Blogger Template by Blogcrowds.

cerita lucu

Barusan ada rapat awal semester. Setelah rapat, beberapa dari kami masih ngumpul2 di ruang rapat dan ngobrol2 *upss... jangan bilang2 ya*.

Trus ada teman, sebut aja namanya Reza, yang cerita pengalamannya waktu kuliah di Jogja. Semua ceritanya lucu, tapi cerita yang satu ini merupakan favoritku.

Suatu hari Reza pergi main bola sama temen2nya. Hari itu dia kebagian jadi kiper. Entah mungkin karena minim pengalaman sebagai kiper, di tengah2 pertandingan tangannya keseleo. Lalu dengan diantar seorang temannya, sebut saja namanya Riri, Reza pun pergi ke tukang pijat.

Pas lagi dipijat, Reza bingung kok yang dipijat tangan yang kiri padahal yang keseleo adalah tangan kanannya. Tapi dia diam aja. Mungkin si Mbah lagi mempratekkan cara pijat paling mutakhir.

"Mas kok tahan ya? Biasanya kalo dipijat pada kesakitan. Sampe ada yang nangis2, bahkan mau pingsan", kata si Mbah sambil kebingungan.

"Soalnya kan yang Mbah pijat tangan yang kiri. Lha yang sakit kan tangan yang kanan".

"Loh, sampeyan kok mboten sanjang Mas..." *bener gak sih tulisannya nih? :P*

Lalu si Mbah pun memijat tangan kanan Reza. Dan beneran, sakitnya bukan kepalang *menjalar2 kian kemari... hehehe*

Setelah selesai dipijat, si Mbah pun pergi ke dapur dan kembali dengan membawa sebuah baskom. "Wah, si Mbah pasti mengeluarkan jampi2nya", pikir Reza.

"Mas, tangannya direndam di baskom ya.."

Lalu Reza pun merendam tangannya di baskom itu. Hal paling pertama yang terlintas di benak Reza adalah : Kok panas banget airnya? Tapi sekali lagi, Reza beranggapan mungkin ini prosedur yang seharusnya. Mau gimana lagi, rasa panas itu mesti ditahan.

"Masih sakit ya Mas? Memang begitu, tapi nanti agak enakan kok."

"Tangannya sih sudah enakan Mbah, tapi saya ini lagi nahan panas. Airnya panas banget Mbah."

Lalu Mbah pun mencelupkan jarinya ke dalam baskom air itu.

"Wah, kalo ini sih panas banget Mas. Sampeyan kok mboten sanjang. Sebentar ya..."

Si mbah kemudian memasukkan air yang lebih dingin serta garam ke dalam baskom itu.

"Nah, ini lebih enakan Mbah..." *napas lega*

Setelah acara rendam merendam itu selesai, si Mbah pun membubuhi parutan kunyit di tangan Reza yang keseleo dan membebatnya dengan kain. Lalu Reza membayar jasa si Mbah dan pergi bersama Riri.

Di perjalanan, Riri mengingatkan Reza kalo mereka mesti ke suatu tempat *aku lupa ke mana gitu...*. Selama di perjalanan, Reza melihat ada yang aneh dengan tali yang mengikat bebatan tangannya itu.

"Ri, rasanya ada yang aneh deh dengan talinya ini. Kayak tali beha." *sambil memperlihatkan tangannya ke Riri*

"Hahahaha... itu kan emang tali beha Za. Tuh ada kaitannya. HAHAHAHA...."

Karena malu, akhirnya Reza pun melepas bebatan tangannya. Biarlah tangan gak bisa sembuh dengan cepat, pikirnya. Urusan di tempat tujuan selesai, dan Reza dan Riri pun kembali ke kost2an. Sampe di kost, Reza baru nyadar kalo kunci kamarnya gak ada. Lalu dia merunut kejadian yang sudah dialaminya untuk mengingat-ingat tempat terakhir kali dia mengeluarkan kunci kamarnya. Lalu memori membawanya ke rumah si Mbah tukang pijat.

"Wah, kita mesti balik lagi ke rumah Mbah tukang pijat yang tadi."

Dan seperti tersadar akan sesuatu... Reza pun melihat tangan kanannya.

"Waduh, lilitannya sudah ku copot. Pasti nanti dimarahin sama si Mbah. Tapi talinya sudah dibuang."

Akhirnya Reza dan Riri terpaksa harus kembali ke tempat mereka membuang tali beha itu. Dan mesti nyari2 dengan susah payah , karena hari sudah mulai gelap.

Dan setelah hari itu, kalo diajak main bola lagi, Reza selalu menolak posisi sebagai kiper.

NB: Semua percakapan antara Reza, Riri, dan si Mbah dilakukan dengan bahasa Jawa.

4 comments:

Sampeyan nopo mudheng boso jawi to mbak piyek?Kulo gemujeng bibar maos criyose sampeyan..Luwih gemujeng malih menawi sampeyan nyriyosaken punika langsung teng kulo..mesti blekak blekuk..hahaha..

September 18, 2008 at 9:02 PM  

Waduh... ampun deh..
Aku cuma ngerti kalimat pertamamu. Selebihnya minta tolong diartikan deh... Matur nuwun ya Mas :D

September 19, 2008 at 8:05 AM  

Versi Indonesia Yang Baik dan Benar:
Kamu apa paham bahasa Jawa to mbak piyek? Aku tertawa setelah membaca ceritamu...Lebih tertawa lagi kalau kamu menceritakannya langsung kepadaku...mesti tergagap-gagap...hahaha....

September 19, 2008 at 2:45 PM  

Kalo menceritakannya kembali dalam bahasa Jawa, bukannya blekak blekuk lagi Ndri... Bisa2 pake bahasa tarzan. Hahahaha...

Tapi emang ini cerita lucu banget. Sampe hari ini aja aku kadang terlihat kayak orang yang kena penyakit gila entah nomor sekian (tapi sepertinya nomor kecil). Bisa senyum2 sendiri kalo inget cerita itu. Hehehehe...

September 19, 2008 at 7:56 PM  

Newer Post Older Post Home