
Inilah percakapan yang akan terjadi jika seseorang menelpon pada saat aku tidur siang dan memaksakan diri untuk tetap mengobrol denganku.
(percakapan sebelumnya tidak dapat terekam dengan baik oleh otakku)
Dia : "Kalo ke Bali tuh arahnya ke mana ya? Ke Mojokerto?"
Aku : "Emmm..."
Dia : *menunggu jawaban*
Aku : "Ke atas."
Dia : "Hah??"
Aku : "Ke atas."
Dia : *hening*
Aku : "Bali kan deket sama bulan."
Dia : "Hah??"
Aku : "Iya"
Dia : "...."
Aku : "...."
Dia : "Iya. Aku ke atas."
Aku : "Kalo ke atas, aku titip salam ya.."
Dia : "Buat siapa?"
Aku : "Buat bintang. Kan deket sama bulan."
Dia : "Gak mau. Badanku sudah berat. Ditambah titipanmu nanti tambah berat. Nanti gak bisa nyampe ke atas."
Aku : "Ya udah. Aku tulis surat aja."
Dia : "Mana bisa suratmu sampai ke bintang."
Aku : "Kita liat aja yang mana yang duluan sampe. Kamu atau suratku."
Dia : "...."
Aku : *kembali tidur*
NB:
Semua ini disebabkan tingkat kecerdasanku pada saat itu ada pada level terendah.
Tolong pahami itu.
Terima kasih.
Maafkan aku, atas keputusanku yang ku tahu akan mempengaruhimu.
Bukannya aku tak setia padamu. Tapi coba kau lihat lagi jejak memori yang tertinggal. Tiap kali aku pergi ke tempat seharusnya kita bertemu, kau tak pernah ada. Selalu. Jauh jarak yang harus ku tempuh, tapi kau tak pernah nampak di sana. Selalu.
Kuakui, di saat-saat aku tak dapat menemukanmu selalu ada yang menggantikan tempatmu. Maafkan aku. Ku tak sanggup sendiri. Tapi ku rasa dunia tak kan memusuhiku karena itu.
Dan kini, kita dipertemukan oleh nasib. Aku sempat melonjak kegirangan ketika melihatmu. Di sana, di tempat seharusnya kau menungguku. Tapi entah kenapa, mataku disilaukan oleh sesuatu yang lain. Dia.
Permohonan maaf yang sangat besar ku haturkan padamu. Sebagian hatiku memang sangat menginginkanmu. Ditambah lagi aku melihat kebimbangan sedang berdiri di sudut ruang dan menatap tajam ke arahku. Namun pesona maha dahsyat yang dipancarkannya tak mampu ku tolak. Maaf.
New Moon, aku lebih memilih Lolita ketimbang dirimu.
NB:
Dan ternyata Lolita membawa teman-temannya untuk menemaniku: Teh Kotak dan SilverQueen Chunky Bar. Ha!
Labels: book, my thoughts
My best quote for my students. Thanks to Beby for this quote :)
NB:
Ini postingan mboh kamsud.
Imbas dari pusing membuat laporan.
Bukan hal penting.
Jangan dimasukkan ke dalam hati.
Tak perlu dipikirkan masak2.
.
.
.
OMG, kok sekarang semakin mboh kamsud.
Maafkan.
Baiklah, aku berhenti.
STOP.
Labels: at work, my thoughts

Ini salah satu film yang kutunggu dan akhirnya sudah ku tonton. Setelah negosiasi dengan adeku yang ada di Bandung, akhirnya dia mau mencarikan dvd film ini. Negosiasi itu berupa: uang jalan, ongkos kirim, uang jajan, serta sedikit ancaman penghentian pasokan pulsa gsm-nya. Hhh... terkadang berbisnis dengan sodara sendiri bisa menjadi sesuatu yang menyebalkan.
Intinya film ini bercerita tentang seorang pria yang setia menanti seorang wanita selama 50 tahun. Maaf, aku gak bisa banyak memberikan review karena takut bahasaku yang sangat sederhana ini bisa merusak keindahan filmnya. Ada baiknya ditonton langsung aja.
