Aku meluangkan waktu (seluang-luangnya) ketika membaca Rectoverso. Menyelesaikan semua kegiatan, men-silent hp, kemudian berbaring dengan santai. Menenggelamkan diri dalam kesunyian. Hening.
Lembar demi lembar itu memaksaku untuk terus membaca. Seperti tak rela membiarkanku berpaling dari pesona keindahan aksara yang tertera di atasnya.
Cerita yang disuguhkan sepertinya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan ketika aku membacanya, yang terlintas di pikiranku adalah 'ini kok mirip ceritaku ya..', 'ih, kayak ceritanya si anu', 'cerita ini si anu banget deh', danseterusnyadanseterusnya.
Contohnya 'Hanya Isyarat' yang sangat kuingat sebagai 'Cinta Punggung Ayam'. Bercerita tentang cinta yang tak berani diungkapkan. Padahal orang itu begitu dekat, begitu nyata (mmm.. kok terdengar seperti jargon operator telepon selular ya.. tak ada maksud menjiplak.. sungguhsuersumpah).
Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh
yang lenyap keluar dari bingkai mata
sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara,
langit, awan, atau hujan.
Kemudian ada 'Malaikat Juga Tahu' yang bercerita tentang cinta-setengah-mati seorang pria. Sayangnya si wanita menganggapnya hanya sebagai rekanan yang sangat setia. Selalu siap pakai kapan pun dibutuhkan. Walaupun cerita yang persis sama seperti ini akan jarang sekali kita temui pada kehidupan sehari-hari, tapi secara garis besar cerita seperti ini banyak beredar di jagat nyata. Memilukan. Mencelikkan mata. Membuatku nyaris menangis.
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
I'm thankful for this moment...
...
If everything has been written down, so why worry we say
It's you and me with a little left of sanity
...
*semua kutipan diambil dari sini
Labels: book, friendship, life, love, my thoughts, songs

Pernahkah kamu merasa jengkel setengah mati mmm.. (diganti aja dengan) bukan kepalang terhadap seseorang sehingga merasa dirimu sanggup untuk menelan orang itu hidup-hidup?
Sekarang aku bahkan sanggup menelan DUA orang sekaligus! Dua manusia itu! Makhluk yang punya mata, telinga, mulut, hidung, kaki, tangan, usus, paru-paru, tapi sayang hatinya ketinggalan entah di mana.
Ditelan. Bulat-bulat. Hidup-hidup.
Supaya mereka tau rasanya tinggal dalam perut manusia.
Labels: my thoughts
Sama dengan permintaanku di buku pertama, kalo ada yg nemuin buku ini (dan mungkin jg membacanya), tolong dikembaliin ke alamatku yang ditulis di lbr sblmnya.
Jadi, kalo dikembalikan, tlg dibungkus rapat2 trus dimasukin dlm amplop. Buat sedemikian hingga, spy gak ada yg bisa ngintip & menebak apa isinya. Soalnya aku gak mau ada org lain yg baca buku ini (selain kamu!!!).
Trus kalo ke alamatku, jgn cari aku. Cari aja temen kost (Desi, Sisca, Lona, Welly, Leni). Ingat, jangan cari aku!!! Soalnya aku gak mau kamu ingat mukaku & aku jg ingat mukamu. Sdh cukup rasanya aku tau ada org lain yg baca buku ini, jd tlg jgn ditambah dg tau siapa yg baca.
Kalo misalnya kamu kenal aku, tlg jgn diungkit2 lagi soal apa yg ada di buku ini. Dan tlg kalo di hadapanku, kamu berpura2 gak pernah baca buku ini (akting.. akting..). Kalo gak, aku akan mendiamkanmu u/ waktu yg sangaaaat lamaaa..!!!
Misalnya merasa berat u/ ngembaliin buku ini, tlg dimusnahkan aja. Kalo kamu berniat menyimpan buku ini dengan maksud u/ memerasku suatu saat, HAHAHAHA... kamu salah besar!!! Aku serius loh...
Hahaha! Lucu banget ya... Aku jadi agak geli-gimana-gitu waktu baca ini. Kekonyolan di masa lalu. Hahaha!
Tulisan itu ku buat di buku jurnal ku (Kenapa bukan 'diary'? Karena rasanya terdengar terlalu abegeh. Ups.. sori ya para abegeh..). Ditulis pada masa-masa kuliah. Dulu sih pernah punya yang beginian pas SMA (nah, yang satu ini pantas disebut 'diary' :P). Tapi cuma bertahan setahun. Setelah itu malas nulis lagi. Masalah klasik: gak telaten.
