Ini lanjutan cerita hasil 'kreativitas' si Papah.
Beberapa hari yang lalu, Papah membuatkanku bedsheet alias sprei. Ini pun hasil paksaan hampir 1 bulan. Soalnya di sini susah banget nyari sprei yang sesuai dengan keinginanku. Yang ada motif dan warnanya selera 'tua'. Secara diriku masih muda *ceile...*, kan malas banget beli yang gituan.
Alhasil, pas jalan2 ke toko kain, aku ngeliat ada bahan sprei yang warna dan motifnya sesuai selera. Trus aku beli kainnya, dan ku 'paksa' Papah untuk menjahitnya. Setelah omelan: "Aduh, gak ada waktu ni", "Lagi banyak kerjaan", "Kenapa gak beli aja", dll, akhirnya Papah mau juga menjahit spreiku.
Dan jadilah sprei baruku... Bagus kan??
Tapi sayangnya, kainnya cuma cukup untuk bikin sprei + 2 sarung bantal. Blame it to si penjual kain who said: "Cukup haja tu. Biasanya amun gasan ranjang ukuran nomor 2, 3 meter satangah tu cukup banar."*
Dan tempat tidurku itu, juga bikinan Papah. Waktu pengerjaannya lama banget. Hampir 6 bulan. Dibuat waktu aku masih SMP, dan sampai sekarang masih dalam kondisi yang bagus.
Oya, sebenarnya masih ada satu lagi keahlian Papah yang lupa ku cantumkan. Memotong rambut.
Papah paling jarang ke tukang cukur. Kami sampai terheran-heran ngeliat Papah bela2in memberdayakan 3 cermin *sisi depan, belakang, samping agak menyerong* kalo lagi potong rambutnya sendiri. Oya, aku sama adeku juga orang yang paling sering jadi pelanggan 'salon' Papah. Sebenarnya sih kami terpaksa, soalnya pas kami bilang: "Mau potong rambut ah...", Papah langsung bergegas mengambil peralatan memotong rambutnya dan mendudukkan kami di kursi makan dan harus menerima hasilnya apa adanya.
Alhasil, acara memotong rambut selalu jadi momok buatku sama adeku dan jadi tontonan yang menarik untuk salah satu dari kami yang sedang tidak dipotong rambutnya. 'Salon' itu pasti diiringi dengan kalimat: "Jangan gerak2, nanti telinganya terpotong!", "Gimana gak gerak2, gatal ni!", "Hah??? Kenapa hasilnya jadi kayak gini??", "Mamaaaaahhhh!!!!!".
Sampai aku tamat SMP, rambutku selalu dipotong sama Papah. Begitu juga adeku. Jadi, aku sudah terbiasa dengan poni yang kependekan, rambut yang gak rata, dan 1 jam berada di 'salon' Papah *soalnya proses pemotongan rambut memakan waktu yang sangat lama.
Tapi yang paling tragis waktu rambutku dipotong persis kayak rambutnya Adi Bing Slamet waktu kecil. Persis banget, sampe2 aku jadi Adi versi cewek. Apalagi poninya, mirip banget. Padahal Papah gak menggunakan mangkok loh waktu motong rambutku.
Gara2 itu, aku jadi ngambek dan gak mau keluar rumah seharian. Setelah aku mengancam besoknya gak mau sekolah, akhirnya Mamah 'melarikanku' ke salon langganannya. FYI, cuma Mamah yang punya cukup akal sehat untuk gak mau jadi pelanggan 'salon' Papah. Hhhh... kenapa pada masa itu akalku tak sesehat itu??
* Cukup aja itu. Biasanya untuk ukuran ranjang nomor 2, 3,5 meter cukup banget - Bahasa Banjar (red)

Kreatif banar ayah ikam..Ulun kadak kawak bikin sprei..Ikam beruntung punya ayah yg perhatian..
Aku jg lg belajar bahasa banjar nih yek..Ajarin dunk.. ;P
Andri Journal said...
August 25, 2008 at 9:06 PM