Sensasi selama aku menonton film ini hampir sama dengan sensasi naik kora-kora. Aku gak tau apa bisa disamakan dengan sensasi naik rollercoaster, karena aku baru sampai tahapan naik kora2. Mungkin suatu saat ada kesempatan naik rollercoaster dan akan kucoba untuk membandingkan sensasi antara naik rollercoaster dan menonton Love In The Time of Cholera *halah*.
Upss.. kebablasan. Balik ke topik.
Kenapa kusamakan dengan naik kora2? Karena emosiku naik-turun selama nonton film ini. Dan selama itu pula aku ngerasa ulu hatiku seperti diaduk2. Kira2 seperti habis implant mixer di perut.
Film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama. Pengarangnya adalah Gabriel Garcia Marquez. Novel yang sekarang ini jadi buruan utamaku. Susah banget nyarinya, bahkan di toko2 buku besar. Dan dari hasil pencarianku, buku ini ada di salah satu daftar katalog buku impor di sebuah situs penjualan buku online. Beli gak ya? Atau ada yang ingin menghadiahiku? Hehehe...
untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya*
Namun ketika aku dengar mereka membawakan lagu 'Laskar Pelangi', tiba2 aku bisa berhenti sejenak dari kegiatan yang kulakukan saat itu dan mendengarkan *dengan seksama* lagu itu. Seperti ada kekuatan magis yang menarikku untuk tetap mendengarkannya. Tapi aku percaya Nidji gak perlu guna2 supaya lagu mereka yang satu ini bisa laku. Musik dan liriknya berjalan bersama. Dan cuma satu kata yang bisa kukatakan untuk menggambarkan perasaanku tentang lagu ini: pas.
tak kan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
warnai bintang di jiwa
Aku lahir dari keluarga yang biasa2 aja. Bahkan bisa dibilang pas2an saat itu. Tapi orang tuaku punya mimpi untuk menyekolahkan anak2 mereka setinggi mungkin. Urusan bayar biayanya gimana, masih belum tau. Tapi bekal yang paling berharga yang orang tuaku miliki adalah: mimpi untuk menjadikan anak2nya orang yang berpendidikan.
Aku pun punya mimpi yang serupa. Ingin kuliah ke Jawa supaya dapat pendidikan yang lebih bagus *bukannya mengecilkan mutu pendidikan di tempat asalku*. Tapi aku pengen punya pengalaman baru dan merasakan kehidupan di luar sana. Dan suatu hari aku liat profil sebuah kampus swasta Surabaya di tv. Mulai hari itu aku bertekad bahwa aku harus kuliah di situ. Walaupun aku sadar, biaya yang harus dikeluarkan untuk kuliah di sana pasti besar sekali. Caranya bagaimana? Dipikirkan nanti.
Ternyata, kampus itu menawarkan beasiswa 100% (tuition fee) bagi calon mahasiswa dari Kawasan Timur Indonesia. Kemudian aku mengikuti tes beasiswa tersebut, dan sebulan kemudian aku diterima. Rasanya hampir gak percaya. Tapi mimpi akhirnya jadi kenyataan.
Dan sekarang, lihatlah. Usaha yang ditekuni orang tuaku sudah menunjukkan hasil yang baik. Formula yang dipakai adalah mimpi + kerja keras. Bahkan mereka bisa menyekolahkan adeku di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku bangga dengan orang tuaku.
walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang Kuasa
Cinta kita di dunia,
selamanya...
Pernah aku bilang sama temen: "Aku pengen banget ke Manado. Entah kapan, tapi aku harus ke sana". Dan 2 tahun setelah aku bilang begitu, kesempatan itu datang. Dan lebih enaknya lagi, tak perlu mengeluarkan biaya pribadi. Menyenangkan bukan?
Mau percaya atau gak, kota2 di 5 pulau besar di Indonesia yang pernah ku kunjungi, semuanya berawal dari mimpi. Dan tujuanku berikutnya adalah: Lombok dan Singapura. Kita lihat, seberapa cepat mimpiku ini direspons :)
memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita
Kalo mau ditanya tingkat keseriusanku waktu ngasih jawaban itu, aku sangat serius. Aku juga gak ngerti kenapa jawaban itu bisa keluar. Tapi yang aku lebih gak ngerti lagi, walaupun aku sudah ngasih jawaban seperti itu, aku tetap dipanggil untuk interview berikutnya. Hehehehe...
