo.. kamu ngajar? Di mana?"

Aku : *OMG, no time for basa-basi* "Di X (suatu institusi pendidikan). Sori aku buru2. Bukuku ketinggalan."

Temanku : *raut muka kecewa* "Ya udah deh..."

Kemudian dia berlalu.

Stop. Coba kita ulang lagi adegan itu.
Ya di situ. Dan di situ juga.


Dia bilang apa? Aku sombong?

Dasar apa yang bikin dia berpikiran aku sombong? Bahkan sampai 2 kali. Apa karena satu kali itu aja aku gak bisa meluangkan waktu untuk berbasa-basi dengannya, lalu aku diberi stempel SOMBONG tepat di jidatku. Padahal di waktu-waktu yang dulu, saban ketemu dia, aku selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan ocehannya, keluh kesahnya yang menurutku gak terlalu penting. Kemana perginya saat2 itu? Kenapa bisa dia lupa beberapa hal itu hanya karena SATU KALI aku gak bisa meladeni cuap2nya?

Atas dasar apa dia memberikan cap sombong ke aku? Sedekat apakah hubungan pertemanan kami sampai2 dia bisa menghakimi sifatku hanya SATU KALI kejadian itu aja? Oke, aku tau namanya dan nomor HP-nya. Tapi apakah kami pernah hang out bareng atau sering SMS-an, sampe2 dia bisa tau sifatku yang sebenarnya?

Oya. Dia tadi bilang apa? Aku tambah gendut?

Oke, emang sih sekarang lebih berisi dibanding sebelumnya. Tapi tolong jangan ungkit2 itu di depang khalayak ramai. Apalagi setelah mengataiku sombong. SOMBONG + GENDUT is not a good calculation.
So, please... Jangan main hakim sendiri.

Loh... Kok jadi sewot ya?
Biarin. Yang penting udah curhat. Hehehe...
Dan iya, aku tambah gendut sekarang :)

Hari Minggu kemaren, ada seorang muridku *sebut saja X* menelpon ke rumahku. Beginilah kira2 percakapan yang terjadi antara kami.

X : "Bu, saya mau nanya. Kok nilai UTS Struktur Data saya O (nol) ya Bu?"
Aku : "Oya?"
X : "Iya Bu."
Aku : "Besok kita lihat ya."
X : "Iya Bu."

Kemaren X mendatangiku waktu aku di lab.

X : "Bu, saya yang kemaren nelpon Ibu."
Aku : "Sabar dulu ya.. Saya mau ngajar, sudah ditunggu ini."
X : "Iya Bu."

Setelah aku mengajar.

Aku : *mengeluarkan daftar hadir UTS* "Coba kita lihat, apa kamu ikut UTS atau gak." *membuka daftar hadir dan dia gak ada ttd daftar hadir itu* "Kamu ikut UTS apa gak?"
X : *menjawab dengan ringan* "Gak Bu."
Aku : "Makanya nilaimu gak ada."
X : "Iya Bu."

Beberapa lama kemudian X mendatangiku lagi.

X : "Bu, soal UTS itu yang tentang antrian ya Bu?"
Aku : *mencari file soal ujian di komputerku dan ngasih liat ke X* "Kamu merasa pernah mengerjakan soal ini?"
X : *sambil garuk2 kepala* "Mmmm... rasanya Bu. Saya lupa2 ingat, soalnya sudah lama sekali Bu."
Aku : *sigh* "Kamu kok gak yakin sih? Trus gimana dong."

Tadi, X mendatangiku (LAGI!!!).

X : "Bu, kata Ellen UTSnya diadakan di audit. Kalo itu, saya ikut Bu."
Aku : "Trus?"
X : "Saya duduknya di samping Jadmiko, Bu. Soal no. 3 saya kerjasama sama Jadmiko, Bu."
Aku : "HAAAHHH???? Kamu kerjasama sama Jadmiko???" *sumpah, aku juga kaget mendengar suara cemprengku*


Tadi pagi jadwal ku untuk mengajar anak-anak TKJ (Teknisi Komputer dan Jaringan). Karena aku gak punya jadwal *belum di-print sama temenku*, aku mencoba mengingat-ingat *dengan daya ingat yang sangat payah* jadwal ngajarku yang sudah dikasih tau sama temenku itu beberapa hari yang lalu.

Setelah mencoba mengingat, dengan pede-nya aku berjalan ke arah kelas yang biasanya memang diperuntukkan bagi perkuliahan TKJ. Pas aku sampai di kelas itu, ada beberapa orang murid yang sudah ada di dalam kelas. Lalu ada 1 orang anak TKJ yang keluar kelas untuk memanggil teman-temannya yang lain. Batinku: "Hhh... memang anak2 ini, mesti dipanggil-panggil dulu baru masuk kelas".

Beberapa menit kemudian, beberapa anak sudah memasuki ruangan. Hmmm... kok banyak yang gak kukenali ya wajahnya? Tapi aku cuek aja, soalnya kelas ini besar banget. Jumlahnya lebih dari 100 orang dan susah banget untuk menghapal wajah mereka semua.

