Blogger Template by Blogcrowds.

LENTERA JIWA*


Suara dari dalam apabila dilawan bisa mem
bahayakan. Bahkan dapat mengancam nyawa.


Itu yang disampaikan oleh Gede Prama dalam acara Kick Andy episode Lentera Jiwa. Episode itu terilhami oleh lagunya Nugie dengan judul yang sama.

Waktu pertama kali aku liat video klip lagunya Nugie itu, aku langsung tertarik. Yang menjadi model video klipnya adalah orang2 yang berhasil di bidang yang digelutinya sekarang tapi latar belakang pendidikan mereka sangat bertolak belakang. Ada pemain harpa yang sarjana teknik mesin, ada presenter yang lulusan arkeologi, ada sarjana arsitektur yang akhirnya jualan mainan, dan masih banyak lagi.

Dan Gede Prama juga menjadi salah satu bintang tamu atau lebih tepat bisa dikatakan sebagai narasumber di acara Kick Andy kali itu. Beliau dulunya adalah direktur di perusahaan jamu besar dan pada puncak karirnya memutuskan untuk resign dan pulang ke Bali. For me it's a huge decision. Harus menjalani perubahan yang drastis dari sesuatu yang sangat menjanjikan ke keadaan di mana segala sesuatunya menjadi tak tentu. Namun semua ternyata bisa dijalani dan kesuksesan pun datang seiring dengan ketenangan jiwa.

It's an eye opening for me. Betapa semua kesuksesan yang diraih gak akan berasa kalo yang menjalani gak merasakan kebahagiaan dari dalam diri. Dan itu membuatku merunut kembali perjalanan hidupku sampai keberadaanku sekarang.

Mulai dari TK, SD, sampe SMP semuanya ditentukan berdasarkan jarak tempuh dari rumah. Supaya deket, jadinya gak ribet pulang pergi. Gak usah dianter jemput, bisa berangkat dan pulang pake sepeda. Pas sudah waktunya masuk SMA, itu pun dipilih berdasarkan peringkat SMA tersebut di kotaku. Konon kabarnya SMA itu yang paling bagus, dan aku pun nurut aja.

Pas jaman2nya PMDK, aku apply ke salah universitas negeri di Malang dan jurusannya ditentuin sama Papah. Katanya kalo lulus bakal cepet dapet kerja. Eh, gak keterima. Trus, pas ada tes beasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya aku ikutan juga.

Pas hari terakhir penyerahan aplikasi, aku masih belum juga menentukan jurusan apa yang mau diambil. Aku sudah menetapkan pilihan, mesti di Fakultas Teknik soalnya aku paling lemah di pelajaran hapalan dan ilmu sosial. Papah ngusulin supaya aku masuk jurusan Arsitektur, tapi aku gak mau karena aku gak pinter gambar sama sekali. Boro-boro nggambar, bikin garis lurus aja perbandingan keberhasilannya aja 1:10. Masuk jurusan Teknik Sipil, kok rasanya pasaran banget (no hard feeling ya... :D). Kalo jurusan Teknik Elektro atau Teknik Mesin kayaknya gak banget. Aku gak bisa membayangkan aku pegang obeng, tang, solder, dan teman-temannya, padahal aku takut banget kesetrum. Akhirnya ada satu pilihan yang tersisa, dan itu yang ku ambil.

Di saat aku kuliah, aku ikut UKM Paduan Suara. Beruntung lah paduan suara universitasku adalah salah satu tim paduan suara mahasiswa terbaik di Indonesia. Dari situ aku bisa jalan-jalan keliling Indonesia, bahkan sampe ke luar negeri. Aku ngerasa sesuatu yang menyenangkan waktu latihan meskipun berat, dari pagi sampe sore, dan badan pegel-pegel waktu latihan koreografi.

Aku juga bela-belain nyisihin uang bulanan supaya bisa les vokal yang lumayan mahal. Tapi sekali lagi, semuanya terasa sangat menyenangkan. Dan untungnya aku punya guru les yang supportive. Guru les ku pernah bilang: "You have a good talent. Kalo aja kamu punya kesempatan belajar ke Itali, you're gonna be a good opera singer. Kamu mau aku cariin link supaya bisa ke sana?".