Dan memang itu mimpi terbesarku saat ini. Jadi ibu rumah tangga dan pengen punya cafe. Dan kalo anak2 sudah bisa mandiri, pengen beli rumah di desa dengan halaman belakang yang luas lengkap dengan ayunan kayunya. Kemudian sesekali travelling ke tempat2 yang belum pernah dikunjungi. Lalu hidup dengan tenang sampai ajal menjemput. Ketiga hal terakhir tentu saja ingin kulakukan bersama pria yang kucintai *tersipu-malu mode on lagi*.
tak kan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi
Dan bagi orang2 yang bahkan untuk bermimpi pun mereka tak berani, kusampaikan pada kalian 2 kata yang sering diucapkan oleh si Gundheg *temanku* dengan logat Jawa-Toraja nya yang lucu: "Mati ae.."
*Lirik lagu Laskar Pelangi - Nidji
Labels: dreams, life, my thoughts, songs
Barusan ada rapat awal semester. Setelah rapat, beberapa dari kami masih ngumpul2 di ruang rapat dan ngobrol2 *upss... jangan bilang2 ya*.
Trus ada teman, sebut aja namanya Reza, yang cerita pengalamannya waktu kuliah di Jogja. Semua ceritanya lucu, tapi cerita yang satu ini merupakan favoritku.
Suatu hari Reza pergi main bola sama temen2nya. Hari itu dia kebagian jadi kiper. Entah mungkin karena minim pengalaman sebagai kiper, di tengah2 pertandingan tangannya keseleo. Lalu dengan diantar seorang temannya, sebut saja namanya Riri, Reza pun pergi ke tukang pijat.
Pas lagi dipijat, Reza bingung kok yang dipijat tangan yang kiri padahal yang keseleo adalah tangan kanannya. Tapi dia diam aja. Mungkin si Mbah lagi mempratekkan cara pijat paling mutakhir.
"Mas kok tahan ya? Biasanya kalo dipijat pada kesakitan. Sampe ada yang nangis2, bahkan mau pingsan", kata si Mbah sambil kebingungan.
"Soalnya kan yang Mbah pijat tangan yang kiri. Lha yang sakit kan tangan yang kanan".
"Loh, sampeyan kok mboten sanjang Mas..." *bener gak sih tulisannya nih? :P*
Lalu si Mbah pun memijat tangan kanan Reza. Dan beneran, sakitnya bukan kepalang *menjalar2 kian kemari... hehehe*
Setelah selesai dipijat, si Mbah pun pergi ke dapur dan kembali dengan membawa sebuah baskom. "Wah, si Mbah pasti mengeluarkan jampi2nya", pikir Reza.
"Mas, tangannya direndam di baskom ya.."
Lalu Reza pun merendam tangannya di baskom itu. Hal paling pertama yang terlintas di benak Reza adalah : Kok panas banget airnya? Tapi sekali lagi, Reza beranggapan mungkin ini prosedur yang seharusnya. Mau gimana lagi, rasa panas itu mesti ditahan.
"Masih sakit ya Mas? Memang begitu, tapi nanti agak enakan kok."
"Tangannya sih sudah enakan Mbah, tapi saya ini lagi nahan panas. Airnya panas banget Mbah."
Lalu Mbah pun mencelupkan jarinya ke dalam baskom air itu.
"Wah, kalo ini sih panas banget Mas. Sampeyan kok mboten sanjang. Sebentar ya..."
Si mbah kemudian memasukkan air yang lebih dingin serta garam ke dalam baskom itu.
"Nah, ini lebih enakan Mbah..." *napas lega*
Setelah acara rendam merendam itu selesai, si Mbah pun membubuhi parutan kunyit di tangan Reza yang keseleo dan membebatnya dengan kain. Lalu Reza membayar jasa si Mbah dan pergi bersama Riri.
Di perjalanan, Riri mengingatkan Reza kalo mereka mesti ke suatu tempat *aku lupa ke mana gitu...*. Selama di perjalanan, Reza melihat ada yang aneh dengan tali yang mengikat bebatan tangannya itu.
"Ri, rasanya ada yang aneh deh dengan talinya ini. Kayak tali beha." *sambil memperlihatkan tangannya ke Riri*
"Hahahaha... itu kan emang tali beha Za. Tuh ada kaitannya. HAHAHAHA...."
