Going Back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move
Got some words on cardboard, got your picture in my hand
Saying, "If you see this girl can you tell her where I am? "
Some try to hand me money, they don't understand
I'm not broke I'm just a broken hearted man
I know it makes no sense but what else can I do
How can I move on when I'm still in love with you
'Cause if one day you wake up and find that you're missing me
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinkin maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on the corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving
Policeman says, "Son you can't stay here"
I said, "There's someone I'm waiting for if it's a day, a month, a year"
Gotta stand my ground even if it rains or snows
If she changes her mind this is the first place she will go
Reff:
And your heart starts to wonder where on this earth I could be
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet
And you'll see me waiting for you on our corner of the street
So I'm not moving, I'm not moving,
I'm not moving, I'm not moving
People talk about the guy that's waiting on a girl
There are no holes in his shoes but a big hole in his world
Maybe I'll get famous as the man who can't be moved
Maybe you won't mean to but you'll see me on the news
And you'll come running to the corner
'Cause you'll know it's just for you
I'm the man who can't be moved
Going back to the corner where I first saw you
Gonna camp in my sleeping bag, I'm not gonna move
Labels: songs
"Kapan mau punya anak lagi?"
"Gak pengen nambah (anak) lagi?"
"Gak pengen ngasih adek buat Olyn?"
Pertanyaan-pertanyaan yang serupa dengan itu akhir-akhir ini semakin sering dilontarkan (selain pertanyaan "Kapan lulus?" tentunya *sigh*). Kalo tiap ada yang nanya dikasih piring cantik, kayaknya piring, gelas, dan mangkok di rumah bakal habis dibagi-bagi.
Biasanya kalo yang nanya karena cuma pengen basa-basi, aku juga menjawabnya dengan jawaban basa-basi juga:
"Kuliah aja belum kelar. Ntar aja."
atau
"Satu ini aja belum habis."
atau
"Nunggu abis lucunya."
Kalo yang nanya adalah orang-orang dekat, barulah aku bakal mengungkapkan alasan-alasan lain selain alasan basa-basi di atas.
Di rekam medik setelah melahirkan, tertera 'Eclampsia Postpartum'. Aku kurang bisa menjelaskannya, jadi ada baiknya googling aja untuk tahu lebih jelas. Aku melahirkan dengan tekanan darah yang cukup tinggi, dan hasil pemeriksaan di lab menunjukkan bahwa protein urinku mencapai +3. Dengan kondisi seperti itu, dokter yang menangani kehamilanku menyarankan agar kelahiran dilakukan melalui c-section.
Sebelum c-section, aku sudah diberi suntikan anti kejang sebanyak 3 kali. Dan ketika suntikan ke-3 diinjeksi melalui infus, maka seketika itu juga sekujur tubuhku serasa terbakar api. Memang, dokterku sudah memperingatkan bahwa akan terasa SEDIKIT panas.
12 jam pasca c-section, aku mengalami kejang-kejang. Waktu itu aku sedang ditinggal sendirian di kamar observasi. Suami dan si Papah yang kena giliran jaga sedang keluar makan. Dan kejadian kejang-kejang itu terjadi hanya seketika setelah suamiku tiba.
Bukan hanya proses melahirkan itu saja yang membuatku dan suami memutuskan untuk menunda kehamilan sampai beberapa tahun lagi. Setelah melahirkan aku terkena sindrom 'baby blues'. Awalnya aku menyangkal. Aku merasa aku sudah well-prepared dan membekali diri tentang segala sesuatu mengenai kehamilan dan persalinan, dan baby blues salah satunya. Namun, aku melupakan bahwa segala sesuatu bisa terjadi di bawah kolong langit ini.
Ada beberapa kemungkinan yang kucurigai sebagai penyebab baby blues ini. Kemungkinan pertama adalah karena seminggu sebelum persalinan, aku sedang menghadapi UAS. Bahkan sehari sebelum melahirkan aku masih ke kampus untuk presentasi tugas akhir. Yang kedua adalah persalinan yang menegangkan. Gimana gak menegangkan, wong sempat bikin keluarga panik.