Jujur aja, waktu itu aku yang sudah mau sarjana lumayan tergetar mendengarnya. It's my passion to be a broadway singer. Aku yang kala itu masih menjalani hubungan dengan seseorang di pulau seberang itu agak bimbang. Dan akhirnya, demi seseorang itu dan kelanjutan hubungan kami *pikirku kala itu*, aku mengubur keinginanku untuk meraih impianku. OOT: Cinta itu gak buta, dan malah sebenarnya punya mata yang sangat jeli untuk melihat celah yang tepat untuk membutakan mata kita.

Dan disinilah aku sekarang. Kembali ke tempat asal dan bekerja menjadi tenaga pengajar. Dan pertanyaan yang harus kutanyakan pada diriku sendiri: "Am I happy with all of these?". Mudah-mudahan lentera jiwaku masih menyala dan menunjukkan ke jalan yang sebenarnya mesti ku tempuh untuk memperoleh ketenangan jiwa.

*Judul lagu barunya Nugie. It's truly inspiring.

Ini lanjutan cerita hasil 'kreativitas' si Papah.

Beberapa hari yang lalu, Papah membuatkanku bedsheet alias sprei. Ini pun hasil paksaan hampir 1 bulan. Soalnya di sini susah banget nyari sprei yang sesuai dengan keinginanku. Yang ada motif dan warnanya selera 'tua'. Secara diriku masih muda *ceile...*, kan malas banget beli yang gituan.

Alhasil, pas jalan2 ke toko kain, aku ngeliat ada bahan sprei yang warna dan motifnya sesuai selera. Trus aku beli kainnya, dan ku 'paksa' Papah untuk menjahitnya. Setelah omelan: "Aduh, gak ada waktu ni", "Lagi banyak kerjaan", "Kenapa gak beli aja", dll, akhirnya Papah mau juga menjahit spreiku.

Dan jadilah sprei baruku... Bagus kan??


Tapi sayangnya, kainnya cuma cukup untuk bikin sprei + 2 sarung bantal. Blame it to si penjual kain who said: "Cukup haja tu. Biasanya amun gasan ranjang ukuran nomor 2, 3 meter satangah tu cukup banar."*

Dan tempat tidurku itu, juga bikinan Papah. Waktu pengerjaannya lama banget. Hampir 6 bulan. Dibuat waktu aku masih SMP, dan sampai sekarang masih dalam kondisi yang bagus.

Oya, sebenarnya masih ada satu lagi keahlian Papah yang lupa ku cantumkan. Memotong rambut.

Papah paling jarang ke tukang cukur. Kami sampai terheran-heran ngeliat Papah bela2in memberdayakan 3 cermin *sisi depan, belakang, samping agak menyerong* kalo lagi potong rambutnya sendiri. Oya, aku sama adeku juga orang yang paling sering jadi pelanggan 'salon' Papah. Sebenarnya sih kami terpaksa, soalnya pas kami bilang: "Mau potong rambut ah...", Papah langsung bergegas mengambil peralatan memotong rambutnya dan mendudukkan kami di kursi makan dan harus menerima hasilnya apa adanya.

Alhasil, acara memotong rambut selalu jadi momok buatku sama adeku dan jadi tontonan yang menarik untuk salah satu dari kami yang sedang tidak dipotong rambutnya. 'Salon' itu pasti diiringi dengan kalimat: "Jangan gerak2, nanti telinganya terpotong!", "Gimana gak gerak2, gatal ni!", "Hah??? Kenapa hasilnya jadi kayak gini??", "Mamaaaaahhhh!!!!!".

Sampai aku tamat SMP, rambutku selalu dipotong sama Papah. Begitu juga adeku. Jadi, aku sudah terbiasa dengan poni yang kependekan, rambut yang gak rata, dan 1 jam berada di 'salon' Papah *soalnya proses pemotongan rambut memakan waktu yang sangat lama.

Tapi yang paling tragis waktu rambutku dipotong persis kayak rambutnya Adi Bing Slamet waktu kecil. Persis banget, sampe2 aku jadi Adi versi cewek. Apalagi poninya, mirip banget. Padahal Papah gak menggunakan mangkok loh waktu motong rambutku.

Gara2 itu, aku jadi ngambek dan gak mau keluar rumah seharian. Setelah aku mengancam besoknya gak mau sekolah, akhirnya Mamah 'melarikanku' ke salon langganannya. FYI, cuma Mamah yang punya cukup akal sehat untuk gak mau jadi pelanggan 'salon' Papah. Hhhh... kenapa pada masa itu akalku tak sesehat itu??