Karena malu, akhirnya Reza pun melepas bebatan tangannya. Biarlah tangan gak bisa sembuh dengan cepat, pikirnya. Urusan di tempat tujuan selesai, dan Reza dan Riri pun kembali ke kost2an. Sampe di kost, Reza baru nyadar kalo kunci kamarnya gak ada. Lalu dia merunut kejadian yang sudah dialaminya untuk mengingat-ingat tempat terakhir kali dia mengeluarkan kunci kamarnya. Lalu memori membawanya ke rumah si Mbah tukang pijat.
"Wah, kita mesti balik lagi ke rumah Mbah tukang pijat yang tadi."
Dan seperti tersadar akan sesuatu... Reza pun melihat tangan kanannya.
"Waduh, lilitannya sudah ku copot. Pasti nanti dimarahin sama si Mbah. Tapi talinya sudah dibuang."
Akhirnya Reza dan Riri terpaksa harus kembali ke tempat mereka membuang tali beha itu. Dan mesti nyari2 dengan susah payah , karena hari sudah mulai gelap.
Dan setelah hari itu, kalo diajak main bola lagi, Reza selalu menolak posisi sebagai kiper.
NB: Semua percakapan antara Reza, Riri, dan si Mbah dilakukan dengan bahasa Jawa.
Labels: friendship

Hari Minggu kemaren, ada undangan makan2 di rumah tanteku. Sebuah undangan yang paling cepat direspons oleh semua keluarga. Daya tariknya tentu saja, makan2nya itu :D
Ada beberapa alasan sih kenapa aku datang ke rumahnya tanteku:
- Itu salah satu tante favoritku dan aku deket banget sama anaknya.
- Rumahnya gak seberapa jauh dari rumahku.
- Papah sama Mamah kesana. Dan karena aku gak mau sendirian di rumah, aku juga kesana.
- Last but not least, ya makan2nya itu tadi :D
Pas lagi asik ndengerin gosip baru dari seorang tante, terjadilah percakapan antara aku dan sang tuan rumah.
Om : "Vi, pernah makan itu gak?" *sambil nunjuk ke arah keranjang buah di atas meja*
Aku : *melihat keranjang itu* "Ini apa Om?"
Om : "Buah marau."
Aku : "Eee.." *dengan tampang bego karena gak tau*
Om : "Buah rotan."
Aku : *mulut membentuk ooo...* "Emang bisa dimakan Om?"
Om : "Bisa.Coba ja." *sambil senyum2*
Aku : *terjadi peperangan antara penasaran dan keraguan* "Enak lah Om?"
Om : "Coba ja." *sambil senyum2 lagi*
Aku : *keraguan dikalahkan penasaran*
Akhirnya aku ambil 1 buah marau itu. Yang jadi perhatian pertamaku adalah tekstur kulitnya yang keras dan bersisik. Mirip kulit salak, tapi lebih keras. Jempolku aja sampe luka sedikit waktu mengupas buah marau itu.
Dan sebelum tepat sebelum kumasukkan buah itu ke dalam mulutku, seorang tanteku yang duduk di sebelahku bilang: "Masam sekali". Tapi sudah terlambat, karena sesaat sebelum kalimat tanteku itu berakhir, buah itu sudah bersemayam di dalam mulutku. Dan.... astaga, asam sekali!!! Saking asamnya sampai aku gak bisa berkata2 lagi.
Om : "Ditaroh gusi bagian luar"
Aku : "mmmm...mmm...mmm..." *ingin mengatakan sesuatu, tapi gak bisa buka mulut*
Om : "Jangan digigit, dibiarin aja sampai masamnya hilang"
Aku : "mmm..mmm..mmm...mmm..." *semakin menggerakkan mulut ternyata semakin asam*
Om : "Nanti lama2 rasa masamnya hilang sendiri"
Aku : *ya iyalah...* "mmm...mmm...mmm..."
Dari cerita Om ku, buah marau ternyata adalah buah rotan. Pernah liat kursi, meja, keranjang, tempat majalah yang terbuat dari rotan? Nah, buah marau adalah buah yang dihasilkan oleh batang rotan itu.