Pas agak akhir kuliah aku tergerak untuk punya lagi catatan harian. Alasan utamanya sih karena (mantan) pacarku sudah balik ke kampung halamannya, dan seketika itu juga aku kehilangan teman bercerita paling terpercaya. (Hehehe.. begitulah nasib pacar (pacar) ku. Harus tahan mendengar ceritaku yang tak ada habisnya :D).
Selama kuliah aku punya 2 buku jurnal. Tapi karena pindahan alias balik kampung, sebagian buku-bukuku mendekam di kardus-kardus (yang malas untuk ku utak-atik, karena belum menemukan media penyimpanan yang memadai). Dan buku jurnal yang pertama (rasanya) salah satu dari buku-buku terpendam itu. (Atau.. jangan2 sudah berpindah tangan. Alamak!!).
Isi buku ini cukup ringan (karena aku bukan tipe pemikir yang pandai berfilosofis *apaan sih..*). Kalo lagi sendirian di kamar kost aku paling seneng dengerin radio dan secara otomatis tanganku akan meraih pulpen dan menorehkan sesuatu di buku itu (mmm.. biasanya ditemani secangkir kopi pula). Entah itu memuji atau mencerca lagu yang sedang diputer, menulis lirik lagu yang sedang kugandrungi, perasaanku terhadap (mantan) pacar yang jauh di seberang pulau, kelakukan temen kost yang ngeselin, pengalaman travelling ke beberapa tempat, karcis bioskop yang ditonton bersama (mantan) pacar atau teman-teman (hanya sebagian kecil, karena ada beberapa karcis yang hilang), atau sekedar menuliskan daftar pengeluaranku hari itu. 
Kalo lagi malas mendengarkan dosen memberikan kuliah, aku bakal mengeluarkan buku itu dan menuliskan beberapa baris di dalamnya. Atau ketika lagi nunggu teman di kantin, menulis di jurnal tercinta itu cukup membantu mengatasi kejenuhan.
Frekuensi menulisku beragam. Dalam satu hari aku bisa melakukan entry tulisan sampe 4 kali. Tapi kalo mood menulis mendadak hilang mungkin 4 hari kemudian aku baru menuliskan sesuatu. Bila itu terjadi, aku bakal menggambari lembar-lembar dalam buku itu. Yah.. kuakui kemampuan menggambarku sangat minim, tapi lumayan membuat lembar-lembar itu berwarna :D Pada masa itu, jika membuka tasku maka akan terlihat penghuni tetapnya: buku jurnalku dan seikat pensil warna. (Kuikat pake karet gelang karena kotaknya sudah jelek dan tak berbentuk. Hahaha!)
Setelah ku baca ulang beberapa hari yang lalu, aku menyadari betapa banyak perubahan yang telah ku alami. Dari tulisanku aku bisa membandingkan pemahamanku saat itu dan sekarang, dan ternyata cukup berbeda. Dan terkadang bisa membuatku menertawakan diriku sendiri. Kok bisa ya aku dulu bisa begitu? Hahaha!
Dari buku ini baru tau juga kalo aku ternyata pernah liat-liat situs Blogger pada tahun 2004! (Dan baru sekarang punya blog. Go-blog! Go-blog!)
Labels: life, my thoughts

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang memintaku untuk membuat postingan tentang tips berenang. Dari pembicaraan melalui sms, ku ketahui ternyata dirinya tak begitu pandai berenang. (Setelah ini, aku siap-siap kabur.. :P)
Sebelum memulai tips, seperti sebagian (aku tak menambahkan kata 'besar' atau 'kecil' loh ya...) orang Indonesia yang terbiasa untuk berbicara ngalor-ngidul sebelum menuju topik utama, maka aku pun ingin bercerita tentang pengalamanku belajar berenang.
Waktu kecil aku divonis kena 'firasat' dimakan buaya. Mengerikan ya.. Indikasinya adalah: urat hijau yang melintang di antara dua mataku. Menurut cerita Papah, diadakanlah ritual untuk membuang sial (atas desakan keluarga besar). Rasanya itu dilakukan waktu aku masih kecil sekali, karena sekarang aku tidak punya ingatan tentang hal itu. Secuil pun tidak.