* Cukup aja itu. Biasanya untuk ukuran ranjang nomor 2, 3,5 meter cukup banget - Bahasa Banjar (red)


Dia : "Malam ini kita makan apa ya?"
Aku : "Bukannya tadi kamu bilang malam ini kita minum susu aja? Besok malam juga, besok malamnya lagi juga begitu. Ayooo... lupa ya..."
Dia : *Berpikir* "Hmm... Iya ya. Lupa."

Beberapa menit kemudian.

Dia : "Aku mau beli mi goreng aja ah. Trus beli sate ayam. Mi goreng yang kapan hari itu enak juga ya? Beli disitu lagi ah..."
Aku : "Loh??? Bukannya kita mau diet. Gimana sih?"
Dia : "Hmmm... bener juga ya.."

Beberapa menit kemudian (lagi).

Dia : Sambil memandang ke awang2. "Hmmm... kayaknya makan mi goreng enak banget deh. Apalagi sama sate ayam. Wih... sedap... Aku mau makan mi goreng aja ah. Enak.. enak.. enak.."
Aku : *hening*
Dia : "Kalo kamu mau minum susu, silakan aja...."
Aku : *mulai membanding2kan kelezatan mi goreng + sate ayam vs. segelas susu coklat*
Dia : "Pulang dari sini mau beli mi goreng ah..."
Aku : *kebimbangan mulai melanda + agak2 ngences*
Dia : "Hmmm.. aromanya sudah terbayang2 nih"
Aku : *at that time i can imagine how eve's feeling* "AKU JUGA MAUUUU!!!!"


My Dad = My MacGyver. Bisa bikin apa aja, selama masih bisa diakalin. Aku pernah ditanya, kalo misalnya mesti tinggal di suatu pulau bersama satu orang aja, mau tinggal sama sapa? Dan aku jawab: "Papah" (begitu kami memanggil ayah di sini).

Contoh kekreativitasannya:

  1. Mengajariku menyulam kristik. Even my Mom can't do that (sorry Mah, bukan maksud mengecilkanmu. Hehehehe...)
  2. Membuatkan (hampir semua) prakaryaku. Mulai dari boneka dari lilin, vas bunga dari tanah liat, asbak dari tempurung kelapa, dan masih banyak lagi.
  3. Menjahitkan ku baju Natal. Ini beneran loh.. Waktu itu aku pengen banget punya baju Natal yang modelnya Baby Doll. Nenekku yang membuatkan polanya dan Papah yang menjahitkannya. Sumpah...
  4. Memperbaiki mesin mobil dan sepeda motor (paling gengsi kalo mesti ke bengkel).

Tapi banyak juga barang-barang di rumah yang dijadikan bahan percobaan:
  1. Semua mixer Mamah yang rusak, coba diperbaiki tapi malah tambah rusak. Hahaha...
  2. Pulpen listrikku (salah satu kejahilan masa kuliah) yang rusak, diperbaiki. Pas sudah bener, eh malah kumparan listriknya hilang entah kemana. Jadinya sama aja, tetep rusak.
  3. Radio mini oleh2 dari Singapura bunyinya agak kresek2, trus diperbaiki sama Papah. Sudah oke, gak taunya tutup batereinya patah keinjak sama Papah. Halah...
  4. Mencoba menambal sendiri ban sepeda motor Mamah yang bocor. Pas mau dipakai, ternyata ban motornya dicopot sama Papah. Dan menambal bannya perlu waktu setengah hari. Buset dah...
Kejadian yang paling gres, pas lampur ruang tengah mati. Papah sudah beli yang baru dan menggantinya. Trus aku liat Papah kok sibuk dengan solder dan teman2nya. Wah, pasti lagi memperbaiki sesuatu, pikirku. Setelah beberapa lama, tiba2 Papah mengganti lampu ruang tengah yang baru itu. Diganti sama lampu yang sebelumnya mati.

Aku : "Kenapa diganti Pah? Itu kan tadi mati?"
Papah : "Sudah diperbaiki."
Aku : "Memangnya bisa?"
Papah : "Bisa."

Trus, aku yang penasaran nungguin sampe proses pemasangan lampu itu selesai. Setelah lampunya selesai dipasang, Papah menghidupkan saklar lampunya.

Dan... Blap... Listrik satu rumah padam.

Newer Posts Older Posts Home