Lalu ada 1 orang muridku menghampiri dan terjadilah percakapan berikut:
Muridku : "Bu, anak TKJ masuk juga lah?"
Aku : "Iya, kan sekarang kita ada kelas?"
Muridku : *bingung*
Aku : "Teman2mu yang lain mana?"
Muridku : "Ada di bawah Bu."
Aku : "Loh, kelasnya disini kan?" *aku mencium sesuatu yang tidak beres*
Muridku : "Mmmm... tapi biasanya di ruangan bawah Bu".
Aku : *menatap kearah murid2 yang duduk di bangku kelas* "Ini anak2 TKJ kan?"
Mereka : *menjawab dengan serempak* "Bukaaaannnn..."
Aku : *gubrak mode on* "Trus ini kelas apa?"
Mereka : "Mekanika Rekayasaaaa..." *lagi-lagi dengan kompak*
Aku : *gelagapan+malu+gengsi* "Oooohh... maaf ya, Saya salah masuk kelas...."
Mereka : *sambil menahan ketawa* "Gak papa Buuuuu..."
Aku : *melangkah keluar kelas sambil menatap lurus ke depan*

Seperti kata ponakanku: "Malu deeehh..."

Horoscope



Ini ada percakapan yang selalu terjadi kalo aku baru aja beli majalah.

Mom : *sambil memegang majalah yang baru aja ku beli* "Ini baru kah?"
Aku : "Iya."
Mom : "Ada bintangnya lah?" *horoskop maksudnya*
Aku : *roll my eyes* "Ada."

G.O.T.C.H.A.

Beberapa minggu yang lalu setelah dia pulang dari Surabaya. Pembicaraan ini dilakukan ketika ngantri bensin di SPBU.

Aku : "Kacamatamu baru ya?"
Dia : "Iya. Bagus gak?"
Aku : *sambil memperhatikan wajahnya* "Mmmm... lumayan. Tapi bagusan yang kayak punya ko Ronald."
Dia : "Kalo yang kayak punya Ko Ronald itu mahal, harganya 2 jutaan"
Aku : "Kalo yang ini?"
Dia : "1.800.000"
Aku : "Mahal banget" *sambil geleng-geleng kepala*
Dia : "Gak kok. Aku beli tembakannya di Wonokromo. Harganya cuma 250ribu"
Aku : "Masa sih?" *dengan tatapan menyelidik*
Dia : "Iya... beneran. Ngapain juga beli yang mahal2."
Aku : "Ooooo..."

Beberapa hari yang lalu, di ruang tamu rumahku.

Dia : *Ngebersihin kacamatanya, sambil mengamat-amatinya* "Penjualnya hampir salah ngasih harga loh waktu aku beli kacamata ini."
Aku : "Emangnya dikasih harga berapa?"
Dia : "Dia bilang harganya 1.500.000"
Aku : "Harusnya...?"
Dia : "Harusnya 1.800.000. Hampir aja dia salah jual. Hehehe.."
Aku : *mengerutkan kening* "Bukannya kamu bilang harganya 250ribu?"
Dia : *hening*

Warning: Wanita adalah ahli sejarah terbaik di dunia!

Two Words




In a while, in a word,

Every moment now returns.
For a while, seen or heard,
How each memory softly burns.
Facing you who brings me new tomorrows,

I thank God for yesterdays,

How they led me to this very hour,
How they led me to this place...

Every touch, every smile,

You have given me in care.

Keep in heart, always I'll,
Now be treasuring everywhere.
And if life should come to just one question,

Do I hold each moment true?
No trace of sadness,

Always with gladness...

'I DO...'


Now a song that speaks of now and ever,

Beckons me to someone new,

Unexpected, unexplored, unseen,
Filled with promise coming through.

In a while, in a word,
You and I forever change,
Love so clear, never blurred,

Has me feeling wondrous, strange,

And if life should come to just one question,

Do I face each moment true?

No trace of sadness,
Always with gladness...

'I DO...'

Two Words by Lea Salonga




Beberapa hari yang lalu aku bermimpi tentang seseorang dari masa lalu.


Di mimpiku itu, aku berkunjung ke rumahnya yang terletak di seberang lautan itu. Lalu bertemu dengan Mama dan ade-adenya. Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kok bisa ada istrinya juga di situ. Padahal aku sama sekali gak pernah tau wajah istrinya kayak gimana. Kayaknya istrinya gak sudi kalo gak diikutsertakan. Hahahaha... Mamanya cerita kalo gak bisa cocok sama menantunya itu *maaf, kalo mimpi ini agak berpihak ke aku :P*.


Lalu di mimpiku itu, kami *aku dan seseorang itu* jalan-jalan di tepi pantai sambil membicarakan tentang perasaan kami. Tentang bagaimana nasib membawa kami ke kondisi seperti ini dan akhirnya bersepakat untuk tetap saling berhubungan.


Yah... memang ini yang disebut benar-benar mimpi.


Tapi entah kenapa sampai hari ini mimpi itu selalu mengganggguku. Gak bisa hilang dari kepala. Heran. Memang ku akui, susah banget untuk ngelupain dia. Apalagi mengingat 6 tahun waktu yang kami habiskan bersama. Keadaan yang buat kami mesti berpisah. Dan saat dia mesti mengukuhkan hubungannya dengan orang lain melalui lembaga perkawinan, terasa sangat sakit padahal aku sudah gak sendiri lagi.

Kenapa selama waktu yang kami habiskan bersama itu dia gak bisa memberikan kepastian apa pun? Atau berbuat nekat dengan menyeberangi lautan itu? Dan kenapa hanya diperlukan waktu 5 bulan untuk menetapkan hati selamanya kepada orang lain?


Newer Posts Older Posts Home