Kita gak akan pernah liat buah ini dijual di pasaran. Bukan karena penggemarnya sedikit *mengingat rasa asamnya itu*, tapi karena sudah semakin langka. Eksploitasi hutan secara besar-besaran membuat buah ini semakin jarang ditemui. Biasanya cuma ada di hutan2 yang jarang dijamah oleh manusia.
Walaupun aku memutuskan untuk tidak menyukai buah ini, aku senang sekali punya pengalaman makan buah marau itu. Apalagi kalo melihat ekspresi senangnya para keluarga *khususnya yang generasi atas* waktu liat buah itu. Sumpah, mata mereka berbinar-binar :)

Tulisan tanpa tujuan ini dibuat karena aku lagi kesepian berat.
Apa sebab?
Papah sama Mamah pergi ke luar kota 2 hari yang lalu dan otomatis rumah yang hanya memiliki 3 penghuni *entah kalo ada penghuni yang tak terlihat, hiiii...* kini hanya tersisa aku.
Awalnya sih seneng2 aja, karena aku juga sudah biasa ditinggal di rumah sendirian. Gak usah berbagi remote tv, bisa pake telkomnet instan sepuasnya *biang kerok besarnya tagihan telpon bulanan :p*, bisa bangun siang tanpa diomelin Mamah, dan gak perlu sering2 nyapu rumah *FYI, Mamahku orang yang menjunjung tinggi kebersihan rumah*.
Tapi lama2 bosan juga. Soalnya sepi banget. Biasanya jam 6 sore sinetron entah-kapan-berakhir mulai berparade di tv. Itu tontonan wajib Mamahku yang biasanya kujadikan bahan celaan. Dan entah kenapa, hari ini aku merindukannya. Arrrrggghhh...
Kalo rumah kotor dikit, Mamah pasti menyalakan 'radio'-nya yang berisi omelan panjang lebar tentang betapa dia gak suka rumah yang kotor. Dan selalu yang kena sasaran adalah aku dan Papah. Beruntunglah penghuni2 lain itu *kalo emang ada* karena mereka tak terlihat. Dan sialnya, kenapa aku merindukan omelan itu ya? Hhhhh...
Sekarang aku tau kenapa orang bisa mati karena kesepian...
Labels: life
Perlu waktu hampir 3 minggu untuk menyelesaikan buku ini. Bagiku ini waktu yang terbilang lama untuk menyelesaikan sebuah fiksi yang tidak membosankan. Biasanya bila sebuah buku yang kubaca membosankan, hanya perlu waktu 3-4 hari untuk melihat tanda2nya dan memutuskan untuk tidak melanjutkannya.
Kembali pada kutipan di atas.
Kalimat tersebut mengingatkanku seberapa sering aku selama ini memilah-milah manusia ke dalam beberapa kategori. Sadar atau tidak sadar. Baik itu kategori manusia yang menyenangkan dan kategori manusia yang tidak menyenangkan *yang tentu saja kusembunyikan rapat2 dari yang bersangkutan*.
Dan sekarang mataku mulai melihat bahwa hanya ada satu kategori saja.
Manusia.
Labels: book, my thoughts
Terima kasih buat seseorang yang dengan senang hati melemparkan pe-er ini buatku.
Empat Tempat Tinggal:
Rumah orang tua di Palangka Raya
Kost2an di Surabaya
Rumah Mina (tante-red) di Kapuas
Rumah Tambi (nenek-red) di Palangka Raya juga
Empat Kerjaan:
Ngajar
Nonton
Nyanyi *bisa dikategorikan kerjaan juga gak sih?*
Makan a.k.a nggragas :D
Empat Film yang Udah Pernah ditonton mpe 100x:
*sebenernya gak sampe 100x kali sih*
Runaway Bride
Serendipity
Fly Me To Polaris
P.S. I Love You
Empat tv Show Favorit:
Kick Andy
Oprah Show
Friends
Infotainment *hahahahaha*
Empat Makanan Favorit:
Gado-gado
Sate ayam
Donat mangga-nya J.Co. (sambil ngiler nih..:P~)
Empal Penyet Bu Kris (ngiler lagi.. :P~)
Empat Situs Favorit:
Google
Yahoo
Piyek's Stories *narsis dikit gpp kan???*
WebSudoku
Empat Target Berikutnya:
Pak Dokter
Pak Dokter
Pak Dokter
Pak Dokter
Karena tak punya banyak teman di dunia per-blog-an, maka ku kembalikan pada mu lagi :D Anggap aja sekarang lagi main voli. Hehehe...