Hal yang paling membuatku yakin aku mengalami baby blues adalah ketika pertama kali aku menggendong bayiku. Saat itu aku tidak merasakan koneksi apa pun. Perasaanku saat itu datar saja, dan ini sempat membuatku merasa aneh. Selain itu, aku menjadi sangat sensitif. Sedikit-sedikit menangis. Bahkan sempat terpikir ingin bunuh diri. Mengerikan memang. Setelah beberapa bulan, barulah aku merasakan koneksi dengan bayiku dan semakin lama semakin kuat. Selain itu, emosiku pun kian stabil.
Hal-hal inilah yang membuatku sengaja menunda kehamilan yang kedua sampai aku merasa benar-benar siap. Yah, walau pun orang-orang di sekitar kayaknya lagi kena musim hamil, tapi aku berusaha supaya tidak impulsif. Impulsif tetap disimpan untuk urusan belanja aja. Haha!
Labels: being a mom
Bocah 1: "Mbak'e.. Mbak'e.." (memanggil Bocah 2)
Bocah 2: "Namaku bukan Mbak E. Namaku Michelle. Jadi aku ini Mbak M. Susan tuh Mbak S. Nah, Ella itu yang Mbak E."
Gubrak!
Labels: family
Hari ini aku sedih.
Beberapa sahabat mengalami
saat-saat terberat mereka belakangan ini.
Ada yang karena terlalu beratnya, sebelum kata-kata keluar dari mulutnya,
air mata yang lebih dulu meluncur dari matanya.
Namun tanpa perlu tahu apa masalahnya, aku bisa merasakan kesedihannya.
Kuatkan mereka ya Tuhan.
Amin.
Labels: friendship
Kala itu, karena keengganan (yang dikarenakan ketakutan) untuk mencabut gigiku yang berlubang, maka semakin merajalelalah lubang tersebut. Bahkan yang tersisa hanya bagian dindingnya saja. Sedangkan isinya? Sudah lumat dibabat bakteri.
Setelah mengumpulkan keberanian dan ditemani sang (mantan) pacar, akhirnya aku pun mencabut gigiku yang tinggal seupil itu. Namun apa daya, karena sudah terlampau rapuh, sang dokter pun tak dapat mencabut bagian gigi yang masih tertanam di gusi. Sang dokter gigi pun memintaku untuk kembali lagi tahun depannya.
Hari berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tapi gigiku tetap terabaikan.
Sampai 2 minggu yang lalu. Aku merasakan ngilu pada geraham bawahku. Tepat pada gigiku yang masih tersisa itu. Semakin lama semakin ngilu dan akhirnya aku menyerah. Esoknya aku langsung memeriksakan diriku ke puskesmas terdekat. Lalu diberikan obat pereda nyeri dan diminta kembali lagi untuk mencabut gigi.
Kali ini aku tidak mangkir. Dengan ditemani sang suami, aku pun melangkah pasti ke kursi eksekusi. Namun yang terjadi kemudian jauh lebih mengerikan dari pada yang kubayangkan.
Karena ternyata gigiku cuma tinggal seupil, maka orang pertama yang mengeksekusi pun kewalahan dan bantuan orang kedua pun tak membuahkan hasil yang memuaskan. Mmm, ada sih yang mereka hasilkan: menghasilkan luka di sudut mulutku. Akhirnya orang ketiga pun turun tangan. Dengan bantuan orang kedua untuk memegangi kepalaku serta masukan dari orang pertama, akhirnya orang ketiga berhasil mengeluarkan sisa gigiku yang masih tertinggal di dalam gusi. Dihitung-hitung, dibutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menuntaskannya.
Kali ini tak ada sisa gigi yang tertinggal. Namun menyisakan trauma mendalam bagiku. Bagaimana tidak, sampai hari ini pun gusiku masih sakit bukan kepalang serta luka di sudut mulutku juga belum sembuh. Seketika itu pula niatku untuk memasang kawat gigi langsung lenyap mengingat harus ada beberapa gigi lagi yang mesti dicabut. Hiii.. ngeri. Ternyata, sakit gigi tak lebih baik dari pada sakit hati.
Labels: life
Day by day,
O dear Lord, three things I pray
To see Thee more clearly,
love Thee more dearly,
follow Thee more nearly,
day by day
Labels: songs
luar biasa seperti sekarang ini.
Yang hampir saja membuatku sanggup
untuk menyerahkan tangan kananku
untuk mendapatkan kembali hari-hariku yang dulu.
Namun ketika aku menatap binar mata itu,
melihat senyum dengan gusi tak bergigi itu,
aku sanggup melupakan segalanya.
Labels: being a mom, my thoughts