Oleh karena itu, di antara sepupu2 dari pihak Papah, hanya aku yang gak bisa berenang. Mungkin keluargaku takut aku disambar buaya kalo berenang di sungai. Yang paling sering kulakukan adalah menonton sepupu2ku berenang2 di sungai sambil sesekali diolok2 karena tidak bisa berenang.
Entah ini ada hubungannya atau tidak dengan 'firasat' dimakan buaya tadi, aku juga menjadi pemegang rekor sering tenggelam di antara sepupu2ku. Entah itu karena kebodohanku yang menganggap bahwa semua orang bisa serta merta mengapung ketika menceburkan diri ke sungai, jatuh waktu menyeberang jembatan (yang panjangnya hanya 3 meter), terlalu bersemangat berteriak ke sepupuku yang memetik buah di seberang sungai sampai2 terpeleset dan jatuh ke sungai, atau karena nekat belajar berenang di sungai sendirian. Rekor itu pula lah yang bikin aku sempat trauma untuk belajar berenang.
Di akhir SMA, sekolahku menetapkan renang sebagai olahraga yang wajib dipelajari. Dan sialnya, nilai kelulusan untuk mata pelajaran Penjaskes ditentukan dari nilai kelas renang tersebut. Aku yang tadinya takut belajar berenang akhirnya mau tidak mau harus bisa berenang. Rasa takut dapat nilai jelek mengalahkan rasa takut berenang.
Untungnya di akhir caturwulan aku bisa berenang juga. Walaupun berenangnya hanya berbekal satu tarikan napas. Jadi kalo napas sudah megap-megap, aku mesti berdiri (itulah sebabnya aku pilih kolam untuk anak kecil kala itu) dan mengambil napas untuk bekal menempuh jarak berikutnya. Hahaha!
Aku menyempurnakan kemahiran berenangku (apaan sih...) ketika kuliah. Kebetulan tak jauh dari kostku (menurut standard jauh-dekat di Surabaya) ada kompleks perumahan yang memiliki fasilitas kolam renang. Dan hampir tiap minggu aku dan teman2ku menyempatkan diri berenang di sana. Hingga akhirnya skill berenangku mengalami perkembangan yang signifikan (apaan sih..). Rekor renang terbaikku: mengelilingi kolam renang itu sebanyak 15 kali. Yah.. walaupun ukuran kolam renangnya tak seberapa besar. Hehehe...
Oke, balik ke topik..
Tips renangku ini mungkin bukan yang terbaik, tapi sudah pernah ku uji coba pada dua orang temanku yang sama sekali belum bisa berenang. Dan hasilnya, mereka berdua langsung bisa berenang pada pertemuan pertama (dengan catatan: renang dengan satu tarikan napas :P). Alangkah lebih baik jika menggunakan kaca mata renang. Lebih nyaman.
Lesson #1: Membenamkan kepala ke dalam air
Tarik napas dalam-dalam. Lalu benamkan badan ke dalam air dan buang napas di dalam air. Kalo napasnya sudah habis jangan lupa untuk kembali ke permukaan (hehehehe..). Lakukan sebanyak 5 kali. Ini dimaksudkan agar kita terbiasa dengan air, supaya gak 'cegek'.
Lesson #2: Mengapung
Ini hal yang paling gampang dari pelajarang berenang. Apa sebab? Coba benamkan kepala ke air sampai batas telinga, lalu angkatlah kaki. Dengan serta merta kita akan mengapung. Percayalah. Kalo sudah berhasil mengapung, biarkan badan mengambang di permukaan air untuk beberapa saat. Ini untuk membiasakan diri dengan sensasi yang terjadi ketika berat tubuh ditahan oleh air. Disarankan juga untuk melakukannya beberapa kali sebelum melangkah ke pelajaran berikutnya.
Lesson #3: Kaki
Ketika sudah bisa mengapung, kita pasti tidak ingin ngambang di tempat aja kan? Oleh karena itu, ketika sudah mahir mengapung, gerakkanlah kedua kaki untuk mendorong maju. Tapi perlu di ingat, betis dan paha harus selalu sejajar selama kaki digerakkan.
Lesson #4: Tangan
Lima jari harus rapat karena tangan dianalogikan sebagai dayung selama berenang. Ketika mengayunkan tangan ke dalam air, usahakan lengan membentuk setengah lingkaran. Kemudian pada saat di dalam air, gerakkan tangan membentuk sudut 180 derajat. Ketika lengan sudah menyentuh permukaan air, tarik dan ulangi lagi dari awal. (Maaf, penjelasannya acak-adut. Mudah2an bisa mengerti). Catatan: sebaiknya gerakan tangan dipelajari setelah mahir melakukan gerakan kaki.