Labels: peer
Kabarnya sekarang gimana?
Kalian pacaran berapa lama sih?
Masih cinta gak sama dia? Kalian kan pacarannya lama banget...
Married-nya Desember apa Januari sih?
Sudah punya anak apa belum?
Suara bapak tadi mirip sama suara dia ya...
Eh, gimana kalo misalnya dia ternyata menceraikan istrinya dan tiba2 datang kesini?
Masih sering inget dia apa gak?
Susah gak ngelupain dia?
STOP!!!!
Hello guys...
I will still remember him if all of you keep talking about him.
Can you all just stop talking about him please... Because it hurts me, you know. Hurts me so deep.
Thank you for listening to me anyway.
Labels: love, my thoughts
Kira2 gimana ya kalo para pekerja berkumpul dan menghabiskan weekend di lapangan bulu tangkis.
Hasilnya adalah permainan sering sekali terhenti karena:
- Banyak sekali yang datang minta tanda tangan. Dan yang bikin sebel, mintanya kreditan. Maksudnya selang 15 menit ada 2 atau 3 orang yang datang untuk minta tanda tangan.
- Beberapa kali diinterupsi kurir yang menyerahkan berkas2 atau sekedar bon pembelian.
- Telpon masuk *dan ini sering sekali terjadi*.
- Membalas sms penting.
Ini benar2 terjadi!
Lagi pengen banget makan:
- Cheesecake-nya BreadTalk
- Empal penyet Bu Kris
- Brownies Tante Silvi
- Nasi bebek di depan gang kost2an
- Bakso di depan GKI Resud
- Izzi pizza
- Donut rasa mangga-nya J.Co
- Tiramisu-nya Starbucks
- Gado-gado Arjuno
Alangkah lebih baik lagi kalo disertai dengan tiket PP Surabaya-Palangka Raya :)
Labels: foods
Lagi bete berat. Apa pasal? Berkas naik pangkat gak LOLOS.
FYI, sebagai tenaga pengajar, kalo mau naik pangkat or jabatan fungsional mesti mengumpulkan angka kredit. Nah, untuk kenaikan pangkat kali ini aku mesti mengumpulkan 50 angka kredit.
Dengan susah payah aku mengumpulkan 50 angka kredit itu. Membuat makalah, menulis di jurnal, mengajar banyak sekali materi, bahkan mesti aktif di kepanitiaan institusi tempatku bekerja *karena itu juga dinilai*.
Mendekati hari pengumpulan berkas, aku pun sibuk menlengkapi berkas2ku yang seabrek itu. Bermodal tanya sana tanya sini *karena gak ada panduan atau manual book-nya* akhirnya aku bisa menyelesaikan berkas2 naik pangkat itu dan merampungkan penghitungan angka kredit. Aku ngotot membuat sendiri perhitungan angka kreditku, padahal banyak aja yang menawarkan 'jasa' penghitungan angka kredit dengan kompensasi yang bervariasi. Mulai dari Rp. 100.000,- sampai Rp. 500.000,-.
Dan beberapa hari yang lalu, aku dikabari sama temenku kalo berkas ku gak lolos karena angka kreditku kurang 1 poin. Rasanya gemes banget, kok bisa kurang 1 poin? Setelah tanya sana tanya sini (lagi), berkas temanku yang lolos gak jauh beda sama punyaku. Trus kurangnya dimana?
Setelah itu aku langsung ke bagian kepegawaian, dan dari mereka aku tau kalo poin di bagian pengajaranku banyak yang gak diakui.
HOW COME??? Padahal aku sudah melampirkan SK *surat keterangan -red* mengajarku. Trus kemana larinya kelas2 yang pernah ku ajar itu? Kemana perginya kerja kerasku di bidang pendidikan ini? Kemana hilangnya apresiasi terhadap dedikasiku?
Yang membuatku bingung bukan kepalang adalah pejabat penilai kenaikan pangkat adalah atasanku yang notabene orang2 yang dengan senang hati membebankan begitu banyak pekerjaan ke aku. Dan aku pun dengan senang hati pula mengerjakannya atas nama pengabdian.