Lesson #5: Mengambil napas
Biasanya materi ini kuberikan pada pertemuan kedua karena sedikit rumit. Perlu diketahui, arah mengambil napas harus selalu sama. Konstan. Bila ke arah kiri, selalu ke kiri. Bila ke arah kanan, selalu ke kanan. Di sini ku contohkan cara mengambil napas ke arah kanan (menurut kebiasaanku, supaya gampang membayangkannya :P). Ketika tangan kiri yang sedang berada di dalam air membentuk sudut 90 derajat terhadap tubuh, angkatlah sedikit tubuh bagian atas dan miringkan kepala ke arah kanan. Kemudian bernapaslah dengan mulut. Kenapa? Karena dengan waktu yang singkat kita harus mengambil napas secara maksimal. Rasanya dua lubang hidup yang kecil itu masih belum bisa mengalahkan kemampuan satu (lubang) mulut yang besar itu bukan? Hahahaha! Ini juga untuk mencegah resiko yang terjadi jika hidung kemasukan air.
Demikianlah pelajaran berenang bersama Piyek. Semoga bisa bermanfaat dan berguna bagi kemajuan hidup kita bersama(garing.. garing..)
Labels: friendship, sports
I like the feel of your name on my lips
and I like the sound of your sweet gentle kiss.
The way that your fingers run through my hair,
and how your scent lingers even when you're not there.
And I like the way your eyes dance when you laugh,
and how you enjoy your two hour bath.
And how you convinced me to dance in the rain
with everyone watching like we were insane.
I love the way you love me.
Strong and wild, slow and easy.
Heart and soul, so completely.
I love the way you love me.
I like the way that you sing sweet and low
When they're playing our song on the radio
And I like the innocent way that you cry
At old time movies you've seen hundreds of times
And I could list a million things
That I love to like about you,
but they all come down to one reason I could never live,
live without you.
ERIC MARTIN
PS:
We love someone because of some reasons, don't we?
*Di sela-sela lembur pada hari Minggu T_T*
Labels: songs
Ternyata berdiri di tengah tidaklah gampang.
Berusaha menahan gerakan dari sisi kiri agar tak menyakiti sisi kanan. Memfilter aksi-aksi yang dilakukan sisi kanan agar sisi kiri tak semakin marah.
Yang berdiri di tengah pun lebam-lebam. Hhh...
Dan saat tak ada lagi perbedaan antara sisi kiri dan sisi kanan, semua akan meninggalkan lapangan dengan hati bahagia. Yang tersisa adalah: si tengah, dengan probabilitas yang besar untuk disambar petir. Ha!
Tuhan, aku boleh curhat gak?
Labels: my thoughts
Pernah liat iklan sabun cuci (kalo gak salah sabun cuci, tapi kalo bukan, yang pasti iklan ini pernah eksis :P) yang ceritanya tentang seorang anak yang punya baju favorit. Saban bajunya kering habis dicuci, langsung dipake. Rasanya demam cuci-kering-pake ini melanda hampir semua anak. Kukatakan hampir, karena aku sendiri gak mengalaminya. Aku memiliki 'demam' lain yang kuanggap terlalu memalukan untuk diungkapkan pada blog ini. Dan 'demam' terus terjadi sampe sekarang. Hahaha!
Jangan salah, ternyata falsafah cuci-kering-pake gak cuma melanda anak-anak. Ada satu orang dewasa, yang kukenal dengan sangat baik, yang menganut paham ini. Orang itu tak lain dan tak bukan: si Papah.
Aku sih baru nyadar akhir-akhir ini aja kalo ternyata si Papah kalo lagi suka sama satu baju pasti bakal itu baju bakal sering banget dipake.
Sekarang ini Papah lagi seneng sama salah satu bajunya. Mau Papah ke tetangga, ke rumah sodara, ke ibadah rumah tangga, bahkan sekedar ngumpul2 di warung sebelah rumah, mesti baju ini di pake. Sempat diprotes sih sama Mamah: "Ih... bajunya kok itu terus? Gak malu? Nanti dikira gak ada baju yang lain". Jawaban si Papah: cuek beibeh, yang kurang lebih bisa diartikan: "Iya aku tau. Tapi aku suka banget baju ini".
Pernah satu hari, pas aku lagi nyuci, si Papah nyamperin dan bilang: "Titip lah" sambil menyorongkan baju kesayangan. Minta dicucikan. Sorenya, pas aku lagi melipat baju2 yang sudah kering, aku liat Papah sibuk bolak balik. Seperti sedang mencari sesuatu. Setelah beberapa kali bolak balik, mata Papah kemudian tertuju ke tumpukan baju yang sudah ku lipat. Lalu Papah mengambil baju kesayangannya yang baru aja dilipat, dan berjalan ke arah meja setrika. Semua dilakukan tanpa mengatakan apa pun. FYI, baju favorit itu bakal jarang sekali terlihat dalam keadaan terlipat rapi di dalam lemari. Ada dua sebab. Pertama, baju lagi ada di jemuran. Atau, yang kedua, bajunya lagi di pake Papah.
Oya, ada satu lagi hobi aneh si Papah. Main suling recorder.
Di Palangka Raya lumayan sering terjadi pemadaman listrik (hhh..). Kira-kira 2 atau 3 hari sekali pasti kena giliran pemadaman. Kan bikin keki tuh. Gak tau mau ngapain. Tapi ada satu orang dirumahku yang paling gak keki sekaligus tau mau ngapain kalo ada pemadaman. Tak lain dan tak bukan: si Papah.
Saban ada pemadaman, si Papah bakal mengumpulkan anggota geng musiknya yang terdiri dari: suling recorder punya adeku (dia main suling ini waktu SD, tapi sekarang pura-pura lupa kalo pernah punya) & buku Kidung Jemaat (kumpulan lagu pujian yang dinyanyikan waktu ibadah di Gereja). Biasanya kalo sudah ada tanda-tanda seperti ini, aku sama Mamah langsung nyari suaka. Suaka.. suaka..
Empat hari yang lalu, kompleks rumahku kena giliran pemadaman. Seperti biasa, Papah sudah standby di meja makan bersama suling recorder dan buku Kidung Jemaat. Aku yang lagi asik browsing pake HP di meja makan (maksudnya aku juga gabung sama Papah duduk di meja makan) pun memasrahkan telinga untuk mendengarkan aksi musikal si Papah.
Lalu setelah beberapa memainkan beberapa lagu dari Kidung Jemaat, Papah diam sejenak. Kemudian, dengan cukup mengagetkan, Papah memainkan lagunya Ebiet G. Ade (gak tau judulnya). Seketika itu juga, aku langsung meninggalkan Opera Mini dan mengarahkan pandanganku ke Papah. Tak lama kemudian terdengar suara Mamah dari kamar: "Lagunya lah...". Si Papah cuma nyengir-nyengir + sedikit besar kepala dan kembali memainkan beberapa lagu dengan suling recordernya.
Kemudian Papah berhenti sejenak. Menatapku. Lalu bilang: "Hmmm... Nanti aku mau beli saxophone. Buat latihan."
Sesaat setelah kalimat Papah berakhir, aku tertawa terbahak-bahak.
Labels: family
Labels: book, my thoughts

Berikut adalah percakapanku dengan seorang teman yang baru aja diputusin pacarnya beberapa minggu yang lalu. Rupanya agak sulit baginya untuk memulihkan hati, dan sekarang teman yang lain sedang berusaha menjodohkannya dengan seorang wanita.
"Sekarang aku baru nyadar. Kalo ternyata 'makanan' yang enak bukan cuma ayam. Masih ada sapi, kambing, kepiting... Mataku baru aja terbuka.", katanya di ujung telepon.
Mendengar itu, aku lalu berkata, "Bener katamu. Tapi tetap harus hati-hati. Karena banyak makanan enak yang mengandung kolesterol yang tinggi."
Hmmm.. Terkadang orang bisa 'kalap' setelah menderita patah hati yang teramat sangat.
Labels: friendship, love
Kutanamkan hatiku, tumbuh bersamamu
Takkan kupetik hingga akhir masa hidupku
Dengarlah, kau dengar
Selama bumi berputar, ku tetap milikmu
Dewi, bukalah kedua matamu
Pandanglah ruang di hatiku
Dewi, berikan nafasmu untukku
Agar kuhirup bersamamu
bersamamu…
terus bersamamu
ALEXA
*my recent fave song
Labels: songs
SMS
sender: +628563065xxx
date: 26.09.2008
text:
Haiiiii..