Yang masih mengganjal sampai sekarang:
Apa mereka lupa sama aku?
Lupa dengan kerja rodiku selama ini?
Atau, cuma ingat waktu ada kerjaan aja?
Atau, jangan-jangan aku ini transparan?
Astaga!!! Sepertinya aku mulai tak terlihat.
Labels: at work, life, my thoughts

Kenapa kutambahin ++ setelah kata sebuah? Karena ada 2 buah nama yang akan kubahas dipostingan kali ini
Piyek
Nama 'Piyek' dipopulerkan dipertengahan tahun 2002. Waktu itu ada lomba paduan suara mahasiswa di Kupang. Kejadian sih gak sengaja, bahkan lebih tepatnya kecipratan apes.
Salah satu temen deketku * yang waktu itu masih belum seberapa deket*, di make up sama Miss Cosmo a.k.a Kak Lia. Trus KL *alias Kak Lia* bilang: "Kon lucu yo... Kaya Panda". Sejak itu sampe sekarang, temenku yang nama aslinya Silvia itu dipanggil Panda sama anak2 PS *paduan suara-red*. Bahkan sekarang banyak temen2 yang lupa atau bahkan gak tau kalo nama aslinya. Hahaha... Sakno kon Pan...
Tak terima dirinya aja yang diberi nama panggilan yang tak mengenakkan *tapi sekarang dia udah pasrah kok*, si Panda pun mencari teman. Akhirnya aku yang kena sasaran. Dan ketemu lah nama panggilan yang cocok sama aku, PIYEK. Kenapa dinamain Piyek? Karena aku takut sama ayam. Silakanlah tertawa sepuasnya dulu, karena emang aku takut banget sama ayam.
Dan akhirnya sampe sekarang sebagian anak2 PS, terutama yang deket sama aku, manggil aku Piyek. Tapi untungnya ada beberapa yang masih dengan baik hati mengingat nama asliku dan tetap memanggilku dengan nama pemberian orang tuaku itu. Thanks guys... :)
Tentang ketakutanku sama ayam, ada satu cerita lucu yang kalo diingat2 bisa bikin malu juga. Pas SMA, entah kenapa banyak ayam keleleran di halaman sekolah. Pernah satu hari, aku pengen ke WC dan dari jauh aku sudah liat ada sepasang ayam lagi bersantai di bawah pohon deket WC sekolah. Aku sudah ambil ancang2 dan mem-planningkan rute yang akan ku ambil supaya gak perlu deket2 dengan 2 makhluk menyebalkan itu.
Entah kenapa, tiba2 ayam jago kejar2an sama ayam betina. Kayaknya si jago lagi kebelet sama si betina, tapi si betina lagi ogah. Gak tau apa si betina lagi marahan sama si jago, lagi malas aja, atau lagi datang bulan. Pas kejar2an itu lagi seru-serunya, kayaknya si betina yang melihatku mendekat mencari suaka. Tiba2 si betina sudah berlari ke arahku. Kontan aja aku lari sekencang2nya sambil teriak2. Eh bukannya menjauh, si betina malah semakin ngotot lari ke arahku, dan si jago gak kalah ngototnya ngejar si betina. Akhirnya terjadilah aksi kejar2an, di mana aku, si betina, dan si jago yang menjadi peran utamanya.
Setelah 3 putaran mengelilingi pohon, dengan paniknya aku langsung masuk WC dan kunci pintunya. Sampe temen2 yang lagi ada di WC kaget plus heran. Aku cuma bisa bilang: "Gak papa.. Gak papa..." dengan muka yang kuyakini pucat banget.
cutedv
Ini nick ku waktu masih keranjingan chatting di mIRC. Idenya gak muncul gitu aja sih. Nama ini terinsipirasi dari seseorang yang dulu pernah deket (cieeee...). Dia dulu suka manggil aku MiniDV, disebabkan bentuk tubuhku yang mungil *FYI, sekarang sudah gak mungil lagi :D*. Olehku, nama itu kuplesetkan lagi jadi CuteDV *sekarang masih tetep cute kok. Hahahahaa...*
Labels: friendship, life