Sebuah pesan singkat mampir ke inbox HP ku beberapa waktu yang lalu. Waktu saat itu kira-kira menunjukkan pukul 2 dinihari. Waktu yang tidak biasa untuk menghubungi seseorang kecuali untuk sesuatu yang sangat penting.
Pesan ini datangnya dari seorang sahabat, Pastini. Mantan teman kost semasa kuliah dulu. Dan sejak 3 bulan sebelum dirinya melahirkan anak pertamanya, dia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka, Singaraja - Bali.
Sebuah 'buzz' yang singkat dan jelas. Singkat karena, kalau mau meluangkan sedikit waktu, hanya berisi 9 karakter. Dan jelas, karena untuk ukuran seorang Pastini yang paling anti menggunakan kalimat yang berbunga-bunga atau berbusa-busa atau berbuih-buih atau apalah namanya. Pesan ini dengan JELAS menyampaikan bahwa dia sedang kangen.
Kalau boleh, aku ingin bercerita sedikit *emmm.. mungkin kepanjangan kalo aku agak lupa diri* tentang Pastini, temanku ini.
Pastini adalah asli orang Bali. Lahir dengan embel-embel Ida Ayu di bagian depan namanya, yang kita ketahui bersama bahwa hal itu menandakan bahwa dirinya berada pada urutan tertinggi kasta yang berlaku di Bali. Dan bukan cuma itu, keluarganya pun tergolong keluarga yang terpandang di Singaraja.
Dari semua anak kost, Pastini lah yang kondisi keuangannya selalu 'aman'. Tidak seperti kami yang selalu cekak kalo sudah sampai akhir bulan. Hahaha.. Dan cuma dia seorang yang di antara kami se-kost yang mampu membeli 2 kemeja Lee Cooper sekaligus. Yaa... untuk ukuran anak kost seperti kami, bisa membeli 1 kemeja Lee Cooper aja kayaknya berkah yang patut disyukuri *apa sih...*
Namun, sebuah langkah yang sangat besar diambilnya ketika dia bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya. Bahkan langkah yang terlampau besar menurutku. Karena hanya dengan sekali langkah itu saja, Pastini harus meninggalkan status sosial serta keamanan finansialnya. Ya, dia memutuskan untuk menikah dengan kekasih semasa SMA-nya yang berkasta rendah.
Orang tuanya sudah pasti tidak merestui. Mereka pun berusaha untuk menjodohkan Pastini dengan pria yang berstatus sosial yang sama. Dan puncaknya adalah ketika Pastini yang kala itu bekerja di Surabaya, akan 'ditarik' orang tuanya kembali ke Bali. Pastini dan (kala itu masih) suaminya memutuskan untuk menikah secara adat.
Singkat cerita, orang tua Pastini sekarang sudah mengetahui tentang pernikahan itu. Dan puji Tuhan, mereka sudah bisa merestui. Walaupun sampai saat ini Pastini masih belum diperbolehkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya (dikarenakan adat yang berlaku), tapi mereka masih bisa bertemu di tempat lain.
Nah, dari cerita singkat (yang agak kepanjangan) tentang Pastini itu, aku bisa merasakan 'kesepian' yang dialaminya. Jauh dari orang tuanya, ade2nya, serta teman terdekatnya.
Kuakui, sudah beberapa lama aku tidak menghubunginya. Terakhir kali aku menelponnya adalah ketika dia melahirkan anaknya (it's a boy :D), which is 2 months ago. Cukup lama bukan? Dan pesannya yang (amat) singkat ini seolah mem-'buzz' diriku.
Kemudian aku membalas pesannya, setelah aku benar2 tersadar dari tidur tentunya :) Tidak banyak yang kami bicarakan. Masing-masing dari kami hanya mengirimkan 2 buah pesan singkat. Karena memang Pastini bukan orang yang suka bicara panjang lebar. Tapi itu sudah cukup membahagiakanku dan (kuharap) dirinya juga :)
Salad Buah In Action
Dan ternyata pesan (amat) singkat itu menyadarkanku kalo ada beberapa kerabat dan teman-teman yang sudah sekian lama tidak pernah kukunjungi. Bahkan ada yang sudah setahun tidak pernah bertemu muka. Mudah2an postingan ini tidak membuat yang membacanya kapok berteman denganku. Hehehe..
Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kunjungan ke rumah kerabat dan teman dekat yang sudah kuanggap saudara. Tapi rasanya ada yang kurang kalo aku gak membawa buah tangan dalam kunjunganku itu. Ya.. sekaligus sebagai permintaan maaf terselubung karena sudah lama (sekali) tidak mengunjungi mereka :)
Ku putuskan untuk bikin salad buah. Ada 2 alasan. Pertama, karena bahan-bahan dressing salad masih banyak di kulkas. Kedua, karena biasanya salad buahku cukup berhasil melaksanakan tugasnya untuk menyenangkan hati orang yang memakannya *tsah*. Tinggal beli buah-buahan segar dan kalengan untuk melengkapinya.
Pada hari pertama liburan Lebaran, aku pun beraksi *apa sih...*
Dan terjadilah insiden memilukan itu *hiperbola mode on*. Jempolku luka kena pinggiran kaleng susu kental manis. Biasanya sih aku minta tolong Papah untuk membuka kaleng susu kental manis, tapi pada waktu itu si pria serba bisa itu lagi gak ada di rumah. Dan voila... tanganku luka karena keahlian membuka kaleng yang sangat minim.
Terpaksa mesti membangunkan Mamah yang lagi tidur siang untuk bantuin membebat tanganku pake kain karena darahnya gak mau berhenti. Mamah pun bangun dengan kaget: kaget karena bangun siang secara mendadak (sori, gak bisa menemukan kata yang lebih tepat) dan kaget karena lihat tanganku yang berdarah.
Kegiatan pun terhenti beberapa saat.
Untungnya Mamah merelakan jam tidur siangnya untuk membantuku. Kasian liat kerjaanku banyak yang belum kelar. Kuning telur belum dipisahin dari putihnya, buah-buahan sama agar-agar belum dipotong, dressing salah belum dibuat, ditambah lagi loyang-loyang berserakan minta dicucui. Thanks a bunch Mom :)
Dan voila... salad buah pun siap :D

Destination #1
Tujuan berkunjungku yang pertama adalah: rumah tambi (nenek dalam bahasa Dayak -red). Bukan nenek kandungku, tapi suaminya adalah ade kandung dari kakekku *mbulet ya.. :D*. Dan kunjungan itu ku pas2kan supaya aku tiba di rumahnya menjelang berbuka puasa. Oya, FYI, my Grand Dad (from my mother's side) was a Moslem.
Next...
Sudah lama sekali aku gak berkunjung kesana. Emmm.. rasanya terakhir kali aku kesana pas Lebaran tahun lalu. Bahkan pada saat anaknya rawat inap di rumah sakit pun aku gak sempat menjenguk. Hhhh.. benar-benar cucu yang durhaka. Padahal dulu, aku termasuk orang yang paling sering berkunjung ke rumah tambiku yang satu ini. Apalagi kalo bulan puasa. Aku cukup sering mengantarkan makanan *biasanya beli, gak bikin :P* untuk berbuka puasa.
Pas tiba di rumahnya, para penghuni rumah itu cukup kaget melihat kedatanganku. Mungkin karena saking lamanya aku gak pernah mampir. Orang-orang rumah pada melongo melihatku di depan pintu dengan sapaan khas-ku: "TAMBIIIIII...". Cukup keras untuk bisa didengar orang-orang satu rumah. Hehehehe...
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami pun mengobrol di teras depan rumah. Saling bertukar kabar terbaru, berbicara tentang kondisi terakhir om yang baru aja kembali setelah rawat inap, dan masih banyak lagi.
Rasanya sangat menyenangkan.
Ketika hampir maghrib, aku pun pamit dan melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya.
Destination #2
Kunjungan berikutnya adalah rumah seorang teman baik yang sudah kuanggap seperti saudara, Febi. Sebenarnya tujuanku berkunjung adalah untuk menengok ibunya Febi, karena biasanya jam segitu si Febi belum pulang ngantor.
Sejak ayahnya Febi meninggal, aku beberapa kali meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahnya. Baik itu mengantarkan makanan atau sekadar menemaninya mengobrol. Tapi hampir setahun belakangan ini, aku absen dari kegiatan itu.
Ketika aku tiba di rumahnya, ternyata Febi yang membukakan pintu. Loh kok sudah pulang kerja? Tumben. Setelah diusut, ternyata jam kerjanya lebih pendek karena saat itu adalah bulan puasa. Ooooo...
Si Tante pun sama terkejutnya dengan tambi yang kukunjungi sebelumnya. Mungkin ini reaksi standar yang diperoleh kalo sudah lama tidak berkunjung. Hhhhh...
Setelah pulih dari keterkejutannya *apaan sih..*, si Tante pun mengajakku untuk makan malam bersama karena kebetulan mereka lagi makan malam. Aku yang merasa sungkan untuk menolak (ditambah lagi kondisi perut yang lumayan lapar, hahaha..) akhirnya menerima ajakan itu. Dan kemudian gantian aku yang kaget. Karena di meja makan sudah ada pacarnya Febi juga. Ups..
FYI, pacarnya Febi yang sebelumnya sangat tidak menyukaiku. Gak tau kenapa. Mungkin dipikirannya aku adalah wanita yang memiliki potensi sangat besar untuk merebut Febi dari sisinya (halah! still can't find the right words :P). Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu. Impas.
Tapi aku memutuskan untuk menyukai pacar Febi yang satu ini. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah tatapan ramahnya terhadapku. Dan kami berempat (Febi, ibunya, pacarnya, dan temannya-aku) pun makan sambil bertukar kabar.
Menyenangkan (lagi).
Epilog
Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa bahagia sekali. Segala sesuatunya terasa lebih ringan. Betapa perhatian kecil yang kuberikan ke orang-orang terdekat dapat berbalik arah kembali dengan bentuk yang berbeda. Dan dampaknya terhadapku ternyata sangat besar.
Sepertinya aku harus merencanakan kunjungan berikutnya. Kali ini bikin apa ya?
Labels: family, foods, friendship, life, my thoughts
Lagi iseng.
Ganti template.
Mau pulang.
.
.
.
Lapar...
Labels: my thoughts

Si Orang Biru tersenyum. "Tidak Edward. Kau ada di sini agar aku bisa mengajarimu sesuatu. Semua orang kau temui di sini punya sesuatu untuk diajarkan padamu."
Eddie tidak percaya. Tangannya masih terkepal.
"Apa?" tanyanya.
"Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin."
=============
"Orang-orang asing," kata si Orang Biru, "adalah keluarga yang masih belum kaukenal."
=============
"Tidak ada kehidupan yang sia-sia," kata si Orang Biru.
"Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian."
=============
"Pengorbanan," kata Kapten. "Kau membuat pengorbanan. Aku membuat pengorbanan. Kita semua membuat pengorbanan. Tapi kau merasa marah dengan pengorbanan yang kauberikan. Kau selalu memikirkan apa yang telah kaukorbankan."
"Kau belum mengerti. Pengorbanan adalah bagian dari kehidupan. Harusnya begitu. Bukannya sesuatu untuk disesali. Tapi sesuatu untuk didambakan. Pengorbanan kecil. Pengorbanan besar. Seorang ibu bekerja keras agar anaknya bisa sekolah. Seorang anak perempuan pindah rumah untuk merawat ayahnya yang sakit."
=============
Kapten berdecak dengan lidahnya. "Justru di situlah intinya. Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain."
=============
"Aku ingin kau belajar ini dariku. Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri."
=============
Orang sering mengatakan mereka "menemukan" cinta, seakan-akan cinta sejenis benda yang tersembunyi dibalik bongkahan-bongkahan batu. Tapi cinta mempunyai berbagai bentuk, dan tidak pernah sama bagi setiap pria dan wanita. Yang ditemukan orang sebenarnya cinta tertentu.
=============
Cinta, seperti hujan, bisa menyuburkan dari atas, menghujani pasangan dengan keceriaan. Tapi kadang-kadang, dalam panasnya kehidupan, cinta seolah kering di permukaan dan harus tergantung pada akarnya yang tertanam dalam untuk membuatnya tetap hidup.
MITCH ALBOM
Labels: book
Look, I guarantee there'll be tough times.
I guarantee that at some point,
one or both of us is gonna want to get out of this thing.
But I also guarantee that if I don't ask you to be mine,
I'll regret it for the rest of my life,
because I know, in my heart,
you're the only one for me.
Homer Eisenhower Graham - Runaway Bride
Mencoba melarikan diri dari kebosanan teramat sangat yang kemudian membuatku jatuh ke pangkuan: Runaway Bride dan semangkuk mie instan. And oh, I almost forget, Richard Gere is so damn gorgeous :D
Labels: movie, my thoughts
Si Mamat beli kain sari berkodi-kodi
Selamat Idul Fitri eperibodi..
Mohon maaf lahir batin ya.. :)
Labels: greetings




